Oleh : Gita Amalia Suherlan

Ilustrasi: Linggar Putri Pambajeng
Ilustrasi: Linggar Putri Pambajeng

Suara yang timbul dari tarian jari di atas papan ketik menjadi pengiring tambahan untuk band Jamrud yang mengalunkan lagu Surti Tejo dari sebuah radio. Asap dari batang sigaret klembak menyan yang bertengger di atas asbak menyebar bau tajam ke seluruh sudut ruangan. Meja makan berubah menjadi meja kerja, tak ada lauk pauk, tetapi setumpuk gagasan yang sedang berkembang menjadi karya yang masih panas. Cahaya kuning lampu menemani Dharmastuti menyelesaikan naskahnya, sebuah naskah yang akan terbit tahun ini dalam bentuk buku fisik—sesekali ia akan menyesap cerutunya ketika idenya membeku.

Babi-babi itu berteriak di kepalaku. Aku tidak bisa tidur!

“Ehm … Mbak … Jadi, kita bisa mulai kapan, ya?” Sebuah intervensi yang menyebabkan sebelah alis Dharmastuti tampak sedikit naik, jemarinya akhirnya berhenti bercumbu dengan huruf-huruf itu setelah setengah jam.

Banu—seorang jurnalis magang yang bertamu—merasa telah salah mencari narasumber. Dharmastuti dikenal sebagai penulis kontroversial, seringkali karyanya berisi objektifikasi terhadap laki-laki secara seksual, tetapi karyanya yang beberapa kali diadaptasi ke panggung teater mampu membuat banyak orang menaruh segan, termasuk pimpinan redaksinya yang tertarik menjadikan kontroversi tulisan Dharma sebagai bahan. Banu mewawancarai wanita itu demi artikelnya yang bertema seni, tetapi sekarang ia menyesal karena Dharmastuti hanya membuang waktunya selama setengah jam. Rasa kesal itu semakin terasa sebab dari awal Banu memang sudah merasa tidak cocok dengannya. Banu pernah membaca satu karyanya, dan bagi Banu, wanita itu memang gila dan terlalu banyak bicara.

“Loh? Saya udah nunggu Mas Banu tanya dari tadi. Saya boleh jawab pertanyaan Mas sambil nyelesein naskah saya, ‘kan?” Dharma meraih cerutunya, mengisap dan mengembus hingga asapnya sampai ke indra penciuman Banu, tetapi kemudian memutuskan untuk mematikan produk tembakau itu.

Banu tak menjawab, kepalang kesal mungkin. Ia langsung menyalakan alat perekam suara dan bersiap dengan buku catatan serta penanya. Kamera yang telah disiapkan sedari tadi pun sudah siap merekam, lensanya jelalatan mencari momen yang akan tercipta selama sesi wawancara. “Boleh perkenalan dulu, Mbak. Nama, usia, dan pekerjaan.”

“Nama saya Dharmastuti, sejak kecil hingga sekarang dipanggil Dharma. Usia tiga puluh dua tahun dan sekarang berkarir sebagai seorang penulis dan sutradara.”

“Mbak Dharma sudah menulis sejak kapan dan sudah berapa lama menjadi penulis?”

“Saya menulis sejak masih SD. Kalau dihitung sejak saya mulai nerbitin buku, berarti saya udah sepuluh tahunan kerja jadi penulis,” jawab Dharma sembari jarinya masih terus bergerak di atas papan ketik. Hidung mereka yang rata suka sekali mengendusi aroma gadis, memasuki kepalanya, memakan isinya, dan buang kotoran di sana. Banyak dan penuh sekali sampai para gadis tidak dapat menggerakkan tangan dan kakinya, karena otaknya dimakan babi.

“Sudah cukup lama, ya, Mbak …. Berarti, sudah berapa banyak buku yang Mbak Dharma tulis?”

Dharma menghentikan sejenak kegiatan sampingannya, berpikir sejenak sebelum menjawab. “Kalau tidak salah … dua puluh enam,” kemudian kembali melanjutkan naskahnya.

Mulut Banu membulat kecil, sedikit mengakui kebolehan Dharma. “Mbak Dharma menulis buku bergenre apa saja?”

“Fiksi. Saya banyak main surealis.”

“Kenapa surealis, Mbak? Apakah ada alasan tertentu?”

