Relevansi Kuliah Kerja Nyata: Kampus Tekankan Pemberdayaan, Mahasiswa Soroti Pengalaman

Oleh: Lintang Fitriana

Di tengah derasnya arus digitalisasi, relevansi Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mulai dipertanyakan. Sebagian mahasiswa menilai KKN perlu beradaptasi agar sesuai dengan tantangan zaman, sementara pihak kampus justru menegaskan program ini tetap relevan karena langsung bersentuhan dengan kebutuhan masyarakat desa.

Wawancara bersama Kepala Pusat Pengembangan KKN Unsoed (20/8/2025) (beritaunsoed.com/Zaki Zulfian)
Wawancara bersama Kepala Pusat Pengembangan KKN Unsoed (20/8/2025) (beritaunsoed.com/Zaki Zulfian)

Ridlwan Kamaluddin, selaku Kepala Pusat Pengembangan KKN Unsoed, menegaskan bahwa program ini selalu disesuaikan dengan kebutuhan nyata di desa. “Program kerja KKN ini disesuaikan dengan kebutuhan desa. Ini artinya, betul-betul pemberdayaan masyarakat disesuaikan dengan masalah yang ada,” ujarnya pada Rabu (20/8/2025).

Program KKN Universitas Jenderal Soedirman

Ridlwan menerangkan bahwa Unsoed memiliki empat bentuk KKN. Pertama, KKN Reguler yang berfokus pada lima pilar program kerja: pendidikan, kesehatan, lingkungan, ekonomi, dan pelayanan desa. Setiap desa menerima bantuan dana sebesar Rp1 juta untuk menunjang pelaksanaan program kerja.

Kedua, KKN Literasi, merupakan hasil kerja sama dengan Perpustakaan Nasional. Bentuk tematik ini fokus pada pengembangan perpustakaan desa serta kegiatan literasi. “KKN Literasi itu memang program perdana dari Perpusnas. Mahasiswa ditempatkan di desa-desa penerima bantuan seribu buku, lalu mengelola dan menghidupkan kembali perpustakaan desa,” jelas Ridlwan. Ia menyebutkan, tahun ini sebanyak 419 mahasiswa diterjunkan di 65 desa di Kabupaten Wonosobo, dengan dukungan barang senilai Rp10 juta per desa.

Ketiga, KKN Internasional, yang memberi kesempatan mahasiswa mengabdi di luar negeri melalui kerja sama dengan universitas mitra. Bentuk ini masih terbatas pesertanya, tetapi menjadi bukti bahwa KKN Unsoed juga menembus level global.

Keempat, KKN Tematik, yang merupakan kerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Tahun ini, KKN Tematik berlangsung di beberapa titik Kabupaten Banyumas dan Cilacap dengan setiap desa mendapatkan bantuan dana sebesar Rp2 Juta dari kementerian PUPR. Dengan adanya kucuran dana tersebut, desa penerima tidak lagi memperoleh dukungan dana program kerja dari Unsoed karena kebutuhan biaya sudah ditanggung melalui skema bantuan tersebut. 
Tahun ini, sebanyak 3.309 mahasiswa Unsoed mengikuti KKN yang berlangsung selama 35 hari. Menariknya, sebelum benar-benar terjun ke desa, para peserta sudah lebih dulu diminta melakukan persiapan sebulan sebelumnya.

Tanggapan Mahasiswa Peserta KKN

Meski dari sisi kampus menegaskan KKN relevan karena menjawab kebutuhan masyarakat desa, mahasiswa melihatnya dari sisi lain. Bagi mereka, KKN justru menjadi ruang pembelajaran yang berdampak besar pada diri sendiri, mulai dari melatih kemampuan beradaptasi hingga memahami kehidupan sosial masyarakat. Ahmad Faizi, mahasiswa peserta KKN Literasi, menilai proker yang dijalankan justru melatih mahasiswa. “Kalau KKN itu bukan gimana kita berdampak ke masyarakat … dampaknya malah justru ke kitanya sebagai mahasiswa dalam bermasyarakat,” katanya (11/8/2025).

Hal senada diutarakan Fathur Nur Rohman yang juga merupakan  mahasiswa peserta KKN Literasi. Namun, ia menilai keterbatasan sumber daya manusia membuat kegiatan kurang optimal. “Satu kelompok cuma tujuh orang dibanding kelompok KKN lain yang bisa sebelas sampai empat belas orang. Jadi membagi waktu agak susah … jujur menurut saya kurang efektif karena kekurangan SDM juga,” ujarnya (16/8/2025).

Dari sisi KKN Reguler, Desyanna menilai programnya tetap membawa manfaat, khususnya di bidang pendidikan. Ia bersama timnya fokus mendampingi anak-anak Sekolah Dasar (SD) dengan berbagai proker, mulai dari sosialisasi anti-bullying hingga kegiatan literasi dasar. Meski diakuinya ada kendala, seperti anak-anak yang sulit diatur dan sebagian besar belum lancar membaca meski sudah duduk di bangku kelas tiga, Desyanna melihat ada dampak positif.

