Kenal Lebih Dekat, 4 Klub Musik Kalcer di Unsoed!

Oleh: Miqda Al Auza’i

Di kalangan anak muda, kata “kalcer” bukan lagi kata yang asing didengar. Jika ditilik dari mana asalnya dan apa makna sebenarnya, istilah “kalcer” berasal dari kata “culture” yang memiliki arti “budaya”. Budaya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai pikiran; akal budi; adat istiadat; sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang (beradab, maju); sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah.

Penyebutan istilah “culture” menjadi “kalcer” beriringan dengan adanya pelebaran makna dari istilah “budaya”. Penggunaan “kalcer”, identik dengan label gaul untuk sesuatu yang dianggap keren, punya gaya khas, dan dekat dengan identitas anak muda zaman sekarang. Hal ini mencakup gaya hidup, gaya berpakaian, selera musik, atau yang lain. 

Kalau ditarik ke kehidupan kampus, salah satu hal yang paling mudah membuat vibes “kalcer” itu terasa di kalangan mahasiswa adalah musik dan klub-klubnya. Tak hanya jadi tempat mengejar gelar, kampus juga menjadi tempat mahasiswa untuk mengekspresikan diri, bereksperimen dengan selera, sekaligus membangun identitas “kalcer” supaya tetap relevan dengan kehidupan anak muda di era ini.

Di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) sendiri, klub musik bukan hanya sebagai pengisi acara atau hiburan semata, tetapi juga ruang bagi mahasiswa untuk menyalurkan ide, gaya, dan kreativitas mereka. Penasaran bagaimana serunya mahasiswa ini berkuliah asyik sambil bermusik? Nah, ini dia secuil perjalanan empat klub musik kalcer di Unsoed!

Remoef: Nada dari Kampus Oranye

Di sela hiruk-pikuk Kampus Oranye, sebutan untuk Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), ada nada-nada yang turut meromantisasi suasana di dalamnya. Nada itu lahir dari Remoef, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) musik yang sejak tahun 80-an telah menjadi rumah berkarya bagi mahasiswa FISIP.

Kevin, selaku Ketua Remoef, menjelaskan bahwa nama Remoef sendiri merupakan singkatan dari “Relasi Moesik FISIP”. “Dan itu juga sebenarnya tangga nada, teman-teman. Re, Mi, Fa, gitu,” imbuh Tia, Wakil Ketua Remoef.

Remoef seolah menjadi panggung ekspresi bagi mahasiswa FISIP yang memiliki minat dan bakat di bidang musik untuk eksplorasi diri. Selain genre musik yang beragam, seperti jazz, rock, dan dangdut, Remoef juga memberi ruang mahasiswa yang ingin belajar alat musik di luar alat musik band, misalnya biola.

Penampilan Remoef di Acara Nyore di FISIP (5/10/2025) (Sumber: Arsip Dokumentasi Remoef)
Penampilan Remoef di Acara Nyore di FISIP (5/10/2025) (Sumber: Arsip Dokumentasi Remoef)

Kemudian, untuk membantu pengembangan kemampuan bermusik anggota Remoef, terdapat latihan rutin yang harus diikuti. “Kalau dari Remoef itu, ada latihan rutinnya. Jadi, latihan khusus untuk vokalis, khusus untuk gitaris, bassis, gitu. Nah, di situ ada jadwal-jadwal tersendirinya,” ucap Kevin.

Di tahun 2024, Remoef merilis karya terbaru berupa single dengan judul “Confectionary”. “Dan lagu buatan Remoef itu tahun kemarin sudah dikeluarkan dan dipersembahkan pertama kali di WP (Welcoming Party-red) Remoef itu,” kata Tia, saat diwawancarai Awak Sketsa pada Minggu (21/9/2025). Ia menjelaskan bahwa Welcoming Party Remoef adalah acara untuk menyambut dan mengukuhkan mahasiswa yang menjadi calon anggota Remoef. 

