Ratap Dekap Semesta Tergelak

Oleh: Ade Ika Cahyani

Ilustrasi: Nurul Irmah Agustina

Kepada helai bulu merpati melalang gusar
Pucuk cemara dan kayu manis melipir ke dahan pinus
Gemetar rimbun batu-batu tertumpuk
Kian termangu jati di tebing dan lembah
Sendiri, gundul

Hutan bergumam, paru-paruku terkikis, katanya
Peluk pekik angin berembus semilir
Embun-embun merenung, termangu
Api!
Dan tidak ada cukup air untuk merayu lidahnya yang menjilat sarang kenari

Lembah berderak, inginnya memeluk sang hutan hujan
Menguatkan, aku di sini
Rambutmu akan tumbuh lagi, mungkin
Ia merayu
Itu pun kalau ada yang bisa cukup bertanggung jawab

Sungai kerontang dalam dahaga
Hulu dan hilirnya mengaduh
Kerongkonganku begitu tercekat batu-batu kali
Terhubung dengan tatapan mengiba dari awan yang juga kurus kering
Ikan-ikan lalu lalang dalam liur di antara batu yang kusam

Aku tidak tahu harus menyalahkan siapa atas ini, gumam angkasa
Mungkin manusia, lautan menimpali dalam gema ombaknya yang menyisir karang
Alam, kata burung pembawa berita
Aku yang salah? Semesta bertanya dalam sela tawa miris, suaranya mengambang
Dilihatnya helai bulu merpati kini layu, luruh di tanah kering, berdebu

Semesta kembali merenung,
Gersang, sahara ditimpakan ke pundaknya
Dan sepucuk tunas kaktus bahkan bisa memberi harapan untuknya

Editor: Khofifah Nur Maizaroh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *