Nasionalisme Ekonomi Melawan Freeport

Lubang Papua. Ilustrasi: Ari Mai Masturoh
Lubang Papua. Ilustrasi: Ari Mai Masturoh

Oleh: Nurhidayat

Sebagai anggota organisasi yang berlabel “Negara Merdeka” tentu saja saya enggan berkompromi terkait kemerdekaan. Itulah hal mutlak yang diyakini para pendiri negara ini. Bahkan, mereka menekankan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Filosofi yang wajar sebab para induk itu berjuang dengan musuh yang benar-benar musuh negara, penjajah.

Nasionalisme yang saya singgung dengan tulisan ini adalah tentang investasiasing di Indonesia. Saya yakin, tim pengembangan ekonomi negara kita bukanlah pemikir yang ecek-ecek. Mereka berusaha untuk mencapai target ekonomi yang selangit. Kata-kata Jokowi dalam pidato APEC 2014 di Beijing kala itu punmengajak seluruh dunia untuk berinvestasi di Indonesia. “Wajar, negara kita tak punya dana,” banyak yang berkata seperti itu.

Namun, menurut saya, ada yang lebih penting untuk negara ini daripada uang.Seperti paragraf pertama tulisan ini. Istilah negara setengah jajahan harus segera dihentikan. Momentum yang tepat adalah sekarang, di saat TKI kita dilecehkan.Sungguh, jika ingin memikirkan itu, sebagai negarawan, pasti kita akan menangis. Apa guna pertumbuhan ekonomi tinggi jika kita tidak merdeka seutuhnya? Bukankah dulu negara ini pernah memilih merdeka atau mati? Lalu,kita sekarang memilih apa? Soekarno lebih mencintai kemerdekaan ketimbang perdamaian.

Berbicara terkait investasi asing yang besar di Indonesia, pastilah erat hubungannya dengan Freeport, perusahaan yang diberi prevelage mengeksplorasi (baca:mengeruk) emas di Papua. Lebih jauh lagi,eksploitasi itu terasa seperti parasit. Hemat saya, selalu bertentangan dengan nasionalisme ketika ada apalagi banyak perusahaan asing yang mengeruk menggali-melubangi negara kita yang kaya akan mineral. Secara emosi, tentu saja sakit luar biasa bila melihat bekas galian itu. Truk-truk Caterpillar-yang ukuran rodanya saja luar biasa, setiap hari mengangkut konsentrat alam. Limbah-limbah tentu saja ada di negara kita. Alam yang rusak adalah alam kita. Mereka hanya perlu mengambil marjin hasil jual dengan modal dan biaya sebagian untuk tenaga kerja murah tanah air.

Benar-benar dilema kalaitu, ketika negara membuat kontrak karya dengan perusahaan asing itu. Berbekalalasan keterbatasan dana dan keterbelakangan teknologi, pemerintah Orba memberikan ijin kepada Freeport untuk berkarya di tanah Papua. Tanah kita“dikawin-kontrakkan” per tiga puluh tahun, itu hampir setengah umur Nabi Terakhir.

Permasalahan bangsa ini, dari dulu sampai sekarang adalah implementasi nilai. Itu sangat jelas, terlihat jelas ketika pemerintah sangat kompromistis.Hal yang menurut saya adalah busuk. Bahkan, jika ada pemimpin yang berusaha tidak kompromistis, akan dicap buruk, otoriter, dan cercaan lain. Tentu saja tetap ada pemimpin baik di negara ini, namun belum menjadi favorit, ada juga yang masih malu-malu untuk tegas.

Nah, sekarang kita bicara keburukan implementasi. Perijinan dan pajak merupakan lahan basah yang menguap-uap. Sekarang mau berbaik sangka dengan pelaku bisnis seperti Freeport, ya tidak boleh. Mereka di sini mutlak untuk berbisnis. Ingin mengeruk sebesar-besarnya hasil bumi. Adapun CSR ya hanya untuk terlihat baik saja. Janji-janji pun pasti terpaksa. Kita berbeda denganmereka dalam hal ini: kita tuan rumah, mereka pengeruk tanah kita. Jika kita lunak maka mereka akan melunjak. Silakan dipikir lagi, sekarang ada 3 pilihan. Merdeka, setengah merdeka, atau dijajah secara halus?

Sikap tegas kita untuk mempertahankan kemerdekaan hakiki harus dijaga.Perbaiki mekanisme pajak, perbersih zona perijinan, pecat pegawai korup, dan gunakan uang negara yang bocor itu untuk membuat sebuah BUMN yang besar.Kerjakan sendiri, kata Soekarno: Berdikari.

Kesadaran moral sebagai titik pangkal pemikiran Ernest Renan tentang nasionalisme adalah mutlak bagi bangsa yang (seharusnya) beradab. Hal-hal lain adalah penyokong, bukan pembentuk. Untuk itulah saya, sekali lagi saya tekankan, ada hal yang lebih mulia daripada uang. Lebih penting kesejahteraan lahir dan batin. Tidak dihina dan tidak dijajah (setengah atau sepenuhnya) oleh bangsa lain, apalagi yang niatnya hanya untuk melubangi bumi Indonesia.Menangislah dengan keadaan ini, kemudian perbaikilah pribadi bangsa ini, agarbonus demografi tidak menjadikan inlander di bangsa sendiri ini semakin menjamur.

*Penulis adalah Pemimpin Umum LPM Sketsa, tulisan bersifat pribadi.

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Mati Suri Jurnalisme Musik di Indonesia

Ilustrasi : Widyana Rahayu Penulis: Ryu Athallah Raihan Pernah mendengar nama majalah Rolling Stone? Namanya memang…

Bumi Manusia: Membongkar Takdir Romansa Manis Berakhir Tragis di Tangan Bangsa Eropa

oleh: Fani Setyowati Identitas Film Judul: Bumi Manusia Sutradara: Hanung Bramantyo Penulis Skenario: Salman Aristo Tahun…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Unsoed dan Polda Jalin Kerja Sama, Kampus Tegaskan Tak Ada Intervensi Akademik

Unsoed dan Polda Jalin Kerja Sama, Kampus Tegaskan Tak Ada Intervensi Akademik

52 Hz

52 Hz

Mati Suri Jurnalisme Musik di Indonesia

Mati Suri Jurnalisme Musik di Indonesia

Dari Papan Catur Menuju Prestasi, SOCT 2026 Menjadi Sarana Menjaring Talenta Muda

Dari Papan Catur Menuju Prestasi, SOCT 2026 Menjadi Sarana Menjaring Talenta Muda

Demokrasi Dipertanyakan, Diskusi Publik Soroti Ketimpangan dan Kebijakan Negara

Demokrasi Dipertanyakan, Diskusi Publik Soroti Ketimpangan dan Kebijakan Negara

Penjajah Berdasi

Penjajah Berdasi