Oleh: Nurul Irmah Agustina
Dalam Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest), festival literasi dan seni terbesar di Banyumas, terdapat sebuah pertunjukan menarik bertajuk Wayang Bebek Banyumas. Sebuah pertunjukan wayang angkrek yang menggunakan bebek sebagai tokohnya dan bahasa penginyongan/ngapak sebagai pengantarnya. Acara ini digelar pada Jumat malam, 13 Juni 2025 pukul 21.00 WIB, bertempat di Hetero Space, Purwokerto.
Wayang Bebek Banyumas merupakan gagasan Rahmi Wijaya, Project Director BIL Fest sekaligus pemilik penerbit Omera Pustaka. Ide ini lahir dari keprihatinannya melihat anak-anak di desanya yang mulai jenuh dengan hiburan digital. Terinspirasi dari Desa Timun di Jakarta, Rahmi kemudian mengadaptasi konsep serupa, tetapi dengan pendekatan lokal Banyumas. “Nah, akhirnya wayang bebek ini kita kemas dengan konsep ngapak, dan karakternya adalah bebek gitu. Semua karakternya bebek. Jadi aku pengin lokalis banget untuk karakter-karakternya,” ungkapnya.
Rahmi memilih bebek sebagai tokohnya karena ingin membentuk karakter anak-anak Banyumas agar lebih mencintai lingkungan alam sekitarnya. Ia ingin memberikan pesan tersembunyi melalui cerita yang berkaitan dengan sungai dan air, mengingat Banyumas dikenal dengan curug dan sungainya, dan bebek merupakan salah satu ekosistem di dalamnya.
Pertunjukan ini dikembangkan bersama tim Omera Pustaka yang terdiri dari mahasiswa magang Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Mereka tidak hanya menulis naskah, tetapi juga menjadi dalang di atas panggung. Dalam penampilan di BIL Fest, dalang Joy, Aul, dan Dena berhasil membawakan pertunjukan yang menghibur sekaligus memberikan pesan yang dalam.
“Cerita ini nggak cuma buat anak kecil, tapi dewasa juga. Sebenarnya mengajarkan biar kita tidak menyepelekan hal apa pun. Ini kan, pertunjukan anak kecil, sebagai orang dewasa harusnya melihat, sekecil apa pun acara untuk anak-anak, pasti ada hikmah yang bisa diambil sedikit. Kalau yang tadi, kita diajarin jangan sedih, jangan jadi pemuda aleman (manja-red), dela-dela (sebentar-sebentar-red) curhat, dela-dela ngeluh. Jalani aja dulu,” ujar Dena.
Meski mengalami beberapa kendala teknis, tiga dalang dalam pertunjukkan wayang ini tetap berupaya menghibur penonton. Mereka berimprovisasi menggunakan bahasa ngapak yang mengundang tawa dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga mahasiswa. “Bagian paling menarik tuh soal jokesnya yang kadang asal bunyi, tapi malah keliatan lucu, kayak yang misal universitas terbaik gitu, Universitas Indonesia, terus bilang typo, itu lucu banget sih,” ungkap Hayu, salah satu penonton.
Tanggapan juga datang dari para orang tua. Bu Min, salah satu penonton menyarankan agar iringan musik dalam pertunjukan lebih dilokalkan, seperti menggunakan calung. Ia juga mengungkapkan bahwa anaknya tertarik menonton karena di sekolah terdapat mata pelajaran budaya Banyumas. Hal ini menunjukkan pentingnya media hiburan yang edukatif, terutama dalam mengenalkan nilai-nilai lokal kepada anak-anak.
Meski awalnya ditujukan untuk anak-anak, Wayang Bebek ini juga bisa menjadi media healing orang dewasa. Zahra, selaku pembawa acara, menyampaikan, “Kita sebagai mahasiswa ya teman-teman, ya kita juga butuh hiburan dan mungkin ini sebagai wadah yang tepat buat kita, healing sejenak sebelum UAS bener nggak teman-teman?”
Sebelum tampil di BIL Fest, Wayang Bebek Banyumas sudah dipentaskan di berbagai sekolah, seperti MI Muhammadiyah Ajibarang, TK Aisyiyah, dan SD 1 Purwojati. Namun, penampilan kali ini menjadi momen penting untuk memperkenalkan karya tersebut ke khalayak yang lebih luas. Rahmi berharap Wayang Bebek Banyumas segera memperoleh hak cipta dan menjadi identitas budaya anak-anak Banyumas. Saat peluncuran sebelumnya, pertunjukan ini bahkan turut dihadiri oleh Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan serta Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga.
Melalui pertunjukan ini, Wayang Bebek Banyumas bukan hanya hiburan bagi anak-anak, tetapi juga media pelestarian budaya yang membentuk karakter serta memperkuat kecintaan mereka pada lingkungan dan identitas lokal.
Editor: Khofifah Nur Maizaroh
Reporter: Nurul Irmah Agustina, Tsabita Ismahnanda Purnama, Helmalia Putri, Maula Rizki Aprilia, Linggar Putri Pambajeng, Revalia Herninda.






