Tag: Puisi

Penyambutan
SAJAK, SASTRA

Penyambutan

Oleh: Catur Mukti Wibowo* Ilustrasi: Alil Saputra Kian hari kian mendamba Jaket berwarna harapan orang tua Tentu sulit untuk meraihnya Perlu usaha yang tak sederhana Namun tak sampai disitu Jauh sebelum ufuk terlihat Sebelum bertemu kawan searah Belum pula merasakan kelas Kita dihadang dengan yang kau Ospek Sebagian warna jaket mungkin merasa senang Tapi tidak bagi beberapa jaket yang tak ramah Dibentak, dijemur, hingga dimaki Sejatinya ospek itu pengenalan kampus Pengenalan lingkungan suasana dan kerja kampus Bukan ajang balas dendam dan olok-olok Bukan begitu cara mendidik para intelek muda Oh, mungkinkah bagian tak ramah itu benar? Benar-benar terjadi dan menjadi kebiasaan Benarkah pengolokan itu bagian dari pendidika...
Dariku Untuk Tuan
SAJAK, SASTRA

Dariku Untuk Tuan

Oleh : Maryam Juwita* Ilustrasi : Alil Saputra (diedit dari pikbest.com) TuanMataku menerawang pada masa laluDikurung dalam ketakutan dan ketidaktahuanDi luar sana, teriakan dan tangisan saling beraduDiikuti kaca berseru dari siang hingga malamAku, seorang gadis kecilMenangis di sudut ruangan, terpenjara sendirian Pagi pun tak memberi ampunMemaksa menonton konser paling burukTangisan ibu menjadi nyanyian sepanjang acaraPekikan si Gila menggantikan peran sang gitarisAduan tangan turut memarakkan konser pagiAku, seorang gadis kecilAkhirnya menontonnya langsung, sudah tidak terbelenggu Aku bertanya pada TuanKapan pagi akan memberi ampun?Hingga kapan konser berlangsung? TuanBertahun-tahun sudah berlaluKonser lama masih bermain ria, semakin bebasAku, seorang gadis besarJemu meng...
Goresan Luka Elaeis
SAJAK, SASTRA

Goresan Luka Elaeis

Oleh: Dykaana Okta Wahyono* Ilustrasi: Dera Nafalia Aku ini mati Tak berbicara, tak mendengar, tapi digeladahi Aku ini mati Tapi dipaksa menghidupi Keringat dan luka adalah jiwa pembentuk batangku Tak sengaja, darahnya tersapu pada seratku Mengenang seperti goresan abadi Aku tak bisa menjadi bukti Aku ini mati Kau lihat sebelum hilang Kau hantui sebelum tenang Kau ambil sebelum terampas Aku ini mati Melihatmu menggerogoti Aku teringat ulat api dalam diri Bahkan kau jauh lebih berapi Hama ini menyakiti Batang bangsai kutandai Menggantung daun ini bunuh diri Seratku ternodai Bercampur dendam tak berhati Aku ini mati *Mahasiswi Unsoed Jurusan Sastra Indonesia Angkatan 2018 Catatan Redaksi: Tulisan ini dimu...
Kepastian Semu
SAJAK, SASTRA

Kepastian Semu

Oleh: Alif Saviola Rakhman* Ilustrasi: Elisa Hidayanti R. Hakikat manusiaTidakkah boleh menuntut haknya?Berbicara namun selalu sia-siaMenanti harapan yang tak kunjung nyata Telinganya terbuka namun kadang tak mau mendengarMatanya terbuka namun kadang tak mau melihatBenar melangkah namun salah menujuApa memang rakyat hanya boleh diam? Tak henti juang berkobarBerorientasi demi kesejahteraanSiang malam terombang ambingMeski sulit mendapat kepastian Kebebasan hanyalah ilusiBukti nyata adalah omong kosongKe mana lagi kita menuju?Jika yang disebut-sebut bijaksana selalu berpaling Harapan rakyat sudah sangat jelasOrientasi pun sudah semakin nyataTinggal menunggu sang penguasa kitaMenghapus nafsu akan kekuasaan Bagi orang-orang berdasi di atas sanaNafsu mereka akan semakin me...
34 Tangga Kemiskinan
SAJAK, SASTRA

34 Tangga Kemiskinan

Oleh: Anggi Fahreza Yulianti* Ilustrasi: Alil Saputra Cambuk sudah tak berjejak Tombak sudah turun tersimpan hanya dalam benak Senjata sudah tak lagi terhunus Tapi kita masih saja merangkak menjilati derita seperti manusia rakus                                 Aku adalah seorang puan                                 Penjual tulisan demi mendapatkan nafas kehidupan                 &nb...
Tenun Rusak Milik Ibu
SASTRA

