Penulis: Ferry Aditya
Data oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2022 menunjukkan bahwa sekitar 244 juta anak dan remaja berusia 6–18 tahun di dunia masih belum bersekolah. Di negara maju, akses pendidikan hampir universal. Sementara itu, di banyak wilayah Afrika Sub-Sahara dan Asia Selatan, jutaan anak masih menghadapi hambatan ekonomi, geografis, dan sosial untuk memperoleh pendidikan dasar. Laporan dari Education Policy and Data Center (EPDC) juga menyebutkan bahwa lebih dari 90% anak yang tidak bersekolah berasal dari negara berpendapatan rendah dan menengah ke bawah. Hal ini menegaskan bahwa tempat lahir masih menentukan peluang belajar. Kesenjangan ini menjadi refleksi nyata dari ketidakmerataan sistem pendidikan global.
Di balik persoalan akses, dunia juga dihadapkan pada tantangan serius dalam hal kualitas pendidikan. World Bank (2022) melaporkan bahwa di negara berpendapatan rendah dan menengah, sekitar 7 dari 10 anak usia 10 tahun tidak mampu membaca dan memahami teks sederhana. Kondisi ini dikenal sebagai learning poverty. Perbandingan antarkelompok pendapatan menunjukkan perbedaan tajam: low-income countries memiliki tingkat learning poverty sekitar 91–92%, sedangkan di high-income countries hanya 10–14%. Fakta ini menandakan bahwa kesenjangan pendidikan global tidak hanya berkaitan dengan kesempatan bersekolah, tetapi juga dengan kemampuan dasar yang diperoleh siswa dari sistem pendidikan yang berbeda kualitasnya.
Sarana dan infrastruktur pembelajaran turut memengaruhi sejauh mana pendidikan dapat dijangkau dan dinikmati secara merata. UNESCO (2023) mencatat bahwa hanya ada sekitar 40% sekolah dasar di dunia yang memiliki akses internet, dengan variasi besar antar-wilayah. UNICEF dan International Telecommunication Union (ITU) (2020) menambahkan bahwa lebih dari 80% anak di negara berpenghasilan tinggi memiliki akses internet di rumah, sedangkan di wilayah Afrika Barat hanya 5–6%. Bahkan, di negara berpendapatan rendah, sekitar 1 dari 4 sekolah dasar masih belum memiliki listrik, dan hampir setengahnya tidak memiliki fasilitas air bersih dan sanitasi memadai. Kondisi ini memperlihatkan bahwa infrastruktur pendidikan masih menjadi faktor krusial dalam menciptakan akses belajar yang adil di tingkat global.









