Ketergantungan Gawai Pada Mahasiswa di Masa Pandemi

Dari redaksi

Oleh: Anggi Fahreza Y.

Ilustrasi: Alil Saputra

Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak Januari 2020 telah menyebabkan peningkatan terhadap intensitas penggunaan gawai. Penelitian RSCM FK UI pada bulan April-Juni 2020 meyebutkan telah, terjadi peningkatan terhadap waktu rata-rata penggunaan gawai yaitu mencapai 11,6 jam per hari dan terjadi peningkatan kecanduan internet pada remaja Indonesia sebesar 19,3%. Hal ini menjadi salah satu akibat dari adanya peraturan work from home yang ditetapkan melalui Surat Edaran Nomor 14/SE/2020 tentang Himbauan Bekerja di Rumah dan perintah sekolah daring yang termuat dalam Surat Edaran Kemendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebab Coronavirus Disease (Covid-19). Dengan dikeluarkanya peraturan tersebut, maka seluruh aktivitas masyarakat Indonesia dibatasi demi mengurangi dan memutus rantai penyebaran Covid-19. Seluruh kegiatan pembelajaran baik dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi juga dialihkan menjadi pembelajaran yang berbasis virtual.

Peningkatan penggunaan gawai pada masa pandemi Covid-19 terlihat sangat signifikan. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh eMarketer , data pengguna gawai Indonesia diprediksikan masuk ke dalam peringkat empat besar pengguna gawai di dunia pada tahun 2016. Pada tahun berikutnya, yaitu 2016 hingga 2019 diproyeksikan bahwa pengguna gawai di Indonesia terus bertambah hingga mencapai 74,9 juta pada tahun 2017. Pada tahun 2020, penggunaan gawai semakin meningkat, ditambah lagi dengan adanya situasi pandemi Covid-19. Hal ini didukung dengan adanya laporan terbaru dari We Are Social bahwa pada tahun 2020 pengguna internet di Indonesia mencapai 175,4 juta penduduk. Jika dibandingkan dengan populasi penduduk Indonesia yang berjumlah 272,1 juta jiwa, hal ini mencapai 64% jumlah penduduk yang menjadi pengguna aktif internet.

Ada pula data dari APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) yang menyebutkan bahwa pengguna internet paling banyak terdapat pada rentang usia 15 hingga 19 tahun dan pengguna internet paling banyak kedua terdapat pada rentang usia 20 sampai 24 tahun. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa mahasiswa masuk kedalam daftar pengguna internet paling banyak mengingat usia seorang mahasiswa berada pada rentang 18 tahun keatas. Banyaknya pengguna aktif internet menunjukan bahwa pengguna aktif gawai di Indonesia semakin tinggi dan rata-rata penggunaan gawai dapat terus meningkat. Hal ini menyebabkan angka kecanduan gawai meningkat.

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Sketsa Unsoed telah melakukan survei pada bulan Mei 2021 mengenai tingkat penggunaan gawai mahasiswa Unsoed selama pandemi Covid-19 dengan jumlah responden sebanyak 130 mahasiswa. Dari total responden tersebut, sebesar 36,2% mahasiswa mengaku sering dan sebesar 62,3% mengaku sangat sering menggunakan gawai pada masa pandemi ini. Sebanyak 70,8% dari mereka menghabiskan waktu penggunaan gawai untuk mengakses media sosial. Durasi penggunaan gawai mereka juga cukup tinggi yaitu sekitar 38,5% narasumber menggunakan gawai dengan durasi selama 8-12 jam per hari dan 28,5% dari mereka mencapai durasi lebih dari 12 jam per hari.

Sejak ditetapkan kebijakan sekolah daring pada tanggal 24 Maret 2020, perguruan tinggi di seluruh Indonesia mengalihkan kegiatan kuliahnya menjadi kuliah tatap muka berbasis virtual meeting dan virtual classroom. Mahasiswa pun sebagian besar melakukan kegiatan di rumah masing-masing dengan tetap dikoordinasi oleh perguruan tinggi masing-masing melalui gawai mereka. Akibatnya, gawai menjadi sebuah benda yang tidak bisa ditinggalkan oleh mereka di masa kuliah daring dan menjadi suatu kebutuhan utama bagi mahasiswa.

Sistem perkuliahan yang menetapkan proses pembelajaran jarak jauh menjadi kesempatan mahasiswa untuk berinteraksi dengan temanya melalui perangkat selular atau gawai. Dikutip dari Kompas.id, selama masa pandemi, ketika sekolah menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh atau daring, gawai menjadi kebutuhan utama bagi para pelajar termasuk mahasiswa. Gawai menjadi sarana untuk belajar dan juga berinteraksi dengan teman. Gawai menjadi ruang ekspresi dan sarana rekreasi melalui internet. Dengan menggunakan gawai, mereka dapat mengakses gim, media sosial, artikel maupun fitur-fitur lainya. Namun, penggunaan gawai secara berlebihan dapat berdampak buruk pada kesehatan bahkan menimbulkan ketergantungan.

