Intip Cerita di Balik UMKM Sekitar Kampus dalam Menjaga Kelangsungan Usaha

Penulis: Afifah Setyaningtyas

Di tengah dinamika kehidupan kampus, keberadaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sekitar Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menjadi bagian dari keseharian mahasiswa. Kawasan di sekitar kampus tidak hanya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menjalani aktivitas perkuliahan, tetapi juga menjadi tempat berbagai usaha kecil yang melayani kebutuhan mulai dari makanan, laundry, fotokopi dan percetakan. Namun, mempertahankan usaha tidak selalu mudah karena jumlah pelanggan dan kebutuhan konsumen dapat berubah sewaktu-waktu. Apalagi, kondisi wilayah yang biasanya ramai oleh aktivitas mahasiswa akan berubah ketika kalender akademik memasuki masa libur semester. Bagi sebagian pelaku UMKM, kepulangan mahasiswa bukan sekadar perubahan suasana, tetapi juga berkurangnya pemasukan harian. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha perlu menyesuaikan kegiatan operasional dan strategi penjualan agar usaha tetap berjalan.

(Warung Pak Rustam menyediakan beragam menu ayam dan nasi sayur di sekitar kampus (8/11/2026) (Beritaunsoed.com/Kania Nurma Gupita)
(Warung Pak Rustam menyediakan beragam menu ayam dan nasi sayur di sekitar kampus (8/11/2026) (Beritaunsoed.com/Kania Nurma Gupita)

Bagi UMKM yang berada di sekitar kampus, keberadaan mahasiswa menjadi salah satu sumber utama perputaran ekonomi. Siti Hosia, istri dari Pak Rustam, merupakan pengelola Warung Makan Pak Rustam yang telah berdiri sejak April 1989. Selama menjalankan usaha, Siti menghadapi berbagai tantangan, termasuk kenaikan harga bahan pokok. Ia memilih mengambil keuntungan secukupnya agar tetap dapat memenuhi kebutuhan belanja dan membayar karyawan. Warung Makan Pak Rustam juga sempat dikenal luas setelah mendapat ulasan di TikTok, sehingga semakin banyak mahasiswa yang mengetahui keberadaannya.

Keberlangsungan Warung Makan Pak Rustam sangat bergantung pada mahasiswa karena hampir seratus persen konsumennya berasal dari kalangan mahasiswa. Kondisi tersebut membuat masa libur semester menjadi tantangan tersendiri karena banyak mahasiswa pulang ke kampung halaman. Bagi Siti, bertahan selama masa liburan semester bukan berarti harus memperoleh penjualan sebanyak hari biasa, tetapi tetap membuka usaha dalam skala lebih kecil agar memperoleh pemasukan untuk kebutuhan sehari-hari. “Yang penting ikut makan, bisa belanja,” ujarnya.

Di sisi lain, Risakina Chicken yang tergolong belum lama berdiri memilih memanfaatkan pola pesanan dan penjualan online untuk tetap menjangkau konsumen.

(Gerai Risakina Chicken yang menyediakan beragam menu ayam (8/9/2026) (Beritaunsoed.com/Velen Candra Nadia)
(Gerai Risakina Chicken yang menyediakan beragam menu ayam (8/9/2026) (Beritaunsoed.com/Velen Candra Nadia)

Bagi Risakina Chicken, aktivitas mahasiswa menjadi bagian penting dalam keberlangsungan usaha. Pemilik Risakina Chicken, Ristu Gita Nugraha, mengatakan usahanya yang berdiri sejak 2023 tersebut memiliki sembilan varian menu. Ristu mengatakan lebih dari sembilan puluh persen konsumennya merupakan mahasiswa sehingga ketika masa libur semester tiba, omzet usaha mengalami penurunan drastis. “Sebenarnya untuk kendala ini, yang pertama jelas ini ya, kalender akademik itu yang pertama. Yang kedua, ini tentang bahan baku. Bahan baku sekarang kan cukup langka karena ada program pemerintah yang memberikan makanan gratis,” ujarnya. Meski aktivitas di sekitar kampus menurun saat libur, Risakina Chicken tetap berupaya mempertahankan usahanya melalui layanan pre-order (PO) untuk pesanan tertentu.

