Oleh: Maula Rizki Aprila

Bambang Wadoro (20/11/2025) (beritaunsoed.com/Nesya Huwaida)
Di rumah sederhana yang beralamatkan di Jalan Perintis Nomor. 40, seorang budayawan Banyumas tinggal dan hidup berdampingan dengan masyarakat. Bambang Wadoro atau biasa disapa Kang Bador adalah seorang budayawan Banyumas yang mungkin namanya belum santer terdengar di masyarakat luas. Ia berasal dari Desa Gerderun, Kecamatan Purwojati, tempat lahirnya Lengger Banyumas. Sosok yang lebih ingin dikenal sebagai pemerhati budaya Jawa Banyumas ini juga berkecimpung di bidang penulisan teks drama (dramawan). Melalui bidang kesenian tersebut, ia tak jemu untuk selalu berkarya dan memberikan yang terbaik dalam setiap karyanya. Setiap tulisan yang ia tuangkan adalah representasi dari kemanusiaan dan kehidupan sosial masyarakat Banyumas. “Masa muda saya itu di teater sastra, baca puisi,” ungkapnya saat ditanyai oleh Awak Sketsa pada Kamis (20/11/2025).
Bambang Wadoro dengan wawasan dan kreativitasnya berhasil menduduki juara di beberapa perlombaan bidang kepenulisan sastra dan drama. Ia pernah memenangkan lomba baca puisi tingkat kabupaten dan dinobatkan sebagai Sutradara Drama Terbaik I pada Festival Teater Jawa Tengah 2002. Salah satu naskah drama yang pernah ia tulis berjudul “Pengadilan Semut” berhasil mengantarkannya memperoleh penghargaan Prasidatama oleh Balai Bahasa Jawa Tengah sebagai naskah drama terbaik tahun 2021.
Selain berkecimpung di bidang kesenian dan sastra, Bambang Wadoro memanfaatkan gelar S1 pendidikannya untuk mengabdi sebagai guru pada tahun 1980 sampai 2019. Tercatat ia mengajar sebagai guru Sekolah Dasar (SD), kepala SD, dan pengawas Taman Kanak-Kanak (TK)/SD. Di sisi lain, penguasaannya terhadap dunia sastra membuatnya ditunjuk menjadi juri di beberapa perlombaan, seperti juri baca puisi, baca geguritan tingkat kabupaten dan provinsi siswa/mahasiswa atau umum, juri penulisan sastra siswa, mahasiswa dan monolog Peksimida Provinsi Jawa Tengah dan juri festival seni pertunjukan ketoprak, teater, dan seni tradisional. Bambang Wadoro juga aktif di beberapa organisasi kemasyarakatan dan instansi pemerintah. Ia menjabat sebagai Ketua Rukun Warga (RW) Kelurahan Karangwangkal, dan ketua Dewan Pakar Kesenian Kabupaten Banyumas 2022-2027. Segudang pengalamannya tersebut tak lepas dari perjuangan hidup yang telah ia lalui.
Berteater sebagai Panggilan Jiwa
Mengawali karir hidupnya di dunia kesenian, terutama seni teater, Bambang Wadoro tak lelah mewujudkan keinginan dari panggilan jiwanya. Kecintaannya pada seni teater muncul atas izin Sang Esa untuk menyampaikan pesan lewat dirinya dan diwujudkan dalam bentuk naskah drama lalu ditampilkan lewat seni teater. “Ya itu karena kesyukuran saya diberi karunia, diberi kemampuan. Rasa seni itu rasa dan perasaan, karena rasa perasaan yang diberi oleh Tuhan, dan punya nalar, punya akal, itu diungkapkan melalui karya. Itu sebuah kesyukuran. Terima kasih saya diberi kemampuan, sehingga bukan secara finansial.”ujarnya. Naskah drama baginya adalah bentuk dari rasa syukur atas kehendak Tuhan terhadap karya-karyanya.
Setiap narasi yang ia torehkan menjadi teks drama bukan semata hasil karangan, melainkan ada pesan dan makna yang ingin ia sampaikan. Bambang tak ragu untuk menuliskan setiap karsa yang lahir dari jiwanya. “Saya memperhatikan hal-hal yang tidak diperhatikan oleh orang lain.”ucap Bambang. Kepekaannya terhadap kondisi semesta menjadi bekal dalam menciptakan karya sastra.
Bambang Wadoro mendedikasikan sebagian masa mudanya untuk bergelut di bidang seni teater. Ia bahkan menggunakan gaji dari penghasilannya guna mempelajari dan mendalami seni teater. Walaupun sempat dipandang remeh, Bambang tak mundur dan tetap memperjuangkan keinginannya. “Dulu tidak diperhatikan, tidak diseriusi oleh beberapa teman. Akhirnya saya menyeriusi dengan mengorbankan gaji saya untuk berteater,” ungkapnya.
Pengorbanannya pun berbuah manis, ia berhasil mendirikan Teater Tubuh pada 1986 yang diketuai langsung olehnya, dan hingga saat ini teater tersebut masih aktif. Selain membentuk teater, ia juga telah menyutradarai 20 naskah drama, baik naskah buatannya sendiri maupun naskah drama dari para sastrawan Indonesia, seperti naskah drama Putu Wijaya, Fredy Kastamarta, Bakdi Sumanto, dan Arifin C. Noer. Di sisi lain, Ketua RW Kelurahan Karangwangkal tersebut telah sukses menulis 13 naskah drama.