“Karena tulisan saya tidak akan berbenturan dengan realitas. Saya bebas menulis sesuai imajinasi saya. Pohon yang membakar rumah tani, hewan yang menjadi tukang jagal manusia, manusia berkepala babi, hujan di gurun, atau purnama di siang hari.” Lagi, Dharma melanjutkan tulisannya, kembali fokus dan memutus kontak mata. Babi berkendara di dalam kepala gadis-gadis, menuntut mereka untuk mengikuti mantra-mantranya. “Tidak boleh melawan … tidak boleh membantah ….” Mereka menyebut diri mereka sebagai penuntun jalan istri menuju surga, tetapi gadis-gadis yakin bahwa mereka penah mendengar kalau babi-babi bahkan tidak masuk surga.

“Saya juga bisa menyebut laki-laki sebagai betina dan perempuan sebagai jantan,” ujar Dharma, menambahkan, dan kalimat terakhirnya sukses membuat dahi Banu berkerut.

“Apa yang membuat Mbak Dharma dapat membentuk ide-ide liar seperti itu? Apakah ada keresahan?”

Dharma berhenti mengetik lagi. Ruang jeda yang ia ciptakan mengubah suasana menjadi sedikit canggung. Dharma mulai menunjukan ketertarikan ketika dua tangannya beranjak dari papan ketik dan memangku dagunya. Satu sudut bibirnya tampak naik, tipis, tetapi tak luput dari penglihatan Banu. “Liar? Di bagian mana, Mas? Menurut Mas Banu, apakah menyebut laki-laki sebagai betina itu liar?”

Banu membalas seringaian itu dengan senyum santun, kontradiktif dengan perasaan aslinya yang justru mulai muak dengan sesi ini. “Saya hanya heran … mengapa Mbak Dharma juga memutar konstruksi sosial? Kata betina sudah digolongkan untuk perempuan, dan jantan untuk laki-laki. Bukankah laki-laki tidak punya rahim dan sel telur, Mbak? Oleh karena itu, tidak bisa disebut betina.”

“Kenapa pikiran Anda hanya mengarah ke organ reproduksi, Mas?” Dharma menyela ucapannya dengan tawa singkat. “Padahal kata ‘jantan’ bisa ditafsirkan gagah dan berani, tapi kenapa begitu Anda mendengar kata betina langsung mengarah ke biologis wanita saja?”

“Definisi kata betina selalu mengarah ke hal-hal itu, Mbak.”

“Tentu saja, karena lebih sering digunakan seperti itu. Saya yakin, Anda termasuk salah satu penggunanya kan, Mas Banu?” Dharma menyalakan kembali cerutunya yang tadi sisa setengah, menyesap dalam sebelum mulutnya kembali bicara. “Saya tidak peduli dengan batas bahasa, Mas, karena sejatinya bahasa adalah alat kemunafikan buatan laki-laki.”

Banu terdiam tanpa berekspresi apa-apa, ia hanya mendengarkan sembari rahangnya mulai mengeras, sedangkan Dharma menguasai meja makan. Ia masih terus bicara, seolah sedang mengubah meja makan itu menjadi meja adu kepala. ”Laki-laki bisa lebih lacur daripada lacur-lacur yang mereka datangi, Mas, tapi realitas hanya mengkontruksikan sebutan lacur, geladak, jangak, jalang untuk perempuan. Jadi, kenapa saya harus mengikuti realitas kalau realitas saja tunduk pada kontrol sosial?”

“Realitas itu tidak pernah ideal, Mas. Jadi, lebih baik saya memutarbalikkannya, membuatnya ambigu, hingga orang-orang yang berkuasa mulai dihantui ketakutan karena mereka akan jatuh.”

Setelah diamnya yang cukup lama, tawa Banu pecah hingga punggungnya tersandar lemas pada sandaran kursi. Responsnya mengguncang suasana diiringi intonasi suaranya yang berubah menjadi lebih tinggi, seperti seorang jurnalis yang lupa dengan ayat-ayat kode etik. Sejak awal, Banu memang tidak pernah punya kesan yang baik untuk Dharma, baik dalam menulis atau bicara, Dharma terlalu jumawa sebagai wanita. Perubahan sikap Banu membuat Dharma menerbitkan senyum tipisnya lagi, meski gestur tubuhnya tak bisa berbohong. Matanya menghindari mata Banu, ia tak seberani tadi saat Banu masih mengedepankan citra jurnalis yang baik daripada ideologi. Dharma memilih untuk kembali melanjutkan naskahnya, sembari mendengarkan tawa Banu yang masih belum berhenti.

Juwita mendengar kisah “Babi di Kepala Gadis” dari ibunya. Ia ingat sekali, kisah itu hanya diceritakan sekali dan tak pernah lagi setelah bapak tak sengaja mendengar dongeng ibu sebelum Juwita tidur. Keesokan harinya, bapak justru membawa Juwita ke sebuah perayaan pernikahan seorang pemimpin. Di acara pernikahan itu, Juwita mendengar lagi kisah babi, tetapi bukan babi yang memakan kepala gadis, tetapi wanita berkepala babi.

