Bongkar Polemik di Balik Riuh PKKMB FIB Unsoed 2026

Penulis: Muhamad Ade Ravi

Cuitan dari X melalui akun base @unsoedmfs yang memunculkan banyak tanggapan (18/8/2026) (Sumber: X @unsoedmfs)

 

Cuitan dari X melalui akun base @unsoedmfs yang memunculkan banyak tanggapan (18/8/2026) (Sumber: X @unsoedmfs)

Baca Juga: Kilas Balik Aksi Audiensi: Bukan Sekadar Tuntutan, Mahasiswa Butuh Aksi Nyata

Pelaksanaan PKKMB FIB Universitas Jenderal Soedirman pada 1415 Agustus 2026 menjadi gerbang penyambutan bagi ±1.172 mahasiswa baru. Namun, pada sore di hari pertama, sebuah keputusan mendadak mengubah suasana panggung menjadi tangis kekecewaan, yang pula berujung riuh di linimasa X melalui akun base @unsoedmfs.

Penampilan satu organisasi mahasiswa tanpa sadar berbarengan dengan azan Asar karena jadwal kurang tertata. Namun berangkat dari situ, muncul rentetan pertanyaan yang lebih besar, seperti soal kesiapan panitia, batas wewenang dekan, hingga transparansi kepanitiaan. 

Selain kegaduhan tersebut, sejumlah catatan kelalaian yang tertulis dalam berita acara resmi Panitia Pengawasan menjadi alasan Awak Skëtsa menelusuri lebih jauh perkara di balik polemik ini sebagai upaya menghadirkan fakta secara utuh.

Berita Acara: Catatan Kelalaian di Hari Pertama

Berita Acara yang dikeluarkan di Instagram oleh Panitia Pengawasan PKKMB FIB (18/8/2026) (Sumber: Instagram @dlmfib_unsoed)

 

Berita Acara yang dikeluarkan di Instagram oleh Panitia Pengawasan PKKMB FIB (18/8/2026) (Sumber: Instagram @dlmfib_unsoed)

Baca Juga: KPK Ungkap Kasus Dugaan Korupsi Penerimaan Mahasiswa Baru Unsoed

Berdasarkan berita acara yang diterbitkan Panitia Pengawasan pada hari pertama pelaksanaan, sejumlah catatan kelalaian tercantum di dalamnya. Mulai dari miskomunikasi saat pendataan mahasiswa baru yang beragama Kristen di Pendopo FIB, kurangnya ketegasan dari divisi pendamping, hingga keterlambatan kesiapan divisi ATP dan lambatnya penanganan medis terhadap mahasiswa baru yang sakit dan pingsan. 

Project Officer (PO) PKKMB FIB 2026, Nero Nandra Kusuma, saat dikonfirmasi perihal berita acara tersebut, membantah sebagian temuan itu. “Untuk yang ATP dan untuk medis itu mungkin saya izin koreksi, mungkin salah,” ujarnya (20/8/2026). Menurutnya, evaluasi internal panitia justru menunjukkan divisi medis sudah bekerja baik di kedua hari pelaksanaan, sementara ATP hanya sempat lambat di masa prakegiatan, bukan saat acara berlangsung.

Namun, ia mengakui satu poin dalam berita acara itu sepenuhnya benar, yakni lemahnya ketegasan pendamping mahasiswa baru. Ia beralasan 58 pendamping yang tersebar di seluruh area FIB hanya dikoordinasikan oleh dua pemegang alat komunikasi Handy Talky (HT), sehingga banyak yang sulit dipantau dan terkesan menyepelekan tugas. 

Soal dugaan miskomunikasi saat pendataan mahasiswa baru nonmuslim di Pendopo FIB, Nero menyebut panitia sebenarnya sudah menyampaikan informasi dua kali melalui grup mahasiswa baru maupun pendamping masing-masing. Ia menduga sejumlah pendamping tidak meneruskan informasi tersebut ke mahasiswa yang mereka dampingi, sehingga beberapa mahasiswa baru beragama yang nonmuslim sempat tertinggal di kelas, alih-alih turun ke Pendopo.

