Oleh: Widyana Rahayu
Festival Banjoemas Kota Lama diselenggarakan pada Sabtu (17/05/2025) di Alun-Alun Banyumas dan kompleks kota lama Banyumas. Acara yang berlangsung meriah tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Museum Internasional.
Suasana penuh semangat menyelimuti gelaran acara peluncuran AR (Augmented Reality) Museum. Fitur terbaru dari Museum Wayang Banyumas ini dapat diakses melalui barcode. Kemudian, terdapat pengenalan Games Banyumas Kota Lama yang berlangsung di Alun-Alun Banyumas. Acara tersebut diawali dengan pertunjukan musik dari ELSVARA band. Selanjutnya, pengunjung diajak untuk menonton film Banyumas Kota Lama yang diproduseri oleh mahasiswa Universitas Amikom bersama tim kreatifnya. Film tersebut menyoroti perjalanan sejarah dan perkembangan kawasan Kota Lama Banyumas. Terdapat pula Bincang Budaya yang dihadiri Camat Banyumas, Oka Yudhistira Pranayudha sebagai narasumber utama, serta penampilan-penampilan memukau dari Sanggar Seni Panjimas dan Oemah Gamelan.
Selain itu, pertunjukan Kenthongan Satria Baskara dan Abid, serta Keroncong Sudagaran juga terdengar harmoni menarik perhatian pengunjung. Puncak acara ditandai dengan peluncuran resmi AR Museum dan Games Banyumas Kota Lama. BTYPT atau Band Dagelan Banyumasan dan Campur Sari menjadi penutup malam itu. Haruli, salah satu penari festival dari Sanggar Panjimas menampilkan tarian Banyumas Kota Lama yang termasuk tarian kreasi. “Persiapan acara kita ada latihan selama dua hari. Sekitar latihannya itu, per harinya sekitar dua jam,” ucapnya sebelum persiapan naik ke panggung.
Acara ini juga menyuguhkan berbagai pertunjukkan kesenian. Terdapat pula Ruwat Sukerta pada hari kedua Festival Banjoemas Kota Lama yang diadakan selama dua hari berturut-turut. Sejak tahun 2025, pelaksanaan Festival Banjoemas Kota Lama mengalami perubahan dalam penentuan waktu penyelenggaraan. Jika sebelumnya festival rutin digelar bertepatan dengan bulan Sura dalam kalender Jawa, kini jadwalnya diselaraskan dengan peringatan Hari Museum Internasional. Perubahan tersebut disebabkan oleh dana alokasi khusus dari kementerian yang dimanfaatkan oleh Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas awalnya untuk Ruwat Sukerta. Kemudian, acara sakral tersebut berkembang dikarenakan rendahnya ketertarikan penonton, sehingga pada tahun 2024 ditambahkan berbagai macam kegiatan menjadi Festival Banjoemas Kota Lama.
Bagus Satria, penanggung jawab acara, menegaskan pentingnya keterlibatan komunitas lokal, khususnya generasi muda. Dalam proses penyelenggaraan festival agar mereka dapat berkontribusi secara aktif, baik dalam produksi maupun konsep acara. “Saya ingin mereka yang berusia 20-an tahun menjadi penggerak utama,” jelasnya.
Antusiasme pengunjung semakin memuncak seiring larutnya malam. Salah satu pengunjung, Arifin, mengungkapkan bahwa acara ini memberikan wawasan berharga mengenai sejarah Banyumas. “Ya … menurut saya, malam ini, ‘kan lagi cerita sejarah, tentang Banyumas. Tertarik pengin tahu.” Ia berharap ke depannya Festival Banjoemas Kota Lama kembali diadakan sebagai sarana regenerasi budaya untuk mempertahankan nilai-nilai budaya melalui generasi berikutnya.
Tak hanya dihadiri oleh masyarakat luas, festival ini juga menjadi sarana perputaran roda perekonomian lokal. Komunitas Unit Usaha Mikro, Kecil, dan Makro (UMKM) memadati Alun-Alun Banyumas untuk turut meramaikan suasana. Dewi, pemilik bisnis kerajinan tangan yang digemari anak muda sekarang, mengungkapkan harapannya bahwa acara tersebut dapat berlangsung secara rutin, sehingga dapat memengaruhi perkembangan ekonomi. “Sangat bagus, sih, kalau bisa lebih sering lagi. Soalnya kalau ada event orang sini lebih antusias, ya,” tutur Dewi.
Editor: Helmalia Putri
Reporter: Widyana Rahayu, Ade Ika Cahyani, Velen Candra Nadia, Manda Damayanti, Ahmad Fahri S.








Event Banyumas nggak abis-abis, Gokil!!!