Oleh: Farah Fauziah
Lengger Bicara kembali hadir menyapa masyarakat Banyumas setelah mencetak rekor MURI dengan 10.000 penari pada tahun lalu. Puncak acara digelar pada Minggu (22/6/2025) dengan mengusung tema Satria Swarna Banyumas, menyuguhkan pertunjukan-pertunjukan yang tak kalah memukau dari tahun sebelumnya. Gelanggang Olahraga (GOR) Satria Purwokerto menjadi lokasi utama penyelenggaraan festival budaya ini, yang berlangsung sejak pagi hingga malam.
Menurut Ridwan Bungsu selaku Art Director pagelaran Lengger Bicara 2025, tema Satria Swarna Banyumas diambil untuk menggambarkan kota Banyumas sebagai kota lahirnya para ksatria. Pernyataan tersebut ia sampaikan melalui akun Instagram resmi Lengger Bicara.
Rangkaian Acara Lengger Bicara 2025
Hari kedua festival Lengger Bicara terbagi menjadi dua sesi. Festival yang berlangsung dari pagi hingga sore hari dapat disaksikan secara gratis, sementara untuk puncak pertunjukan yang dilaksanakan pada malam hari dikenakan tiket masuk seharga Rp15.000,00.
Salah satu hal menarik dari Lengger Bicara tahun ini adalah keberagaman seni pertunjukan yang ditampilkan. Tak hanya menampilkan pertunjukan lengger, festival ini juga menghadirkan ragam seni pertunjukan lainnya yang cukup jarang dijumpai. Setelah sesi pembukaan oleh Master of Ceremony (MC) dan sambutan dari pihak Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, Dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas, rangkaian pertunjukan dimulai dengan Calengsai bertajuk “Barongsai: Naga Emas” dari Sanggar Seni Panginyongan. Kemudian, acara dilanjutkan dengan pertunjukan Gondolio “Paman Tani Yutu” dari Sanggar Seni Saradikesti, kesenian Kentongan, ebeg, edukasi dari Bank Indonesia, hingga acara yang paling dinanti oleh para penari, yaitu flashmob.
“Acaranya seru banget apalagi nanti di malam puncaknya juga ada kolosal, ada sendratari, ada mahakarya, terus ada guest star-nya juga, penari maestro lengger nya juga, itu lebih menarik lagi juga si. Semakin malam semakin seru,” ungkap Sindi, penari dari Sanggar Seni Panginyongan usai membawakan penampilan Calengsai.
Pada sesi malam, pengunjung disuguhi penampilan dari Malaca Music, Maestro Awarding, Tari Kolosal Satria Swarna Banyumas, drama tari musikal Srinti: The Romance of Dukuh Paruk, dan ditutup dengan Mahakarya Nusantara dengan menghadirkan bintang tamu Fanny Soegi serta maestro Rianto.
Upaya Pelestarian Budaya Banyumas
Satria Swarna Banyumas sebagai hasil kerja sama antara Lengger Bicara dengan Pemerintah Kabupaten Banyumas mampu menarik dukungan dari Kementerian Kebudayaan. Festival ini menunjukan kolaborasi yang kuat dalam upaya pelestarian budaya Banyumasan melalui pertunjukan seni yang dikemas secara menarik.
Upaya pelestarian warisan budaya Banyumas mendapat penekanan dari Kepala Dinporabudpar Kabupaten Banyumas, Fendi Rudianto. “Iya, lengger juga kan termasuk BPTB dari Kabupaten Banyumas, kan seperti itu. Warisan-warisan budaya tak benda, kan seperti itu. Jadi kami sangat berhubungan sekali, apalagi kita, anak-anak kita, generasi muda kita, kita di Banyumas banyak sekali pelaku-pelaku seni yang luar biasa. Makanya kita ada Lengger Bicara ini, kita juga support,” ujar Fendi.
Suasana Acara
Sejak Minggu pagi, Jalan Prof. Dr. Suharso mulai dipadati warga. Ada yang sekadar berjalan-jalan di sekitar area Car Free Day (CFD), ada pula yang berolahraga di GOR Satria. Sebuah gapura tematik bertuliskan Lengger Bicara menyambut para pengunjung yang datang untuk mengintip keseruan persembahan para pelaku seni Banyumasan.
Beberapa pengunjung tampak berfoto di depan spanduk dan mengunjungi stan-stan makanan yang berjajar di sekitar area panggung luar Lengger Bicara. Sementara itu, panitia ticketing berjaga di sekitar pintu masuk gedung utama GOR Satria, sesekali menawarkan tiket pertunjukan sesi malam kepada para pengunjung yang lalu lalang.
Saat pertunjukan seni Calengsai berlangsung, kerumunan pengunjung segera memadati area sekitar panggung untuk menyaksikan aksi barongsai dengan para penari. Beberapa orang yang kesulitan menonton dari belakang memilih untuk berdiri di atas kursi tribun demi mendapatkan pandangan yang lebih jelas. Antusiasme pengunjung tampak mewarnai suasana dari awal hingga akhir pertunjukan.
“Tentunya jadi warga Banyumas itu sangat bangga, muri-muri budayanya itu banyak yang jaya gitu,” ungkap Susi, salah satu penonton Lengger Bicara pada sesi malam hari.
Persiapan dari Berbagai Pihak
Kesuksesan Lengger Bicara tahun ini tidak terlepas dari persiapan matang berbagai pihak yang terlibat. Tak hanya Dinas Kebudayaan yang telah merancang acara sejak April hingga Juni, panitia dan tim volunteer juga turut disibukkan oleh agenda festival budaya ini.
“Untuk Tari Kolosal sendiri itu ada satu bulan sebelumnya sudah dipersiapkan. Terus untuk tim volunteer kayak kita, panitia, itu ada sekitar tiga mingguan,” jelas Nurul Latifa, salah satu volunteer Lengger Bicara.
Selama proses persiapan, tim volunteer mengaku tidak mengalami kendala besar. “Selama ini volunteer kan hanya lima puluh ya, jadi kita nggak terkendala untuk mengatur gitu loh, soalnya orangnya kan masih sedikit ya lingkupnya gitu. Untuk kendala teknis di sini mungkin ada bagian dari tim lain sih. Nggak cuma dari volunteer.” tutur Inggis, rekan volunteer lainnya.
Perbedaan Lengger Bicara dengan Tahun Sebelumnya
Jika pada tahun lalu Lengger Bicara digelar untuk memecahkan rekor MURI dengan 10.000 penari … maka tahun ini fokusnya bergeser untuk memperkenalkan nama Lengger ke kancah yang lebih luas. Melalui pertunjukan seni ini, kebudayaan Banyumas diharapkan semakin dikenal oleh masyarakat, tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga internasional.
“Jadi tujuan kita memang kita lakuin, untuk membawa brand Lengger itu juga. Jangan juga dibawa ke konotasi negatif, tapi kita bisa bawa ke konotasi yang lebih positif lagi seperti itu,” ucap Fendi.
Dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Banyumas menjadikan Lengger Bicara sebagai agenda budaya tahunan, sekaligus wadah bagi para pelaku seni untuk terus berkembang. Antusiasme seniman pun turut menyala.
“Untuk ke depannya, semoga berjalan terus setiap tahunnya semakin berkembang, semakin menarik dan semakin banyak lagi… yang diselenggarakan enggak cuma dua hari mungkin tiga hari gitu. Terus, makin rame lah peminatnya,” harap Sindi.
Editor: Manda Damayanti
Reporter: Farah Fauziah, Helmalia Putri, Maula Rizki Aprilia, Nadia Amalia Wibowo, Nurul Irmah Agustina.