Panggung Yang Sempat Dihentikan

Insiden yang paling banyak diperbincangkan terjadi pada sore hari pertama, saat penampilan seni dari salah satu Himpunan Mahasiswa (yang disamarkan menjadi Hima J) tengah berlangsung menjelang waktu Asar. 

Menurut penuturan Nero, jadwal acara hari itu sebenarnya sudah maju sekitar 30–40 menit dari rundown awal. Penampilan Hima J yang semula dijadwalkan pukul 15.13–15.40 WIB bergeser menjadi sekitar pukul 14.40–14.50 WIB. Persoalannya, panitia berpatokan pada estimasi waktu azan Asar di wilayah Banyumas secara umum, yakni sekitar pukul 15.13–15.15 WIB, bukan waktu azan spesifik di Masjid Fatimatuzzahra (Mafaza) yang berada persis di sekitar area FIB, yang ternyata berkumandang lebih awal, sekitar pukul 15.02–15.05 WIB.

“Itu kesalahan kami di situ, enggak mempertimbangkan yang harusnya mungkin dari jam 3 mungkin kami bisa istilahnya pause kegiatannya dulu,” jelas Nero. “Kelalaian kamilah untuk enggak survei terlebih dahulu azan Asar di sekitar FIB itu jam berapa.”

Akibat selisih waktu itu, azan berkumandang ketika penampilan Hima J tersisa sekitar satu menit, tinggal bagian penghormatan dan ucapan terima kasih. Saat itulah, menurut Nero, dekan FIB, Ely Triasih Rahayu, turun langsung dari area dekanat menuju backstage dan meminta musik dihentikan seketika.

Sebelum benar-benar mematikan musik, Dekan sempat menyampaikan permintaan kepada satu orang panitia yang kebetulan berada di dekat dekanat dan memegang HT. Namun, baik penampil maupun panitia yang menerima instruksi itu, menurut Nero, sempat menolak dan memilih melanjutkan karena durasi yang tersisa dianggap sangat singkat. “Nah, satu menit kurang malah,” ujarnya. Karena permintaan itu tidak segera direspons, dekan akhirnya turun langsung ke titik sound system dan meminta musik dimatikan seketika di tengah alunan azan.

Dekan Angkat Suara

Dekan FIB, Ely Triasih Rahayu, membenarkan bahwa keputusan tersebut sepenuhnya berasal dari instruksinya. Ia menjelaskan pertimbangannya berangkat dari dua hal, yakni kekhawatiran suara musik yang keras akan mengundang perhatian warga sekitar Mafaza yang berdekatan dengan lokasi acara, serta tanggung jawab moral FIB sebagai fakultas humaniora untuk memberi teladan dalam menghargai kegiatan ibadah.

“Yang saya pikirkan adalah menyelamatkan FIB di tengah masyarakat dulu,” ujarnya (26/8/2026). Ia mengaku sempat berusaha menghentikan acara melalui panitia dan ketua panitia terlebih dahulu, tetapi keduanya tampak ragu bertindak sehingga ia akhirnya meminta langsung ke petugas sound system

Ely mengaku sadar keputusannya membuat penampil, terutama dari Hima J, kecewa bahkan menangis. “Saya benar-benar minta maaf, tapi tolong bisa dipahami,” ujarnya. Ia menegaskan keputusan itu murni pertimbangan pribadinya sebagai pimpinan fakultas, bukan hasil koordinasi dengan pihak lain, dan menyebut dirinya siap bertanggung jawab penuh atas dampaknya. “Kalau ada permasalahan, kesalahannya ada di pimpinan,” tegasnya sembari menyebut bahwa dirinya sempat menawarkan Hima J untuk tampil ulang dari awal setelah azan usai. Namun, tawaran tersebut kemudian ditolak oleh pihak Hima J karena masih dalam kondisi kecewa.

Ely menyebut telah melakukan evaluasi langsung, sekitar dua hari setelah acara selesai, dengan mempertemukan ketua panitia dan perwakilan Hima J di ruangannya. Dalam pertemuan itu, menurutnya, kedua pihak sudah saling memaafkan dan Hima J sempat menyatakan telah berkoordinasi ulang dengan panitia. 

