Vandalisme di Sekretariat BEM dan DLM Unsoed, Masih Soal Pemira?

Dari redaksi

Oleh: Nida Ismiatun Azzahra

Sisa Vandalisme di Sekretariat DLM Unsoed (30/12). Foto: Rofingatun Hamidah.

PURWOKERTO − Rabu (29/12) Menteri Keuangan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Irma Alfi Afifah, datang ke Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM). Sekitar pukul delapan pagi, ia yang datang dengan niat awal mengambil barang malah menemukan kondisi sekretariat BEM Unsoed dalam kondisi yang mengejutkan. Plang nama telah dicoret-coret menggunakan cat. Slot kunci sudah dirusak, sehingga perlu dibobol untuk dapat masuk. Di dalam sekretariat tampak kacau, sampah ditemukan di mana-mana serta kondisi lantai basah. Segera ia menyampaikan hal tersebut kepada pengurus BEM yang lain, kabar cepat menyebar.

Kondisi Sekretariat BEM Unsoed Saat Pertama Kali Ditemukan (29/12). Foto: Dokumentasi BEM Unsoed.

Fakhrul Firdausi, Presiden BEM Unsoed 2021 mengatakan, pada hari sebelum kejadian ia dan beberapa anggota BEM lain berada di sekretariat sampai pukul sebelas malam. Menurut informasi yang ia dapat dari salah satu anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), hingga pukul satu malam kondisi masih aman, belum ada pergerakan yang mencurigakan.

“Ya asumsi kita mungkin dari pukul dua (hingga-red) pukul tiga lah,” kata Fakhrul saat ditemui di sekretariat BEM Unsoed (30/12).

Dari pihak PSHT (5/1), Andrian Wicaksono mengonfirmasi bahwa memang di hari kejadian, ia dan beberapa anggota lain menginap di sekretariat. Mereka selesai latihan pukul dua belas malam, hingga pukul satu dini hari keadaan PKM  terlihat sepi. Sekitar pukul setengah dua dini hari mereka beranjak tidur, dan tidak tahu-menahu dengan yang terjadi selanjutnya.

Penjelasan lain datang dari penjaga PKM, Sutrisno (5/1). Pukul sebelas malam ia melihat anggota BEM meninggalkan sekretariat. Lewat tengah malam, datang kira-kira sepuluh orang dengan lima sepeda motor. Menurut pengakuannya, ciri-ciri mereka tampak seperti mahasiswa. Mengira masih orang yang sama dengan yang datang di awal, ia tak menaruh curiga. Sambil berkeliling, ia memperhatikan mereka sedang mencoret-coret banner dengan cat yang belakangan ia ketahui merupakan cat tembok. Mengingat pernah melihat BEM membuat hal serupa, ia pikir akan ada demo lagi atau semacamnya. Selama ini, ia mengaku tidak pernah diberi pemberitahuan jika ada suatu kegiatan. Pukul tiga, ia memutuskan beristirahat. Pagi hari, ketika ia berkeliling untuk mematikan lampu, ia langsung terkejut melihat kondisi sekretariat BEM dan DLM yang sudah berantakan.

“Misalkan orang (yang-red) mencurigakan, ketahuan biasanya, kalau mereka belum paham daerah sini. Kan (biasanya-red) muter-muter (dulu-red). Kalau punya kepentingan kan langsung ke tempat yang dituju, berarti kan (mereka-red) sudah paham,” jelasnya pada awak Sketsa (5/1).

Saat pertama kali ditemukan, kondisi sekretariat memang dalam keadaan terkunci. Pelaku kemungkinan mengacaukan bagian dalam sekretariat melalui jendela yang bisa dibuka. Sekretariat Dewan Legislatif Mahasiswa (DLM) juga mengalami hal serupa, bahkan lebih parah karena salah satu jendela memang sudah lama tidak ada. Hal ini mempermudah pelaku dalam menjalankan aksinya.

Kondisi di dalam Sekretariat BEM Unsoed (29/12). Foto: Dokumentasi BEM Unsoed.

Fakhrul menduga aksi vandalisme ini adalah imbas dari konflik Pemilihan Raya (Pemira) Unsoed 2021 yang berbuntut panjang hingga ke Musyawarah Mahasiswa (Musma). “Banyak pihak-pihak yang masuk ke dalam forum Musma, kemudian seperti punya agenda tersendiri, makanya kita tarik panjang itu kan dari konflik Pemira,” ujar Fakhrul.

Memberi tanggapan yang hampir senada, Alfan Maulana Akbar, paslon nomor urut 1, menuturkan (9/1) bahwa ada kecenderungan vandalisme yang terjadi berkaitan dengan konflik Pemira dan Musma. Ia melihat bahwa narasi yang diungkapkan dalam vandalisme tersebut memiliki kesamaan dengan yang disampaikan oleh beberapa orang dalam Musma sebelumnya. Namun, kecurigaan ini belum bisa dipastikan selama pelaku belum ditemukan.

Berdasarkan press release yang dikeluarkan oleh Komisi Pemilihan Raya (KPR) dan Badan Pengawas Pemira (BAWASRA), paslon nomor urut 2, Galih Satria dan Arya Fajar Hidayah tidak memenuhi persyaratan administrasi. Hal ini diketahui setelah pemungutan suara selesai dilaksanakan dan membuat pencalonannya batal demi hukum serta dianggap tidak ada.

Mantan tim sukses paslon nomor urut 2, Haidar Ahmad, menyatakan bahwa mereka menghormati keputusan tersebut dan segera melakukan pembubaran tim. Ia juga menjelaskan bahwa pihaknya tidak memiliki sangkut paut apa pun dengan permasalahan Musma maupun vandalisme. Sejak dikelurkannya keputusan diskualifikasi, tidak ada lagi aktivitas atau atribut yang berkaitan dengan paslon nomor urut 2.

