Apa Kata Tuhan?

Oleh : Gita Amalia Suherlan

Ilustrasi: Muhammad Robin Mubarok N.
Ilustrasi: Muhammad Robin Mubarok N.

Delapan belas April 2016, pertama kalinya saya melihat pekerja seks itu membeli sampo dan alat kontrasepsi di minimarket sebelah kantor Lentera Merah, gerak-geriknya terlihat biasa, hanya saja saya sedikit risih melihat tangannya yang sedikit berotot itu dipaksa muat dengan baju ketat wanita. Sesaat saya berpikir, mungkin dipesan, tetapi orang gila mana yang memesan waria PSK di tempat ramai begini?

Menurut investigasi Aji beberapa bulan lalu mengenai jaringan prostitusi di kota ini, PSK-PSK itu hanya mau menunggu di daerah atas, di sekitar klub malam, atau di gang-gang kecil sekitar taman kota. Kemunculan salah satunya di ruang publik yang ramai tentu membuat saya keheranan, jangan-jangan anak kantor yang memesan. Namun, sepertinya tidak mungkin juga.

Sejak hari pertama saya melihatnya, asumsi-asumsi jelek mulai muncul di kepala. Entah kenapa, saya tetap menghakimi dalam diam meskipun saya berusaha untuk tak peduli. Penghakiman saya semakin besar ketika waria itu menanyakan alat kontrasepsi tanpa malu-malu kepada kasir. Saya terus berusaha mengingat Tuhan untuk menahan ekspresi jijik yang sangat ingin dikeluarkan. Merasa bersalah sebenarnya, saya adalah seorang jurnalis yang wajib memandang suatu isu dengan objektif, tetapi karena saya lahir dan besar di lingkungan yang menjunjung norma dan aturan agama, persepsi itu datang secara alamiah.

Saya pikir, pengalaman saya bertemu dengan waria PSK hanya akan berlangsung sekali, tetapi ternyata tidak! Waria itu datang lagi ke minimarket yang sama dua hari kemudian. Saat itu saya sedang makan mie instan cup di kursi depan minimarket dan ia datang tanpa membawa kendaraan, pakaiannya masih sama seperti saat pertama kali saya melihatnya, hanya saja kali ini sedikit berantakan. Dengan sengaja, saya melambatkan tempo makan, merasa cukup penasaran dengan si waria. Sampai kemudian ia keluar sambil memasukkan sebotol sampo ke dalam tasnya.

Malam itu rasa penasaran saya menggunung, lalu anehnya, saya justru nekat melajukan motor matic warisan bapak ke arah lain, bukan arah menuju pulang. Saya yakin saat itu kesadaran saya masih terjaga, dan dengan kesadaran itu pula saya pergi ke gang sepi di dekat minimarket. Penerangan yang minim sempat membuat nyali ciut, tetapi rasa penasaran saya terhadap suatu hal terus mendorong saya untuk tetap menyusuri jalan. Hingga akhirnya, saya menemui pertigaan. Jika saya masih waras, maka saya akan memilih jalan yang pencahayaannya lebih terang, tetapi sepertinya akhir-akhir ini saya mengonsumsi terlalu banyak kafein sehingga saya memilih belok ke jalan yang gelap. Dengan langkah bodoh itu, saya bersiap menghadapi berbagai kemungkinan buruk.

Baru beberapa meter berjalan, saya banyak menyebut nama Tuhan, tidak ada rumah warga di sana, hanya ada dua warung kecil yang sudah tutup dan gudang besar yang juga sudah sepi, lainnya adalah pepohonan dan rumput-rumput tinggi. Semakin jauh dari pertigaan, tangan saya mulai dingin, kecepatan motor naik, dan bulu kuduk pun serempak berdiri tatkala mata mulai melihat seseorang berjongkok di pinggir jalan. Namun, ternyata tak hanya satu. Sepanjang saya meneruskan perjalanan, ada banyak orang di pinggir jalan, tetapi mereka aneh, senyap, dan memandang saya tajam. Sebagian besar adalah wanita berpakaian terbuka, ada beberapa pria dewasa juga, dan sedikit waria. Situasi yang berhasil membuat saya ketakutan itu mendorong saya ingin putar balik, tetapi saya benar-benar tidak berani untuk memutar dan hanya bisa melaju ke depan. Mata sampai terasa berair, detik itu juga saya menyesal karena telah mengikuti rasa penasaran, sebab di ujung jalan ada sebuah warung remang-remang dan sekumpulan orang yang duduk di depannya. Tanpa pikir panjang lagi, saya putar balik secepat kilat, karena maju ke depan lagi pun tidak mungkin sebab sudah tidak ada jalan. Saya ingat sekali spidometer saya naik drastis menjadi 45 km/jam, itu angka yang berlebihan untuk melajukan motor di sebuah jalan kecil yang sepi. Namun, saya tidak peduli lagi, saya hanya ingin pulang dan melupakan tatapan lapar ditambah kerlingan nakal dari pria-pria tadi yang menyebabkan rasa mual.