Tenun Rusak Milik Ibu

Karya: Dykaana Okta Wahyono Ilustrasi: Dera Nafalia Tenunku sudah terbentuk Kulahirkannya dengan raga Kuberi makan benang sutra Kubenturkan kayu beramplas selangka Kusatukan raga-raga tak berdosa Oh, tenun tercintaku Dentuman dog, dog, dog bergema Kayu bersenggama dengan nikmatnya Bukti kasih tak berbenda Tenun nan cantik jelita Kurendam kau dengan nada Bercorak tangan mungil sang raja Terlukis tubuh molek Prajnaparamita Tenunku, kecantikanmu tak terhingga Sampai langit jatuh cinta Tak kuat menahan rasa Membawamu bak Sri Rama Alam tiba-tiba menderita Aku pun bertanya, ada apa? Tak kusangka engkau sengsara Oh, tenunku Aku bercucuran air mata Menerima sehelai benangmu jatuh Langit begitu jahatnya Membelaimu de...
AKTOR BOHONG
SAJAK

AKTOR BOHONG

Oleh: Rofingatun Hamidah Ilustrasi: Dera Nafalia Lagi-lagi, Kau tuduh kami tak berkualitas Lagi-lagi, kami Kau jadikan kambing hitam yang ingin diberantas Kami sekadar alibi, yang Kau susun sedemikian rupa untuk kesejahteraan sendiriApa salah kami? Omong kosong!Kami tak butuh argumen kopongAtaupun elakan bohong Tuan kami sudah memeras peluhUntuk jadikan kami bermutuNamun apa daya, Kau masih saja menggerutu Apa yang sudah Kau lakukan?Hingga Kau berhak menduakanApa yang harus kami lakukan? Agar kami Kau banggakan Kau buat kami murahBahkan tak segan-segan susah dirubahHingga tuan kami pasrahMenunggu nasib yang tanpa arah Sekarung dari kamiPermen saja tak mampu terbeli, barang satu bijiApa lagi sebutir nasi? Mau makan apa tuan kami ini? Tetapi, Kau tetap bungahSe...
PERAWAN
SAJAK, SASTRA

PERAWAN

Oleh: Mukti Palupi Ilustrasi: Nur Komariah Untukmu Serigala Penyerang Andai kau tak merayu Andai kau tak memaksa Andai rasa penasaran tak semena mena menggebu Mungkin khayalan tentangmu masih menjadi khayal Batin hendak menentang Gejolaknya benar-benar menjengkelkan Diamku tak menakrifkan setuju Tahu diri ini terlarang Tapi hasrat dewasa tak sudi berbohong Tidak Harusnya bisa menyelamatkanku Tapi atas nama kebodohan, aku pasrah Aset yang tak pernah ada cadangannya Untukmu Serigala Penyerang
TERELIMINASI
SASTRA

TERELIMINASI

Oleh : Afifah Dwi Marhaeni Ilustrasi: Nur Komariah Kuceritakan sebuah kisah pelikYang berotasi, bergulir, tak tersadarkanKita melihat, kita merasa, kita hadirkanKian waktu, kian terpuruk, sungguh malang Demi mengorek-orek nafkahJerih payah mengais upahCucuran keringat tak terbantahkanMengalir deras tak terpedulikan Terik sang surya menyengat kulit coklatnyaKepulan asap yang tak terhitung hadirnyaBerkali-kali menerobos hidungnyaTerkuras emosinya pada akhirnya Berapa kali makian yang ia lontarkanBerapa kali keributan yang ia ciptakanBerebut penumpang dengan sesamaDemi terisi, penyambung hidupnya Jalanan kota di luar kepalanyaTak akan tersesat kita dibawa roda empat iniAsal katakan mau ke manaAsal berikan saja upah tambahannya Namun, kian hari ia kian terpurukKian hari k...
Pria Berkerah Biru
SAJAK, SASTRA

Pria Berkerah Biru

Oleh: Mushanif Ramdany* Kala sore berjalan menyusuri alun kota binar kesunyian kian melambai Ia datang sampai ketika jalan dipenuhi duri tajam seraya bertanya: “Tahukah kamu pria berkerah biru itu?” seketika mengerut dahi sang pawang UU   Lama dalam jeruji Asal ketuk jadi   Sang pawang angkat bicara: “Aku tak kenal dia, tapi aku kenal orang yang bersepatu pantofel hitam itu.”   *Mahasiswa Hubungan Internasional Unsoed angkatan 2016.   Catatan Redaksi: Tulisan ini dimuat ulang dari Buletin InfoSketsa Edisi 36 | Agustus 2018 pada Rubrik Puisi.