Ristu juga merencanakan penguatan penjualan melalui layanan pesan-antar seperti ShopeeFood untuk menjangkau masyarakat umum di luar lingkungan kampus. Ia mempertimbangkan pemisahan tempat operasional agar pesanan online dapat dipusatkan di rumah, sementara lokasi di sekitar kampus tetap fokus melayani mahasiswa ketika hari perkuliahan berlangsung. Menurut Ristu, UMKM di sekitar kampus perlu menyesuaikan strategi dengan kondisi dan kebutuhan konsumen selama masa libur, termasuk mengalokasikan penjualan ke tempat lain dan memaksimalkan omzet ketika kegiatan akademik kembali berjalan.

(Warung Bu Lammah menyediakan menu ayam dan bubur ayam (6/9/2026) (Beritaunsoed.com/Kania Nurma Gupita)
(Warung Bu Lammah menyediakan menu ayam dan bubur ayam (6/9/2026) (Beritaunsoed.com/Kania Nurma Gupita)

Perjalanan usaha Samsu Sabani, pemilik Warung Bu Lammah, tidak hanya bertumpu pada satu jenis dagangan. Ia pernah mencoba berbagai usaha sebelum akhirnya menetap di menu ayam geprek. Setelah mengalami berbagai risiko dan kerugian, Samsu akhirnya menemukan usaha ayam geprek yang dinilai lebih mudah diantisipasi kerugiannya dan mendapat banyak minat dari mahasiswa. Usaha ayam geprek tersebut telah berjalan sekitar tujuh hingga delapan tahun. Dalam kondisi normal, mahasiswa menjadi konsumen terbesar dengan porsi sekitar tujuh puluh persen, sedangkan masyarakat umum sekitar tiga puluh persen. 

Dalam menjalankan usahanya, Samsu Sabani menghadapi perubahan jumlah pelanggan dan omzet yang dipengaruhi oleh kondisi aktivitas di sekitar kampus, termasuk libur semester. Untuk menghadapi masa sepi, ia mengandalkan tabungan yang dikumpulkan ketika penjualan sedang ramai, sementara persaingan usaha di sekitar kampus dihadapi dengan menjaga harga, kualitas, pelayanan, kebersihan, dan keramahan kepada konsumen. Samsu berharap masa libur mahasiswa tidak berlangsung terlalu panjang karena kondisi tersebut turut memengaruhi pedagang UMKM di sekitar kampus. Ia juga berpesan agar para pelaku UMKM tetap bertahan, menjaga kebersihan dan keramahan, serta memberikan harga yang terjangkau bagi mahasiswa.

Makanan di sekitar kampus ternyata tidak hanya menjadi langganan mahasiswa, tetapi juga sesuatu yang dirindukan saat libur semester tiba. Bagi mahasiswa perantau, UMKM kuliner di sekitar kampus tidak hanya menawarkan makanan dengan harga terjangkau, tetapi juga menghadirkan rasa yang melekat pada pengalaman mereka selama menjalani kehidupan perkuliahan di Purwokerto.

(A3 Fotocopy usaha yang melayani kebutuhan cetak, fotokopi, dan jilid mahasiswa di sekitar kampus (9/11/2026) (Beritaunsoed.com/Kania Nurma Gupita)
(A3 Fotocopy usaha yang melayani kebutuhan cetak, fotokopi, dan jilid mahasiswa di sekitar kampus (9/11/2026) (Beritaunsoed.com/Kania Nurma Gupita)

Kebutuhan mahasiswa di sekitar kampus tidak hanya berkaitan dengan makanan. Rutinitas perkuliahan juga membutuhkan berbagai layanan penunjang, salah satunya fotokopi dan percetakan. A3 Fotocopy yang dikelola keluarga Alfa Rifaldi telah dirintis sejak tahun 2010 dan mulai membuka ruko secara resmi pada 2011. Berada di kawasan sekitar kampus, tepatnya di Jalan DR. Soeparno dekat Fakultas Ilmu Budaya (FIB), usaha ini menjadikan mahasiswa sebagai sasaran utama dengan produk fotokopi dan percetakan yang mengutamakan efisiensi waktu serta harga yang kompetitif. Alfa mengatakan lebih dari sembilan puluh persen pelanggan A3 Fotocopy merupakan mahasiswa. Karena pelanggan utamanya memiliki aktivitas yang padat, kecepatan pelayanan menjadi salah satu tantangan sekaligus perhatian utama dalam menjalankan usaha. Ketergantungan pada mahasiswa membuat libur semester turut memengaruhi omzet A3 Fotocopy, meski penurunannya relatif terbatas, sekitar 10-11 persen.

