Simfoni Alam

Oleh: Khofifah Nur Maizaroh

 

Ilustasi Puisi "Simfoni Alam"
Ilusrasi: Tsabita Ismahnanda Purnama

Di ufuk timur, surya berpendar,

Gemintang bertaburan, bermandi cahaya.

Dedaunan berbisik, dalam irama angin yang riang,

Keindahan alam tak tertandingi, sangat menakjubkan!

 

Gunung tinggi bagai puncak megah,

Sungai mengalir indah membelah.

Hutan lebat rimbun bersemi,

Bersatu padu dalam harmoni.

 

Burung-burung berkicau,

Bunga-bunga mekar merekah berwarna.

Keajaiban alam yang abadi,

Hilang dalam samudra kedamaian.

 

Lautan biru membentang luas,

Hamparan pasir, berserakan hiasi kenangan.

Debur ombak berdesir lirih, menyapa dengan merdu,

Memeluk alam dalam keheningan.

 

Mahakarya langit, memukau segala sorotan,

Melampaui segala kata, abadi dalam ingatan.

Memandang alam, jiwa bertemu damai,

Mahakarya Ilahi, selalu memikat hati.

 

Editor: Ryu Athallah Raihan

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

52 Hz

Oleh: Resty Assyfa Aku berenang menyusuri hamparan laut yang gelap, mengarungi rute panjang saat dunia terlelap.…

Penjajah Berdasi

Oleh: Annisa Nur Hidayah Air laut merona oleh darah, Bumi dipijaki para penjajah berdasi. Paru-paru dunia…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

52 Hz

52 Hz

Mati Suri Jurnalisme Musik di Indonesia

Mati Suri Jurnalisme Musik di Indonesia

Dari Papan Catur Menuju Prestasi, SOCT 2026 Menjadi Sarana Menjaring Talenta Muda

Dari Papan Catur Menuju Prestasi, SOCT 2026 Menjadi Sarana Menjaring Talenta Muda

Demokrasi Dipertanyakan, Diskusi Publik Soroti Ketimpangan dan Kebijakan Negara

Demokrasi Dipertanyakan, Diskusi Publik Soroti Ketimpangan dan Kebijakan Negara

Penjajah Berdasi

Penjajah Berdasi

Bumi Manusia: Membongkar Takdir Romansa Manis Berakhir Tragis di Tangan Bangsa Eropa

Bumi Manusia: Membongkar Takdir Romansa Manis Berakhir Tragis di Tangan Bangsa Eropa