Pecahan Tempayan di Ujung Jalan

Karya: Khusnul Mariyati Janah

Ilustrasi: Tsabita Ismahnanda Purnama
Ilustrasi: Tsabita Ismahnanda Purnama

Perempuan menangis kala membawa tempayan di atas kepala

Tempayan itu berbeda dari yang lain, berat pun rupanya

Tempayan yang ia bawa sejak kecil

Tempayan yang kian memberat seiring lamanya hidup

Pun terlalu buruk untuk ditinggalkan

 

Perempuan itu menangis kala tempayan yang ia perjuangkan

Jatuh, kala berniat duduk bersandar

Ia hanya menangis, mengingat akhir yang tak diharapkan

Setiap malam, ia membawa satu per satu pecahan tempayan ke ujung jalan

Menyakitkan membawanya seorang diri—sebagai perempuan

 

Hingga langkahnya terhenti, kakinya ditolak ditopang bumi

Perempuan itu tergeletak, menghadap cakrawala

Ia tak mati, hanya memikirkan pundi nasib di ujung jalan dengan pecahan tempayan

Matanya terpejam—membekukan tempo dunia amat perlahan

 

Pertanyaan terlontarkan atas dosa yang membelenggu perempuan

Akankah dirinya membusuk dengan perlahan?

Akankah dirinya dihinakan oleh kenyataan?

Akankah dirinya terhisap oleh kekuasaan?

tanyanya, memaksa dialog dengan Tuhan

 

Cakrawala menatap sendu lalu mencatat dosa atas izin penguasa

Menentukan batas atas kehidupan

Pun garis yang tercipta atas tuntutan sebagai perempuan

Editor: Nurul Irmah Agustina

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Barangkali Besok Akan Lebih Ramah

Oleh: Abida Fitratussawa Pagi datang dengan wajah pucat. Langkah kaki tetap berjalan di tengah hati yang…

Sebuah Elegi di Sore Hari

Oleh: Lintang Fitriana Dalam lorong yang kehilangan pagi, seorang ibu mengayun langkah tanpa gizi, menenteng pasar…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Melintasi Alam Baka, Menerima Diri di Tengah Kalutnya Dunia

Melintasi Alam Baka, Menerima Diri di Tengah Kalutnya Dunia

Barangkali Besok Akan Lebih Ramah

Barangkali Besok Akan Lebih Ramah

Sebuah Elegi di Sore Hari

Sebuah Elegi di Sore Hari

Tamasya Tempat Kakek

Tamasya Tempat Kakek

Di Antara Luka dan Kesempatan Baru

Di Antara Luka dan Kesempatan Baru

Duta Kampus Unsoed Ikut Kunker Wakil Presiden, Mengapa Mahasiswa Mempermasalahkannya?

Duta Kampus Unsoed Ikut Kunker Wakil Presiden, Mengapa Mahasiswa Mempermasalahkannya?