Setelah berhasil pulang dengan selamat, saya merasa kapok sekaligus puas karena rasa penasaran sudah terjawab. Tebakan saya ternyata benar, ada lingkungan gelap di sekitar minimarket dan kantor Lentera Merah yang hanya kasat mata saat tengah malam. Saya jadi sedikit berempati pada Aji yang melakukan penelusuran ke tempat jauh, padahal jaringan mereka juga berkembang di sekitar ekosistem kami. Pikiran saya tertuju lagi kepada waria minimarket itu, saya tidak melihat wajahnya di sana, tetapi saya juga tidak terlalu yakin. Entahlah, dunia malam dan gelap itu benar-benar mengerikan, bahkan untuk saya yang sudah menginjak kepala dua. Malam itu, saya mencatat penemuan saya di buku catatan kecil sebelum tidur, mengenai si waria minimarket, gang gelap, orang-orang di pinggir jalan, dan warung remang di ujung jalan. Catatan itu diakhiri dengan sebuah pertanyaan, mengapa mereka ada di sana? Sekadar memuaskan syahwat atau mengesampingkan akal sehat untuk bertahan hidup?

Baru tiga hari kemudian, saya tidak menyangka catatan saya akan bertambah panjang karena saya bertemu lagi dengan si waria, lagi-lagi di minimarket, di jam sepuluh malam. Ia sudah ada di sana sebelum saya, sedang merokok sendirian di depan, pakaiannya sama lagi, atau memang dia tidak pernah ganti pakaian?

Saya langsung pergi ke rak roti setelah masuk ke dalam minimarket, tetapi karena rak tersebut ada di dekat kaca, maka saya bisa melihat ke luar, mengamati waria itu diam-diam. Saat merokok, aura lelakinya terlihat lebih jelas. Saya mengamati riasan wajahnya, tidak terlalu bagus. Sesi memilih roti itu terasa sangat lama karena saya tak berhenti mencuri pandang ke luar, kemudian saya menegakkan badan tatkala waria itu menerima panggilan telepon. Saya tentu tidak bisa mendengar apa yang ia bicarakan, tetapi dilihat dari ekspresinya yang tersenyum, saya yakin ia bicara dengan nada ramah. Namun, gesturnya justru kontras dengan mimik wajahnya. Tangannya terus bergerak-gerak, meremas, mengepal, mengetuk meja, dan matanya pun tidak menyipit karena tersenyum.

Selesai dengan teleponnya, ia buru-buru masuk ke minimarket, saya lantas kembali ke aktivitas memilih roti, tetapi tetap mengamati dari ekor mata. Waria itu pergi ke sebuah rak dan mengambil sebotol sampo. Sebotol sampo? Lagi? Saya bingung saat itu, masa baru tiga hari sampo yang ia beli sudah habis? Selain sampo, lagi-lagi saya melihat kasir minimarket menyerahkan alat kontrasepsi kepadanya. Oh, apa telepon tadi itu pesanan?

Setelah membayar semuanya, ia keluar dengan langkah tergesa, saya pun langsung asal memilih roti dan pergi ke kasir. “Selamat malam, kak. Ada tambahan lagi?”

“Engga, mas. Saya mau tanya aja.”

Setelah memindai roti yang saya beli, kasir itu sempat kebingungan mendengar penuturan saya. “Kenapa ya, kak?”

“Orang tadi sering ke sini?”

“Yang banci?”

“Iya.”

