Oleh: Rizkiana Fadillah Ningtias
Dalam gelap yang paling sunyi,
aku terbaring di atas kasur kecil yang sempit.
Menatap langit-langit yang penuh kesedihan,
sembari mencuri pandang pada bintang di balik jendela.
Aku melihat harapan-harapan itu,
terkubur satu per satu secara perlahan.
Aku hancur, sehancur-hancurnya,
tak ada telinga untuk bercerita,
selain kata-kata yang tumpah di atas kertas.
Apa sebenarnya dunia ini?
Mengapa dulu aku begitu yakin untuk dilahirkan?
Apakah luka ini adalah pilihanku sendiri,
atau hukuman atas dosa yang tak kuingat pernah kuperbuat?
Malam kian larut, tapi mataku enggan menutup.
Takut jika esok adalah pengulangan dari luka yang sama.
Bintang yang berkilau itu terasa begitu jauh,
seperti kebahagiaan yang hanya bisa kupandang tanpa bisa kugenggam.
Aku bertanya pada hening yang kian mencekam,
Berapa banyak lagi kepingan diriku yang hancur?
Hingga aku benar-benar tak bersisa,
menjadi abu yang ditiup angin tanpa arah.
Jika benar ini adalah jalan menuju surga,
mengapa perjalanannya harus sepedih ini?
Haruskah jiwaku dipatahkan berkali-kali.
Hanya untuk membuktikan bahwa aku kuat bertahan?
Kini biarlah kasur kecil ini menjadi saksi,
tentang seorang manusia yang sedang mencari arti.
Tentang doa yang terucap di antara isak,
menunggu tangan Tuhan membasuh segala sesak.
Entahlah …
Ataukah pedih yang mendalam ini,
hanyalah cara Tuhan membasuh jiwaku,
agar kelak aku layak memeluk bahagianya surga?
Editor: Annisa Dwi Rahman