Kembali, Nero mengaku bahwa dirinya sebelumnya tidak mendapatkan atau tidak sempat mencermati rundown acara secara detail, sehingga tidak menyadari adanya potensi bentrok jadwal dengan waktu azan. Kemudian ia menyebut bahwa hal tersebut akan menjadi catatan evaluasi ke depan agar penyusunan rundown  memperhitungkan waktu-waktu ibadah.

Sisi Panitia dan Penampil

Dari sisi panitia, Nero mengakui adanya kesalahan panitia yang tetap melanjutkan penampilan meski waktu sudah berdekatan dengan azan. Hal tersebut menjadi sebuah keputusan yang menurutnya diambil bersama antara panitia dan pihak Hima J sendiri karena keduanya merasa durasi tersisa sangat singkat.

Ia menceritakan, usai insiden, suasana di lokasi sempat memanas. Pihak Hima J yang kecewa sempat menunjukkan sikap yang menurutnya kurang pantas kepada Dekan, meski ia menilai hal tersebut wajar sebagai luapan kekecewaan setelah persiapan matang mereka terhenti mendadak. Malam harinya, atas arahan Dekan yang dititipkan melalui dosen pendamping PKKMB, Eko, bersama Nero menemui langsung ketua, wakil, pembina, dan sutradara Hima J untuk meminta maaf dan mencari titik temu. Pertemuan itu, menurut Nero, menghasilkan kesepakatan bahwa panitia akan menyampaikan klarifikasi terbuka melalui akun Instagram resmi panitia dengan permintaan dari Hima J agar identitas mereka tidak disebut secara eksplisit dalam klarifikasi tersebut.

Meski begitu, awak Skëtsa turut berupaya menghubungi pihak Hima J dan Ketua Panitia pihak dosen untuk mendapatkan konfirmasi langsung atas insiden ini. Namun, pihak Hima J dan Ketua Panitia pihak dosen menyatakan tidak bersedia memberikan keterangan atau diwawancarai. 

Pada akhirnya, sebagai pembelajaran dari insiden hari pertama, panitia memperpanjang jeda istirahat menjelang Asar di hari kedua, dari semula sekitar 20 menit menjadi 40—50 menit, sehingga kegiatan hari kedua berjalan tanpa hambatan serupa.

Tanggapan Dewan Legislatif Mahasiswa

Mengingat kekosongan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIB dalam dua tahun terakhir, Dewan Legislatif Mahasiswa (DLM) FIB memiliki posisi yang tidak biasa dalam tata kelola PKKMB tahun ini. DLM FIB menjadi satu-satunya organisasi kemahasiswaan tingkat fakultas yang aktif di FIB.

Ketua DLM FIB, Azmi Ahmad Zayyidi Hummaam, menjelaskan bahwa keterlibatan DLM dalam PKKMB pada dasarnya berhenti setelah proses pemilihan Project Officer (PO) rampung. Selanjutnya, seluruh teknis pelaksanaan mulai dari perekrutan koordinator hingga jalannya acara diserahkan penuh kepada PO dan panitia yang dibentuknya, dengan pengawasan dijalankan oleh Panitia Pengawasan (Panwas) yang dibentuk khusus tahun ini.

“Karena DLM itu memang harus bersifat netral,” ujar Azmi menjelaskan alasan pelepasan kewenangan itu. Ia menambahkan bahwa DLM tidak memiliki kapasitas untuk mengurusi teknis pelaksanaan hingga ke tingkat pelantikan panitia, sehingga dianggap lebih tepat diserahkan ke pihak yang memang berkapasitas menanganinya.

Terkait insiden penghentian penampilan Hima J, Azmi menegaskan bahwa DLM tidak melakukan intervensi apa pun. Menurutnya, persoalan itu murni berada di ranah teknis pelaksanaan yang sudah dilepaskan sepenuhnya ke panitia dan Panwas. Namun, secara pribadi, ia menilai isi penampilan yang dipersoalkan sangat tidak pantas untuk ditampilkan dalam forum penyambutan mahasiswa baru. Ia juga tidak merinci lebih jauh substansi penampilan tersebut, karena menurutnya persoalan itu di luar lingkup kewenangan organisasi kemahasiswaan yang diawasi DLM.

Soal ramainya isu di X base Unsoed, Azmi mengaku sempat mengikuti perkembangannya dan mencocokkannya dengan laporan Panwas di lapangan. Dari situ ia menduga ada semacam kebocoran informasi internal panitia ke pihak luar.

