Penulis: Nesya Huwaidaa Kultsum Azmii
Mahasiswa menggelar aksi bertajuk “Panggung Bebas: Catatan Merah Dua Tahun Prabowo-Gibran” di depan Patung Kuda Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, pada Senin (19/10/2026). Aksi yang dilangsungkan pukul 14.30 WIB tersebut menyoroti kritik terhadap tata kelola pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Koordinator lapangan, Muhammad Bina Trilaksana, mengatakan bahwa aksi tersebut dilatarbelakangi oleh keresahan mahasiswa terhadap dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Mahasiswa menyoroti sejumlah persoalan yang menjadi kritik utama terhadap kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden dan Wakil Presiden, yang memberikan dampak signifikan kepada masyarakat. Mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), melemahnya nilai rupiah, serta penilaian mengenai realisasi janji pada masa kampanye pemerintah masih jauh dari kata memadai. “Tentunya ini memang sudah jadi PR kita bersama, yang mana kita sebagai masyarakat Indonesia memang harus bersuara terkait bobroknya rezim ini,” ujar Aksan.
Aksan, selaku koordinator lapangan, menjelaskan bahwa Panggung Bebas adalah ruang konsolidasi bagi berbagai elemen mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Besar Mahasiswa Unsoed (KBMU). Aksi Panggung Bebas diharapkan dapat menyatukan berbagai elemen mahasiswa untuk mewakili aspirasi masyarakat terkait kebijakan pada periode pemerintahan Prabowo-Gibran, sebelum digelarnya aksi BEM se-Banyumas Raya pada esok hari. Menurutnya, penyampaian aspirasi melalui Panggung Bebas menjadi salah satu cara untuk menguatkan solidaritas mahasiswa dalam memperjuangkan hak-hak sipil.
Senada dengan Aksan, Indah Mulia, yang berasal dari Program Studi Biologi Unsoed, berpendapat bahwa mengkritik pemerintah merupakan salah satu peranan penting dari mahasiswa. Menurutnya, hal tersebut adalah wujud nyata dari kepedulian mahasiswa dalam merespons berbagai fenomena yang ada di masyarakat, termasuk isu yang terjadi di luar lingkungan perkuliahan.
“Sangat penting, terutama sebagai mahasiswa tuh seharusnya gak buta dengan keadaan yang ada di Indonesia,” ungkap Indah.
Indah juga mempertegas bahwa kritik yang disampaikan mahasiswa tidak seharusnya berhenti pada tahap penyampaian aspirasi saja. Ia menilai penyampaian aspirasi perlu diikuti dengan konsolidasi agar mahasiswa dapat merumuskan tuntutan yang konkret. Kebutuhan masyarakat pun perlu menjadi pertimbangan dalam setiap pengambilan keputusan pemerintah.
Selain orasi, aksi Panggung Bebas juga diisi oleh monolog dan aksi sosial. Di tengah aksi massa, mahasiswa membagikan beras dan pakaian gratis kepada warga yang berada di sekitar Patung Kuda Unsoed. Mahasiswa juga mengajak masyarakat untuk membunyikan klakson kendaraannya sebagai simbol keresahan terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Aksi ini menjadi upaya untuk memperluas jangkauan penyampaian aspirasi di luar lingkungan formal pendidikan kampus.
Aksi Panggung Bebas ditutup dengan pernyataan sikap mahasiswa Unsoed yang menegaskan komitmen mereka untuk terus menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Selain itu, mahasiswa mengungkapkan bahwa mereka akan selalu berdiri untuk menentang kebijakan penyelenggara negara yang dinilai tidak mempertimbangkan kemakmuran rakyat. Mahasiswa berharap, kritik ini dapat menjadi pengingat bagi pemerintah agar lebih mendengarkan aspirasi masyarakat mengenai partisipasinya dalam mengawasi pemerintah dalam menyelenggarakan kewajibannya.
Editor: Artika Putri Kinanti
Reporter: Anisa Septianingsih, Dina Fitria Salsabila, Yunita Salsabilla Fitriani, Muhammad Fatkhun Nafiq, Annisa Dwi Rahman, Nesya Huwaidaa Kultsum Azmii







