Oleh: Fathya Andhara Maulana
Identitas Film
Judul : Now You See Me
Sutradara : Louis Leterrier
Penulis Skrip : Ed Solomon, Boaz Yakin, and Edward Ricourt
Studio, Produser : K/O Paper Products, Summit Entertainment
Tanggal Rilis : 13 Mei 2013
Durasi : 1 Jam 55 Menit
Genre : Komedi, Aksi, Heist, Drama, Crime film
Pemain : Jesse Eisenberg, Mark Ruffalo, Woody Harrelson, Isla Fisher, Dave Franco, Mélanie Laurent, Morgan Freeman, hingga Michael Caine
Di tengah banjir film aksi yang mengandalkan ledakan dan kejar-kejaran, Now You See Me (2013) hadir dengan tawaran yang berbeda, yaitu sebuah film yang menyajikan permainan pikiran yang menggabungkan sulap, kriminalitas, dan ironi yang menggoda. Disutradarai oleh Louis Leterrier dan dibintangi oleh ensemble cast papan atas—Jesse Eisenberg, Mark Ruffalo, Woody Harrelson, Isla Fisher, Dave Franco, Mélanie Laurent, Morgan Freeman, hingga Michael Caine—film ini membangun dunia di mana yang terlihat belum tentu nyata, dan yang nyata sering kali tak terlihat.
Film ini mengikuti empat pesulap jalanan dengan keahlian masing-masing. Sebut saja, ada J. Daniel Atlas (Eisenberg) yang karismatik dan arogan, Merritt McKinney (Harrelson) yang dapat membaca pikiran, Henley Reeves (Fisher) yang ahli dalam meloloskan diri atau berpindah tempat, dan Jack Wilder (Dave Franco) yang lincah dan andal dalam memanipulasi kartu. Keempat orang ini dipersatukan oleh sosok misterius yang memberikan mereka undangan masuk ke sebuah apartemen kosong. Setahun kemudian, mereka tampil sebagai The Four Horsemen—kelompok pesulap yang pertunjukannya bukan sekadar hiburan, melainkan diikuti aksi perampokan berskala besar yang dilakukan di hadapan ribuan penonton.
Dalam pertunjukan perdana mereka di Las Vegas, The Four Horsemen secara ajaib dapat mentransfer uang dari brankas sebuah bank Prancis langsung ke tangan para penonton. Peristiwa ini menarik perhatian agen FBI Dylan Rhodes (Ruffalo) dan koleganya dari Interpol, Alma Dray (Laurent), yang bersama-sama memburu keempat pesulap itu. Di sisi lain, Thaddeus Bradley (Freeman), seorang debunker terkenal yang mencari nafkah dari membongkar trik sulap, turut terseret ke dalam permainan ini. Namun, semakin dalam mereka menyelidiki, semakin jelas bahwa mereka bukan yang mengejar, melainkan yang dikejar.
Kekuatan terbesar Now You See Me terletak pada strukturnya yang berlapis. Naskah yang ditulis oleh Ed Solomon, Boaz Yakin, dan Edward Ricourt ini dengan cerdas membalikkan ekspektasi penonton secara terus-menerus. Film ini bekerja seperti trik sulap itu sendiri, di mana perhatian kita sebagai penonton diarahkan ke satu tempat sementara yang sesungguhnya terjadi di tempat lain. Penonton diajak untuk terus-menerus mempertanyakan siapa yang sebenarnya mengendalikan situasi, dan jawabannya tidak akan datang sebelum waktunya.
Ensemble cast film ini adalah salah satu daya tarik utamanya. Jesse Eisenberg tampil dengan kecerdasan yang sedikit menyebalkan, tetapi memikat—sebuah nuansa yang ia kuasai dengan sangat baik sejak The Social Network. Woody Harrelson memberikan sentuhan humor yang mengalir natural tanpa mengganggu ketegangan narasi. Sementara itu, Mark Ruffalo berhasil membangun karakter agen FBI yang frustrasi sekaligus simpatik, yang pelan-pelan membongkar lapisan demi lapisan karakternya hingga munculnya twist final yang mengejutkan. Morgan Freeman, seperti biasa, hadir sebagai penyeimbang, suaranya saja sudah menjadi otoritas tersendiri dalam setiap adegan.
Secara sinematografis, Leterrier menampilkan pertunjukan-pertunjukan sulap dengan gaya yang megah dan dinamis. Pencahayaan panggung yang dramatis, kamera yang bergerak energik, serta efek visual yang tidak berlebihan, semuanya bekerja sama menciptakan tontonan yang mengasyikkan. Pilihan warna yang cenderung gelap dan kontras tinggi juga memberi nuansa konspirasi yang cocok dengan tema film. Musik latar dari Brian Tyler turut membangun ketegangan tanpa terasa dipaksakan.
Tentu film ini tidak lepas dari kekurangan. Beberapa plot hole terasa mencolok jika dipikirkan kembali setelah film berakhir. Sebagian logika yang membangun twist besar itu membutuhkan kebetulan yang terlalu besar untuk diterima begitu saja. Karakter-karakter perempuan, khususnya Henley Reeves dan Alma Dray, juga terasa kurang mendapat ruang untuk berkembang dibandingkan rekan-rekan prianya. Henley, yang seharusnya memiliki sejarah emosional dengan Atlas, hampir tidak dieksplorasi sepanjang film ini berlangsung. Alma pun lebih banyak berfungsi sebagai pengiring investigasi daripada tokoh dengan agenda sendiri. Dalam sebuah film dengan cast sepotensial ini, hal tersebut menjadi hal yang cukup disayangkan untuk dilewatkan begitu saja.
Di balik lapisan hiburannya yang mengilap, Now You See Me menyimpan pertanyaan yang lebih serius: siapa yang sesungguhnya berhak atas keadilan ketika institusi gagal? The Four Horsemen mencuri dari korporasi dan bankir yang mengeksploitasi orang banyak, lalu mendistribusikannya kepada para korban. Hal tersebut dapat disebut sebagai sosok Robin Hood modern dengan kostum pesulap. Film ini tidak memberikan jawaban moral yang bersih, dan justru di situlah letak kecerdasannya. Penonton diajak untuk ikut merasakan ambiguitas itu, alih-alih menggurui dengan kesimpulan yang sudah dikemas rapi.
Now You See Me adalah film yang paling baik dinikmati tanpa banyak ekspektasi, apalagi mengenai hal-hal yang rasional. Film ini mungkin bukan film yang sempurna, tetapi dapat penulis kategorikan sebagai film hiburan yang cerdas dan penuh kejutan. Seperti pertunjukan sulap yang baik di mana penonton tidak diminta untuk memahami semua triknya, tetapi hanya diminta untuk menikmati tontonannya. Pacing yang terjaga dari awal hingga akhir membuat film ini tidak terasa berat meski topik yang diangkat cukup kompleks. Terlebih lagi, jika pada akhir film penonton merasa tertipu dengan cara yang menyenangkan, maka sutradara dan para pemerannya telah berhasil melakukan tugasnya. Bagi siapa pun yang menyukai misteri, konspirasi, dan permainan pikiran yang dikemas dalam aksi yang mengalir mulus, Now You See Me adalah tontonan yang sangat layak untuk dipilih.
Editor : Kania Nurma Gupita