Dikutip dari Kompas.id, berdasarkan survei yang dilakukan Susy Katikana Sebayang dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Surabaya terhadap siswa SMP dan SMA Banyuwangi pada tahun 2020 menunjukan, 61 persen siswa mengalami gangguan atau gejala ketergantungan terhadap gawai. Gejalanya antara lain, sulit berkonsentrasi saat pelajaran (60 persen) dan merasa tidak tahan jika tidak ada gawai di dekatnya (6 dari 10 siswa). Menurut Annelia Sari Sani, psikolog klinis yang tergabung dalam Ikatam Psikolog Klinis Indonesia, penggunaan gawai khususnya internet pasti meningkat dan hal ini tak terhindarkan karena pandemi mengubah cara dan pola hidup kita. Penggunaan gawai yang ditujukan untuk pembelajaran di masa pandemi bagaikan pedang bermata dua, dapat berdampak positif dan dapat memberikan dampak negatif seperti ketergantungan.

Ketergantungan terhadap gawai membawa dampak buruk terhadap kesehatan dan mental mahasiswa. Dikutip dari Klikdokter.com dampak fisik yang sering terjadi pada mahasiswa yang kecanduan gawai adalah Computer Vision Syndrome. Computer Vision Syndrome adalah sekumpulan gejala yang dialami tubuh terutama pada mata akibat terlalu lama berada di depan gawai. Gangguan ini disebabkan oleh sinar blue light yang dihasilkan oleh layar gawai yang dapat menyebabkan kelelahan dan kerusakan pada mata. Kelalahan mata ditunjukan dengan adanya rasa nyeri dan berdenyut di sekitar area mata, penglihatan menjadi kabur, mata menjadi sulit fokus, perih, berair, merah, dan terasa gatal. Hal ini dapat berlanjut pada sakit kepala dan rasa mual. Penggunaan gawai yang berlebihan juga mempengaruhi gangguan pada otot leher. Selain berdampak pada fisik, berlebihan dalam menggunakan gawai juga dapat berdampak pada kecemasan dan depresi akibat peningkatan neurotransmitter di otak. Seseorang yang menggunakan gawai berlebihan akan mengalami kesulitan dalam mengontrol emosi mereka dan menyebabkan gangguan pada emosional.

Menurut salah satu responden dari survey yang dilakukan oleh LPM Sketsa yaitu mahasiswa angkatan Jurusan Bahasa Mandari FIB Unsoed, dia mengaku bahwa dirinya sering merasa sakit kepala akibat menggunakan gawai terlalu sering. Padahal waktu yang dihabiskan untuk menggunakan gawai hanya berada pada kisaran 4-8 jam per hari. Sama halnya dengan yang dikatakan oleh mahasiswa angkatan 2020 Jurusan Ilmu Politik FISIP Unsoed, yang mengatakan bahwa dirinya juga mengalami keluhan sering sakit kepala dan mata lelah. Hal ini berarti kebanyakan mahasiswa yang menggunakan gawai dalam durasi lebih tinggi dari 4-12 jam mengalami keluhan yang lebih parah. Hal ini dibuktikan dengan salah satu pernyataan mahasiswa yang menggunakan gawai dalam durasi 8-12 jam per hari yaitu mahasiswa angkatan 2020 dari Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unsoed. Dia menyebutkan bahwa dirinya mengalami gejala sakit mata, punggung terasa pegal, badan yang terasa sakit semua dan diikuti dengan perasaan bosan.

Penggunaan gawai yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang mengakibatkan terganggunya waktu tidur. Bekerja di depan komputer atau gawai mereka setiap malam dapat mengganggu siklus tidur alami tubuh. Dikutip dari klikdokter.com, bermain gawai pada malam hari dapat menurunkan level melatonin, yaitu hormon yang meregulasi siklus bangun dan tidur alami manusia. Selain gangguan tidur, mahasiswa yang ketergantungan terhadap gawai juga dapat mengalami repetitive stress injuries yaitu gangguan tubuh yang disebabkan oleh gerakan kecil yang berulang, seperti mengetik dan scrolling pada gawai mereka. Hal ini dapat menyebabkan pembengkakan jaringan sekitar syaraf yang ditandai dengan kesemutan, kaku, dan nyeri saat bergerak.

Ada berbagai cara untuk mengatasi keluhan yang dirasakan oleh para pengguna gawai yang terlalu sering, salah satunya yaitu dengan beristirahat dari penggunaan gawai. Menurut pendapat dari mahasiswa angkatan 2020 Jurusan Argoteknologi FAPERTA Unsoed yang merupakan salah satu responden survey yang dilakukan LPM Sketsa, dirinya mengatasi keluhan yang dirasakan dengan cara melakukan senam mata sebelum tidur dan mulai membatasi penggunaan gawai setiap harinya. Selain itu, ada cara efektif yang bisa dilakukan untuk mengurangi keluhan akibat terlalu lama menggunakan gawai yaitu dengan cara berjalan-jalan keluar rumah untuk menikmati lingkungan sekitar. Dengan berjalan-jalan keluar rumah, kita dapat melihat berbagai tumbuhan hijau untuk mengatasi kelelahan pada mata seperti yang disampaikan oleh mahasiswa angkatan 2020 Jurusan Sosiologi FISIP Unsoed.

Editor: Lilit Widiyanti

Related Posts

Tinggalkan Komentar Anda