Kapur yang Tak Lagi Menulis

Oleh: Fina Mustanginatul Kirom

Ilustrasi: Hasna Nazriah Khairunnisa
Ilustrasi: Hasna Nazriah Khairunnisa

Di suatu desa kecil bernama Mekarjati, berdiri sebuah sekolah dasar yang usianya hampir sama tua dengan pohon beringin di lapangan desa. Cat dindingnya mengelupas, atapnya bocor di beberapa tempat, dan papan tulisnya penuh retakan. Kapur putih yang dipakai menulis sering habis sebelum waktunya. Namun, sekolah itu tetap hidup karena ada seorang guru bernama Pak Arman.

Pak Arman sudah mengajar di sana lebih dari dua puluh tahun. Rambutnya mulai memutih, keriput menghiasi wajahnya, tetapi semangatnya tak pernah surut. Setiap pagi, ia berangkat dengan sepeda ontel melewati jalanan tanah yang kadang berlumpur bila hujan turun. Murid-murid selalu menyambutnya dengan senyum dan salam riang, meski sebagian besar datang dengan seragam tambal sulam dan buku tulis yang sudah tipis.

Belakangan, kabar yang tak menyenangkan sampai ke telinga Pak Arman. Pemerintah daerah memutuskan memangkas anggaran pendidikan untuk sekolah-sekolah di pelosok. Alasan mereka: “efisiensi dan alokasi dana yang lebih penting.” Konsekuensinya, bantuan buku berhenti, gaji guru honorer tertunda, dan renovasi bangunan ditunda entah sampai kapan.

Malam itu, Pak Arman duduk di teras rumahnya, menatap lampu minyak yang redup. Istrinya, Bu Ratna, menemaninya sambil menenun tikar pandan.

“Bang,” ujar Bu Ratna pelan, “aku dengar kabar, dana untuk sekolah kita dipangkas lagi. Apa kau sanggup terus mengajar dengan kondisi seperti ini?”

Pak Arman menarik napas panjang. “Kalau aku berhenti, siapa lagi yang akan bertahan untuk anak-anak itu? Aku tak bisa membiarkan mereka kehilangan masa depan hanya karena angka-angka di kertas kebijakan.”

Keesokan harinya, Pak Arman masuk kelas dengan membawa segenggam kapur kecil yang tinggal seujung jari. Ia menulis kata-kata di papan tulis dengan goresan patah-patah. Anak-anak memperhatikannya dengan penuh perhatian.

“Anak-anak,” katanya sambil tersenyum, “meski kapur kita hampir habis, semangat belajar kita tak boleh ikut habis.”

Murid-murid mengangguk. Seorang anak bernama Sari mengangkat tangan. “Pak, kalau kapurnya habis, kita belajar dengan apa?”

Pak Arman terdiam sejenak, lalu menjawab, “Kalau kapur habis, kita pakai suara. Kalau suara serak, kita pakai hati. Ilmu tidak selalu ditulis di papan, tetapi bisa dihafal, diceritakan, dan diamalkan.”

Kata-katanya sederhana, tetapi menancap kuat di hati murid-murid.

Hari-hari berikutnya semakin berat. Atap kelas bocor saat hujan deras. Air merembes ke dalam, membuat buku-buku basah. Murid-murid harus bergeser agar tidak kehujanan. Kadang mereka belajar sambil berdiri, karena kursi patah dan belum diganti.

Suatu sore, Pak Arman menulis surat kepada dinas pendidikan kabupaten. Ia menjelaskan kondisi sekolah dengan rinci, berharap ada bantuan. Namun, surat itu tak pernah dijawab. Bulan berganti, yang datang justru kabar pemangkasan lebih lanjut.

Di pasar, warga desa membicarakan kebijakan baru itu. Ada yang pasrah, ada pula yang geram. “Kenapa pendidikan dipangkas? Bukankah itu hak anak-anak kita?” kata seorang pedagang sayur. “Mereka sibuk bicara pembangunan, tapi lupa pondasinya adalah sekolah,” sahut yang lain.

Pak Arman hanya mendengar dengan hati berat. Ia tahu, di balik kemiskinan dan keterbatasan, satu-satunya jalan keluar bagi anak-anak itu adalah pendidikan. Bila pintu itu dipersempit, maka masa depan mereka ikut terkunci.

Malam-malamnya kini dipenuhi kegelisahan. Kadang ia terbangun, memikirkan bagaimana murid-murid bisa tetap belajar besok dengan buku yang makin tipis dan papan tulis yang nyaris tak terbaca.

Namun, semangat anak-anak justru menjadi obat bagi kelelahan hatinya. Mereka tetap datang dengan langkah kecil yang berdebu, membawa senyum tulus. Sari sering membawa bunga liar dan menaruhnya di meja guru. “Biar Bapak semangat,” katanya. Ada juga Fadil, anak yatim yang bercita-cita menjadi dokter, selalu duduk di depan meski bajunya lusuh.

Pak Arman melihat mereka bukan sekadar murid, tapi cahaya kecil yang berjuang melawan gelap.