Kondisi tersebut terjadi karena masih ada mahasiswa tingkat akhir yang tetap berada di sekitar kampus untuk menyelesaikan skripsi atau tugas akhir. Alfa menilai keberlangsungan UMKM di sekitar kampus juga bergantung pada jenis produk yang ditawarkan. Menurutnya, A3 Fotocopy memiliki keuntungan karena kebutuhan mencetak dokumen tidak hanya berasal dari mahasiswa, tetapi juga dibutuhkan oleh sekolah dan berbagai kalangan lainnya.

(Epa Laundy melayani jasa laundry cuci setrika dan cuci basah (6/11/2026) (Beritaunsoed.com/Velen Candra Nadia)
(Epa Laundy melayani jasa laundry cuci setrika dan cuci basah (6/11/2026) (Beritaunsoed.com/Velen Candra Nadia)

Selain urusan akademik, mahasiswa juga memiliki kebutuhan lain selama tinggal jauh dari rumah. Hal ini turut membuat usaha jasa seperti laundry tetap memiliki pelanggan. Epa Laundry milik Ibu Suryati telah berjalan sejak sekitar 2014 dengan menawarkan jasa cuci setrika dan cuci basah. Persaingan usaha di sekitarnya dianggap sebagai hal biasa, sementara cuaca menjadi salah satu kendala utama, terutama ketika musim hujan karena proses pengeringan masih bergantung pada kondisi alam sehingga layanan tidak selalu dapat dilakukan secara cepat. Epa Laundry didominasi mahasiswa sehingga aktivitas perkuliahan turut memengaruhi kondisi usaha. Ibu Suryati menyebut omzet usaha dapat mengalami penurunan hingga sekitar setengahnya ketika mahasiswa libur, tetapi tetap berjalan seperti biasa tanpa strategi khusus selama masa liburan. Sebaliknya, ketika mahasiswa mulai perkuliahan kembali, aktivitas usaha kembali ramai. Bagi Ibu Suryati, keberlangsungan usaha tetap dijalani secara sederhana dengan mengikuti kondisi yang ada dan terus menjalankan usaha sebagaimana mestinya.

Di tengah dinamika aktivitas perkuliahan dan masa libur mahasiswa, UMKM di sekitar kampus terus beradaptasi dengan kondisi yang ada. Ketergantungan pada mahasiswa, perubahan jumlah pelanggan, kenaikan harga bahan baku, cuaca, hingga kebutuhan akan pelayanan, merupakan tantangan yang dihadapi para pelaku usaha dengan cara masing-masing. Keberadaan UMKM tetap menjadi bagian penting dari kehidupan kampus, baik sebagai tempat memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun sebagai ruang yang menghadirkan pengalaman dan kenangan bagi mahasiswa selama berada di Purwokerto.

Editor: Andika Brilyan

Reporter: Afifah Setyaningtyas, Kania Nurma Gupita, Velen Candra Nadia, Fadila Nuraini, Lintang Fitriana, Muhammad Robin Mubarok N.

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Pemda Angkat Kaki dari Forum, Mahasiswa Banyumas Raya Bersuara “Eksekutif Tidak Kompeten

Penulis: Artika Putri Kinanti Ratusan mahasiswa yang berasal dari berbagai elemen mahasiswa se-Banyumas Raya menggelar aksi…

Mahasiswa Unsoed Gelar Aksi, Kritik Tata Kelola Pemerintahan Prabowo-Gibran

Penulis: Nesya Huwaidaa Kultsum Azmii Mahasiswa menggelar aksi bertajuk “Panggung Bebas: Catatan Merah Dua Tahun Prabowo-Gibran”…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Kisah Para Raja

Kisah Para Raja

Pemda Angkat Kaki dari Forum, Mahasiswa Banyumas Raya Bersuara “Eksekutif Tidak Kompeten

Pemda Angkat Kaki dari Forum, Mahasiswa Banyumas Raya Bersuara “Eksekutif Tidak Kompeten

Mahasiswa Unsoed Gelar Aksi, Kritik Tata Kelola Pemerintahan Prabowo-Gibran

Mahasiswa Unsoed Gelar Aksi, Kritik Tata Kelola Pemerintahan Prabowo-Gibran

Belajar Memahami Perbedaan melalui Film Swapped

Belajar Memahami Perbedaan melalui Film Swapped

Anomali Empat Penjuru

Anomali Empat Penjuru

Senjakala Kaum Intelektual: Ketika Inovasi Berakhir di Kursi Pesakitan

Senjakala Kaum Intelektual: Ketika Inovasi Berakhir di Kursi Pesakitan