Oleh: Annisa Nur Hidayah
“Sebuah benang tak terlihat menghubungkan mereka yang ditakdirkan untuk bertemu, tanpa memandang waktu, tempat, dan keadaan. Benang itu mungkin meregang atau kusut. Tetapi benang itu tidak akan pernah putus.” -Billy Ray Cyrus
Pernah dengar soal red string theory atau teori benang merah? Kita mungkin pernah merasakan ikatan batin dengan orang yang baru dijumpai, seolah telah mengenalnya dalam waktu yang lama. Seperti ada benang yang mengikat satu sama lain. Mengutip dari detik.com, kepercayaan mengenai benang merah telah populer di dua negara Asia Timur, yaitu Jepang dan Tiongkok atau China. Menurut kepercayaan ini, ada benang merah tak terlihat yang menghubungkan orang-orang yang ditakdirkan untuk bersama. Benang ini dikenal sebagai ‘red string of fate’ dalam bahasa Inggris, atau ‘akai ito’ dalam bahasa Jepang, dan ‘yuanfen’ dalam bahasa Mandarin. Legenda ini mengatakan bahwa seorang pria tua yang tinggal di bulan, mengunjungi bumi dan menunjuk orang-orang yang ditakdirkan untuk bertemu. Benang merah ini mungkin terjepit atau membentang jauh karena tantangan dan jarak, tapi akhirnya akan menarik orang-orang yang ditakdirkan untuk bersama. Dalam mitologi Tiongkok, benang ini diikat di pergelangan kaki oleh para dewa, dan tetap tidak bisa putus meskipun menghadapi berbagai kesulitan. Ada juga yang mengatakan bahwa benang tersebut diikat di jari kelingking satu sama lain.
Meskipun kepercayaan ini berasal dari Asia Timur, tak sedikit pula masyarakat Asia Tenggara yang ikut meyakininya. Pengaruh budaya dan sosial menjadi faktor meluasnya kepercayaan mengenai red string theory. Maraknya drama, anime, dan komik Jepang (manga) di era digital yang bertema red string theory, menjadi pendorong meluasnya kepercayaan tersebut. Faktor ini menjadi pengaruh besar, sebab sebagian Generasi Z menyukai budaya pop Asia Timur. Namun, apakah pengaruh cerita-cerita tersebut dapat menimbulkan pemikiran bahwa, orang yang telah ditakdirkan untuk kita akan datang dengan sendirinya tanpa harus berusaha karena telah terikat oleh benang tak kasat mata? Dan apakah benang merah hanya karangan semata atau nyata adanya?
Sebagian orang yang percaya dengan teori benang merah pasti akan bertanya-tanya, siapa seseorang yang ditakdirkan untuknya. Entah itu pasangan, teman, atau keluarga yang telah terikat benang merah satu sama lain. Hal ini menimbulkan rasa penasaran, senang, bahkan khawatir terhadap berbagai kemungkinan.
Orang dengan pemikiran “nanti aja, takdir sudah ada yang atur,” dan tidak melakukan usaha sama sekali, merupakan kesalahan besar. Fenomena ini disebut sebagai fatalisme, yaitu suatu pandangan filsafat yang meyakini bahwa, seseorang sudah dikuasai oleh takdir dan tidak bisa mengubahnya. Menurut fatalisme, manusia tidak berdaya untuk melakukan sesuatu di luar kemampuannya, begitu pula tidak memiliki kemampuan untuk memengaruhi masa depannya, atau hasil dari upaya yang telah dilakukannya. Padahal, jika kita percaya dan mampu berusaha untuk mengubah takdir, maka bukan suatu hal yang mustahil bahwa takdir akan berubah, sesuai dengan apa yang diharapkan.
Meskipun mempercayai adanya benang merah, bukan berarti kita harus diam tanpa berusaha mencari atau menemukannya. Justru usahalah yang mendekatkan kita kepada orang yang telah ditakdirkan, baik pertemanan, keluarga, atau pasangan. Benang merah hanya salah satu bukti bahwa, takdir masih mempertemukan diri kita dengan orang-orang yang membawa pengaruh dalam kehidupan. Tentunya harus dibarengi dengan niat dan usaha untuk menemukan takdir tersebut karena berdiam diri dan hanya menunggu takdir berjalan, tidak akan membuahkan hasil apapun.
Kejadian-kejadian mengenai benang merah sudah sering dijumpai di sekitar kita, baik secara sadar maupun tidak. Di era digital, sering kali dijumpai kisah-kisah unik mengenai pertemuan seseorang dengan pasangan atau temannya. Ada yang berjodoh dengan rekan kerjanya, dengan teman perkuliahannya, bahkan dengan teman sekolah yang pernah bermain peran menjadi sepasang kekasih bohongan, tetapi takdir mempertemukan mereka di pelaminan. Begitu pula pertemanan, orang-orang asing yang baru pernah dijumpai dan menjadi sahabat dekat. Semua ini adalah bentuk nyata adanya benang merah. Meskipun terpisah oleh jarak dan waktu, mereka yang telah terikat oleh takdir pertemuan akan selalu menemukan jalannya. Bagaimana pun, di mana pun, dan kapan pun mereka ditakdirkan.
Benang merah bukan hanya tali mati yang mengikat satu sama lain, melainkan sebuah tanda bahwa, takdir mempertemukan seseorang bukan tanpa alasan. Ia hadir sebagai bentuk nyata, orang yang telah terikat takdir dengan diri kita akan selalu memberikan pelajaran berharga. Selalu ada alasan di balik pertemuan. Selalu ada harapan di balik sapaan. Dan akan selalu ada kenangan di balik perpisahan atas kehilangan.
Benang merah bukan hanya tali tak kasat mata tanpa makna. Ia ada untuk mengikat satu sama lain agar dapat saling membantu, mengasihi, dan memberi pengajaran. Ujung lain benang merah tersebut akan ditemukan jika kita percaya dan mampu berusaha untuk menemukannya, sebab berdiam diri bukan sebuah jawaban. Orang-orang yang saat ini kita jumpai merupakan bukti nyata adanya takdir yang mengikat antar satu sama lain. Semua pertemuan selalu ada makna di baliknya. Maka, hargai dan sayangi orang-orang yang ada bersamamu saat ini karena takdir telah berbaik hati kepada kita untuk menenun cerita.
Editor : Annisa Dwi Rahman








