ARTIKEL

Gatotkaca dan Togog
ARTIKEL, ARTIKEL LAWAS

Gatotkaca dan Togog

Oleh: Budi Purnomo Ilustrasi: Nadya Salma Jangan heran kalau di kampus ada kampanye kecil-kecilan untuk memilih para wakil mahasiswa dan pengurus baru karena itu memang sudah menjadi kebiasaan yang turun temurun. Dikatakan kecil-kecilan karena intensitas keramaian (atau katakanlah kesakralannya) tidak semeriah pemilihan ketua erte, calon tunggal sekalipun. Tidak percaya? Silakan hitung sendiri, pasti lebih banyak mahasiswa yang memilih mengantuk di kamar kos daripada berbondong-bondong menunjuk lubang hidung sejawatnya untuk dijadikan wakil mahasiswa atau pengurus baru. Sehingga kalau menyembul pertanyaan: apakah ini berarti kadar rasa demokrasi mahasiswa sekarang menurun? Saya kurang begitu paham. Namun yang jelas, aspirasi mahasiswa yang heterogen pastilah kini digantungkan kep...
Fenomena Manusia Silver Dan Badut Lampu Merah Sebagai Kritik Sosial Kesenjangan Ekonomi Dalam Masyarakat
ARTIKEL, OPINI

Fenomena Manusia Silver Dan Badut Lampu Merah Sebagai Kritik Sosial Kesenjangan Ekonomi Dalam Masyarakat

Oleh: Catur Mukti Wibowo* Ilustrasi: Amalia Rahmadani Terjadinya pandemi pada dua tahun ini menghadirkan dampak yang luar biasa bagi kehidupan di Indonesia bahkan di Dunia. Hampir di semua bidang terkena dampak dari pandemi ini, terutama perekonomian dan pendidikan di Indonesia. Pandemi mengharusnya proses belajar mengajar yang seharusnya dilakukan di sekolah, kini menjadi dirumahkan karena alasan kesehatan dan mencegah penyebaran virus. Pandemi juga menyerang perekonomian di Indonesia. Indonesia mengalami defisit keuangan. Mulai dari diberlakukanya program bekerja dari rumah bagi hampir seluruh perusahaan di Indonesia, hingga adanya pemotongan karyawan untuk tetap memertahankan perusahaan. Besarnya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) menimbulkan peningkatan pada angka penganggu...
Fenomena ‘Latah’ Akibat Media Sosial
ARTIKEL, OPINI

Fenomena ‘Latah’ Akibat Media Sosial

Oleh: Desi Fitriani* Ilustrasi: Nadya Salma Pengguna media sosial di Indonesia saat ini semakin bertambah seiring berkembangnya zaman. Menurut dataindonesia.id pengguna aktif media sosial di Indonesia mencapai 191 juta orang pada Januari 2022. Jumlah tersebut terus meningkat tiap tahunnya. Tidak dapat dipungkiri, penyebaran berita ataupun sebuah tren akan menyebar begitu cepat akibat banyaknya masyarakat yang aktif dalam bermedia sosial. Hal tersebut tentunya akan meninggalkan dampak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bukan hanya dampak positif yang bisa dituai karena banyaknya masyarakat yang melek suatu hal baru di media sosial, tetapi dampak negatif yang ditimbulkan juga pasti ada. Apalagi banyak anak di bawah umur yang sekarang sudah bisa mengakses media sosial dengan ...
Ganja Medis yang Kelabu
ARTIKEL, OPINI

Ganja Medis yang Kelabu

Oleh: Alif Saviola Rakhman* Ilustrasi: Amalia Rahmadani Tanaman ganja secara umum mengacu pada pucuk daun, bunga, batang dari tanaman yang dipotong, dikeringkan dan dicacah dan biasanya dibentuk menjadi rokok. Ganja mengandung banyak nilai manfaat, dan tidak sedikit menuai kontroversi di kalangan masyarakat atau sebuah negara. Tanaman dengan nama ilmiah Cannabis sativa ini, dikenal selama bertahun-tahun bahkan dari sebelum masehi digunakan oleh manusia untuk berbagai tujuan. Dalam penggunaannya dapat menghasilkan beberapa manfaat yang baik dan ada pula penyalahgunaan yang dapat menjadikan tanaman ganja bernilai negatif. Di Indonesia, ganja menjadi tanaman yang ilegal. Indonesia bahkan mengeluarkan undang-undang tentang larangan proses produksi, distribusi, sampai tahap konsumsi d...
“Jurnalisme” Barang Hilang
ARTIKEL, KESKETSAAN

“Jurnalisme” Barang Hilang

Oleh: Emerald Magma Audha* Ilustrasi: Marita Dwi Asriyani Contoh ilustrasi konten persma. “Telah hilang dompet sawo matang. Berisi KTM, duit, milik Si Anu. Hilang di sekitar jalan raya pada siang bolong, hubungi nomor ...”. Biasanya barang hilang karena dua hal: kelalaian pemilik (seperti tertinggal, terlupa, terjatuh) atau dimaling. Barang hilang yang saya maksud dalam tulisan ini barang pribadi serupa KTP, KTM, dompet, gawai, dan lainnya. Dulu, sejak saya masih baru dalam kehidupan pers kampus, konten-konten semacam itu acap menjejali linimasa media persma di Unsoed. Persma fakultas. Hampir aben pekan, ada. Ramai. Dan laku. Kalaupun menyajikan berita, kadang beritanya tak layak konsumsi−menurut standar kami. Berita yang tendensius, bukan menjernihkan. Atau, kontennya masih pars...
Innocent Witness : Berbeda Bukan Berarti Tak Dapat Dipercaya
ARTIKEL

