Oleh: Amanda Putri Gunawan
Di tengah padatnya ritme perkuliahan, sejumlah mahasiswa memilih untuk tetap aktif mengikuti berbagai kegiatan di luar kelas. Aktivitas organisasi, kepanitiaan, hingga kompetisi menjadi bagian dari keseharian yang mereka jalani di sela-sela tuntutan akademik. Bagi mereka, kesibukan tersebut bukan sekadar tambahan agenda, melainkan ruang untuk mengasah kemampuan dan menumbuhkan potensi diri. Semangat untuk produktif dan berprestasi inilah yang mendorong mahasiswa berani menyeimbangkan dunia akademik dan non-akademik. Semangat ini pun tercermin pada sosok Alfi Nuraeni, sang mahasiswa berprestasi, pentolan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed).
Siapa yang tidak mengenal sosok Alfi Nuraeni, atau yang akrab disapa ‘Alfi’. Mahasiswa Farmasi Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan (FIKes) angkatan 2022 ini kerap muncul dalam berbagai pengumuman lomba, kegiatan organisasi, hingga unggahan media sosial kampus. Bagi banyak mahasiswa, Alfi dikenal sebagai figur aktif yang hampir selalu hadir dalam berbagai kegiatan dan kompetisi. Namun, kesibukan tersebut bukanlah ajang pamer untuk Alfi. Lebih dari itu, semua yang dijalani Alfi berangkat dari keinginan kuat dan tekad bulat untuk terus belajar serta membuka diri pada pengalaman-pengalaman baru.
Mengenal Lebih Dekat Sosok Alfi Nuraeni
Saat dijumpai oleh Awak Sketsa pada Rabu (26/11/2025), Alfi berbagi cerita mengenai bidang-bidang yang ia tekuni. Ia mengungkapkan ketertarikannya pada dunia kepenulisan dan kewirausahaan, serta kegemarannya mengikuti berbagai ajang perlombaan, khususnya debat.
Deretan prestasi yang telah ia raih menjadi bukti atas keteguhan dan kegigihannya. Pada skala nasional, Alfi sukses meraih juara pertama dalam lomba Sustainable Development Goals (SDGs) Innovation Challenge dengan mengangkat topik kecerdasan buatan. Adapun di tingkat universitas, Alfi berhasil meraih predikat Mahasiswa Berprestasi Utama Unsoed 2025 sekaligus Duta Perpustakaan Unsoed 2025. Selain giat dalam kompetisi, Alfi juga aktif berorganisasi, mulai dari keterlibatannya di Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia hingga Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsoed. Tak hanya menjadi anggota, ia juga pernah menjadi ketua Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Center Unsoed dan Kepala Departemen Unit Kerohanian Islam (UKI) di FIKes.
Tak berhenti sampai di situ, di tengah padatnya aktivitas yang ia jalani, Alfi masih menyisihkan waktu untuk merintis usaha buket bunga berbahan kawat bulu. Dari bisnis kecil tersebut, ia banyak belajar tentang proses, ketekunan, serta perjuangan dalam membangun sebuah usaha.
Proses dan Perjuangan Menjadi Sosok Mahasiswa Berprestasi
Di balik segudang kegiatan tersebut, Alfi dihadapkan pada tantangan besar dalam mengelola waktu dan energi. Ia mengungkapkan bahwa kunci utama yang ia pegang adalah menentukan skala prioritas. “Kalau prioritasku tuh yang pertama akademik, nah yang kedua itu lomba-lomba atau kompetisi, terus yang ketiga organisasi, baru yang terakhir adalah bisnis,” ujarnya. Menariknya, Alfi justru menghindari kebiasaan multitasking. Menurutnya, mengerjakan terlalu banyak hal secara bersamaan dapat mengganggu fokus.
Selain itu, Alfi menekankan pentingnya menyusun jadwal mingguan serta menetapkan target sebagai upaya menjaga disiplin diri. Dengan adanya target yang jelas, ia dapat memahami apa yang ingin dicapai sekaligus menyusun strategi yang tepat untuk mewujudkannya.