“Hampir setiap hari.”

“Mas kenal sama dia?”

Saya menangkap ekspresi ragu dari kasir tersebut, matanya bahkan melirik ke lanyard yang menggantung di leher saya. “Kakaknya dari kantor sebelah?”

“Oh, iya, saya jurnalis.”

Kasir itu menjadi lebih ramah setelahnya, ia lebih percaya untuk menjawab pertanyaan saya. “Saya nggak kenal, cuma jadi akrab karena sejak satu bulan yang lalu dia hampir ke sini setiap hari, mungkin karena di sini buka 24 jam jadi lebih enak buat dateng kapan aja.”

Orang lain menginterupsi, saya terpaksa menyingkir dan menelan kembali pertanyaan saya agar kasir tersebut bisa melayani. “Kak, kalau mau tanya-tanya ke temen saya aja, Oki. Dia udah akrab banget sama orang itu, kalau mau, kakak harus tunggu kurang lebih satu jam lagi, sesuai sama shiftnya.”

Ternyata tidak perlu menunggu satu jam, Mas Oki datang sekitar empat puluh menit kemudian. Kasir sebelumnya segera mengarahkan Mas Oki untuk bertemu saya, lalu kami bercakap-cakap selama hampir dua puluh menit. Dari obrolan itu, saya akhirnya mengetahui nama si waria minimarket. “Haksa, tapi saya disuruh panggil Shan kalau dia masih pake baju perempuan.”  Selain nama, saya juga coba mengulik informasi lain, seperti tempat tinggalnya yang Mas Oki pun tidak tahu, usianya, dan alasan ia sering sekali membeli sampo dan alat kontrasepsi. Kata Mas Oki, Haksa sebenarnya juga membeli barang lain, seperti sabun dan mie instan, tapi frekuensinya memang tidak sebanyak sampo dan alat kontrasepsi. Dalam seminggu, Haksa bisa membeli tiga sampai empat botol sampo, dan pembelian itu selalu bersamaan dengan pembelian alat kontrasepsi. Mas Oki menuduh saya berpura-pura polos saat saya menanyakan apakah Haksa benar-benar seorang PSK atau bukan. Menurutnya, dari penampilan dan barang yang Haksa beli pun sudah menjawab, laki-laki berumur 20 tahun itu juga pernah mengaku sedang menunggu jemputan dari pemesannya. Saya sangat menyayangkan fakta itu, pemuda yang berumur tiga tahun di bawah saya  harus berselancar di ombak prostitusi.

Namun, ada satu fakta lagi yang benar-benar membuat kepala saya pening. Mas Oki mengungkapkan, Haksa punya pekerjaan sampingan, dan yang membuat saya nyaris tak percaya adalah bahwa pekerjaan sampingannya itu sebagai marbot. Saya kehilangan kata-kata, bahkan Mas Oki pun juga bingung bagaimana cara menjelaskannya, dia bercerita bahwa informasi itu tidak ia dapatkan mentah-mentah dari Haksa, melainkan pertemuannya secara tidak sengaja dengan Haksa di sebuah masjid.

“Saya nggak ngenalin awalnya, karena mukanya jadi beda banget, tapi malah Haksa yang nyapa saya duluan. Saya bingung waktu itu, tapi nggak enak juga kalau tanya-tanya. Tingkahnya Haksa juga seolah-olah dia bukan banci dan nggak pernah jajan kontrasepsi, biasa aja, kaya anak muda pada umumnya.”

Dikarenakan saya sudah tidak kuat berpikir sendirian, akhirnya saya memberi tau Aji. Si gendeng itu langsung menyuarakan berbagai nyinyiran pedasnya. “GILA, TU ORANG! Munafik banget!” Namun, karena itu pula Aji bersedia membantu saya. Saat ia bertanya apa tujuan saya mencari tau tentang Haksa, saya juga tidak tau harus menjawab apa, saya hanya berkata bahwa dorongan ini berasal dari jiwa jurnalis saya. Padahal sebenarnya, saya merasa berbeda ketika melihat Haksa, mungkin awalnya karena saya melihatnya lebih dari sekali dan segala keanehan tentangnya, tetapi saya juga merasa, ada sesuatu yang lain dari pria itu, lebih dari profesinya sebagai pekerja seks komersial.