“Tim kami pun sudah dibubarkan, bahkan setelah itu kembali ke kampung halaman masing-masing. Sehingga yang terjadi pascapemira dan disangkutpautkan kepada kami, kami pun sejujurnya bingung. Kami sudah tidak berkontestasi kok masih disangkutpautkan,” jelasnya ketika dihubungi melalui WhatsApp (5/1).

Soal permasalahan Musma, Instagram @beritaunsoed sendiri kerap ditandai pada unggahan cerita dari beberapa akun. Beberapa pihak merasa terjadi banyak kejanggalan, terutama saat Keluarga Besar Mahasiswa Unsoed (KBMU) tidak bisa menyampaikan pendapatnya di Musma. Menurut mereka, keputusan sudah disahkan padahal belum tercapai kata mufakat.

Ditambah lagi, beredarnya daftar nama dengan beberapa di antaranya diberi warna merah, menimbulkan banyak curiga. Di Twitter, beragam cuitan muncul menanggapi jalannya proses Musma. Cuitan tersebut utamanya datang dari akun @unsoedfess. Salah satu yang ramai dikomentari adalah sebuah gambar tangkapan layar peserta tidak bisa mengaktifkan microphone Zoom. Gambar tersebut ditambahkan keterangan pengutukan keras terhadap hasil Musma dan pengajuan mosi tidak percaya.

Ketua DLM Unsoed 2021, Annas Iman Nurfaidzin, (30/12) menyampaikan bahwa sebenarnya Musma telah dimulai sejak tanggal 18 Desember 2021. Saat itu, Musma terselenggara secara luring di pendopo PKM. Karena sering turun hujan, lokasi sempat dipindahkan ke aula Fakultas Pertanian. Namun, aula tersebut tidak bisa menampung semua KBMU hingga akhirnya menimbulkan kericuhan. Hal ini menyebabkan adanya teguran dari pihak kemahasiswaan dan mengharuskan Musma diundur hingga tanggal 24 Desember 2021 secara daring.

Terkait dugaan pembungkaman yang ramai dibicarakan, Annas mengatakan bahwa memang ada beberapa orang termasuk KBMU, BEM, dan DLM yang tidak bisa mengaktifkan microphone Zoom. Namun, ia mengatakan sejak awal pihaknya tidak mengubah setting Zoom. Semua peserta tetap boleh berkomentar, baik melalui microphone atau melalui kolom komentar.

“Jadi, di awal memang benar dari beberapa orang tidak bisa on-mic Zoom. Setelah dicari tahu, (ternyata-red) Zoom-nya tidak di-upgrade. Pengaturan Zoom sendiri tidak bisa memilih untuk mute pihak tertentu saja, tetapi mute semua orang,” jelas Annas.

Pun, untuk permasalahan tidak melakukan acc ke Zoom, ia mengatakan hal tersebut berkaitan dengan format nama yang tidak semestinya. Ketika sudah mengganti nama dan berhasil masuk, Annas menyebut beberapa pihak malah melakukan provokasi. Sementara itu, untuk daftar nama-nama yang diberi tanda merah, pihak DLM memberi klarifikasi bahwa nama-nama tersebut adalah KBMU yang hadir secara luring.

Saat ini kondisi sekretariat BEM dan DLM sudah diperbaiki dan dibersihkan. Namun, ada beberapa bagian yang memang sengaja dibiarkan dulu untuk dijadikan barang bukti. Terkait vandalisme ini, BEM dan DLM sudah melapor kepada pihak kemahasiswaan dan tengah mengupayakan untuk mengusut kasus ini kepada pihak yang berwenang. Kasus ini masih dalam proses dan pada (5/1) lalu, BEM dan DLM, sebagai pihak pelapor sudah dimintai keterangan oleh Polresta Banyumas.

Sisa Vandalisme di Sekretariat BEM Unsoed (30/12). Foto: Rofingatun Hamidah.

“Vandalisme ini akan jadi catatan dalam sejarah perpolitikan kampus di Unsoed. Jangan sampai terulang lagi, siapa pun yang melakukan dia harus bertanggung jawab,” tegas Fakhrul.

Sementara itu, Annas mengatakan mahasiswa harus tetap mengedapankan intelektualitas dan moralitas. Kritik tidak dilarang, namun musti dilakukan dengan cara-cara yang benar. Ketika sampai terjadi vandalisme seperti ini, harus segera dilakukan penindakan.

Perbuatan vandalisme yang menyebabkan kerusakan sarana dan prasarana universitas ini diatur dalam PR 12/2018 tentang Etika dan Tata Tertib Mahasiswa. Pelanggaran dari peraturan ini dapat dikenakan berupa sanksi ringan, sedang, dan yang paling berat yaitu drop out (DO) dari universitas.

Catatan:

Tulisan ini telah mengalami perbaikan pada (11/1), yakni dengan menambahkan perkembangan kasus dan keterangan dari empat narasumber baru.
Perkembangan kasus: pada (5/1) BEM dan DLM sebagai pihak pelapor sudah dimintai keterangan oleh Polresta Banyumas.
Empat narasumber baru, diantaranya: dari pihak PSHT, penjaga PKM (Sutrisno), mantan tim sukses Paslon 2 (Haidar Ahmad), dan Paslon 1 (Alfan Maulana Akbar).

Reporter: Lilit Widiyanti, Rofingatun Hamidah, Nida Ismiatun Azzahra, M. Fauzan Akbar D.

Editor: Rofingatun Hamidah

Related Posts

Tinggalkan Komentar Anda