Sepenggal Kisah Janggal

Oleh: Ariel Hendri Setiawan

Ilustrasi Sepenggal Kisah Janggal

Ilustrasi : Abida Fitratussawa

Aris terbangun sebelum alarm ponselnya benar-benar menggetarkan lantai semen kamar kontrakannya. Kontrakan yang lebih mirip liang lahat; jarak antara bantal dan pintunya hanya sekitar tiga langkah pendek. Ia bangkit dengan sendi yang terasa kaku, butuh waktu beberapa detik untuk melakukan gerakan kecil sampai nyawanya benar-benar terkumpul. Bau tengik dari handuk lembap dan sisa mi instan semalam menyambutnya sebagai sarapan pertama.

Ia melangkah keluar kontrakan, menyusuri gang selebar bahu yang mengular di tengah pengapnya permukiman kumuh Jakarta. Di situ, seekor tikus got sebesar kucing dewasa melompat santai dari atas tumpukan sampah, mata merahnya sempat beradu tatap dengan Aris seolah mereka adalah rekan satu shift. Langkahnya harus gesit menghindari genangan air berwarna kehitaman yang baunya sanggup menembus sol sepatu.

Permukiman itu akhirnya mencapai tepiannya, membawa Aris ke pinggir jalan protokol yang masih diselimuti remang. Di sana, udara terasa sedikit lebih lega meskipun aroma aspal basah yang bercampur dengan debu mulai mendominasi. Aris menarik napas panjang, berdiri di titik awal wilayah tugasnya, tepat di bawah lampu jalan yang berpijar pucat. Ia menyandarkan tas kecilnya di pangkal tiang lampu jalan yang penuh tempelan iklan sedot WC, lalu mengusap wajahnya yang masih terasa berat. Di bawah pijar lampu jalan itu, Aris mulai mengeluarkan perlengkapan tempurnya.

Sebagai petugas kebersihan yang sudah bekerja selama tujuh bulan, ia sudah cukup hafal setiap jengkal trotoar yang harus ia sapu sebelum matahari terbit dan warga kota yang cerewet mulai bangun. Ritualnya selalu sama: mengenakan rompi oranye yang warnanya sudah mulai pudar, meneguk kopi dingin dari botol minum plastiknya, lalu membiarkan sapu lidinya beradu dengan beton trotoar.

Aris mulai menyisir permukaan trotoar dengan sapu lidinya, memastikan tidak ada sampah yang terlewat, khususnya di antara celah ubin taktil. Namun, baru sekitar lima belas meter ia membersihkan area itu, langkah Aris mendadak terhenti. Ia menyipitkan mata, mengamati pemandangan tak biasa di area kekuasaannya, dan mendapati seorang lelaki tua dengan kaus oblong kusam yang sedang berlutut di atas trotoar.

Lelaki itu membawa ember plastik hitam bertuliskan “anti pecah” yang sudah kusam dan penuh dengan goresan, serta sebuah sikat ijuk yang nyaris botak, menyisakan serat-serat kasar yang tampak kaku. Ia menggosok beton abu-abu itu dengan ritme yang gila. Maju, mundur. Kanan, kiri. Suara sikatnya terdengar lantang, menciptakan gesekan kaku yang memuakkan di tengah heningnya sisa malam.

“Lagi apa, Pak? Itu jatah sapu saya,” Aris akhirnya memberanikan diri mendekat, sambil menyandarkan sapu lidinya ke batang pohon trembesi.

Lelaki itu tidak menoleh sama sekali. Tubuhnya tetap tegang, fokus pada satu petak beton yang sama. Napasnya memburu, membelah keheningan dini hari yang dingin. “Darahnya susah hilang,” jawabnya datar. “Terlalu pekat. Semalam hujan deras, tapi air hujan pun takut menyentuh noda ini.” Kata-kata itu meluncur begitu saja, tanpa tekanan emosi, justru hal itu yang membuatnya terdengar lebih mengerikan di telinga Aris. Seolah lelaki itu tidak sedang berbicara tentang sesuatu yang janggal baginya.

Aris mengerutkan kening. Di kepalanya, ia mulai bertanya-tanya apakah pria lanjut usia di depannya adalah orang gila yang tersesat atau mungkin penghuni jalanan yang mulai kehilangan akal sehatnya. Ia menyalakan senter ponselnya. Cahaya putih itu jatuh tepat di atas permukaan beton yang digosok si lelaki tua itu. Bersih. Tidak ada apa-apa di sana. Tidak ada darah, tidak ada noda merah, tidak ada apa pun selain pori-pori beton yang kasar, guratan semen yang tidak rata, dan beberapa helai daun trembesi kering yang seharusnya menjadi tugas Aris untuk menyapu.

“Pak, lihat sendiri, tidak ada apa-apa di sini. Trotoarnya bersih. Bahkan lebih bersih dari biasanya karena Bapak gosok,” ujar Aris pelan, mencoba menggunakan nada bicara seramah mungkin. Tak bisa dipungkiri, ada rasa dongkol yang mengganjal di hatinya; trotoar itu adalah tanggung jawabnya, satu-satunya cara agar ia bisa menyambung hidup bulan ini. “Saya yang pegang wilayah ini setiap subuh, Pak. Saya tahu mana yang kotor dan mana yang tidak kotor. Bapak istirahat saja, biar saya yang teruskan.”

