Oleh: Manda Damayanti
Selama satu tahun terakhir, sejumlah mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melaporkan kehilangan barang pribadi di berbagai area kampus. Kasus pencurian terjadi di beberapa titik, di antaranya Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Fakultas Peternakan, hingga Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan. Mahasiswa menilai sistem keamanan kampus masih belum memadai, memicu kekhawatiran akan keselamatan barang pribadi mereka di lingkungan akademik.
Laporan kehilangan terus bermunculan di media sosial, mulai dari grup WhatsApp hingga cuitan di X. Hingga saat ini, masih banyak korban yang belum mendapat titik terang terkait kasus-kasus pencurian tersebut. Hal ini membuat sistem keamanan kampus menjadi sorotan mahasiswa. Sejumlah mahasiswa menyayangkan minimnya fasilitas kampus dalam menjamin keamanan lingkungan.
Salah satu korban, Hanif, mahasiswa Fakultas Peternakan membagikan pengalamannya saat diwawancarai awak Sketsa pada Sabtu (5/10/24). Hanif mengaku kehilangan sepeda motornya saat listrik padam di fakultas tersebut. Namun, ia tetap berpikiran positif terhadap satpam yang berjaga saat itu, karena hanya ada satu orang satpam yang harus mengawasi banyaknya kendaraan mahasiswa. “Semisal kalau emang mati lampu ya, mau nggak mau harus pake genset gitu demi keamanan, kalau emang penjaganya kewalahan gitulah. Kasian gitu penjaganya cuma satu tapi motornya sebanyak itu,” ungkap Hanif.
Terkait minimnya jumlah petugas keamanan, beberapa narasumber dalam kasus lain menyampaikan hal yang sama. Mereka menilai bahwa jumlah petugas keamanan di Unsoed belum mencukupi, terutama di area PKM. Aini, salah satu korban kehilangan motor di PKM menyampaikan, “PKM itu kayak terbuka untuk semuanya gitu loh, jadi meski itu bukan mahasiswa Unsoed pun mereka bisa masuk gitu, jadi kita ya nggak tahu ada orang yang berniat jahat atau nggak,” tuturnya.
Di lokasi yang sama, Widya, mahasiswa Fakultas Hukum juga mengaku kehilangan helm. “Jadi aku tuh kehilangan helm tepatnya di belakang deretan sekre gitu, tepatnya di PKM Unsoed,” ujarnya saat diwawancarai pada Selasa (20/5/2025). Ia sempat melapor ke pihak keamanan, tetapi hanya diminta meninggalkan nomor kontak. Saat kembali ke PKM keesokan harinya, petugas yang berjaga sudah berganti. “Nah jadi malahan mereka tuh kayak nggak ada chit-chat atau kontak-kontakan, jadi nggak ada koordinasi,” tambahnya.
Tiga hari kemudian, Widya kembali ke PKM untuk mencari kejelasan. Namun, menurut keterangannya, pengecekan CCTV justru diserahkan kepada petugas kebersihan. Padahal, tugas tersebut seharusnya menjadi wewenang petugas keamanan. Hingga kini, Widya belum menindaklanjuti laporan tersebut, serta belum ada konfirmasi lanjutan dari pihak keamanan. “Dari aku, penanganannya tuh kalau bisa cepat. Kayak di hari itu juga bisa langsung ngecek CCTV, jadi nggak nunggu-nungguan gitu,” jelasnya.
Keluhan terkait keterbatasan CCTV juga disuarakan oleh beberapa mahasiswa. Beberapa area rawan masih belum terpantau. Vania, mahasiswa Fakultas Biologi (26/12/24) berpendapat bahwa CCTV sebaiknya tidak hanya dipasang di lobi, ruang kelas, atau ruang dosen, tetapi juga di area seperti kantin dan taman yang ramai dijangkau mahasiswa.
Meski demikian, beberapa mahasiswa mengapresiasi tindakan responsif dari pihak kampus. Dalam kasus Hanif, pihak kampus sempat mendatangkan tim IT untuk menelusuri kemungkinan rekaman CCTV tetap tersimpan meskipun listrik padam, tetapi hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa rekaman tetap tidak dapat diakses. Selain itu, Hanif dibantu dalam proses konseling untuk menyampaikan kejadian tersebut ke orang tua. “Kalau tindakan dari kampus ya menurut saya itu responsnya cukup sigap ya. Karena kan, itu kan pencuriannya masih di lingkungan kampus ya, sehingga kalau kampus nggak menangani kan, otomatis kan juga perlu dipertanyakan lah. Masa ya kampus cuma diem aja gitu kalau ada pencurian di lingkungan kampus,” jelas Hanif.
Hal serupa disampaikan oleh Vania. Ia menjelaskan bahwa pihak kampus cukup sigap ketika ia lupa mencabut kunci motornya, dan kunci tersebut telah diamankan oleh satpam.
Pada akhirnya, penjagaan keamanan kampus bukan hanya tanggung jawab dari pihak kampus, tetapi juga mahasiswa. Fais, petugas keamanan Fakultas Ilmu Budaya pada Selasa (8/10/24) menjelaskan bahwa mahasiswa juga perlu mematuhi aturan, khususnya untuk tidak parkir sembarangan. Kerja sama antara pihak kampus, petugas keamanan, dan mahasiswa dinilai penting untuk meminimalkan risiko kehilangan barang pribadi di lingkungan Unsoed. Peningkatan jumlah petugas, optimalisasi pengawasan CCTV, serta sistem koordinasi yang lebih baik menjadi beberapa catatan yang perlu dibenahi.
Editor: Khofifah Nur Maizaroh
Reporter: Kania Nurma Gupita, Manda Damayanti, Fadila Nuraini, Helmalia Putri, Maula Rizki Aprilia, Vivi Aleyda Anwar, Ade Ika Cahyani, Nur Laela, Monica Merlyna Puspitasari, Tsabita Ishmahnanda Purnama






