Karya: Khusnul Mariyati Janah
Perempuan menangis kala membawa tempayan di atas kepala
Tempayan itu berbeda dari yang lain, berat pun rupanya
Tempayan yang ia bawa sejak kecil
Tempayan yang kian memberat seiring lamanya hidup
Pun terlalu buruk untuk ditinggalkan
Perempuan itu menangis kala tempayan yang ia perjuangkan
Jatuh, kala berniat duduk bersandar
Ia hanya menangis, mengingat akhir yang tak diharapkan
Setiap malam, ia membawa satu per satu pecahan tempayan ke ujung jalan
Menyakitkan membawanya seorang diri—sebagai perempuan
Hingga langkahnya terhenti, kakinya ditolak ditopang bumi
Perempuan itu tergeletak, menghadap cakrawala
Ia tak mati, hanya memikirkan pundi nasib di ujung jalan dengan pecahan tempayan
Matanya terpejam—membekukan tempo dunia amat perlahan
Pertanyaan terlontarkan atas dosa yang membelenggu perempuan
Akankah dirinya membusuk dengan perlahan?
Akankah dirinya dihinakan oleh kenyataan?
Akankah dirinya terhisap oleh kekuasaan?
tanyanya, memaksa dialog dengan Tuhan
Cakrawala menatap sendu lalu mencatat dosa atas izin penguasa
Menentukan batas atas kehidupan
Pun garis yang tercipta atas tuntutan sebagai perempuan
Editor: Nurul Irmah Agustina








