Penulis: Hasna Nailah Ramadhani
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) merupakan lembaga eksekutif tertinggi dalam struktur organisasi kemahasiswaan di tingkat universitas (BEM U). Sedangkan dalam lingkup fakultas, terdapat BEM Fakultas (BEM F) yang berperan sebagai wadah aspirasi bagi tingkat jurusan atau program studi. BEM Fakultas juga berperan sebagai jembatan komunikasi antara mahasiswa di tingkat fakultas dengan jajaran dekanat, serta mengoordinasikan kegiatan Himpunan Mahasiswa Jurusan. BEM Fakultas memiliki tugas untuk menjalankan program kerja yang berfokus pada lingkup fakultas, serta menggerakkan pengembangan minat, bakat, dan advokasi kesejahteraan akademik maupun nonakademik bagi seluruh mahasiswa di lingkungan fakultas tersebut.
Terdapat tiga fakultas di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) yang saat ini tidak memiliki BEM, yakni Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), Fakultas Biologi (Fabio), dan Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Kekosongan BEM Fakultas saat ini mulai menimbulkan pergolakan opini dan perbincangan kritis di berbagai lini masa mahasiswa.
Lantas bagaimana jadinya jika tidak ada BEM di fakultas?
Penilaian Mahasiswa atas Kevakuman BEM Fakultas
BEM menjadi motor penggerak untuk mengakumulasi permasalahan di fakultas. Tanpa adanya lembaga tertinggi tersebut, proses konsolidasi menjadi tidak terorganisir.
Menurut Azza, Presiden BEM Unsoed, BEM memiliki fungsi sebagai legitimasi publik untuk mengorkestrasi suatu gerakan di fakultas. Salah satu dampak yang terasa ketika terjadi kevakuman BEM adalah masalah-masalah yang terjadi di dalam lingkup fakultas sulit terdeteksi. Hal ini terjadi karena tidak ada wadah utama yang menjadi distributor aspirasi dan aduan masalah dari fakultas.
BEM U juga merasa kesulitan menyatukan 12 fakultas secara penuh. Penyebab utamanya adalah fenomena ketidakadaan BEM (vakum) di beberapa fakultas serta kesibukan internal pengurus fakultas yang membuat konsolidasi akbar sering tidak dihadiri secara lengkap.
Salah satu mahasiswa dari FISIP, Fahri, menilai bahwa tidak adanya BEM di fakultasnya membuat aspirasi dari mahasiswa menjadi terkendala. Advokasi disampaikan kepada masing-masing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), tetapi seringkali hanya sampai pada birokrat jurusan tersebut tanpa ada tindak lanjut secara menyeluruh di tingkat fakultas.
“Banyak sekali masalah yang bermunculan di FISIP, entah itu kekerasan seksual, fasilitas, ataupun keresahan lain yang itu perlu disampaikan ke pihak birokrasi dekanat. Nah, kita kan enggak punya wadah untuk menyalurkannya, dan itu menjadi sebuah masalah bagi kita,” ungkapnya.
Ara, mahasiswa FIB menyebut vakumnya BEM fakultas tidak membuat ruang suara mahasiswa hilang, mahasiswa masih bisa menyuarakan keresahan mereka melalui advokasi yang disediakan Himpunan Mahasiswa (HIMA) atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di fakultas. Akan tetapi, aspirasi-aspirasi tersebut menjadi kurang terkonsolidasi dan kurang terkawal secara masif karena permasalahan hanya dibawa dalam ranah yang terbatas di jurusan masing-masing.
“Kehilangan suara sih enggak. Cuma lebih ke kita enggak punya lembaga yang resmi untuk mengawal isu yang spesifik di fakultas,” ungkap Ara.
Lebih lanjut, ketiadaan BEM Fakultas dirasa menghambat jalannya informasi utama antara BEM U dan fakultas. Menurut pendapat Robbie, ketua HIMA Sastra Jepang (HIJASU), tanpa ada BEM di fakultasnya membuat himpunan kerap tertinggal informasi. Masing-masing HIMA harus inisiatif mencari informasi ketika BEM U mengadakan lingkar atau kegiatan lainnya. Akibatnya, sering kali hanya 2-3 HIMA saja yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Di sisi lain, dinyatakan oleh Ryan, ketua HIMA Biologi, bahwa kesalahpahaman dan miskomunikasi antarhimpunan atau UKM kerap terjadi akibat tidak adanya pihak yang menjembatani informasi pada tingkat fakultas. Ia menambahkan bahwa banyak hal yang disalahkomunikasikan, seperti kejelasan regulasi maupun format terkait pengajuan dana.