Suatu ketika, datanglah seorang pejabat daerah untuk berkunjung. Kedatangannya penuh formalitas, dengan mobil mewah berhenti di halaman sekolah. Murid-murid dipaksa berbaris rapi, menyanyikan lagu kebangsaan dengan suara lantang, seakan semua baik-baik saja.

Pak Arman berdiri di belakang, menyaksikan bagaimana pejabat itu tersenyum lebar, memuji semangat anak-anak, lalu berpidato tentang “pentingnya pendidikan sebagai prioritas bangsa”. Namun, di saat yang sama, ia tak menoleh sedikit pun pada ruang kelas yang bocor, papan tulis yang penuh retakan, atau laci yang kosong tanpa kapur.

Usai acara, Pak Arman memberanikan diri mendekat.
“Pak, apakah boleh saya bicara sebentar?” tanyanya sopan.
Pejabat itu mengangguk, meski wajahnya jelas menunjukkan kebosanan.

Pak Arman menyerahkan surat lain, yang ia tulis semalam. “Ini kondisi nyata sekolah kami. Anak-anak kami berjuang dengan segala keterbatasan. Kami mohon, jangan biarkan mereka kehilangan masa depan.”

Pejabat itu menerima, menaruh surat itu di tas tanpa membacanya. Ia tersenyum basa-basi. “Baik, nanti kami tindaklanjuti,” katanya, lalu pergi meninggalkan debu dan janji yang tak pernah ditepati.

Murid-murid kembali ke kelas, sementara Pak Arman berdiri lama di halaman. Ia merasa suaranya tak pernah sampai. Namun di dalam hatinya, ada bisikan kecil: Aku mengajar bukan untuk pejabat, tapi untuk anak-anak. Mereka alasan aku tetap berdiri.

Beberapa bulan kemudian, kabar baik datang dari kejauhan. Sari, murid kesayangannya, menulis surat dari kota.

“Pak Arman, saya kini belajar di SMA dengan fasilitas lengkap. Setiap hari saya teringat papan tulis tua kita. Di sini semua serba ada, tapi saya tidak pernah melupakan Bapak dan sekolah kita. Saya janji suatu saat akan kembali membawa perubahan.”

Pak Arman membaca surat itu berulang kali, matanya berkaca-kaca. Dalam kesunyian, ia tersenyum. “Setidaknya satu anak sudah melangkah lebih jauh,” gumamnya.

Tahun berikutnya, Sari benar-benar kembali. Ia pulang saat liburan, mengenakan seragam SMA. Teman-temannya di desa terkejut melihatnya begitu percaya diri.

Di sekolah, ia berdiri di depan adik-adiknya, memegang sebatang kapur dan menulis di papan tulis. “Hari ini, aku ingin kalian tahu, mimpi itu tidak boleh berhenti meskipun kapur kita hampir habis,” ucapnya menirukan kalimat Pak Arman dahulu. Anak-anak bersorak, semangat kembali hidup.

Pak Arman berdiri di pojok kelas, menahan air mata bangga. Kapur mungkin sudah tak lagi menulis dengan lancar, tapi semangat itu kini diwariskan.

Malam itu, di rumahnya yang sederhana, Pak Arman berbicara pada istrinya.
“Ratna, mungkin aku tak akan melihat semua anak-anak berhasil. Tapi aku yakin, benih yang kita tanam hari ini akan tumbuh, meski lambat. Sari buktinya.”

Bu Ratna menggenggam tangan suaminya. “Bang, jangan pernah merasa sendirian. Kau sudah melakukan yang tak pernah berani dilakukan banyak orang: mengajar dengan hati, meski negara tak selalu peduli.”

Hari-hari berlalu, dan semangat anak-anak tetap terjaga. Mereka tahu sekolah mereka mungkin tak megah, tapi di sana ada cerita tentang seorang guru yang tak menyerah meski kebijakan memangkas segalanya. Kelak, saat generasi itu tumbuh dewasa, mereka akan menceritakan kembali pada anak-anak mereka tentang seorang guru tua dengan sebatang kapur kecil, yang mengajarkan arti perjuangan.

Tahun-tahun berlalu, Sari berhasil melanjutkan kuliah dengan beasiswa. Di kota besar, ia menyaksikan betapa pendidikan bisa membuka pintu yang begitu lebar—perpustakaan yang penuh buku, laboratorium dengan peralatan lengkap, dan ruang kelas berpendingin udara. Namun, di setiap kenyamanan itu, ia selalu teringat pada ruang kelas reyot di desanya, papan tulis penuh goresan, dan Pak Arman yang tetap mengajar meski tak tahu kapan gaji honornya cair.

Di sela kesibukan kuliahnya, Sari sering menulis di blog pribadi. Ia bercerita tentang ketimpangan pendidikan antara kota dan desa, tentang anak-anak yang rela berjalan berkilo-kilo meter hanya untuk sampai ke sekolah, tentang guru yang tetap berdiri di depan kelas meski pemerintah memangkas anggaran. Tulisan-tulisannya perlahan dibaca banyak orang, bahkan sempat menarik perhatian media lokal.