Sehari setelah saya bercerita pada Aji, saya bertemu Haksa lagi di minimarket, di jam sembilan malam. Dia nampak belum siap, pakaiannya masih pakaian normal, hanya saja riasan dan rambut palsu itu sudah mengubah identitasnya menjadi Shan. Seperti biasa, sampo dan alat kontrasepsi. Saya mengantri di belakang Haksa waktu itu, ia hendak membayar belanjaannya, tetapi kemudian mengambil satu barang lagi, pembersih lantai. Seketika saya teringat ucapan Mas Oki tentang pekerjaan sampingannya sebagai marbot.

Setelah hari itu, saya tidak lagi melihat Haksa selama dua minggu, kasir-kasir minimarket pun tidak pernah melihatnya lagi. Mas Oki menyarankan saya untuk pergi ke masjid yang pernah ia ceritakan, saya rutin datang ke sana selama satu minggu, mengikuti sholat maghrib dan isya berjamaah, serta sempat mengikuti kajian, tetapi saya tidak pernah menemukan Haksa di sana. Bahkan, saya bertanya kepada pengurus masjid lainnya, dan kejutannya, mereka tidak kenal pemuda bernama Haksa. Saya lantas menaruh curiga, jangan-jangan Haksa mengubah namanya juga di sini. Saking penasarannya, saya sampai nekat menggeret Aji ke warung remang yang tak sengaja saya temukan saat itu. Tujuan saya adalah Haksa, meskipun Aji berulang kali mengingatkan saya untuk fokus pada pekerjaan saja dan tidak membuang waktu untuk melakukan penelusuran tidak jelas ini, saya tetap tuli.

Di warung remang itu, saya tidak menemukan Haksa juga, malah saya dibuat kerepotan dengan Aji yang ditempeli waria tua. Hampir saja Aji melayangkan tonjoknya, tetapi otak saya mengusulkan hal lain, tonjokan Aji saya cegah, dan menggantikannya dengan pertanyaan tentang Shan alias Haksa.

“Tau Shan di mana nggak? Temen saya mau liat,” tanya saya disertai alasan yang asal sebut.

“Udah ada yang ambil,” jawab waria itu.

“Selesai jam berapa?”

“Biasanya jam dua.”

Tapi setelah kami menunggu hingga jam tiga di depan warung itu, Haksa tidak muncul. Aji sudah mengumpat puluhan kali, tapi saya memilih tuli. Setelah satu per satu orang meninggalkan warung dan tempat itu ditutup, saya menyuruh Aji pulang, sedangkan saya memilih pergi ke minimarket. Dalam hati saya mengirimkan ribuan kata maaf kepada ibu dan orang rumah atas alibi menginap di rumah teman yang saya buat.

Mata saya benar-benar perih sekarang, saya yakin kantung mata saya setelah ini akan bertambah tebal. Pada akhirnya saya hanya bisa mengandalkan sekaleng kopi hitam dingin. Selain pada kopi, saya juga berterimakasih kepada Mas Oki yang menemani saya menjadi gelandangan di depan minimarket. Kami berbincang hingga pukul empat pagi, meskipun Mas Oki beberapa kali keluar masuk karena ada pelanggan. Di jam empat itu, saya mengikutinya pergi ke masjid untuk shalat subuh, sedangkan meja kasir dijaga oleh staf lain. Kami pergi ke masjid yang sama, masjid tempat Mas Oki bertemu Haksa.

Namun, siapa sangka? Di teras masjid itu, saya melihat Haksa, tertidur lelap dengan tubuh tertutup jaket dan baju perempuan, rambut palsunya tidak terpasang, akan tetapi di wajahnya masih ada sedikit riasan.

“Mas Oki! Ini Haksa?”

“Loh, iya, mba!” Mas Oki lantas mendekati tubuh Haksa, sedangkan saya tetap bertahan pada jarak tiga meter darinya. Mata saya mengamati kedua lututnya yang tertekuk, tangannya yang memeluk lutut, tas ransel besar di sebelahnya, buku tebal yang ia jadikan bantal, dan alat pel serta ember di dekat kakinya.

“Mba, lelap banget ini tidurnya.”