Lelaki tua itu berhenti menggosok. Ia menatap Aris dengan mata yang merah meradang, bukan karena kantuk, tetapi karena sesuatu yang membuatnya lebih perih. “Kamu petugas baru, ya? Kamu hanya menyapu daun kering dan puntung rokok. Kamu membersihkan apa yang terlihat. Tapi kamu tidak pernah benar-benar bisa melihat apa yang ada di bawah kakimu sendiri.” Ia kembali menunduk, menatap petak trotoar kosong itu seolah benar-benar melihat sesuatu yang tak bisa dijangkau oleh mata Aris.

Ia menunjuk ke satu titik di dekat tiang lampu jalan yang mati. “Di sini, dua puluh delapan tahun yang lalu, seorang pemuda seumurmu jatuh. Kepalanya menghantam pinggiran pot bunga itu karena didorong oleh aparat berseragam cokelat. Kamu tahu apa yang lebih menyedihkan? Ia tidak sedang ikut demonstrasi. Ia hanya sedang memegang bungkusan nasi uduk yang baru ia beli di ujung gang untuk adiknya yang sudah menunggu di rumah dengan perut keroncongan.”

Aris terdiam seribu bahasa. Seketika, ingatannya berputar pada cerita-cerita selentingan yang pernah ia dengar dari Pak Totok, petugas kebersihan senior, tentang sebuah kejadian yang pernah terjadi di jalan itu, tapi ia selalu menganggapnya sebagai isapan jempol belaka agar dirinya tak segan menyapu area gelap itu.

“Setiap malam, darahnya merembes keluar dari pori-pori beton ini,” lanjut lelaki itu, suaranya kini bergetar. “Orang-orang berjalan di atasnya siang malam. Mereka memakai sepatu mahal, menggilas noda ini dengan tawa. Mereka tidak tahu kalau alas kaki mereka membawa pulang sisa-sisa amis dari nyawa yang direnggut paksa.”

Bulu kuduk Aris sempat berdiri. Kalimat lelaki itu terdengar terlalu spesifik untuk sebuah bualan, namun nalar Aris tetap menolak percaya. Baginya, pria tua ini tak lebih dari sekadar pengidap gangguan jiwa yang berhalusinasi pada noda khayalan. Di kota sebesar Jakarta, orang-orang kehilangan akal sehat dengan berbagai cara, dan lelaki ini tampaknya memilih untuk kehilangan kewarasannya di atas petak trotoar ini.

Lelaki itu kembali mencelupkan sikatnya ke air keruh di ember. Ia menggosok beton itu lagi, kali ini dengan tenaga yang lebih besar. Bunyi sikat ijuk yang beradu dengan permukaan beton kini terdengar jauh lebih keras daripada sebelumnya.

“Kenapa Bapak yang harus menggosok trotoar ini subuh-subuh begini, Pak? Apa Bapak saksi kejadian itu?” tanya Aris, suaranya mengecil. Sebenarnya, pertanyaan itu terlontar begitu saja sebagai bentuk keisengannya; ia hanya ingin mengetes sejauh mana imajinasi liar si lelaki tua ini akan membawanya.

Lelaki itu berhenti total. Bahunya yang semula tegang mendadak merosot, seolah ada beban berat yang baru saja ia lepaskan. Ia menoleh perlahan ke arah Aris, membiarkan cahaya senter ponsel Aris menerpa wajahnya secara penuh. Untuk pertama kalinya, ekspresi wajahnya terlihat jelas. Bukan hanya lelah, tapi kosong, seperti seseorang yang telah kehilangan semangat hidup sejak lama.

“Bukan saksi, Nak,” bisiknya. “Saya hanya ingin bungkusan nasi uduk itu sampai ke rumah. Tapi saya tertahan di sini, memastikan tidak ada orang yang terpeleset karena darah saya.”

Jantung Aris seolah berhenti berdetak saat itu juga. Udara dingin yang sejak tadi berembus kini terasa lebih dingin seratus kali lipat, berubah menjadi rasa beku yang merayap dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Aris terpaku, matanya tak sengaja menangkap kejanggalan pada bayangan lelaki itu di bawah lampu jalan, bayangan yang tampak terputus tepat pada bagian tengahnya. Tanpa sadar, ia menurunkan arah senter ponselnya ke bagian dada lelaki itu. Di sana, tepat di ulu hati pada kaus oblong kusamnya, terdapat sebuah lubang menganga yang tembus cahaya. Tidak ada organ, tidak ada daging; Aris dapat melihat dengan jelas terangnya lampu jalanan di seberang trotoar menembus langsung melalui tubuh lelaki tua itu.