Innocent Witness : Berbeda Bukan Berarti Tak Dapat Dipercaya

Oleh: Rofingatun Hamidah Sumber: https://m.imdb.com/title/tt8562562/ Informasi Film: Judul : Innocent Witness Durasi : 129 Menit Sutradara : Lee Han Tanggal Rilis : 13 Februari 2019 Rating             : 7,4/10 (IMDb) Bicara soal Korea, masyarakat lebih mengenal dengan K-Popnya yang mendunia atau drama romansa yang menghibur. Masyarakat kerap menstigma industri kreatif negara tersebut. Karena persepsi masyarakat yang sudah kadung menganggap industri kreatif di Korea hanya sekadar hiburan, tak dapat menangkap pesan yang ingin disampaikan dari film-film tersebut. Namun, pandangan tersebut perlahan mengikis sejak menangnya salah satu film buatan Korea di piala Oscar. Sebenarnya tak ...
GERAKAN MAHASISWA UNSOED BELUM USAI
ARTIKEL

GERAKAN MAHASISWA UNSOED BELUM USAI

Oleh: Mushanif Ramdany Aksi mahasiswa Unsoed menolak uang pangkal (12/07/2018). Krisis moneter dan rezim Orde Baru yang dinilai represif jadi biang munculnya peristiwa reformasi 20 tahun silam. Merespon kondisi tersebut, maka timbul gelombang demonstrasi yang memaksa rezim turun. Demonstrasi besar-besaran terjadi di Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta. Namun begitu, kota kecil seperti Purwokerto pun tak kalah bergejolak. Mahasiswa Unsoed turut menjadi motor gerakan mahasiswa di kota ini. Jalan HR. Bunyamin pernah menjadi saksi bisu atas garangnya pergerakan mahasiswa Unsoed. Pada 7 Mei 1998, terjadi bentrokan antara mahasiswa dan aparat saat mahasiswa menggelar aksi di depan Kampus Unsoed, di depan patung Soedirman berkuda. Gas air mata disemprotkan ke kerumunan massa. Sepatu lars ...
[RESENSI BUKU] SEBELUM PEMBACA BOSAN…
ARTIKEL

[RESENSI BUKU] SEBELUM PEMBACA BOSAN…

Oleh: Yoga Iswara Rudita Muhammad* Judul buku : Seandainya Saya Wartawan Tempo Penulis : Goenawan Mohamad Tebal : vii+98 halaman (versi format pdf) Edisi : Edisi revisi cetakan keempat Tahun : 2015 Penerbit : Tempo Publishing Apa jadinya kalau berita yang lazimnya kaku dan taat pakem berita lempeng (straight news) disusun ulang sehingga menjadi sebuah laporan nan menarik untuk dibaca? Itu sedikit gambaran yang saya dapatkan dari apa yang disebut gaya penulisan feature. Selebihnya, silakan Anda baca buku Goenawan Mohamad yang satu ini. Sudah bukan rahasia lagi kalau Goenawan Mohamad adalah seorang wartawan ulung. Berpuluh-puluh tahun sudah tokoh itu menekuni bidang yang mengangkat namanya, jurnalisme. Namanya kian melambung bersamaan dengan munculnya Tempo, perusahaan pers yang ia...
Sutan Takdir Alisjahbana: Kita Harus Menuju kepada “Federasi Dunia”
ARTIKEL, ARTIKEL LAWAS

Sutan Takdir Alisjahbana: Kita Harus Menuju kepada “Federasi Dunia”

Sutan Takdir Alisjahbana dikenal sebagai tokoh bahasa yang memordenisasi bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional. Perannya dalam perkembangan bahasa Indonesia terbilang vital.  STA, kerap disapa begitu, yang pertama kali menulis  "Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia" pada 1936. Ia pun dikenal sebagai pelopor sastrawan "Pujangga Baru". Ia meninggal pada usia 86 tahun di Jakarta, 17 Juli 1994. Untuk mengenang diri dan senarai karyanya, SKETSA menerbitkan ulang hasil wawancara dengan STA ke laman ini. Sebelumnya, kami melakukan penyuntingan minor dalam segi diksi dan bahasa, dan tentunya tanpa mengubah isi dan substansi tulisan. Berikut adalah artikel dengan judul asli "Sumpah Baru". Wawancara Sutan Takdir Alisjahbana Sebagai salah satu tokoh besar milik bangsa kita sampai saat ini, Sutan ...
Calon Reporter dan Amplop
ARTIKEL, KOLOM ALUMNI

Calon Reporter dan Amplop

Oleh: Sucipto* Kenyataan yang ia terima di bulan Agustus yang muram, membuatnya membayangkan empat puluh tahun kemudian: duduk bersama anak-cucu dan menceritakan bagaimana seorang jurnalis harian lokal bertahan hidup tanpa menerima amplop atau pemberian uang dari narasumber. Jika semesta berkehendak lain, ia berharap arsip tulisan ini sampai kepada mereka, bukan sebagai kesenduan tapi agar mereka bisa menentukan sikap, apapun profesinya. Ingatannya kembali pada sebuah pagi, dua puluh satu hari sebelum gelar sarjana disandangnya. Ia–yang sering dipanggil Gondrong–sumringah. Gondrong teringat perkataan Gabriel García Márquez tentang profesi jurnalis. Gabo, demikian orang mengenal penulis Amerika Latin itu, menganggap jurnalis adalah pekerjaan paling bagus sedunia. Dan, Gondrong akan mela...