Dalam perjalanannya untuk terus berkarya, Remoef sempat menghadapi beberapa tantangan. “Yang menjadi tantangan itu menggabungkan satu ide, dari satu ide ke ide lainnya,” kata Kevin. Lalu, sebagai sebuah UKM, tambah Tia, ketika hendak menciptakan karya butuh banyak waktu untuk menyatukan ide-ide di samping kesibukan kuliah. “Karena giliran yang ini free, yang satunya nggak free, gitu,” ucapnya.

Tantangan yang ada tak menjadikan Remoef berhenti berkarya. Dalam wawancara, Kevin berpesan, “Untuk temen-temen yang ingin berkarya, jangan merasa terbebani atau jangan sampai temen-temen semua merasa terpatok pada satu tembok. Artinya, berkaryalah sebebas-bebasnya karena karya itu nggak ada batasnya.”

Selain untuk menyalurkan minat dan bakat bermusik, Tia mengungkapkan bahwa Remoef juga menjadi wadah untuk belajar berorganisasi. Karya-karya dari Remoef nantinya akan dibagikan di berbagai platform, mulai dari Spotify hingga platform musik lainnya.

Solidaritas anggota Remoef menciptakan kehangatan di dalamnya. Tak heran, ketika ditanya satu kata tentang Remoef, Kevin dan Tia kompak menjawab, ”Keluarga.”
Remoef bukan sekadar klub musik biasa. Keberadaannya hingga sekarang menjadikannya melekat erat sebagai identitas FISIP. Keberagaman genre, kesempatan eksplorasi, serta kebersamaan untuk terus berkarya menjadikan Remoef lekat dengan semangat anak muda untuk bebas berekspresi dengan gaya mereka, khas dengan “kalcer”.

Gamet: Dari Kandang ke Panggung Musik Kreatif!

Seperti musik yang selalu menemukan pendengarnya, mahasiswa Fakultas Peternakan (Fapet) yang memiliki minat dan bakat di dunia musik pun bisa menemukan ruang untuk berkreasi. Gamet, singkatan dari Galeri Musik Fapet, UKM ini konsisten mewadahi mahasiswa Fapet yang ingin melahirkan karya-karya kreatif sejak tahun 2002.

I’zaaz, Ketua Gamet, menjelaskan bahwa Gamet telah memiliki lagu-lagu sendiri sejak tahun 2014 dengan genre yang beragam. “Genre musik itu dari tahun ke tahunnya tuh berbeda-beda, tergantung SDM (sumber daya manusia-red) yang main juga. Kalau hampir dari tiga tahun ke belakang ini sih, kebanyakan genrenya pop, reggae gitu,” ucapnya dalam wawancara, Selasa (26/8/2025).

Karya terbaru yang diunggah oleh Gamet ialah mini album yang bisa dinikmati di akun YouTube @galerimusikpeternakanunsoe9136. Dalam mini album tersebut, terdapat empat band turunan, seperti Paradox Band, Ranah Band, Pato Band, dan Jagal Band.

Penampilan Gamet di Acara Kandang Seni Vol. IX (23/8/2025) (Sumber: Arsip Dokumentasi Gamet)
Penampilan Gamet di Acara Kandang Seni Vol. IX (23/8/2025) (Sumber: Arsip Dokumentasi Gamet)

Namun, perjalanan Gamet dalam berkarya tak selalu mulus. Minimnya dukungan dari fakultas membuat mereka harus memutar otak untuk memperoleh biaya. “Minta bantuan pernah. Tapi itu kadang nggak terealisasi loh,” ungkapnya. 

Demi keberlangsungan kegiatan yang sudah disusun, Gamet mencari jalan sendiri untuk menambah pemasukan. “Buka merch juga iya. Kita lebih dominannya ke ini sih, kita ngisi main live music di kafe-kafe gitu,” tambah I’zaaz.

Dari pop hingga reggae, Gamet menunjukkan fleksibilitas mahasiswa Fapet dalam berkarya di dunia musik. Usaha mandiri, seperti menjual merchandise dan tampil di kafe ialah simbol kreativitas mahasiswa yang selalu dekat dengan kehidupan anak muda dan begitu identik dengan apa yang selama ini dikenal dengan “kalcer”.

