Tag: #lpmsketsa

Baru Setahun, Wall Climbing UKM Panjat Tebing Unsoed Sudah Alami Kerusakan
BERITA, KAMPUS

Baru Setahun, Wall Climbing UKM Panjat Tebing Unsoed Sudah Alami Kerusakan

Kondisi Papan wall climbing yang berada di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Jenderal Soedirman. Foto: Sarifatul Hidayah PURWOKERTO – Speed wall climbing yang berada di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mengalami kerusakan. Papan wall climbing Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Panjat Tebing yang terdiri dari papan lead (kanan) dan papan speed (kiri) ini telah diresmikan pada 17 Januari 2019 lalu. Namun, baru satu tahun sejak peresmian, papan speed sudah mengalami kerusakan seperti mengelupas dan kemudian jatuh ke tanah pada Jumat (21/2) lalu. Kerusakan mulai diketahui ketika papan tersebut ikut tertarik point yang dipegang saat latihan pada Mei 2019, kurang lebih empat bulan setelah peresmian wall climbing. Kejadian itu mengakibatka...
Kawal RUU Bermasalah, Mahasiswa Banyumas Gelar Aksi Lanjutan
BERITA

Kawal RUU Bermasalah, Mahasiswa Banyumas Gelar Aksi Lanjutan

Aliansi mahasiswa Banyumas sedang menyampaikan aspirasinya. Foto: Mukti Palupi Purwokerto - Aksi demonstrasi kembali digelar di depan gedung DPRD Banyumas, Selasa (1/10). Demonstrasi ini merupakan aksi lanjutan yang digelar seminggu yang lalu di tempat yang sama. Aksi ini dilakukan oleh ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Banyumas. Mahasiswa yang menolak RUU bermasalah dalam aksi sebelumnya, merasa tuntutannya belum dipenuhi. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akhirnya hanya menunda pengesahan sejumlah rancangan undang-undang (RUU) yang dinilai bermasalah dan diteruskan pembahasannya pada periode 2019-2024. Hal ini diungkapkan oleh Fatih Fid'ain, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Unsoed. "Ketika tuntutan ini hanya ditunda, masih ada kemungkinan (RUU-red) untuk ...
PERSEMBAHAN BUDAYA PAPUA DALAM DIES NATALIS UNSOED KE-56
BERITA

PERSEMBAHAN BUDAYA PAPUA DALAM DIES NATALIS UNSOED KE-56

Pembukaan acara Resepsi Dies Natalis Unsoed ke-56. Foto: Mukti Palupi Purwokerto—Pementasan tarian bertajuk "Hadirnya Bhineka Tunggal Ika yang Mempersatukan Perbedaan" oleh Himpunan Mahasiswa Papua (Himapa) mewarnai malam resepsi Dies Natalis ke-56 Unsoed, Sabtu malam (28/9) di Graha Widyatama Unsoed. Hampir seratusan tamu dalam Dies Natalis Unsoed yang terdiri dari jajaran rektor, dosen, mahasiswa, dan undangan langsung terdiam manakala grup tari Papua Dance dari Himapa menaiki panggung acara. Penampilan Himpunan Mahasiswa Papua pada Malam Resepsi Dies Natalis Unsoed ke-56. Foto: Mukti Palupi Tarian ini berkisah tentang Papua, negeri yang kaya. Singkat cerita, di suatu suasana terjadi perebutan hasil antar-masyarakat yang menyebabkan peperangan. Pada saat peperangan inila...
Demo Tolak RUU KUHP dan Revisi UU KPK, Lautan Mahasiswa Padati Depan Kantor DPRD Banyumas
BERITA

Demo Tolak RUU KUHP dan Revisi UU KPK, Lautan Mahasiswa Padati Depan Kantor DPRD Banyumas

Mahasiswa memenuhi area depan Gedung DPRD Banyumas. Foto: Nur Komariah PURWOKERTO — Ribuan mahasiswa yang menamakan diri Aliansi Mahasiswa Banyumas berkumpul di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Banyumas (DPRD) untuk bergabung dalam aksi demonstrasi menolak RUU KUHP dan revisi UU KPK, Senin 23 September 2019. Unjuk rasa besar-besaran itu untuk menolak hasil revisi undang-undang yang dianggap bermasalah. Mahasiswa melakukan longmars dari PKM Unsoed menuju Gedung DPRD Banyumas. Foto: Raisan Mumtaz Massa aksi yang terdiri dari mahasiswa berbagai kampus di Banyumas tersebut, terus datang bergelombang sampai memenuhi area Pusat Kegiatan Mahasiswa Unsoed (PKM) sebagai titik awal longmars. Dari PKM, pada pukul 13.30 WIB, massa aksi mulai melangkah menuju Gedung...
KUNCLUNGAN, PERMAINAN PELEPAS LELAH DARI SERAYU
BANYUMASAN, BERITA, FEATURE

KUNCLUNGAN, PERMAINAN PELEPAS LELAH DARI SERAYU

Oleh: Mukti Palupi Jembatan Gantung Bralingmas yang Menghubungkan Desa Plana di Banyumas dan Desa Pelumutan di Purbalingga (19/11/17)  “Clung plak clung blung gelung gepak man­dul-mandul.” Lirik itu merupakan penggalan lagu dolanan khas Desa Plana yang bi­asa dinyanyikan beriringan dengan permainan tradisional Kunclungan. Kunclungan pula disebut-sebut se­bagai permainan khas Desa Plana yang sudah hampir punah. Lantunan musik dapat dihasil­kan lewat tepukan dan kayuhan tangan di sungai. Hujan menemani kami untuk sampai di sebuah pedesaan, Minggu (19/11/2017). Pa­pringan yang rimbun kian mendinginkan sua­sana. Berkendara di atas aspal koyak, akhirnya kami sampai di Desa Plana. Desa Plana merupakan desa terpencil di ujung timur Somagede, Kabupaten Banyumas, yang berbatas...
Ahmad Tohari: Saya Berpolitik dalam Karya Sastra
BANYUMASAN, BERITA