Namun, di balik semua kedisiplinan yang ia bangun, Alfi mengakui bahwa waktu tidurnya sering kali ia korbankan demi menuntaskan padatnya aktivitas. “Memang harus ada yang dikorbankan ya guys, yaitu waktu tidur aku,” tuturnya jujur.
Sejak menyandang status mahasiswa baru, Alfi memang sudah mulai aktif ‘menabung prestasi’—membuatnya bisa mencapai posisinya saat ini. Ia mengawali langkahnya dengan mengikuti berbagai perlombaan, seperti Business Model Canvas, debat, hingga belajar menulis proposal gagasan kreatif. Dari proses tersebut, ia perlahan mengenali kemampuannya dan mengasah potensi diri. Kebiasaan yang dibangun sejak awal inilah yang menjadi bekal penting agar ia tak merasa terbebani dengan segala aktivitasnya sekarang.
Dalam wawancaranya, Alfi turut membagikan sejumlah tips bagi para mahasiswa yang ingin mengikuti jejaknya sebagai Mahasiswa Berprestasi. Ia menekankan pentingnya melatih kemampuan literasi dan penguasaan bahasa Inggris, dua bekal yang menurutnya sangat krusial untuk dibangun sejak dini.
Perjalanan Alfi dalam meraih prestasi tentunya tidak selalu mulus. Padatnya praktikum dan laporan di Program Studi Farmasi kerap membuat waktunya berbenturan dengan persiapan lomba. Ia pun mengaku pernah menerima komentar negatif dari lingkungan sekitar. Namun, Alfi memilih untuk tidak larut dalam hal tersebut. Baginya, selama tanggung jawab utama tidak diabaikan, tidak ada alasan untuk berhenti berproses.
Lingkungan yang suportif juga menjadi faktor penting dalam perjalanan Alfi. Ia berupaya mencari teman-teman yang memiliki semangat dan ambisi serupa. “Ternyata lingkungan itu benar-benar berpengaruh lho ke kita,” katanya. Dukungan tersebut membantunya untuk tetap konsisten mengikuti kompetisi hingga semester akhir.
Dari sekian banyak pengalaman, salah satu yang paling berkesan bagi Alfi adalah saat mengikuti Cosmetic Competition di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Dalam ajang tersebut, ia dan timnya harus bersaing dengan mahasiswa dari perguruan tinggi besar seperti Institut Teknologi Bandung (ITB). Tanpa ekspektasi tinggi, Alfi hanya berusaha mempersiapkan diri secara maksimal. “aku mempersiapkan itu dengan sangat-sangat baik, well prepared banget, karena aku tahu sainganku tuh bukan saingan yang mudah,” ujarnya. Hasilnya, ia bersama timnya berhasil masuk nominasi tiga besar, sekaligus menempati posisi pertama. Dari pengalaman itu, Alfi menyadari bahwa Unsoed mampu bersaing dengan universitas terkemuka seperti ITB apabila usaha dilakukan secara maksimal.
Di balik berbagai pencapaian yang ia raih, Alfi menegaskan bahwa dukungan terbesar datang dari kedua orang tuanya. “Paling kontributif dan paling suportif menurut aku adalah ibu aku sih, ibu dan ayah aku sebenarnya,” tuturnya. Dukungan dan pesan dari orang tua menjadi penguat langkahnya untuk terus konsisten mengembangkan diri.
Prestasi yang diraih Alfi tentunya turut memberi dampak pada kehidupan akademiknya. Ia merasa lebih mudah menjalin komunikasi dengan dosen serta mendapatkan kepercayaan dalam berbagai kegiatan. Meski demikian, Alfi menegaskan bahwa pengakuan bukanlah tujuan utamanya. “Fokus aja buat membangun diri kamu. Nggak usah haus dengan validasi orang,” ujarnya.
Menutup perbincangan, Alfi berpesan kepada mahasiswa, khususnya mahasiswa baru, untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin selama kuliah. “Jangan terlalu banyak main,” katanya. Menurutnya, menjadi mahasiswa merupakan sebuah privilege yang perlu dimanfaatkan dengan kegiatan produktif dan pengembangan diri.
Reporter: Amanda Putri Gunawan
Editor: Nurul Irmah Agustina








