Diskusi Publik “Mencari Pancasila” sebagai Penutup Bazar Buku Sketsa

Oleh: Susilo Fathurrokhman

Rangkaian kegiatan Bazar Buku LPM Sketsa ditutup dengan diskusi publik bertajuk “Mencari Pancasila”, Sabtu petang (26/9). Beberapa elemen mahasiswa turut hadir dalam diskusi yang berlangsung di Pendopo PKM ini. Diskusi ini menghadirkan Anang Fahmi selaku pembicara yang juga merupakan salah satu pendiri LPM Sketsa. Diskusi diawali dengan pemutaran film pendek mengenai pancasila kemudian dilanjutkan pemaparan materi oleh Anang Fahmi sebagai pemantik diskusi.

Anang menjelaskan bahwa Pancasila telah ‘dihancurkan’ oleh rezim orde baru melalui Program Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Program P4 menurutnya telah merubah paradigma pancasila demi kepentingan penguasa saat itu. Namun, Anang tidak serta merta menyalahkan Program P4, perlu ada perbaikan. “Perlu (ada) lagi P4 dengan paradigma kritis,” tuturnya lugas.

Salah seorang peserta diskusi, Yopi, mahasiswa Hubungan Internasional, justru mempertanyakan mengenai keideologian Pancasila. “Benar tidak pancasila sebuah ideologi, (pada praktiknya) Soekarno kiri, Soeharto kanan, padahal sama-sama menganut Pancasila?” ucapnya menggebu-gebu. Anang berpendapat bahwa Pancasila tetap merupakan ideologi, namun perlu sebuah paradigma baru untuk menggairahkan kembali Pancasila. “Perlu paradigma Pancasila baru, perlu dikritisi. Moga-moga Pancasila baru akan muncul,” ucapnya.

Pancasila erat kaitannya dengan nasionalisme, maka perlu menumbuhkan nasionalisme dengan cara yang kritis dan tepat. Menurut Anang, nasionalisme itu seperti cinta, mudah hilang, sehingga perlu dipelihara secara terus menerus. Ia juga menekankan bahwa nasionalisme perlu dikendalikan agar tidak menjadi nasionalisme usang. “Nasionalisme usang adalah nasionalisme yang membabi buta,” ucap Anang.

Ia juga berpendapat bahwa nasionalisme saat ini tidak jelas batasnya karena batas-batas negara telah melebur melalui teknologi. “Yang ada sekarang adalah humanisme,” tambahnya. Menumbuhkan nasionalisme memang tidak mudah, dapat dimulai dari sendiri. “Lalukan dengan penuh kesadaran kritis. Nasionalisme yang utama yakni pengorbanan,” ucap Anang.

Sebelumnya diketahui bahwa Bazar Buku Sketsa yang dilaksanakan pada 19-26 September, mendapat antusiasme yang besar dari para pecinta buku. Terhitung, mencapai 2.043 eksemplar buku dari berbagai kategori yang laku terjual selama delapan hari penyelenggaraan dengan pemasukan kotor sebesar Rp14.974.000,00.

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Melintasi Alam Baka, Menerima Diri di Tengah Kalutnya Dunia

Oleh: Annisa Nur Hidayah Judul : Halte Alam Baka Penulis : Kai Elian Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (GPU)…

Di Antara Luka dan Kesempatan Baru

Oleh: Anisa Septianingsih Judul : Arini: Masih Ada Kereta yang Akan Lewat Sutradara : Ismail Basbeth…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Hari Anak Nasional: Menilik Kualitas, Kesejahteraan, dan Tantangan Era Digital

Hari Anak Nasional: Menilik Kualitas, Kesejahteraan, dan Tantangan Era Digital

Melintasi Alam Baka, Menerima Diri di Tengah Kalutnya Dunia

Melintasi Alam Baka, Menerima Diri di Tengah Kalutnya Dunia

Barangkali Besok Akan Lebih Ramah

Barangkali Besok Akan Lebih Ramah

Sebuah Elegi di Sore Hari

Sebuah Elegi di Sore Hari

Tamasya Tempat Kakek

Tamasya Tempat Kakek

Di Antara Luka dan Kesempatan Baru

Di Antara Luka dan Kesempatan Baru