Saya, Prabowo , dan Jokowi

Timbangan Pemilu karya: Intan S. D.
Timbangan Pemilu karya: Intan S. D.

Oleh: Nurhidayat*

Mahasiswa sering digadang-gadang sebagai agen perubahan. Idealismelah yang sangat dominan untuk menjawab harapan itu. Kami belajar berorganisasi, bekerja tanpa imbalan gaji, yang kadang dengan risiko yang besar: dianggap pengangguran terselubung! Namun, itulah mahasiswa, belum “ternoda” oleh nominal materi.

Idealisme adalah identitas mahasiswa, sejak dulu, masa reformasi, hingga saat ini. Meskipun kini meredup, idealisme mahasiswa tetap saja diagung-agungkan sebagai ciri khas mahasiswa. Selalu kritis, berbudaya baca tinggi, dan berprinsip adalah cap paten mahasiswa idealis.

Jokowi pernah berkata pada sebuah siaran televisi nasional bahwa dia bekerja tanpa ada kepentingan ekonomi maupun kepentingan politik. Ini menarik, ada sesuatu yang sama antara Jokowi  dan mahasiswa, sama-sama bekerja tanpa memikirkan Rupiah. Saya kira Prabowo pun sama. Jumlah perusahaan Prabowo yang besar, membuat ekonomi bukanlah suatu yang diutamakan Prabowo jika nanti memerintah negeri ini.

Memang tak jarang mahasiswa terjun ke politik, mulai sekedar sebagai partisan, sampai menjadi tim sukses sebuah partai, bahkan menjadi Caleg. Anehnya, jika yang bersangkutan sudah naik ke elit politik, idealisme terasa hilang. Pemikiran dan kebijakan mantan aktivis mahasiswa tempo dulu, yang kini duduk sebagai pemangku kebijakan, kadang juga terkesan buruk.

Idealisme yang dulu diagung-agungkan kini tersandung kasus korupsi, seperti Anas Urbaningrum terkait Hambalang. Tidak cuma Anas, banyak sekali contoh nyata dari kasus semacam itu.

Track record itulah yang perlu dikawatirkan masyarakat sebagai pemilih calon presiden. Setiap berbincang di kedai kopi, mahasiswa sering membicarakan tentang calon presiden. Mereka saling membela calon pilihan mereka dengan merendahkan calon yang lain. Banyak dari mereka yang berbicara tanpa membaca literatur. Mereka, para mahasiswa mulai termakan siaran televisi milik politikus yang berafiliasi dengan calon presiden. Bukan lagi ideologi yang menjadi dasar dalam berbicara.

Di media sosial lebih “sesat akal” lagi. Banyak yang berdebat kusir membela calon presiden pilihannya, seolah-olah mereka tahu apa yang terjadi. Mahasiswa seharusnya malu untuk berdebat kusir tanpa data dan fakta yang jelas. Sungguh memalukan jika mahasiswa-manusia cerdas-berbicara tanpa dilandasi langkah-langkah rasional dan filosofis. Perlu asupan nutrisi pengetahuan dengan membaca surat kabar, media online, majalah, dan buku-buku yang valid. Seringkali mereka hanya mendebatkan berita dari media online tanpa memikirkan media online macam apa yang mereka share link-nya. Berbadan hukum kah? Mempunyai redaktur yang bisa bertanggungjawab kah? Mereka belum memikirkan hal itu, belum mampu menyaring mana yang benar dan yang salah.  Belum.

Mahasiswa, sebagai pemilih tercerdas, harus lebih selektif dalam mengamati komentar-komentar dalam siaran televisi maupun media lainnya. Harus diingat, belum semua media di negara ini terlepas dari modal politikus yang mengintervensi laju berita. Politik redaksi terkadang masih menjadi tarik ulur antara redaktur dengan penyandang saham mayoritas. Mahasiswa, harus bisa menilai masing-masing kualitas calon presiden dengan presisi, bukan hanya dari perawakan dan bicaranya, namun dilihat juga lini masa lalu dan kinerjanya. Skeptisitas mahasiswa harus dipupuk dan dijaga.

*Penulis adalah Pemimpin Redaksi LPM Sketsa, Mahasiswa Peternakan 2012

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsketsa.com, dimuat ulang di BU (beritaunsoed.com) agar tetap bisa diakses pembaca. Portal berita lpmsketsa.com resmi beralih ke beritaunsoed.com.

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Duta Kampus Unsoed Ikut Kunker Wakil Presiden, Mengapa Mahasiswa Mempermasalahkannya?

Oleh: Akhdan Maulana Beberapa minggu lalu, situasi sosial-politik di kalangan mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) diguncangkan…

Membaca Tak Lagi Sunyi: Pergeseran Gaya Literasi di Ruang Publik

Oleh: Novela Virginia C. Di tengah kehidupan yang serba cepat, membaca sering dianggap sebagai aktivitas yang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Tamasya Tempat Kakek

Tamasya Tempat Kakek

Di Antara Luka dan Kesempatan Baru

Di Antara Luka dan Kesempatan Baru

Duta Kampus Unsoed Ikut Kunker Wakil Presiden, Mengapa Mahasiswa Mempermasalahkannya?

Duta Kampus Unsoed Ikut Kunker Wakil Presiden, Mengapa Mahasiswa Mempermasalahkannya?

Menggapai Mimpi di Tengah Kerasnya Kehidupan

Menggapai Mimpi di Tengah Kerasnya Kehidupan

Makhluk Halus bernama Kucing

Makhluk Halus bernama Kucing

Tiny but Mighty: The Matilda Story

Tiny but Mighty: The Matilda Story