Selain berkesenian, pria yang kerap disapa Kang Bador tersebut mengisi aktivitas sehari-harinya dengan bekerja di Majalah Ancas sebagai redaktur kalawerta Penginyongan. Aktivitas tersebut telah ia jalani sejak 2010 sampai sekarang. Majalah Ancas sendiri merupakan majalah berbahasa Jawa Penginyongan yang diprakarsai oleh Ahmad Tohari. Instansi pemerintah juga tak luput dari pengalamannya dalam kesenian. Ia menjadi Ketua Dewan Pakar Kesenian Kabupaten Banyumas periode 2022 sampai 2027. “Ya, berkesenian. Nulis di Kalawerta, Majalah Ancas, nulis bahasa Penginyongan. Di sini saya salah satu pakar di balai bahasa untuk pengembangan revitalisasi bahasa Jawa Penginyongan, bahasa Banyumas,” jelasnya (20/11/2025).
Bambang Wadoro di Kacamata Masyarakat Sekitar
Namanya memang belum banyak diketahui, tetapi di kalangan masyarakat, khususnya masyarakat Kelurahan Karangwangkal, Bambang Wadoro dikenal sebagai ketua RW yang bijaksana dan baik hati. Pengalamannya menjadi pemimpin di beberapa organisasi membuatnya dipercayai oleh warga untuk memegang posisi tersebut. “Sebagai ketua RW sosok yang sangat baik hati dan bijaksana,” ungkap Lusi (27/11/2025), salah satu warga Kelurahan Karangwangkal. Selain itu, rekam jejaknya di bidang kesenian dan budaya membuat Bambang dikenal di kalangan akademik dengan nama Pak Bador. Panggilan tersebut sering digunakan oleh kalangan dosen dan mahasiswa. “Dosen bahasa FIB (Fakultas Ilmu Budaya-red) banyakan tahunya Pak Bador,” jelasnya.
Keberadaannya yang dekat dengan lingkungan pendidikan tak lantas membuat namanya akrab di telinga dosen dan mahasiswa. Namun, di samping itu, Rifki, Mahasiswa Sastra Indonesia mengaku mengenal Bambang Wadoro melalui tugas kuliah yang berkaitan dengan naskah drama. “Palingan kita kenal beliau-beliau itu lewat hari-hari kita dibagi tugas gitu, dan itu atas inisiatif mahasiswa sendiri.” Ia juga berpendapat bahwa pihak fakultas berperan dalam mengenalkan budayawan-budayawan di Banyumas, termasuk Bambang Wadoro. “Seharusnya sih dari fakultas atau dari prodi itu lebih mengenalkan siapa aja sih budayawan-budayawan dari Banyumas.” Ia menambahkan, pihak fakultas juga perlu untuk mengenalkan budayawan-budayawan banyumas kepada mahasiswa lewat diskusi dan kegiatan-kegiatan kampus. Dalam hal ini, eksistensi Bambang Wadoro sebagai budayawan Banyumas tentu berperan penting dalam melestarikan dan menjaga budaya daerah setempat.
Titip Pesan untuk Anak Muda
Kesenian yang semakin berkembang di zaman yang serba rasional, terkadang membuat orang-orang terlewat untuk melestarikan dan mempertahankannya. Terbius oleh budaya asing yang lebih menarik dipandang mata. Di balik hal itu, Bambang Wadoro adalah simbol perjuangan dalam mempertahankan seni kedaerahan dengan segenap ilmu dan tekadnya yang gigih, meski namanya tak banyak yang tahu. Namun, melalui karyanya, orang-orang dapat mengenal sosok Bambang Wadoro. Salah satunya lewat teater, berteater menurutnya adalah seni yang lengkap, tradisi, musik, olah rasa, dan bahasa dapat disatukan dalam teater.
Ia berpesan kepada anak-anak muda untuk terus melestarikan seni teater, sebab dengan berteater intuisi akan terus hidup melalui jiwa-jiwa yang berbeda. “Kamu generasi muda ya itu tadi kalo kamu mau beda dari orang lain ya berteater itu jelas akan berbeda seninya. Seni tradisi, bahasa, bahasa itu, jangan bahasa indonesia aja, pelajari bahasa ibumu, karena utamakan bahasa Indonesia ya kan, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing, trigatra bahasa.” jelasnya.
Serangkaian harapan juga disampaikan dari masyarakat dan mahasiswa. “Ya semoga lancar sukses, gitu aja. Menjadi sosok pemimpin yang bijaksana,” ujar Lusi, berharap Bambang bisa menjadi pemimpin yang baik. Di samping itu, sebagai mahasiswa FIB, Rifki berharap Bambang Wadoro bisa lebih dikenal di masyarakat. “Harapan aku sih untuk keberadaan pak Bambang Wadoro ini si semoga para mahasiswa lebih sadar akan keberadaannya, lebih inisiatif lah bagi mahasiswa.”
Reporter: Maula Rizki Aprilia, Helmalia Putri, Nesya Huwaida, Ade Ika Cahyani
Editor: Helmalia Putri