Suatu hari, sebuah lembaga sosial menghubungi Sari. Mereka tertarik bekerja sama untuk membantu sekolah-sekolah di pelosok. Sari pun langsung teringat desanya. “Kalau boleh, saya ingin memulai dari tempat saya berasal,” katanya penuh semangat.

Bersama beberapa relawan, Sari pulang membawa buku-buku, alat tulis, dan papan tulis baru. Anak-anak desa menyambutnya dengan sorak gembira, seolah keajaiban kecil akhirnya datang juga. Pak Arman terharu, melihat murid yang dulu ia ajari menulis huruf pertama, kini kembali dengan membawa cahaya.

“Pak, saya ingat kata Bapak dulu. Bahwa meski kapur kita kecil, semangat tak boleh padam. Saya ingin terus menulis, meski kapur itu hampir habis,” kata Sari sambil menyerahkan setumpuk buku.

Pak Arman hanya bisa menahan air mata. Ia sadar, perjuangannya yang selama ini terasa sia-sia ternyata meninggalkan jejak.

Namun, di balik semua itu, kebijakan pemangkasan anggaran masih menjadi bayangan gelap. Gedung sekolah memang mendapat sumbangan, tapi gaji guru honorer tetap tak menentu. Banyak kawan sejawat Pak Arman memilih berhenti mengajar dan beralih profesi. “Tak bisa terus-menerus berharap pada idealisme,” kata mereka.

Pak Arman paham. Ia sendiri sering bimbang, tapi ia merasa terpanggil untuk bertahan. Baginya, sekolah bukan sekadar tempat kerja—melainkan medan perjuangan.

Suatu sore, ia duduk bersama murid-murid di bawah pohon karena ruang kelas bocor akibat hujan deras. “Kalian tahu,” katanya lirih, “kadang pemerintah lupa pada kita. Tapi jangan pernah kalian lupa pada diri kalian sendiri. Pendidikan itu bukan hanya soal gedung dan bangku. Pendidikan itu ada di kepala dan hati kalian.”

Anak-anak mendengarkan dengan mata berbinar. Meski baju mereka basah, semangat itu tetap hangat.

Tahun berikutnya, Sari lulus kuliah dan memutuskan kembali ke desanya, bukan untuk selamanya, tapi cukup lama untuk mendirikan sebuah komunitas belajar. Ia mengajak mahasiswa lain yang peduli untuk mengajar di desa, membuat kelas tambahan, dan memperkenalkan teknologi sederhana. Anak-anak pun mulai mengenal komputer, walau hanya lewat perangkat bekas yang disumbangkan.

Pak Arman tersenyum setiap kali melihatnya. “Kau sudah jadi guru, Sari,” ujarnya suatu hari.
Sari menggeleng pelan. “Tidak, Pak. Saya hanya meneruskan tulisan kapur Bapak yang belum selesai.”

Hari demi hari, walau kebijakan tak selalu berpihak, semangat itu diwariskan. Desa Mekarjati perlahan berubah. Anak-anak tumbuh dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan menuju masa depan, meski mereka tahu jalannya terjal.

Pak Arman menua, rambutnya memutih, langkahnya melambat. Namun setiap kali ia melihat papan tulis baru di kelas, penuh tulisan dari tangan Sari dan para relawan, ia merasa lega. “Kapur boleh berhenti menulis,” gumamnya, “tapi mimpi anak-anak tak akan pernah berhenti.”

Editor: Nadia Amalia Wibowo

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Kuucapkan Serta Mulia

Oleh: Alda Dwi Safitri Kepada dunia aku sampaikan Padanan kata yang kudambakan Kala hari perlahan berjalan,…

Sejengkal Lagi

Oleh: Farah Fauziah Tersengal-sengal Matanya membeku lurus Langkahnya tenggelam dalam lumpur Tali mana yang harus diraih?…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Mengenal Tokoh Bangsa dan Jejak Pengabdiannya di Museum Soesilo Soedarman

Mengenal Tokoh Bangsa dan Jejak Pengabdiannya di Museum Soesilo Soedarman

Mimbar Bebas Banyumas Problematik: Refleksi Kebijakan untuk Banyumas yang Lebih Baik

Mimbar Bebas Banyumas Problematik: Refleksi Kebijakan untuk Banyumas yang Lebih Baik

Museum Wayang Banyumas: Sunyi yang Menyisakan Jejak

Museum Wayang Banyumas: Sunyi yang Menyisakan Jejak

Banyumas Culture Festival dan Kirab Pusaka Meriahkan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas

Banyumas Culture Festival dan Kirab Pusaka Meriahkan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas

Tambah Spot Nongkrong di Unsoed, Pringsewu Hadirkan Kandang Kopi di Fakultas Peternakan

Tambah Spot Nongkrong di Unsoed, Pringsewu Hadirkan Kandang Kopi di Fakultas Peternakan

Pemira 2025 Usai: Krisis Regenerasi Kepemimpinan dan Demokrasi Mahasiswa Masih Melekat

Pemira 2025 Usai: Krisis Regenerasi Kepemimpinan dan Demokrasi Mahasiswa Masih Melekat