Azmi turut membenarkan adanya laporan dari pihak Hima J ke DLM terkait ketegangan dengan panitia, tetapi menyebut penanganannya diserahkan ke Panwas dan panitia PKKMB karena berada di ranah internal kegiatan, bukan ranah pelanggaran organisasi kemahasiswaan yang menjadi wewenang langsung DLM.

Evaluasi dan Sikap Panitia 

Menanggapi ramainya kritik di media sosial, termasuk munculnya akun Instagram anonim yang sempat dianggap menyebarkan kebencian sebelum akhirnya hilang karena dilaporkan warganet, Nero memberikan respons. Ia menyebut panitia memilih sikap legawa dan tidak melakukan penghapusan komentar kritik sebagaimana sempat dituduhkan. Ia melanjutkan bahwa saat isu itu ramai, panitia justru masih menjalani sesi evaluasi internal hingga larut malam sehingga tidak sempat merespons.

Ia menggarisbawahi dua poin utama sebagai catatan evaluasi PKKMB FIB tahun ini, yakni koordinasi internal yang menurutnya masih perlu diperkuat, khususnya pemahaman sejumlah unit kegiatan mahasiswa (UKM) terhadap informasi yang telah disampaikan panitia. Kemudian ketegasan dalam pengambilan keputusan di lapangan, yang menurutnya kerap memakan waktu karena banyak anggota panitia masih menunggu arahan langsung darinya sebelum bertindak.

Sementara itu, Ely menyampaikan pesan serupa soal pentingnya manajemen rundown ke depan, khususnya memperhitungkan waktu-waktu ibadah dan jam rawan lain dalam penyusunan jadwal kegiatan kemahasiswaan. Ia juga berpesan agar mahasiswa mengedepankan sikap tenang dalam menghadapi persoalan, alih-alih bereaksi dengan emosi.

Adapun Azmi, mewakili DLM, menitipkan pesan kepada mahasiswa baru agar tidak terlalu larut dalam polemik PKKMB dan tetap fokus pada berbagai kegiatan lain di FIB yang menurutnya masih banyak menawarkan pengalaman positif.

Editor: Kania Nurma Gupita

Reporter: Muhamad Ade Ravi, Tegar Pri Antony, Ryu Athallah Raihan, Hasna Zulfa Qanitah, Raiza Firdani Kurnia Suci, Akhdan Maulana

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Kilas Balik Aksi Audiensi: Bukan Sekadar Tuntutan, Mahasiswa Butuh Aksi Nyata

Penulis: Artika Putri Kinanti Sejumlah mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) kembali berhimpun di depan Gedung Rektorat…

Potret Ruang Diskusi Publik: Civitas Academica Mengawal Reformasi Tata Kelola Kampus

Penulis: Aulya Desya Serikat Dosen Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menggelar diskusi publik mengenai urgensi reformasi tata…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Bongkar Polemik di Balik Riuh PKKMB FIB Unsoed 2026

Bongkar Polemik di Balik Riuh PKKMB FIB Unsoed 2026

Kilas Balik Aksi Audiensi: Bukan Sekadar Tuntutan, Mahasiswa Butuh Aksi Nyata

Kilas Balik Aksi Audiensi: Bukan Sekadar Tuntutan, Mahasiswa Butuh Aksi Nyata

Potret Ruang Diskusi Publik: Civitas Academica Mengawal Reformasi Tata Kelola Kampus

Potret Ruang Diskusi Publik: Civitas Academica Mengawal Reformasi Tata Kelola Kampus

Mitra Unsoed Putus Kontrak Pasca-OTT KPK? Ini Jawaban Plt. Rektor

Mitra Unsoed Putus Kontrak Pasca-OTT KPK? Ini Jawaban Plt. Rektor

Tuntut Transparansi Birokrasi, Mahasiswa Unsoed Bawakan Delapan Tuntutan

Tuntut Transparansi Birokrasi, Mahasiswa Unsoed Bawakan Delapan Tuntutan

Kilas Balik Aksi Menuntut Kemerdekaan Indonesia dan Tolak Korupsi di Unsoed

Kilas Balik Aksi Menuntut Kemerdekaan Indonesia dan Tolak Korupsi di Unsoed