“Biarin aja, mas, kita tunggu aja sampai bangun.” Saya mengambil langkah mendekati Haksa, telapak kakinya tidak tertutupi apapun, pasti dingin sekali. Maka, saya berinisiatif melepas jaket yang saya kenakan untuk menutupi kaki Haksa. Namun, jemari saya yang menyenggol kaki Haksa menghentikan pergerakan saya.

“Mas… Kakinya dingin banget…”

Mas Oki lantas meletakkan tangannya di atas kaki Haksa, lalu bergeser mengecek seluruh tubuhnya. Napas saya kala itu memburu seiring dengan kepanikan Mas Oki, ia terus mengguncang-guncang tubuh Haksa sambil memanggil namanya. Saya bantu menggosok-gosok telapak tangan saya ke kakinya, tapi ia tak kunjung membuka mata. Mas Oki juga terus mengecek napas dan nadinya, tapi wajahnya yang menyiratkan ketakutan telah memberikan jawaban. Saya berlari ke dalam, memanggil beberapa orang pria dewasa yang juga akan melaksanakan sholat subuh berjamaah. Mereka keluar tergesa-gesa, dan saya telah berlinang air mata, tubuh saya mendadak jatuh terduduk saat mereka menutup wajah Haksa dengan kain sarung milik masjid.

Ba’da subuh kala itu, kami membawa tubuh kaku Haksa ke rumah sakit. Di jam salat sunah Dhuha, Mas Oki, kasir minimarket yang lain, Aji, serta para warga melangsungkan salat jenazah.

Saya merasa semua ini seperti mimpi saat demam. Saya menyelidiki seseorang, tetapi tiba-tiba orang itu tiada sekarang. Saya belum pernah berinteraksi secara langsung dengan Haksa, tetapi sakit sekali rasanya, demi Tuhan. Kami belum sempat bercerita apa-apa, saya juga belum sempat meminta maaf karena langsung menghakiminya saat pertama kali jumpa, tetapi pemuda itu pergi dan meninggalkan banyak tanda tanya. Pengurus masjid mengaku tidak mengenal Haksa, yang berarti, Mas Oki salah mengira bahwa Haksa adalah marbot masjid, tapi ia memang sering datang untuk ikut bantu bersih-bersih, makanya Haksa diizinkan untuk tidur di sana. Polisi juga tidak menemukan siapa keluarga Haksa, mereka menemukan fakta bahwa Haksa berasal dari kota lain dan sempat terdata sebagai salah satu anak asuh di sebuah panti asuhan, tetapi kemungkinan besar ia kabur karena beberapa tahun lalu panti tersebut terungkap melakukan praktik jual beli anak dan berbagai tindak kekerasan.

Selama beberapa bulan, saya tak lagi membahas Haksa atau mencoba mencari tahu tentangnya. Namun, beberapa hari lalu, saya membuka buku catatan saya, membaca setiap halamannya, dan halaman yang tak mampu saya baca sampai selesai adalah halaman tentang Haksa. Masih ada banyak pertanyaan yang tersimpan, tetapi saya putus asa sekarang, lagi pula, Haksa sudah tenang.

Malam itu, saya putuskan akan membakar buku tersebut, tetapi telepon dari Aji menghentikan pergerakan saya.

“Ini tentang Haksa, aku dapet sesuatu dari si bencong tua waktu itu.”

Aji ternyata masih mencari tahu berbagai kejanggalan kasus Haksa, sebab penyelidikan polisi memang benar-benar terasa tidak niat. Setelah Haksa dinyatakan meninggal karena Sudden Cardiac Arrest atau henti jantung, kasusnya ditutup. Dengan hasil seperti itu, saya, Aji, dan Mas Oki tentu saja tak puas, kami ingin tau tentang Haksa lebih dalam. Namun, dunia benar-benar tak merasa kehilangan.

Saya melajukan motor saya dengan kecepatan tinggi menuju jalan di mana warung itu berada. Waktu masih siang, langit masih terang, dan saya belum tau apa tujuan Aji memanggil saya ke warung remang-remang. Sampai di sana, saya melihat pria itu sedang berbincang dengan si waria tua di depan warung. Mata waria itu nampak sembam, riasannya yang tebal bahkan terlihat sedikit luntur.

