Tag: Puisi

TKI dalam Konotasi Kasar
SAJAK, SASTRA

TKI dalam Konotasi Kasar

Oleh: Soliah* Luasnya negeri ini, tak buatku mampu berdiri Ekonomi miring bonus desakan utang dikuping Apalah daya ketrampilan ditangan, apalah daya nasib menyambung pangan Semua pandang pendidikan, jadilah pergi kenegeri orang Ringantangan nan kejam sudah jadi bumbu mimpi, ku tahan demi sanak sodari Tapi..... Jikalauuang tak diberi, harus apakah diri yang lemah ini Sobeksudah tenunan harapan pulang Bumi disini tak lebih nyaman dari tanah airku Tak sehangat belaian keluargaku Pemerintahku, harus bagaimanakah daku Ketegasanmu mampu dibayar dengan amplop biru Bukankahaku pahlawan devisa? Dimanatimbal baliknya? Nampaknyahanya sebuah status saja Terimakasih Tuhanku yang maha kuasa *penulis adalah anggota magang LPM Sketsa 2015 Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsket...
Kelesah
SAJAK, SASTRA

Kelesah

Oleh: Mustiyani Dewi K. Sayapku mulai lemah Kaki ku mulai lumpuh, Membeku dalam dimensi Ah,, Dimensi ini kian membelenggu Menghanyutkanku ke lembah ini Masih bisakah aku mengangkasa hanya dengan satu sayap ? Sedang satunya lagi, memar hampir teramputasi Terlalu berharap... Mengangkasa ?? Mengepakkan sayap saja aku kesakitan Aku mungkin lupa, sempat buyar dari gumpal otak Sadar,, Luka disayapku akibat dihantam badai semalam Dan tersembam ke lembah ini Ya,, dilembah gelap ini Saat tak ada lagi sinar menyusup Hanya dingin malam menusuk ruas tulang rusuk Lalu,, Dimensi mana lagi harus ku singgah?? Ketika luka mulai mengerakah, Asa yang dulu menjamah Kini hanya tinggal guratan Menjelma dalam citra mimpi-mimpi burukku Kini,, Dilembah ini Ku menunggu surya kembali ...
Rasum Semar Bawor
SAJAK, SASTRA

Rasum Semar Bawor

Oleh : Supriono Deriji-deriji memautkan materi Ilahi Mereguk menyauk maujud mangkuk Rempah gabah nampak meriah Si nyiur turut berbaur Antah-antah berbagi tengkel-tengkelnya Bersekata bersua khalayak banyak Ramai riuh rendah beranak pinak Semar Bawor masih terang bersemayam di sanubari Bersila beriringan berkerumun santun Tembang-tembang syukur tersiar terdengar Meruncing akan sang Pencipta Sujud sembah tak berkilah Sinis Belis-belis bengis Merajuk merasuk sukma-sukma, membuncah Keruh lusuh budi bolorkan budak<span>&nbsp; Dihunus terberangus tulus nan suci Suluk Semar Bawor nan arif Lembah Serayu tetap menguning Tersebar ransum untuk anak dan sanak Semar Bawor lelap tenteram * Supriono, Pria Asli Jawa Banyumasan, Mahasiswa Sastra Inggris Unsoed Tulisan ini ...
Penulis Malam
SAJAK, SASTRA

Penulis Malam

Oleh: Muhammad Aditya Firdaus* Surya melenyap gulita seketika Mengekang jiwa insan dunia Semua senyap sunyi tak terperi Malaikat pergi setan menari Ketakutan menyeringai mencabik-cabik hati Merobek jiwa tanpa welas asih Setiap insan mengurung diri Aku, kerbau dibawakan jagal Bangkit! Bangkitlah mereka semua dari liang! Laksana makhluk terkutuk jiwa terlaknat Mereka bersiul, meratap, berteriak Teranggap bisul bernanah Kotor! Menjijikkan! Sesat! Jahanam! Wajah Setan! Tangan Iblis! Tak dinyana, mereka tak merana! Mereka berpesta! Jemari menari, mengiringi gulita Tatapan tajam pelita Akhiri segala *Penulis adalah mahasiswa Agroteknologi Fakultas Pertanian Unsoed 2013 Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsketsa.com, dimuat ulang di BU (beritaunsoed.com) agar tetap ...
Metamorfosa
SAJAK, SASTRA