Ahmad Tohari: Saya Berpolitik dalam Karya Sastra

Ahmad Tohari, budayawan asal Banyumas, saat ditemui di acara pergantian tahun di Cilongok (31/12/2018). Foto: Yoga Iswara Rudita Muhammad. Oleh: Mukti Palupi Ahmad Tohari terbilang tua. Pria kelahiran 13 Juni 1948 ini identik dengan karya-karya yang selalu mengangkat tema lokalitas. Berbagai penghargaan telah diraihnya, mulai dari nasional sampai tingkat ASEAN. Trilogi terkenal Rongggeng Dukuh Paruk membuat namanya ikut melambung. Buku ini, diadaptasi ke dalam film “Darah dan Mahkota Ronggeng” (1983) dan “Sang Penari” (2011). Buku yang kental akan nuansa kebudayaan, ideologi, spiritual, hingga kisah asmara ini juga diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, diantaranya Inggris, Mandarin, Jepang, Belanda, dan Jerman. Kendati sudah menginjak usia 70 tahun, ia masih aktif di du...
Koboi-koboi Setelah Perang
SAJAK, SASTRA

Koboi-koboi Setelah Perang

Oleh: Yoga Iswara Rudita Muhammad* Satu pelor menancap di kepala lawan Tess! Masih kuat jua dia berdiri Sayang, dia roboh di sekon keempat Asik betul bisnis penghilangan nyawa ini Mencopot nyawa orang Habis itu dibayar pula Keadilan mesti ditegakkan Panji-panji itu melindungimu Mata dibalas mata Nyawa dibalas mata Sekali kita berurusan, sekali pula diselesaikan Deru pendek mesiu Mengubah serbuk menjadi asap kelabu Dalam masalah yang tak selesaikan Kita tak kenal hitung-hitungan Tak ada abu-abu dalam takaran hidup dan mati Pilihan hanya satu Menumpas atau ditumpas   *Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman angkatan 2016, penulis cerpen dan puisi.  
Ayah Merantau ke Luar Angkasa
CERPEN, SASTRA

Ayah Merantau ke Luar Angkasa

Oleh: Wisnu Sumarwan* “Ayahmu sedang merantau, Nak....” “Untuk apa merantau, Bu?” “Untuk pulang lagi nanti, Nak....” Ibu berbisik padaku di suatu malam sunyi pekat seperti kopi tubruk yang kini sudah dingin di meja menyisakan ampas-ampas getir di dasar gelas. Aku ingin bertanya lagi sebenarnya. Tapi, waktu itu aku masih terlalu kecil untuk bisa memahami perkataan ibuku. Jika hanya untuk pulang lagi, mengapa tidak pulang sekarang saja? Apakah ia tak mau bertemu denganku seperti aku yang begitu ingin bertemu dengannya? Sejak aku lahir, aku tak pernah melihat raut wajahnya. Bahkan fotonya tidak ada. Aku ingin bertemu ayahku. Semua teman-temanku punya ayah. Mengapa aku tidak? “Ayah merantau kemana, Bu?” tanyaku suatu ketika yang lain. “Kau lihat itu?” ibuku menunjuk ke luar jendela. Tam...
[RESENSI BUKU] SEBELUM PEMBACA BOSAN…
ARTIKEL

[RESENSI BUKU] SEBELUM PEMBACA BOSAN…

Oleh: Yoga Iswara Rudita Muhammad* Judul buku : Seandainya Saya Wartawan Tempo Penulis : Goenawan Mohamad Tebal : vii+98 halaman (versi format pdf) Edisi : Edisi revisi cetakan keempat Tahun : 2015 Penerbit : Tempo Publishing Apa jadinya kalau berita yang lazimnya kaku dan taat pakem berita lempeng (straight news) disusun ulang sehingga menjadi sebuah laporan nan menarik untuk dibaca? Itu sedikit gambaran yang saya dapatkan dari apa yang disebut gaya penulisan feature. Selebihnya, silakan Anda baca buku Goenawan Mohamad yang satu ini. Sudah bukan rahasia lagi kalau Goenawan Mohamad adalah seorang wartawan ulung. Berpuluh-puluh tahun sudah tokoh itu menekuni bidang yang mengangkat namanya, jurnalisme. Namanya kian melambung bersamaan dengan munculnya Tempo, perusahaan pers yang ia...
Asmaradana
CERPEN, SASTRA

Asmaradana

Oleh: Permadi Suntama Tetes embun menyelinap dan membungkusi daun pisang yang menetaskan sayap kupu-kupu untuk terbang. Menjemput serbuk sari pada bunga-bunga yang telah membuka kuncupnya. Sayup suara bayi kelelawar yang menangis karena terjepit di ujung kuncup daun pisang. Suaranya tidak mau kalah dengan bunga-bunga yang bermekaran. Tamparan kepak sang induk kelelawar, menjadi mula dari perjalanannya. Bersamanya, mengembara keheningan yang memupuk keharuman bunga temboja. Kelopak-kelopak bunganya yang harum merebahi tanah, menjadi perantara jalan untuk mendekatkan manusia pada sang Pencipta. Burung Prenjak melompat-lompat riang mendapati setundun pisang matang di samping sebuah rumah. Tanpa peduli ada sepasang kelelawar bersaudara, yang merintihkan sakit dan lapar di dekatnya. Bunga-b...