Desyanna menuturkan, “Setelah proker anti-bully bahkan sampai kita pulang itu mereka masih ingat, meski kami belum sampai memajukan desa banget, gitu.” (16/8/2025). Ia menambahkan, keterlibatan mahasiswa di bidang pendidikan membantu membuka gambaran kondisi desa yang masih menghadapi tantangan. Menurutnya,  kondisi di desa tersebut masih rendah, terlihat dari banyak anak yang belum lancar membaca meski sudah duduk di kelas 3 SD.

Namun, Desyanna juga menyoroti minimnya anggaran yang diberikan kampus untuk KKN Reguler. Menurutnya, dana sebesar Rp1 juta per desa jauh dari cukup untuk menjalankan berbagai program kerja. “Kendala utama setiap kelompok KKN di desa manapun adalah anggaran. Uang satu juta buat proker satu desa itu kurang banget. Itu sangat tidak realistis,” tambahnya. Ia menilai, seharusnya ada perhatian lebih dari kampus untuk menyesuaikan kebutuhan tiap kabupaten. Sebagai contoh, Kabupaten Kebumen yang dikenal dengan tingkat kemiskinan cukup tinggi mestinya diarahkan pada program pemberdayaan ekonomi. “Bagus kalau setiap kabupaten itu ada targetnya ya. Misalnya Kebumen itu fokus ke ekonomi, atau pendidikan, biar anak-anak nggak bingung buat bikin proker,” jelasnya.

Tanggapan Kepala Pusat Pengembangan KKN Unsoed

Sejumlah evaluasi tengah disiapkan Unsoed untuk memperbaiki pelaksanaan KKN ke depan. Salah satunya adalah kebijakan pemisahan posko laki-laki dan perempuan yang akan mulai diterapkan periode depan. Menurut Ridlwan Kamaluddin, langkah ini dilakukan untuk menjaga kenyamanan sekaligus mengantisipasi isu yang berpotensi mencoreng nama baik kampus.

Selain itu, Unsoed juga berupaya menjaga keberlanjutan program dengan cara memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah. Sebelum mahasiswa diterjunkan, pihak kampus lebih dulu melakukan sinkronisasi dengan pemerintah kabupaten untuk menentukan prioritas kecamatan dan desa. Dengan begitu, program kerja mahasiswa diharapkan selaras dengan kebutuhan pembangunan lokal.

Pada akhirnya, relevansi KKN bisa dilihat dari dua sisi. Dari perspektif kampus, KKN tetap dianggap sebagai sarana penting untuk melatih mahasiswa mengabdi dan berinteraksi dengan masyarakat, sekaligus wadah pemberdayaan sesuai kebutuhan desa. Program reguler, tematik, hingga internasional menjadi bukti bahwa KKN Unsoed berusaha menyesuaikan diri dengan tantangan zaman, termasuk menjawab kebutuhan literasi dan peluang global. Namun, dari sudut pandang mahasiswa, pelaksanaan KKN masih menyisakan sejumlah catatan kritis. Minimnya anggaran, keterbatasan sumber daya manusia, hingga waktu yang relatif singkat membuat program kadang hanya berdampak jangka pendek.

Reporter: Lintang Fitriana, Widyana Rahayu, Ryu Athallah Raihan, Muhammad Fatkhun Nafiq,  Zaki Zulfian, Miqda Al Auza’i, Tegar Pri Antony

Editor: Amanda Putri Gunawan

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Mimbar Bebas Banyumas Problematik: Refleksi Kebijakan untuk Banyumas yang Lebih Baik

Oleh: Hasna Nailah Ramadhani Sejumlah mahasiswa bersama elemen masyarakat Purwokerto mengadakan aksi Mimbar Bebas Banyumas Problematik…

Banyumas Culture Festival dan Kirab Pusaka Meriahkan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas

Oleh: Artika Putri Kinanti Serangkaian pagelaran seni kembali digelar dalam rangka menyambut Hari Jadi ke-455 Kabupaten…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Mengenal Tokoh Bangsa dan Jejak Pengabdiannya di Museum Soesilo Soedarman

Mengenal Tokoh Bangsa dan Jejak Pengabdiannya di Museum Soesilo Soedarman

Mimbar Bebas Banyumas Problematik: Refleksi Kebijakan untuk Banyumas yang Lebih Baik

Mimbar Bebas Banyumas Problematik: Refleksi Kebijakan untuk Banyumas yang Lebih Baik

Museum Wayang Banyumas: Sunyi yang Menyisakan Jejak

Museum Wayang Banyumas: Sunyi yang Menyisakan Jejak

Banyumas Culture Festival dan Kirab Pusaka Meriahkan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas

Banyumas Culture Festival dan Kirab Pusaka Meriahkan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas

Tambah Spot Nongkrong di Unsoed, Pringsewu Hadirkan Kandang Kopi di Fakultas Peternakan

Tambah Spot Nongkrong di Unsoed, Pringsewu Hadirkan Kandang Kopi di Fakultas Peternakan

Pemira 2025 Usai: Krisis Regenerasi Kepemimpinan dan Demokrasi Mahasiswa Masih Melekat

Pemira 2025 Usai: Krisis Regenerasi Kepemimpinan dan Demokrasi Mahasiswa Masih Melekat