Metamorfosa

Oleh: Muhammad Zaky Kau hadir di tengah padatnya dunia Dari selasih jadi segumpal bola Tahap demi tahap kau sempurnakan ragamu Agar kau siap hadapi dunia Perlahan mata terbuka Mencoba menatap sadisnya dunia Kau coba merengkuh masa depan Dengan jemari mungilmu Waktu berlalu hingga tubuhmu ereksi Kau langkahkan kaki dan kau tatap dunia Sejuta asa kau cipta ribuan warna kau rasa Dalam dimensi bernama imajinasi Bersiap! Inilah saatnya menatap dunia. Pikiranmu mungilmu berisi euforia Belum kau kenal kejamnya dunia Setahap demi tahap kau rangkakkan raga Menuju dunia nyata yang makin tak jelas Selamat datang di bisingnya dunia Suatu nyata yang tak pernah kau duga Ingatkah engkau atas asa yang pernah kau cipta? Semua sirna tanpa adanya sisa Kala lisan tak mampu berkata Kal...
Eja Kula Si Posisi
SAJAK, SASTRA

Eja Kula Si Posisi

Oleh: Sucipto, Nurhidayat, dan Supriono Menjamah hingga membelah Membabi buta tak tau arah Tak jelas membela atau memerang Jika aku kan kukikir hingga kikir Hunusan tak salah menyayat Menunjuk dan mengengkaukan Sampai tak ada cermin tuk berbicara Bodoh! Seolah bumiputera bersalah Sang telanjang dilucuti Hingga intisari nadi tak terperi Denyut maut merenggut Pasal apa jepit pateri murca? Ini mosi lebih dari tak percaya Sumbang dalam hamparan kefasikan Lidah berdarah, pena patah terbelah-belah Seolah kecelakaan hibrida padahal monoproblema Legitimasi sayap-sayap hitam Ha hilang Na melayang Jangan sampai kulempar kutang Mustakim tersamarkan debu asap yang kian mengemas Ah itu hanya postultat penjilat Kilau-klilau silau menerpa netra buta jelata Hahahaha! Aku termenung...
Negeri Karam
SAJAK, SASTRA

Negeri Karam

Oleh: Bernadeta Valentina* Masih terlalu gelap. Jarum jam memulai Kisah terik, dedaunan kelam Detak nafas. Memburu hidup Jejak kecil rindu kampung halaman Dengungan mesin, ombak dalam bau mur Darah atau keringat tak tahu yang mana Saat itu dihadapanku, sejauh dunia Nahkoda tengik dan kapal karam Wanita-wanita memanggul ikan. Saat itu, Hanya ada satu negeri Sebuah kisah, hilang Lalu, tubuhku luka. Sebentar lagi hancur Sebentar lagi Masih bisa, aku berdetak. Di pinggiran Losmen ramai. Dengan bekas air hujan Semoga air dari negeri karam itu Samar, deru kapal berkumandang Kubayangkan, ukiran tulisan ibuku Aku mencintaimu Lalu aku pulang. Masih terlalu gelap. Jarum jam memulai Kisah menguburkan seorang anak. *Mahasiswa Kelautan Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lp...
Kumbang Rembang
SAJAK, SASTRA

Kumbang Rembang

Oleh: Sucipto* Meraung-raung saung biru di temaram Tak peduli dromologi semakin meninggi Bercaping dan bersarung tahan hantam Semakin dihantam semakin tinggi nyali Diinjak di atas kaki bergerigi Tak peduli! Hati tetap tahan jeruji Mulut dibungkam, telinga dibentak Tak ada urusan. Tetap tak bergerak! Jungkat-jungkit besi makin kokoh berisi Mondar-mandir di tengah nadir Mengutus aparat yang semakin keparat! Mencekik, tak peduli kritik! Selamat berpesta Indonesia! Telan ekstasi informasi Menjelma setelahnya jajaran bungkus nasi basi Demokrasi, Dromokrasi, Lihat! Kumbang Rembang berperang Melawan kadal berparas tebal Tidak mengendap-endap Hanya tegar merayap meratap Tanah kembali! Hanya satu harap Makin berharap makin pengap Thukul bilang, “Lawan!” Ia akhirnya hilan...
Pancing Mata Canting
SAJAK, SASTRA

Pancing Mata Canting

Oleh: Nurhidayat keruh sedikit kumuh, kecantikanmu air mata mengalir ke arah kota padi disana menertawai keburukbahagiaanmu ngengat gila bersahabat dengan masa lama waktu bukan satu-satunya yang membuatmu renta, Tua! manusia-manusia tanpa dada yang mengorbankan entah esok entah lusa kau laka gores air mata tinggal halaman engkau rela bersedih, kenapa? engkau suka menangis, elok kah? berbahagia itu tak selalu indah tertawa pun makin terluka dedaunan hijau enggan menyebar ke tiga penjuru angin menerbangkan mereka ke hingar belantara rumpon hilang di lautan berhantu mata canting tak sanggup lagi memancing Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsketsa.com, dimuat ulang di BU (beritaunsoed.com) agar tetap bisa diakses pembaca. Portal berita lpmsketsa.com resmi beralih ke ber...