Saat ini, meski karya-karya dari Gamet baru bisa dinikmati dari akun YouTube, I’zaaz berharap ke depannya lagu-lagu tersebut dapat juga dinikmati oleh publik di platform lain, seperti Spotify.

Gamet? More than music!

Bemper: Pesta Panen Irama!

Tak kalah kreatif, Fakultas Pertanian (Faperta) juga punya lahan musiknya sendiri. Bengkel Musik Pertanian atau yang lebih akrab disapa “Bemper”, merupakan sub-unit dari Bezper, UKM kesenian di Faperta. Berdiri sejak tahun 90-an, Bemper berkelana dari genre metal hingga genre pop.

“Kenapa lebih ke arah pop? Karena  pop juga pasarnya lebih banyak dan didengar oleh kalangan manusia, dibandingkan rock, atau metal dan lain-lain seperti itu,” ungkap Dipo, Ketua Bemper tahun 2025.

Tahun 2024, Bemper pun telah merilis lagu. Lagu berjudul “Berharap” menceritakan tentang perjuangan, penantian, dan perelaan. Menariknya, lagu ini dikemas dengan video musik dan bisa dinikmati dengan santai di channel YouTube @bezperunsoed1571.

Ketika ditanya tentang inspirasi lagu “Berharap”, Dipo menjelaskan bahwa lagu tersebut bermula dari pengalaman. “Sebenarnya kalau untuk menciptakan sebuah karya itu kan dari pengalaman, dari isi hati, dia mencurahkan isi hatinya. Rata-rata kan, bisa dibilang lah, kalau misalnya membuat karya kan, seniman, nah itu dia mencurahkan isi hatinya,” ucapnya saat diwawancarai Awak Sketsa pada Rabu (20/8/2025).

Tentunya, manisnya karya yang telah dihasilkan oleh Bemper dihadapkan pula dengan berbagai tantangan. “Kalau untuk tantangan terbesar sendiri, pertama itu, mencari aransemen lagunya, gimana caranya kita membuat aransemen itu biar orang itu kayak denger, ‘Wah, enak, nih.’ kayak gitu, ‘Oh, ini easy listening-lah.’,” jelas Dipo.

Penampilan Bemper di Acara Inspora (21/12/24) (Sumber: Arsip Dokumentasi Bemper)
Penampilan Bemper di Acara Inspora (21/12/24) (Sumber: Arsip Dokumentasi Bemper)

Dipo juga menjelaskan bahwa setiap kali band dari Bezper atau Bemper tampil, selalu ada dukungan dari teman-teman satu lingkup. “Pasti selalu ada anak-anak Bezper yang ikut nonton gitu, ngeramein pasti.”

Bemper bukan hiburan semata, melainkan ruang untuk jujur dengan isi hati, berbagi cerita, dan membangun solidaritas antaranggota. Dukungan dari Bezper dan teman-teman satu lingkup yang membuat Bemper terasa “kalcer”, dekat dengan mahasiswa dan tetap jadi penyambung denyut kehidupan Faperta dari generasi ke generasi.

Satu kata untuk mengingat Bemper? Keren!

Mancar: Ya Berbudaya, Ya Bernada

Berbeda dari yang lain, Mancar hadir bukan di bawah UKM resmi, tetapi sebagai buah inisiatif mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Terhitung sudah ada tiga lagu yang dirilis oleh Mancar, dengan judul, di antaranya “Bayang”, “I Wanna Be With You”, dan yang terbaru adalah “Kesekian”.

Dalam wawancaranya pada Selasa (19/8/2025), Bagus selaku Koordinator Mancar, menceritakan makna di balik lagu-lagu tersebut. Lagu “Bayang” bercerita tentang sulit tidur karena teringat seseorang, lalu “I wanna Be With You” menceritakan tentang kisah romansa remaja. “Terus yang paling baru, yang ketiga, ada judulnya tuh ‘Kesekian’. Itu lagu yang materinya paling beda, sih, karena kita mendedikasikan lagu itu buat orang-orang yang lagi berjuang buat kerja, skripsi sih, dan lain-lain yang lagi, apa ya? Rasanya kaya stres banget,” jelas Bagus.