Tanggung Jawab HIMA dan UKM di Tengah Disfungsi Badan Eksekutif Fakultas
Vakumnya BEM Fakultas membuat Organisasi Mahasiswa (Ormawa) tingkat fakultas kehilangan pintu koordinasi resmi. Hal ini memaksa setiap HIMA berjalan sendiri-sendiri dan hanya mengandalkan pertukaran informasi informal antarjurusan. Mengonsolidasi aspirasi dari jurusan berbeda tanpa adanya wadah tunggal (BEM) menjadi rumit dan sulit dilakukan sehingga berdampak pada tidak tersampaikannya kebutuhan mahasiswa secara optimal.
“Karena kita ini memang enggak punya satu wadah yang bersama ya, jadi untuk pengajuan dana atau masalah administratif dari masing-masing himpunan dan UKM, itu emang ya sendiri-sendiri dan langsung mengajukan ke pihak dekanat,” ujar Ryan.
Ia menyatakan bahwa kekosongan BEM membuat beberapa fungsi BEM beralih kepada HIMA, seperti menampung keresahan dari masing-masing Ormawa. Ketika menangani isu besar seperti permasalahan Uang Kuliah Tunggal (UKT), fasilitas kampus, dan kekerasan terhadap mahasiswa, setiap himpunan melakukan tahap konsolidasi dan diskusi internal antartim advokasi sebelum menyampaikan laporan atau sikap resmi kepada pihak dekanat.
Melalui kacamata UKM, Arya, Direktur FISIP TV mengatakan ketiadaan BEM di fakultas juga berdampak pada pengawalan isu dan aspirasi, terutama dari UKM, yang seharusnya bisa dibawakan oleh lembaga eksekutif tersebut. Hal ini menyebabkan kendala secara administratif.
“FISIP TV membutuhkan anggaran operasional cukup besar dan di satu sisi juga membutuhkan peralatan yang bisa dibilang mahal ya. Di situ, sebenarnya aku sangat membutuhkan BEM di ranah tersebut karena biasanya yang menampung aspirasi seperti ini adalah tugasnya BEM,” tutur Arya dalam wawancara bersama awak Skëtsa.
Selama kekosongan BEM, aspirasi diajukan oleh masing-masing UKM kepada birokrat atau pihak terkait secara individu. Ia menjelaskan bahwa akibat ketiadaan BEM, pihak UKM mau tidak mau harus berkoordinasi langsung dengan bagian umum atau keuangan melalui wakil dekan.
Pandangan lain datang dari Robbie. Menurutnya, HIMA merasa kesulitan dan memiliki keterbatasan karena fokus utama mereka mestinya adalah mengurus mahasiswa di tingkat program studi, bukan mengurus isu atau kegiatan skala fakultas. Tugas-tugas yang tadinya dipegang BEM, seperti registrasi fisik mahasiswa baru atau pendataan mahasiswa kini harus ditanggung dan dikerjakan oleh masing-masing HIMA.
Dinamika Internal dan Faktor Penyebab Stagnasi Kepengurusan BEM Fakultas
Menurut Jizdan, Presiden BEM Fakultas Hukum (FH), dinamika kemahasiswaan di setiap fakultas pada dasarnya sangat berbeda. Melihat di BEM FH, meskipun masih aktif, tantangan utama yang dihadapi adalah adanya krisis regenerasi dan daya tawar Ormawa.
“Krisis daya tawar dan realitas ketika teman-teman KBM (Keluarga Besar Mahasiswa-red) mulai masuk di Ormawa, ternyata dia merasa tidak ada trait yang cukup menarik antara yang dia jalani dengan beneficial yang masuk ke dirinya,” terangnya.
Mahasiswa yang bergabung dalam organisasi sering kali merasa benefit yang diterima tidak sepadan dengan energi, pikiran, hingga biaya yang telah mereka korbankan. Ketika imbal balik yang didapat tidak sesuai, minat dan keterikatan mahasiswa terhadap organisasi pun menurun.
Dalam hal ini, kevakuman pada BEM FIB terjadi bukan karena faktor eksternal maupun permasalahan dengan birokrasi, melainkan adanya krisis internal di dalam organisasi.