“Memutarbalikkan realitas? Menurut Mbak Dharma itu ideal? Kalau Mba Dharma mengejar kesetaraan, memutarbalikkan realitas hanya akan menciptakan ketimpangan dengan wajah baru.” Banu akhirnya bicara, kali ini tanpa peduli tata krama, ia hanya ingin adu kepala. “Saya lihat-lihat, Mbak Dharma ini ternyata hanya seorang feminis yang banyak bicara. Unik sekali, lho. Biasanya saya mendengar pidato sombong wanita yang ingin mengejar kesetaraan, tapi Mbak Dharma ini—malah mau mengambil alih kontrol sosial? Kalau begitu nanti namanya apa? Butriarki?”

Dharma bukannya tersinggung, ia justru membalas Banu dengan tawa pelan, sembari tangannya masih terus mengetik. “Siapa bilang saya feminis? Saya tidak pernah melabeli diri saya sebagai seorang feminis. Saya tidak bergerak untuk mengejar kesetaraan.” Kedua netranya beralih dari layar komputer ke dua mata tajam Banu. “Justru … saya memang tertarik dengan label yang Mas Banu berikan, butriarki.”

Di mata Banu, wanita ini besar kepala, pantas saja sering kali jadi bahan gunjingan. Kalau saja namanya tidak terlalu populer, Banu pasti enggan datang kepadanya untuk mencari bahan. Dharma terlalu berisik, terlalu banyak bicara. Secara tidak sengaja, Banu membandingkan Dharma dengan istrinya yang salih. Isi kepala dua wanita itu sangat berbeda—Banu sekarang merasa bersyukur, isi kepala istrinya menyesuaikan isi kepalanya. “Kasihan suamimu, punya istri berkepala babi.”

Mendengar balasan itu, Dharma terdiam, jemarinya melayang di atas papan ketik—menciptakan hening yang berisik di kepalanya. Namun, tak berselang lama, Dharma menutupi itu dengan tawa, ia beranjak untuk mengambil cangkir kopi, lantas mulai meracik minuman untuk tamu istimewanya yang belum ia jamu apa-apa. 

“Memangnya istri Mas Banu tidak punya babi di kepalanya?” tanya Dharma sembari terus mengaduk kopi yang ia buat.

“Istri saya adalah istri yang salih. Ia berbakti pada suaminya seperti menyembah pada Tuhannya. Tidak mungkin ada babi menyelip di tengah kesalihannya.”

Dharma membawa kopi itu menuju hadapan Banu, ia mengambil sikap duduk lagi. “Masa, sih? Terkadang istri yang salih itu terbentuk dari keadaan, bukan niat. Saya penasaran, se-salih apa dirinya? Apakah dia adalah istri yang tidak pernah protes ketika tidak puas di ranjang?”

“Jaga bicara Anda, Lacur.”

Tawa Dharma mengalun keras, terbahak-bahak, sedangkan Banu mulai mengepalkan tangan dan rahangnya mengeras. “Anda tidak bisa membaca isi pikirannya, Mas. Istri yang diam justru harusnya menimbulkan banyak pertanyaan—bagaimana kalau ternyata dia tidak puas karena suaminya payah? Atau karena pedang suaminya tidak terlalu tajam?”

“Brengsek, jangan mengada-ngada!”

“Buktikan saja, Mas.” Dharma membalas dengan intonasi yang lebih tenang. Ia meraih kopi Banu yang masih utuh lalu mencicipnya, bibirnya meninggalkan bekas lipstik merah di dinding luar cangkir. “Istri yang diam justru membuat suami tidak berkembang, Anda harus punya istri berkepala babi yang sering menguik—sebab mereka lebih jujur.”

Bekas lipstik di cangkir kopi itu tak luput dari perhatian Banu. Laki-laki beristri itu mulai mengamati paras Dharma, turun ke tubuhnya yang ditutupi gaun panjang. Lekuk tubuhnya nyaris tak terlihat, tetapi justru membuat Banu mulai penasaran. Mulut wanita di depannya terlalu berisik dan jumawa. Hinaan tentang ranjang adalah hinaan besar untuk laki-laki. Banu mendecih pelan, memangnya wanita itu sehebat apa?

“Seberapa jujur dirimu, Lacur?”