Penampilan Klub Mancar di Acara Volume 2025 (14/5/2025) (Sumber: Arsip Dokumentasi Klub Mancar)
Penampilan Klub Mancar di Acara Volume 2025 (14/5/2025) (Sumber: Arsip Dokumentasi Klub Mancar)

Dalam menciptakan karya-karyanya, Mancar yang notabenenya bukan UKM pun harus mencari jalan sendiri untuk dana pendukung kegiatan mereka. “Kayak bikin stiker, t-shirt, poster, dan lain-lain, gitu. Keren-keren unik dan kreatif, gitu,” ungkap Bagus. Selain itu, proses pembuatan lagu dilakukan dengan cara mereka sendiri. “Kebetulan kita buat recording dan lain-lain tuh nggak di studio, di kamar kos malah,” kata Bagus.

Fakta menarik lain dari Mancar adalah cerita tentang nama Mancar sendiri. Bagus mengungkapkan bahwa nama tersebut terinspirasi dari bakpao yang ada di depan FIB. “Iya, Mancar Jaya,” tekan Bagus.

Lagu-lagu karya Mancar bisa dinikmati di Spotify, iTunes, Apple Music, maupun Bandcamp. Dalam wawancaranya, ketika ditanya hal yang melekat pada mancar, Bagus menjawab, “Bakpao dan kabupaten!”

Keberadaan Mancar membuktikan bahwa budaya musik di kalangan mahasiswa bisa lahir dari inisiatif kecil, bahkan inspirasi sederhana dari bakpao di depan fakultas. Dengan caranya sendiri, kesederhanaan Mancar mampu memberikan ruang ekspresi yang kreatif, hingga karya-karyanya lekat dengan kehidupan mahasiswa.

Nah, itu dia empat klub musik yang menjadi bukti bahwa kehidupan mahasiswa tidak melulu soal tugas, tetapi juga tentang eksplorasi ruang-ruang untuk berekspresi dan menemukan vibes “kalcer”-nya masing-masing. Di balik alunan nada, di tiap denting gitar dan ketukan drum, kita bisa melihat semangat anak muda yang terus membara dan membuat suasana kampus semakin hidup.

Reporter: Miqda Al Auza’i, Manda Damayanti, Ade Ika

Editor: Manda Damayanti

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Anak Lanang (2017) : Senandung di Atas Becak

Oleh: Monica Merlyna Puspitasari Judul Film : Anak Lanang Sutradara : Wahyu Agung Prasetyo Tahun rilis…

Curhat ke ChatGPT: Solusi Emosional atau Pemicu Isolasi?

Oleh: Nurul Irmah Agustina Bukankah aneh ketika anak muda lebih nyaman membuka rahasia ke mesin daripada…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Mengenal Tokoh Bangsa dan Jejak Pengabdiannya di Museum Soesilo Soedarman

Mengenal Tokoh Bangsa dan Jejak Pengabdiannya di Museum Soesilo Soedarman

Mimbar Bebas Banyumas Problematik: Refleksi Kebijakan untuk Banyumas yang Lebih Baik

Mimbar Bebas Banyumas Problematik: Refleksi Kebijakan untuk Banyumas yang Lebih Baik

Museum Wayang Banyumas: Sunyi yang Menyisakan Jejak

Museum Wayang Banyumas: Sunyi yang Menyisakan Jejak

Banyumas Culture Festival dan Kirab Pusaka Meriahkan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas

Banyumas Culture Festival dan Kirab Pusaka Meriahkan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas

Tambah Spot Nongkrong di Unsoed, Pringsewu Hadirkan Kandang Kopi di Fakultas Peternakan

Tambah Spot Nongkrong di Unsoed, Pringsewu Hadirkan Kandang Kopi di Fakultas Peternakan

Pemira 2025 Usai: Krisis Regenerasi Kepemimpinan dan Demokrasi Mahasiswa Masih Melekat

Pemira 2025 Usai: Krisis Regenerasi Kepemimpinan dan Demokrasi Mahasiswa Masih Melekat