Karya: Nurul Irmah Agustina
Seorang jemari yang bersimbah larutan dosa
Tuangkan titisnya di sekujur raga sang rengsa
; Ia seremeh lidah yang berkata ‘tcih!’
; melayang liar sebentuk tampar dalam benci
Seekor kaki bermimikri tingkah jemari
Kali ini serupa pisau yang haus beraksi
Ia pun mengiris, dan mencipta kubangan luka manis
Tak dangkal—sekadar melebur dalam memoar sial
… dan daku sadar.
Dua pendosa ialah jemari dan kaki
Si empunya perangai bengis nan licik
; meremas sukma hingga remuk dalam senyum mabuk
Lagi berani, menginjak susila yang terbentuk
Apa kudu sang rengsa berlutut?
Sang rengsa perlahan merisik
“Biar tubuhku merekam noda-noda najis,
Lidahku masih suci tuk memaki para iblis,
Dan meski mata ini tak kuasa menangis
Ia masih kenal apa itu rasa perih.”
Mata dunia tak semestinya berkedip
Pandanglah lebar-lebar betapa biadab jemari dan kaki
Ia sang rengsa, bukan hanya ingin bebas
tetapi, butuh suara-suara yang membekas
jua percaya: tak semua manusia beringas.
Editor: Nur Laela