“Ini Uan, dia yang nawarin kerjaan jadi PSK ke Haksa.”

Emosi saya seketika menaik, tangan saya mengepal erat sambil melemparkan tatapan kecewa kepadanya. “Kenapa? Kenapa kamu bawa dia masuk ke duniamu?”

“Shan kurus kering waktu saya pertama kali lihat dia. Bicaranya nggak lancar, tatapannya kosong, tapi dia pinter mengaji. Waktu itu, dia duduk di samping warung bakso, saya denger dia baca satu surat berulang-ulang, saya tanya ke tukang bakso di sana tentang surat yang dia baca, katanya Al-Insyirah. Terus saya ajak Shan makan, di situ dia tanya soal pekerjaan. Saya bilang saya nggak bisa bantu karena pekerjaan saya pun nggak bener, tapi karena keliatannya dia nyaris mati, saya bawa Shan ke warung ini. Ada satu kamar kosong di belakang warung, saya persilakan dia untuk tinggal sementara waktu sampai dia dapat pekerjaan, tapi karena nggak ada satu pun yang mau nerima, akhirnya saya tawarkan pekerjaan pelayan di warung. Dan dosa saya… Dosa saya adalah itu… Shan bikin pelanggan-pelanggan tertarik, dan saya sama sekali bukan orang baik… Saya malah menawarkan kerjaan itu ke dia dengan gaji yang lebih tinggi, karena para pelanggan pun mau bayar mahal buat nyewa Shan.”

Saya mencoba meredam emosi saya, tetapi malah berujung tetesan air mata. Dengan suara parau, saya meminta Uan menunjukkan kamar Haksa, dan dia menyetujuinya.

Keadaan kamar Haksa di luar ekspektasi saya dan Aji. Kamar yang sempit itu rapi sekali. Tidak ada kasur, hanya ada karpet, satu bantal, dan sarung yang terlipat rapi di atas bantal. Haksa rupanya anak yang kreatif, saya melihat ada banyak mainan yang ia buat dari bahan bekas, dia juga menempeli dinding kamarnya dengan berbagai tulisan-tulisan yang indah. Hal yang paling membuat saya dan Aji terkejut, ada sajadah serta kitab suci umat Islam di atas laci pakaian.

“Kalian tidak akan percaya kalau Haksa sholat lima waktu seperti hamba yang taat.”

Saya percaya, saya percaya. Di pertemuan ketiga dengannya, saya bisa melihat ketakutan, penyesalan, dan keraguan di matanya.

“Botol-botol sampo?” Aji mengangkat sebuah karung yang ternyata berisikan botol-botol sampo, saya tersadar bahwa sampo-sampo itu adalah merek sampo yang sama dengan yang biasa Haksa beli di minimarket.

“Haksa suka mandi, dia bisa mandi tiga kali dalam sehari.”

Saya masih tidak mengerti kenapa Haksa suka mandi. Mata saya kemudian beralih ke tumpukan buku-buku di kamar Haksa, buku-buku itu sudah usang dan tak sedikit yang koyak. Genre buku-buku itu beragam, ada yang religi sampai misteri, tetapi saya lebih tertarik pada buku kecil berwarna cokelat yang disampulnya ditempeli bunga kering.

Halo, selamat datang.

Buku ini berisi gubahan-gubahan sampah dari seorang tunawisma bernama Haksa Shantaka.

Dari dua baris kalimat pembuka itu, saya langsung meminta Uan mengizinkan saya untuk membawa buku ini.

Buku itu saya bawa ke rumah dan saya baca selama tiga hari. Lama, karena membacanya sungguh membuat saya kehabisan napas karena terus menangis dan merasa sesak. Tulisan-tulisan di dalamnya benar-benar naif, berkebalikan dengan Haksa, pekerjaannya, dan kebiasaannya membeli alat kontrasepsi.

Sudah lama tidak menulis, ini mungkin akan jadi tulisan terakhirku bulan ini.

Pekerjaan yang Uan beri ternyata berat sekali, sakit sekali, jijik sekali. Mereka menyentuh tubuhku di mana-mana, meninggalkan bekas di mana-mana, melukai di mana-mana. Aku selalu muntah setelahnya, banyak. Namun, ini tidak bisa dihentikan, tidak ada jalan lain untukku yang tidak pernah mengenal pendidikan, Uan hanya mengajarkan cara merajakan pelanggan.

