Oleh: Monica Merlyna Puspitasari
Aliansi Semarak Banyumas menggelar aksi mimbar bebas dalam rangka memperingati Hari Reformasi pada Rabu (21/5/2025) di depan Alun-Alun Purwokerto. Aksi kali ini mengusung tema “Reformasi: Suara Rakyat Menentukan Arah Bangsa”, menjadi ruang untuk mengingat dan menyuarakan kembali perjuangan rakyat.
Aksi ini diikuti oleh 50 peserta. Meskipun jumlah massa yang hadir tidak sebanyak tahun sebelumnya dan sempat terlambat dari jadwal yang telah ditentukan, hal itu tidak menjadi halangan bagi mereka untuk menyuarakan tuntutan dan aspirasinya. Aksi mimbar bebas berlangsung dengan penyampaian orasi secara bergantian oleh perwakilan dari berbagai elemen yang tergabung dalam Aliansi Semarak Banyumas, terdiri dari Organisasi Kepemudaan (OKP), eksternal dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang ada di Banyumas.
Muhammad Noval Ramadan selaku koordinator lapangan pada aksi kali ini menyoroti bagaimana keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini menyangkut kebijakan yang dinilai semakin tidak berpihak pada rakyat, adanya RUU TNI, dan militerisme dalam kehidupan masyarakat. “Nah, ini menunjukkan bahwasanya ada lho hal-hal step-step dari mereka yang mencoba untuk memberikan dampak militer pada negara kita. Itu hal yang sangat salah dan sangat menyalahkan reformasi dan menyalahkan demokrasi,” ujar Rama.
Berbeda dengan aksi demonstrasi yang ditujukan langsung kepada suatu pihak, aksi mimbar bebas kali ini fokus utamanya untuk mencerdaskan masyarakat dengan mengingat kembali perjuangan dan kemenangan rakyat pada 1998. Hari ini menjadi momentum berharga yang patut diingat bukan dilupakan. “Jadi, kita kembali hadir di masyarakat Banyumas ini untuk mengulang kembali bahwasanya kita ‘merawat ingat, menolak lupa’ akan adanya momen-momen yang cukup tragis yang terjadi di Indonesia,” ujarnya.
Aksi ini tidak akan berhenti sampai di sini saja, rangkaian gerakan akan dilanjutkan dengan fokus pada aksi media secara luas, seperti poster dan infografik. Mereka juga tetap melanjutkan kajian-kajian yang telah dibuat dan menilai serta merevisi kebijakan pemerintah.
Di akhir wawancaranya, Rama menyampaikan harapannya agar setiap lembaga tetap solid dan kolektif, meskipun berasal dari latar belakang dan almamater berbeda. Ia juga menambahkan bahwa terdapat tujuan yang sama di balik perbedaan itu. “Harapannya adalah kita bakal terus solid, kolektif bersama, jadi sebagai lembaga yang ada, tidak ada yang mungkin saling pandang karena berbeda almamater ataupun berbeda ideologi, namun kita punya pandangan sama, visi yang sama, kita punya misi yang sama,” tutupnya.
Editor: Nadia Amalia Wibowo
Reporter: Monica Merlyna Puspitasari, Ryu Athallah Raihan, Vivi Aleyda Anwar, Zaki Zulfian, Rizqy Noorawalia Febryanni