“Lebih jujur daripada istri Anda yang salih. Saya tau banyak tentang laki-laki. Saya juga bisa melihat, leaki mana yang kualitasnya bagus, lelaki mana yang kuat—” Dharma menjeda ucapannya, ia mengambil satu batang cerutunya untuk disesap, lantas kembali melanjutkan ucapannya sembari menghunuskan pandang pada Banu. “Dan lelaki mana yang payah.”

Harga diri Banu seolah dikotori. Tidak ada yang lebih menjijikkan daripada dihina oleh seorang wanita di meja makan. Tangannya yang mengepal lantas beralih meraba saku celananya, ia mengeluarkan sebuah korek gas. Dengan tatapan tajam dan alis yang sedikit menukik, Banu membantu menyalakan cerutu Dharma dengan korek miliknya. Ia mencondongkan tubuhnya, tangan kanannya memantik korek, sedangkan yang kiri berusaha menghalau angin memadamkan. Wajahnya yang juga ikut mendekat melempar tatapan marah pada Dharma, sebuah tatapan hasil perasaan terhina, tertantang, dan terlecehkan. 

“Jangan hanya menghina, Lacur. Memang sehebat apa dirimu?” Dharma berhasil memunculkan bentuk Banu yang sebenarnya. Jurnalis muda itu sudah tak peduli lagi dengan kode etik, di kepalanya hanya ada seruan pembalasan bahwa hanya pria yang bisa menundukkan wanita, dan bukan sebaliknya. “Jadilah lacur yang jujur untukku! Lihat dan nilai aku!”

Semua yang terjadi di antara mereka sejak dimulainya sesi wawancara hingga sesi itu berubah menjadi sesi yang panas, tak luput dari lensa kamera Banu. Semuanya—bahkan saat Banu mulai menyerahkan dirinya untuk dinilai secara jujur oleh Dharma.

***

Halo, Juwita.

Maaf, mungkin saya membuatmu heran dengan secarik surat ini. Namun, semoga surat ini dapat menjadi jawaban yang selama ini masih kabur. 

Banu Ari, suami yang selama ini jadi kiblatmu untuk menjadi istri yang salih, tidaklah lebih dari seorang lacur. Aku tau bagaimana perilakunya padamu, seperti seekor babi yang masuk ke kepala, memakan isinya, buang kotoran di sana, menguik, hingga dirimu tidak lagi mampu berpikir rasional karena kepalamu diduduki seekor babi. 

Malam tadi dia tidak pulang, ‘kan? Tentu saja, karena dia sibuk membuktikan dirinya sehebat apa di depanku. Dan aku mengerti, suamimu memang payah dan murahan. Ia tidak lebih dari sekadar patriarkis dan misoginis yang melihat perempuan dari payudara, rahim, dan vagina. Ia juga mudah sekali menyerahkan tubuhnya, bahkan walau aku tak menggodanya dengan belahan dada. 

Kamu bisa menilainya sendiri lewat kartu memori yang aku kirimkan bersama surat ini, kartu itu milik suamimu, kuambil saat ia menggila karena nafsunya dan tertidur seperti babi yang kenyang, kameranya bahkan mungkin jijik melihat tingkahnya semalam. Hahaha, harusnya jika kamu benar-benar istrinya, kamu sudah tau tanpa harus melihat bukti.

Dan seharusnya jika kamu sudah tau, kamu tidak akan lagi menjadi seorang istri yang berbakti pada seekor babi.

***

Semerbak wangi sigaret klembak menyan mengitari ruang makan. Radio yang selalu ada di sana masih memutar lagu yang sama seperti biasa, Surti Tejo. Cahaya kuning dari lampu menerangi Dharma yang berlenggak-lenggok di bawahnya. Tariannya gemulai, indah, dan sensual, mengikuti irama dari lagu band Jamrud yang mengiringi.

Sekumpulan memori muncul di antara gerakan-gerakannya.

Gerakan itu tidak tercipta dengan asal.

Kepala Dharma menoleh ke atas, sembari tubuhnya masih terus bergerak. Satu peristiwa mencuat dalam ingatannya—ketika mantan suaminya mencekik lehernya dengan tangannya yang kasar.

Lagi, kepalanya menoleh ke kanan—seperti saat ia ditampar karena nada bicaranya naik satu oktaf.

Lagi, kepalanya menoleh ke kiri—seperti saat ia ditampar karena berani mempertanyakan kesetiaan suaminya.

Puncaknya, tarian itu berakhir dengan tubuhnya yang jatuh ke lantai—seperti saat ia ditendang karena mengeluh tentang masalah ranjang.

Dharma mengakhiri tarian itu dengan tawa, air mata, dan sigaret klembak menyan yang ia hisap dalam-dalam.