Efektivitas Student Center Learning dalam Jenjang Perkuliahan

Oleh: Lulu Asqiatun Soffa

Ilustrasi: Tsabita Ismahnanda Purnama

Ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang dengan pesatnya, tetapi masih terdapat kelambanan pada aspek lain, seperti perubahan proses pembelajaran. Salah satu contohnya adalah Metode Teacher Center Learning (TCL) yang masih dilakukan dalam beberapa lingkungan kampus. Dalam metode ini, dosen berperan secara penuh dalam proses pembelajaran dengan cara memberikan penjelasan mengenai materi yang sedang dibahas sementara para mahasiswa duduk diam untuk menyimak dan mendengarkan. Mahasiswa cenderung hanya berperan sebagai receiver yang dirasa kurang berpartisipasi di kelas. Hal ini ditakutkan dapat membuat para mahasiswa atau peserta didik selalu tertinggal dan susah beradaptasi dengan kemajuan zaman. Oleh karena itu, sebagai upaya pencegahan, metode pembelajaran ini perlu diubah dengan cara mengajak mahasiswa untuk lebih aktif berpartisipasi, seperti menggunakan metode Student Center Learning (SCL).

Metode pembelajaran Student Center Learning (SCL) merupakan metode pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa. Dalam hal ini, mahasiswa diharuskan untuk menjadi aktif saat kegiatan belajar mengajar sementara dosen berperan sebagai fasilitator yang menyediakan berbagai sumber daya atau dukungan yang dibutuhkan oleh mahasiwa (Harsono, 2008). Metode ini diterapkan dengan tujuan agar siswa dapat menjadi sosok aktif yang senantiasa memberikan gagasan, baik saran maupun kritik, serta saling berkolaborasi satu sama lain dengan sesama mahasiswa sehingga mahasiswa mendapatkan kebebasan dan fasilitas untuk menggali sendiri ilmu pengetahuannya.

Dalam lingkungan kampus saya, metode SCL ini sudah mulai diterapkan pada beberapa mata kuliah. Pada mata kuliah yang menerapkan sistem SCL, dalam satu kelas, dibagi beberapa kelompok mahasiswa yang diberikan materi berbeda-beda untuk dibahas setiap pertemuannya. Menurut pengalaman saya, penerapan metode SCL ini memang dapat memberikan manfaat kepada mahasiswa seperti melatih kerja sama dengan anggota kelompok serta membuat mahasiswa lebih aktif untuk bertanya dan berdiskusi mengenai materi yang dibahas. Namun, terdapat beberapa hal yang saya rasa masih kurang efektif, misalnya ketika suatu kelompok mahasiswa sedang mempresentasikan hasil diskusinya di kelas. Beberapa teman saya, termasuk saya, masih kurang mampu memahami materi tersebut dibandingkan ketika dijelaskan oleh dosen. Bahkan, anggota kelompok yang mempresentasikan hasil diskusinya pun acap kali kurang memahami materi yang mereka bawa, sehingga saya harus menonton video tutorial lain untuk lebih memahami materi tersebut. Ketika sesi tanya jawab tiba, tak jarang beberapa mahasiswa mencari jawaban di internet. Memang, dalam hal ini dosen dapat ikut membantu menjawab pertanyaannya. Mahasiswa dituntut untuk bisa mandiri karena dosen hanya bertugas sebagai fasilitator, tetapi dosen juga harus bisa menjadi fasilitator yang baik dan menjadi jembatan yang benar sehingga metode SCL ini cukup efektif menjadi solusi permasalahan di atas. Namun, saya rasa metode ini kurang cocok diterapkan pada mata kuliah yang pembahasannya lumayan rumit dan membutuhkan ahli untuk menjelaskannya. Bukan sepenuhnya harus dijelaskan oleh dosen, tetapi setidaknya dosen dapat menjelaskan pengetahuan dasarnya.

Saya melihat beberapa komentar netizen di media sosial terkait SCL, banyak dari mereka berpendapat kontra. Mereka merasa pengetahuannya tentang suatu topik terasa mengambang sehingga harus mengulangi pembelajaran yang ada di kampus dan memahaminya lagi di rumah. Materi yang dipahami biasanya hanya bagian kelompok masing-masing. Awalnya, saya pun setuju dengan pendapat tersebut. Namun, perlu diingat bahwa mahasiswa memang harus mandiri dalam mempelajari materi dan berusaha mencari solusinya. Jika tidak menemukan solusinya, dalam hal inilah kita bisa mengajak diskusi dosen karena peran dosen memang sebagai fasilitator. Hal inilah yang mengubah perspektif saya terkait ketidakefektifan metode SCL. Metode pembelajaran SCL memang metode yang bagus dan cocok diterapkan dalam jenjang perkuliahan karena dapat membuat mahasiswa lebih mandiri dan aktif saat di kelas, tetapi dalam penerapannya masih harus diperbaiki lagi, misalnya pada mata kuliah yang rumit khususnya dosen agar dapat menjadi fasilitator yang baik sehingga tujuan metode SCL dapat tercapai.

Editor: Lubna Azizah

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Ilusi Transparansi Informasi dan Pembungkaman di Era Informatika

Oleh: Andika Brilyan Pada kurun waktu April hingga Mei 2026, sebuah ironi yang amat getir sedang…

Senjakala Kaum Intelektual: Ketika Inovasi Berakhir di Kursi Pesakitan

Oleh: Salwa Aulia Balqis Dalam perkembangan peradaban modern, ilmu pengetahuan adalah kompas yang menuntun suatu bangsa…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Ratap Rakyat di Bawah Tirani

Ratap Rakyat di Bawah Tirani

Mempersoalkan Masifnya Penggunaan Kecerdasan Buatan di Lingkungan Kampus dalam Karya Visual

Mempersoalkan Masifnya Penggunaan Kecerdasan Buatan di Lingkungan Kampus dalam Karya Visual

Ilusi Transparansi Informasi dan Pembungkaman di Era Informatika

Ilusi Transparansi Informasi dan Pembungkaman di Era Informatika

Problematika Penanganan Korban Kekerasan Seksual di Banyumas: Ketika Perlindungan Belum Sepenuhnya Terasa

Problematika Penanganan Korban Kekerasan Seksual di Banyumas: Ketika Perlindungan Belum Sepenuhnya Terasa

Sumpah Pemuda: Romantisme 1928, Krisis Lapangan Kerja, dan Apatisme Digital

Sumpah Pemuda: Romantisme 1928, Krisis Lapangan Kerja, dan Apatisme Digital

Kilas Balik Aksi Tuntutan Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Kilas Balik Aksi Tuntutan Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran