Alam-Malam

Oleh: Ari Mai Masturoh

Ilustrasi: Mustiyani Dewi Kurniasih
Ilustrasi: Mustiyani Dewi Kurniasih

 

Renyah riuh tawa segerombol anak muda
Bersenjata dawai bernada hingga beraroma
Berserah, pasrah
Menjemput asa tebungkus ruang angkasa
memagutkan diri, mencari jati diri
Meski hanya duri yang didapati
Tapi, tawa tak mungkin rela berhenti

Tanah mengintip, tak lupa merintih
Mencoba memadu kasih dengan kerikil mungil
Menahan aspal panas yang menindih
Menopang bangun ruang yang semakin meninggi

Air pun tak mampu menahan diri berganti komposisi
Hingga malu menyajikan diri pada akar pohon untuk mempercantik diri
Agar batang dan daun berselimut cahaya lampu mampu memikat hati
Dan orang-orang tak segan mengabadikan diri dengannya
melalui bidikan fotografi

Di seberang muka tampak ibu bertenaga mencoba bermain
Bermodal jarik dan nyala lilin
Beradu dengan angin yang kadang panas,
namun kadang pula dingin

Ditemani penjual nasi yang menunggu pembeli
Sambil sesekali melirik ulah para penjual daging mendekap tas jinjing
Menggeliat seperti kepingin kencing
Tak lupa gincu menempel pada bibir,
pikirnya agar lebih memikat hati mungkin
Saling bersaing

Belum lagi para pejuang pengejar tali
yang dipindah dari kanan ke kiri
Yang hasilnya entah untuk apa nanti
Boleh jadi untuk bungkus nasi

Boleh jadi pula untuk membangun negeri,
Atau hanya untuk mempertebal dompet sendiri
Agar bangun ruangnya semakin meninggi lagi
Atau agar namanya semakin semerbak,
tertiup angin dan terbang meninggi

Dari ketinggian bulan mengawasi
Menonton opera mini
Kali ini tokohnya orang-orang berdasi
Memainkan kartu remi
Sambil menenggak secangkir kopi
Menunggu mana dulu yang mati

Yogyakarta-Purwokerto, 21 Maret 2016.

 

Catatan Redaksi: Tulisan ini pernah dimuat di BU tanggal 4 April 2016. Namun beberapa waktu lalu BU pernah terserang badware, mengakibatkan beberapa tulisan yang telah terbit pun hilang. Oleh karena itu, tulisan ini dimuat ulang agar bisa terbaca oleh Anda yang terhubung ke internet.

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Barangkali Besok Akan Lebih Ramah

Oleh: Abida Fitratussawa Pagi datang dengan wajah pucat. Langkah kaki tetap berjalan di tengah hati yang…

Sebuah Elegi di Sore Hari

Oleh: Lintang Fitriana Dalam lorong yang kehilangan pagi, seorang ibu mengayun langkah tanpa gizi, menenteng pasar…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Melintasi Alam Baka, Menerima Diri di Tengah Kalutnya Dunia

Melintasi Alam Baka, Menerima Diri di Tengah Kalutnya Dunia

Barangkali Besok Akan Lebih Ramah

Barangkali Besok Akan Lebih Ramah

Sebuah Elegi di Sore Hari

Sebuah Elegi di Sore Hari

Tamasya Tempat Kakek

Tamasya Tempat Kakek

Di Antara Luka dan Kesempatan Baru

Di Antara Luka dan Kesempatan Baru

Duta Kampus Unsoed Ikut Kunker Wakil Presiden, Mengapa Mahasiswa Mempermasalahkannya?

Duta Kampus Unsoed Ikut Kunker Wakil Presiden, Mengapa Mahasiswa Mempermasalahkannya?