oleh: Dwi Santika Sukmaningrum
Identitas Film
Judul : Gie
Sutradara : Riri Riza
Penulis Skenario : Riri Riza
Tahun Rilis : 2005
Produksi : Miles Film & SinemArt Pictures
Durasi : 147 menit
Genre : Biografi, Drama/Sejarah
Bahasa : Indonesia
Negara : Indonesia
Pemeran : Nicholas Saputra (Soe Hok Gie), Thomas Nawilis (Tan Tjin Han), Sita Nursanti (Ira), Wulan Guritno (Sinta)
Film Gie yang rilis pada tahun 2005 dan disutradarai oleh Riri Riza merupakan sebuah film bergenre biografi sejarah mengenai tokoh aktivis Tionghoa, Soe Hok Gie. Film Gie ini diadaptasi dari buku berjudul Catatan Seorang Demonstran, buku tersebut merupakan kumpulan catatan harian yang ditulis oleh Soe Hok Gie sendiri, seorang aktivis dan mahasiswa Universitas Indonesia pada era 1960-an. Gie sendiri adalah pemuda dengan keberanian dan ketajaman pemikirannya dalam mengkritik pemerintah melalui tulisan-tulisannya. Melalui film ini kita akan diajak untuk memiliki sikap berpikir kritis dan berani untuk menolak bungkam pada ketidakadilan. Film ini juga dinilai berhasil memvisualisasikan pergolakan politik tahun 60-an dari sudut pandang pemuda idealis.
Sinopsis
Film ini mengisahkan perjuangan Soe Hok Gie (diperankan oleh Nicholas Saputra) seorang aktivis mahasiswa Universitas Indonesia keturunan Tionghoa yang jujur dan idealis dalam menyuarakan kebenaran dan melawan ketidakadilan rezim demokrasi terpimpin hingga peralihan ke Orde Baru pada tahun 1960-an.
Soe Hok Gie lahir pada tanggal 17 Desember 1942 ketika perang masih berkecamuk di Pasifik. Saat kecil, Gie memiliki teman dekat bernama Tan Tjin Han. Tan Tjin Han sendiri sangat mengagumi sosok Gie yang penuh dengan keberanian dan keuletan. Namun, ia sendiri tidak memiliki semangat pejuang yang sama. Dalam film ini, teman masa kecil Gie yang nantinya terlibat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah Tan Tjin Han. Namun, saat dewasa di masa perjuangan 1966, tokoh yang digambarkan sebagai representasi “sahabat yang berseberangan ideologi” dan akhirnya menghilang karena pembersihan PKI adalah Han (diperankan oleh Thomas Nawilis). Gie sendiri di sini memilih berada di pihak netral dan independen. Seiring berjalannya waktu, Soe Hok Gie tumbuh sebagai sosok yang gemar membaca dan menulis. Karena kegemarannya tersebut menjadikannya sosok pribadi yang kritis. Tak jarang ia berani bersuara kritis dalam kelasnya untuk mengutarakan pendapat dan apa yang ia pikirkan. Tak jarang Gie berani mengkritisi gurunya di tengah teman-temannya yang memilih diam. Dengan kegemarannya dalam menulis, Gie menuangkan apapun yang ia pikirkan ke dalam catatan hariannya. Selain membaca dan menulis, Soe Hok Gie juga memiliki kegemaran mendaki gunung. Saat ia lulus dari bangku SMA, ia melanjutkan studinya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Dalam perkuliahannya, Gie menjadi sosok mahasiswa yang aktif, kritis, dan berintegritas. Gie dikenal sebagai penulis yang tajam dengan pikiran yang kritis di media massa yang menyuarakan keadilan, memimpin mahasiswa dalam aksi demonstrasi menuntut pembubaran PKI, penurunan harga, dan pembersihan kabinet pada era 1966, yang nanti puncaknya adalah mundurnya Presiden Soekarno dalam jabatannya. Ia menolak bungkam dan tetap menyuarakan keadilan.
Di tengah kesibukannya, Gie memilih mendaki gunung untuk membuang seluruh penatnya dalam menghadapi dunia perpolitikan. Namun, pada tanggal 16 Desember 1969 di Gunung Semeru, Jawa Timur di sinilah akhir hidup dari Soe Hok Gie. Ia wafat akibat menghirup gas beracun. Ia meninggal di usia 26 tahun sehari sebelum ulang tahun ke-27 bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis saat melakukan pendakian. Pada akhir film ini, penonton akan merasakan bahwa cinta sejati Gie mungkin bukanlah pada seorang manusia, melainkan pada kebenaran dan alam, yang akhirnya memeluknya hingga napas terakhir di Mahameru.
Kelebihan dan Kekurangan
Film Gie (2005) karya Riri Riza, yang menceritakan perjuangan Soe Hok Gie yang kritis terhadap rezim Soekarno-Soeharto. Film ini sangat menginspirasi para pemuda terlebih lagi dengan sifat idealisme dari Soe Hok Gie sendiri. Kelebihan dari film ini adalah kemampuan Nicholas Saputra yang berhasil mengekspresikan sosok Gie yang pemberani, idealis, dan Kritis. Peranan dari tokoh lainnya seperti pada tokoh Ira dibawakan dengan natural sehingga seperti terjadi secara alamiah. Pengambilan lokasi tempat juga sangat menggambarkan era tahun 1960-an.
Kekurangan dalam film ini adalah alur yang dibawakan cenderung agak lambat sehingga penonton merasa sedikit bosan dengan durasi waktu 147 menit tersebut. Isi film yang membahas seputar perpolitikan memberikan kesan bingung terhadap penonton yang memang kurang paham betul dengan alur perpolitikan demokrasi terpimpin, sehingga film ini lebih cocok untuk orang-orang dewasa terlebih lagi para pecinta sejarah.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Film Gie (2005) menyimpulkan kisah penuh dengan emosi ketika Soe Hok Gie sebagai seorang aktivis muda dengan penuh keberanian, idealisme, dan integritasnya mampu menginspirasi penonton untuk memiliki sifat dan sikap yang sama. Seorang pemuda harus mampu berkarya dan memperjuangkan demokrasi bangsa. Melalui tulisannya yang tajam, pemikiran yang kritis dan menolak untuk bungkam menjadi langkah besar untuk memberantas ketidakadilan, korupsi, dan otoritarianisme.
Film ini sangat direkomendasikan untuk siapa saja, terutama para pemuda untuk mendapatkan inspirasi dan tekad yang kuat. Dalam film ini sangat menegaskan bahwa kebenaran harus disuarakan walaupun sebanyak apapun rintangannya. Kisah perjuangan dari Soe Hok Gie sangat relevan dengan kondisi sosial yang semakin kompleks ini. Dengan meneladani perjuangan Soe Hok Gie, kita dapat bergerak untuk tetap menyuarakan kebenaran di tengah segala tantangan yang ada. Jika bukan kita, maka siapa lagi.
Editor: Andika Brilyan







