Oleh: Widyana Rahayu
Girl Up Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), bagian resmi dari gerakan global Girl Up yang digagas oleh United Nations Foundation hadir menjadi ruang inklusif bagi siapa saja yang peduli pada isu kesetaraan gender, keadilan sosial, dan hak asasi manusia. Diprakarsai oleh Fazhia Khusnul Azzahra pada Desember 2024, komunitas ini berhasil menarik perhatian mahasiswi kampus dengan semangat baru yang lahir dari keresahan atas minimnya ruang bagi perempuan dan kelompok marginal untuk menyuarakan isu-isu yang selama ini kerap dianggap tabu atau disepelekan di kampus dan lingkungan sekitar.
Pendirian Girl Up Unsoed dimulai dengan pendaftaran resmi melalui situs Girl Up Global dengan mengajukan proposal yang memuat visi, misi, dan rancangan program yang akan dijalankan di Purwokerto. Meskipun sempat ragu berdiri di kota kecil, Girl Up Global akhirnya menyetujui pembentukannya di Unsoed sebagai bentuk dukungan terhadap lokalisasi gerakan. Kini, komunitas tersebut telah berkembang pesat dengan jumlah anggota sekitar 50 orang, menjadi wadah inklusif bagi mahasiswa yang peduli pada isu kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.
Girl Up Unsoed terus berinovasi dalam memberdayakan perempuan muda melalui berbagai program yang dicanangkan. Salah satu agenda rutin mereka adalah analisis opini media yang dilakukan setiap minggu oleh departemen Research and Advocacy. Artikel-artikel opini ini tidak hanya dipublikasikan di Instagram resmi Girl Up, tetapi juga di media berita, sebagai bentuk suara perempuan yang ingin didengar di ruang publik. Beberapa program kerja unggulan seperti Girl Up Skills, memiliki konsep seperti workshop untuk meningkatkan skill dari anggota sendiri dengan mengundang expert di bidang leadership. Selain itu, terdapat Ngobrol Perempuan Inspiratif (Ngopi), berupa diskusi santai dengan mendatangkan sosok perempuan inspiratif di berbagai bidang dan Sekolah Mini Girl Up. Kegiatan ini dikemas melalui program mentoring, workshop, dan diskusi santai mengenai kesetaraan gender, toxic masculinity, body autonomy, feminisme ke berbagai tingkatan sekolah di Purwokerto.
Di samping program-program yang sudah direncanakan, Girl Up Unsoed masih menghadapi tantangan. Fazhia mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam membangun komunitas ini adalah rendahnya kesadaran akan isu gender di lingkungan kampus dan sekitar Purwokerto. Menurutnya, masih banyak yang menganggap masalah kesetaraan gender bukanlah prioritas bahkan dianggap sebagai isu yang hanya relevan di kota besar.
Awalnya, kehadiran Girl Up Unsoed sempat dianggap sebagai pengaruh budaya barat yang tidak sesuai dengan kondisi lokal. Stigma sosial yang melekat di Unsoed dan Purwokerto menjadi hambatan utama, ditambah lagi dengan minimnya perhatian media lokal terhadap isu perempuan. “Tantangan yang paling krusial itu, ya, stigma sosial dari Unsoed dan Purwokerto itu sendiri. Juga kurangnya exposure media,” ujar Fazhia (06/07/2025).
Mengenai status kelembagaan, Girl Up Unsoed tengah mempertimbangkan untuk menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) resmi di kampus. Dengan status resmi, mereka berharap mendapatkan dukungan administratif, dana, dan pengakuan yang lebih kuat. Namun, mereka tetap berhati-hati agar proses ini tidak menghilangkan jiwa dari gerakan yang selama ini terjaga. Apabila nilai-nilai Girl Up dapat dipertahankan, maka formalisasi sebagai UKM menjadi langkah yang sangat mungkin diambil ke depannya.
Sebagai penutup, Girl Up Unsoed berkomitmen untuk terus menjadi ruang yang aman, relevan, dan progresif bagi siapa saja yang ingin belajar dan bertumbuh. Komunitas ini tidak hanya ingin menjangkau mahasiswa di lingkungan kampus, tetapi juga memperluas jangkauan ke masyarakat sekitar. Bagi Fazhia selaku president, kesetaraan gender bukanlah isu yang cukup dibahas di ruang akademik saja, melainkan harus dibawa turun ke lapangan dan menjadi gerakan kolektif yang melibatkan semua gender. “Ke depannya aku ingin agar Girl Up Unsoed juga menjadi tempat laki-laki, buat bisa belajar tanpa di-judge, karena memperjuangkan kesetaraan merupakan kegiatan kolektif bukan cuman tanggung jawab salah satu gender saja,” ujarnya.
Reporter: Lintang Fitriana, Hilda Lailatus Salma, Widyana Rahayu
Editor: Nadia Amalia Wibowo