Tapi, apa kata Tuhan?

Aku tidak berani menyentuh kitab-Nya, apa kata Tuhan jika tangan yang berkali-kali berlumur air mani ini menyentuh firman-Nya?Apa kata Tuhan ketika tubuh yang dijadikan toilet syahwat ini bersujud pada-Nya?

Katanya, Tuhan Maha Mengampuni, tetapi jika dosanya dilakukan berulang kali, apa kata Tuhan?

Katanya, mandi akan menghilangkan kotoran, maka aku membeli banyak sampo untuk membersihkan rambutku tiap setelah mereka menyentuhnya. Aku berusaha menyingkirkan segala dosa yang menggunung di kepalaku dengan sebotol sampo setiap keramas, tapi rasanya, kepala ini terus terasa berdebu, kotor, dan tidak pernah bersih. Sampo itu selalu satu kantung plastik dengan alat kontrasepsi, tidak ada hal yang lebih memalukan daripada membawa kotoran dan pembersih dalam satu tangan yang sama.

Sebanyak apapun aku membantu mengepel lantai masjid, yang kotor adalah aku, yang memalukan adalah aku, dosa tidak bisa dibersihkan dengan sampo dan pembersih lantai.

Ratusan kali kutampar diriku, aku lelaki, aku lelaki. Kiranya bagaimana saat istri dan anak-anakku nanti tau jika kepala keluarga mereka pernah membeli alat kontrasepsi tiga kali dalam seminggu untuk berbagi dosa dengan sesama lelaki?

Aku takut, tidak mau, bahkan walaupun sekarang mungkin aku sedang jatuh pada perempuan jurnalis yang sering makan mie instan di depan minimarket. Apa katanya? Apa pendapatnya jika seorang PSK mengaguminya? Apa kata keluarganya? Apa kata Tuhan jika aku terus berdoa tentangnya, tapi di samping itu, aku masih menjajakan tubuhku kemana-mana?

Aku sudah terjebak dalam lubang yang kugali sendiri. Putus asa, apa kata Tuhan kepada pendosa yang telah putus asa? Jika menunggu mati, dan aku tetap membeli sampo dan kontrasepsi, maka Haksa Shantaka akan dilabeli mati sia-sia.

Haksa, andai kita bisa bercerita, andai saja saya lebih berani menyapa, mungkin kamu masih ada, makan mie instan bersama saya tanpa pakaian wanita yang terbuka.

Editor: Nurul Irmah Agustina

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Kuucapkan Serta Mulia

Oleh: Alda Dwi Safitri Kepada dunia aku sampaikan Padanan kata yang kudambakan Kala hari perlahan berjalan,…

Sejengkal Lagi

Oleh: Farah Fauziah Tersengal-sengal Matanya membeku lurus Langkahnya tenggelam dalam lumpur Tali mana yang harus diraih?…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Mengenal Tokoh Bangsa dan Jejak Pengabdiannya di Museum Soesilo Soedarman

Mengenal Tokoh Bangsa dan Jejak Pengabdiannya di Museum Soesilo Soedarman

Mimbar Bebas Banyumas Problematik: Refleksi Kebijakan untuk Banyumas yang Lebih Baik

Mimbar Bebas Banyumas Problematik: Refleksi Kebijakan untuk Banyumas yang Lebih Baik

Museum Wayang Banyumas: Sunyi yang Menyisakan Jejak

Museum Wayang Banyumas: Sunyi yang Menyisakan Jejak

Banyumas Culture Festival dan Kirab Pusaka Meriahkan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas

Banyumas Culture Festival dan Kirab Pusaka Meriahkan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas

Tambah Spot Nongkrong di Unsoed, Pringsewu Hadirkan Kandang Kopi di Fakultas Peternakan

Tambah Spot Nongkrong di Unsoed, Pringsewu Hadirkan Kandang Kopi di Fakultas Peternakan

Pemira 2025 Usai: Krisis Regenerasi Kepemimpinan dan Demokrasi Mahasiswa Masih Melekat

Pemira 2025 Usai: Krisis Regenerasi Kepemimpinan dan Demokrasi Mahasiswa Masih Melekat