Aris mencoba berteriak, tetapi suaranya tercekat di pangkal tenggorokan. Hanya ada bunyi detak jantungnya yang berdentum hebat di telinga, beradu dengan sunyinya jalanan yang mendadak terasa asing. Detik itu juga, angin malam kembali berembus sangat kencang, mengguncang dahan-dahan pohon trembesi dengan liar. Angin itu membawa bau karat besi yang mendadak meledak di hidung Aris, mencekik napasnya. Aris tersentak mundur satu langkah, lututnya bergetar hebat hingga ia nyaris jatuh terjungkal.

Debu jalanan yang terbawa angin masuk ke sela-sela mata Aris, membuatnya pedih luar biasa. Ia berkedip sekali, hanya sekali. Dan dalam satu kedipan itu, petak trotoar di depannya mendadak kosong melompong. Lelaki tua itu lenyap, persis api lilin yang padam dalam sekali tiup.

Aris mencoba mengucek matanya yang pedih, berharap semua itu hanya halusinasi, namun pemandangan di bawah kakinya justru membunuh harapannya. Di atas beton yang tadi digosok habis-habisan, terbaring bungkusan kertas cokelat yang masih mengepulkan asap hangat. Di sekeliling bungkusan itu, cairan merah pekat mulai merembes, mengalir keluar dari pori-pori beton dan diserap perlahan oleh kertas cokelat tersebut.

Rasa mual hebat mendorong Aris untuk segera menjauh. Ia memutar tubuh secepat kilat dan lari sekuat tenaga, meninggalkan sapu lidinya begitu saja di bawah bayangan pohon trembesi. Ia terus memacu langkah tanpa berani menoleh sedetik pun, seolah ada tangan-tangan dingin yang siap mencengkeram rompi oranyenya dari belakang. Baru setelah mencapai lampu jalan yang paling terang di depan toko serba ada, ia berhenti dengan tubuh yang gemetar hebat.

Napasnya tersengal-sengal, dadanya terasa panas seperti terbakar. Di bawah sorot lampu toko serba ada, Aris mencoba mengais kembali kewarasannya. Ia memejamkan mata rapat-rapat, menghirup napas dalam-dalam untuk mengusir bau anyir yang masih tertinggal di hidungnya. Ia berulang kali meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang baru saja terjadi hanyalah tipuan mata akibat kelelahan yang luar biasa, halusinasi dari sisa kafein kopi dingin yang tadi ia teguk, atau mungkin sekadar mimpi buruk yang hinggap saat ia berdiri.

Namun, sekeras apa pun ia mencoba menyangkal, kejadian yang baru saja ia alami memang benar-benar terjadi, bukan halusinasi, apalagi mimpi. Ia bisa merasakan sakit saat mencoba memelintir kulitnya sendiri.

Aris menyeka keringat dingin di dahinya, mencoba mengumpulkan nyali untuk kembali melanjutkan pekerjaan yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Namun, langkahnya tertahan saat tatapannya menangkap noda ganjil di ujung sepatunya. Ia menyadari sesuatu yang membuat bulu kuduknya kembali berdiri. Di atas lantai toko yang bersih, sol sepatunya meninggalkan jejak berwarna merah basah yang panjang, seolah ia baru saja melintasi genangan yang tak kunjung kering selama dua puluh delapan tahun. Dan untuk pertama kalinya sejak ia bekerja sebagai petugas kebersihan, Aris menyadari bahwa ada kotoran yang tidak bisa disapu, tidak bisa dicuci, bahkan tidak akan pernah benar-benar hilang, betapapun keras seseorang berusaha menghapus jejaknya.

 

Editor : Azmi Layaliya Nauro

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Hewan-Hewan di Ujung Jalan

Oleh: Farah Fauziah Di depan sana, asap mengepul Kikikan tajam memecah malam Langkahku ragu Apakah iya?…

Riungan Sandiwara

Oleh: Andika Brilyan Di balik kaca bening, wajah-wajah dipajang rapi senyum disusun bagai barang dagangan retak…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Sepenggal Kisah Janggal

Sepenggal Kisah Janggal

Usut Kasus Penganiayaan dan Kekerasan Seksual, Aliansi Mahasiswa Unsoed Geruduk Polresta Banyumas

Usut Kasus Penganiayaan dan Kekerasan Seksual, Aliansi Mahasiswa Unsoed Geruduk Polresta Banyumas

Bukan Sekadar Candaan: Ketika Kekerasan Dinormalisasi pada Lingkaran Pertemanan

Bukan Sekadar Candaan: Ketika Kekerasan Dinormalisasi pada Lingkaran Pertemanan

Kisah di Gang Krembangan pada Tahun 60-an dari Kacamata Bocah 6 Tahun

Kisah di Gang Krembangan pada Tahun 60-an dari Kacamata Bocah 6 Tahun

Lonceng Kematian Rasa Aman: Ketika Ekosistem Pendidikan Menjadi Sarang Kasus Kekerasan

Lonceng Kematian Rasa Aman: Ketika Ekosistem Pendidikan Menjadi Sarang Kasus Kekerasan

Hewan-Hewan di Ujung Jalan

Hewan-Hewan di Ujung Jalan