“Semua program kerja berjalan baik, cuma di pertengahan periode tahun 2024 itu mulai ada perpecahan di internal BEM itu sendiri. Dibilang apakah ada faktor eksternal, jawabannya tidak,” jelas I, pengurus demisioner BEM FIB. Menurut I, perpecahan dalam tubuh organisasi terjadi karena pasifnya kepemimpinan, perbedaan pandangan, dan adanya pengurus BEM yang mengundurkan diri.
Di satu sisi, ketua HIMA & UKM mendukung BEM FIB bangkit kembali sebagai wadah pemersatu, namun di sisi lain tidak ada satu pun figur yang bersedia mencalonkan diri menjadi Presiden BEM. Hal ini berakibat pada stagnasi generasi pengurus BEM di fakultas.
Sementara itu, terhitung mulai tahun 2017, kegiatan dan kepengurusan BEM FISIP Unsoed tidak aktif. Vakumnya BEM FISIP terjadi karena akumulasi berbagai faktor internal organisasi, dinamika antarelemen mahasiswa, hingga masalah regenerasi kepemimpinan.
Hal serupa juga dialami BEM Fakultas Biologi. Menurut Azza, kevakuman BEM Fakultas umumnya disebabkan oleh krisis kaderisasi, krisis Sumber Daya Manusia (SDM), krisis kepemimpinan, dan minimnya peminat.
Masih Perlukah BEM Fakultas Dihidupkan Kembali?
Perbedaan struktur antarfakultas memengaruhi seberapa krusial keberadaan BEM di mata mahasiswanya. Presiden BEM FH menyebut karena tidak ada wadah tingkat jurusan atau HIMA, BEM FH menjadi satu-satunya organ tunggal untuk menghimpun dan menyalurkan aspirasi mahasiswa. Jika BEM FH tidak ada, mahasiswa akan kehilangan jalur utama advokasi.
Berbeda dengan FISIP, setiap jurusan atau program studi memiliki himpunannya sendiri. Meski tidak ada BEM sebagai organisasi tunggal yang merepresentasikan seluruh fakultas, HIMA-HIMA di sana tetap bisa berhimpun dan menjalankan fungsi advokasi secara mandiri per jurusan. Dampaknya, sebagian mahasiswa FISIP merasa ada atau tidak adanya BEM belum memberikan perbedaan yang berarti, sebab fungsi advokasi dirasa tetap bisa jalan lewat HIMA.
Menurut Fahri, langkah awal dan utama jika BEM Fakultas dihidupkan kembali adalah merebut serta membangun kembali kepercayaan mahasiswa. Ketiadaan BEM dalam waktu yang cukup lama membuat mahasiswa FISIP sempat kehilangan arah dan perlahan terbiasa menjalani kehidupan kemahasiswaan tanpa BEM. Kehadiran kembali BEM Fakultas akan menjadi sebuah perubahan besar yang membutuhkan masa adaptasi.
Di sisi lain, BEM U tidak bisa memaksa atau melakukan intervensi langsung untuk membentuk BEM baru. Peran BEM U murni memfasilitasi, mendampingi, dan memberi ruang diskusi.
Dukungan dekanat juga menjadi krusial, Ormawa dapat berjalan efektif jika dekanat memberikan hak-hak Ormawa secara nyata seperti transparansi anggaran dan ruang advokasi, yang menjadi kunci utama agar organisasi mahasiswa dapat terus berjalan (sustain).
Secara keseluruhan, BEM Fakultas berperan sebagai motor penggerak dan jembatan informasi antarmahasiswa, HIMA, ataupun UKM di dalam fakultas. Penghidupan kembali BEM Fakultas mestinya berorientasi pada kebutuhan riil mahasiswa.
“Kalaupun BEM akan ada, semoga enggak sekadar jadi struktur organisasi yang administratif saja, tetapi benar-benar jadi suara buat mahasiswa dan wadah buat mahasiswa buat ngembangin dirinya, bakat minatnya, dan juga keorganisasian yang mereka mau,” ungkap Ara.
Editor: Velen Candra Nadia
Reporter: Aulya Desya, Artika Putri Kinanti, Dwi Santika Sukmaningrum, Hasna Nailah Ramadhani, Jeni Rindi Afriska, Reny Diah Merriola, Yosi Indah Sekar Arum







