Oleh : Gita Amalia Suherlan
Kebohongan paling besar di hidup saya adalah sebuah quotes pasaran yang menegaskan bahwa masa SMA adalah masa paling menyenangkan. Hoax! Masa-masa itu justru tercatat sebagai masa paling nggilani di buku sejarah hidup saya. Tidak ada yang menarik dan tidak ada yang perlu diingat, semuanya terasa memalukan. Makanya, saya senang bukan main ketika lulus, dan letupan kesenangan itu semakin bertambah besar ketika saya dinyatakan diterima sebagai salah satu Dipo Muda.
Kampus Diponegoro telah mengundang saya untuk singgah ke Semarang yang katanya panas luar biasa, dan ternyata hal itu bukan mitos belaka. Namun, ini lebih baik daripada terus hidup di atas lantai Surakarta dengan berbagai kenangan memalukan yang terfigura di setiap sisi dindingnya. Walaupun panasnya kerap meningkatkan tensi emosi, tetapi saya punya penyejuk diri di kota ini yang membuat saya ingin mengirimkan ratusan kata terima kasih kepada bumi Semarang karena telah mempertemukan saya dengan Gama Mandika di terasnya. Sungguh, Gama Mandika adalah hujan lebat di kemarau Januari. Ia dan gitarnya yang penuh stiker band musik ibarat mata air di padang pasir yang bukan fatamorgana. Dalam aksi panggungnya di hari terakhir ospek saat itu saya bertanya-tanya, apakah bumi sedang dikudeta surga? Karena salah satu malaikatnya sedang nyasar menjadi Dipo Muda. Suaranya yang lebih lembut daripada kembang tahu itu akhirnya mengantarkan saya kepada kisah jatuh cinta.
Mungkin Semarang memang menyayangi saya, sebab saya dan Gama menjadi dekat setelah kami bertemu lagi di ospek fakultas dan tergabung dalam kelompok yang sama. Gama tak banyak bicara, tetapi ia ramah bintang lima. Dari kelompok itu, saya dan Gama menjadi teman yang baik dan kami kerap main bersama. Gama juga mengenalkan saya kepada salah satu temannya ketika kami pergi ke perpustakaan kota, Nagarjuna namanya. Gama bilang, panggil saja Ajun, tetapi saya lebih suka memanggilnya Nagar karena wajahnya sangar. Gama juga bercerita panjang lebar mengenai kisah pertemanannya dengan Nagar yang telah berjalan selama enam tahun, mereka memang punya koneksi yang aneh saat berinteraksi, saya selalu tidak paham apa yang sedang dibahas karena mereka lebih sering bergosip tentang seni.
Hampir satu tahun saya berteman dengan Gama dan Nagar, dan saya beruntung bisa hadir di antara mereka. Saya juga tentunya semakin jatuh cinta dengan Gama, ia lebih istimewa dari yang saya duga. Katanya, pemuda yang lahir di Selatan Jakarta itu ingin menjadi seorang musisi besar, membagikan kebahagiaan lewat lagu-lagunya, merengkuh orang-orang yang tengah susah dengan nyanyiannya. Lantas saya mengamininya, saya juga ingin mendengar Gama terus bernyanyi, kalau bisa hingga akhir dunia.
Sore itu, Gama yang duduk bersama saya di bangku warmindo melupakan mie kuah dan telur setengah matang favoritnya, ia memangku gitarnya lalu mulai mengeluarkan suara yang membuat saya kembali jatuh kepadanya. Gama, jika kamu tau saya menyukai lagumu sebesar saya menyukai kamu, tolong jangan jauh, ya?
Andai Mariana ku selami
Seperti burung yang bunuh diri
Apa ia akan surut atau pasang?
Apa ia akan merah atau hitam?
“Aku kurang paham sama liriknya, tapi lagunya enak!”
“Serius? Eh, tapi menurutmu Ajun bakal suka nggak tipe lagu kaya gini?”
Walaupun sudah setahun, Nagarjuna masih tetap menjadi pertanyaan besar untuk saya karena ia benar-benar bisa membuat Gama bergantung kepadanya. Gama itu tidak akan percaya jika Nagar belum mengatakan, “Gokil, Gam!” sampai-sampai saya sering merasa komentar saya hanya sebagai cara Gama meyakinkan diri untuk menunjukkan lagunya kepada Nagar.
“Ah, dia selalu suka sama apa yang kamu buat. Liat aja nanti, pasti komennya tetep, gokil, Gam!” Gama tertawa mendengar penuturan saya. Pemuda itu masih sama tampannya seperti satu tahun yang lalu meskipun tampilannya kini jauh lebih dewasa dengan gaya rambutnya yang berubah.
“Hafal banget kamu,” ujar Gama di sela tawanya
“Komen Nagar kan cuma itu-itu aja, nggak kreatif.”
“Oh, ngomongin dari belakang nih ceritanya.”
Saya dan Gama kompak menoleh ketika suara berat yang familiar itu muncul dari belakang kami. Benar saja, topik pembicaraan datang tepat di depan wajah kami, Nagarjuna dan ekspresinya yang selalu tengil. “Katanya ada kelas?”
“Nggak dateng dosennya.” Nagar kemudian mendudukkan diri di sebelah Gama. “Bawa gitar mulu lo, coba sekali-kali bawa gamelan.”
Tawa kami meledak. Gama langsung memaki Nagar dengan kata-kata yang tidak senonoh di tengah letusan tawanya. “Mending lo dengerin lagu gue, Jun.”
“Baru lagi?”
“Project lama si sebenernya, cuma baru gue garap lagi nih.” Gama kembali membenarkan posisi gitar di pangkuannya. Tangannya mulai menari-nari di antara gitar legendaris itu, belah bibirnya kembali terbuka, menyanyikan lagu yang entah kenapa—saya tersihir dengan keindahannya, tetapi lagu itu juga sedikit terdengar aneh liriknya, jujur saja. Namun, saya tidak terlalu memikirkan. Kata Nagar, bahasa Gama memang aneh, tetapi selalunya terdengar indah, dan saya bisa melihat Nagar pun terhanyut dalam lagu Gama. Pemuda sosiologi itu mengangguk-anggukkan kepalanya dengan khidmat seperti biasa, tapi dahinya sedikit berkerut di pertengahan.
“Ni tentang apa, dah? Kalau nada atau melodinya si oke punya, tapi gue penasaran sama liriknya, nih,” tanya Nagar ketika Gama selesai dengan nyanyiannya.
Respon Gama justru membuat saya semakin keheranan, ketika pemuda itu malah tersenyum lalu melirik saya sambil berkata, “Orang yang bunuh diri karena cintanya.”
Baru kali ini lagu Gama menghadirkan perasaan yang berbeda, tidak ada letupan kupu-kupu seperti biasa, saya malah dibuat bingung bukan main dengan jawaban Gama, dan apa maksud lirikan tadi?
Sebenarnya saya sering salah tingkah jika dinyanyikan Gama karena lirik-lirik yang ia buat biasanya tentang manisnya romansa. Namun, separuh diri saya yang masih waras sadar betul kalau lagu itu bukan untuk saya, melainkan untuk orang lain yang tidak saya ketahui, sebab Gama tidak punya pacar. Hingga pada hari itu, ketika Nagar menemui saya dengan wajahnya yang merah menahan emosi, saya akhirnya menemukan jawabannya.
“Lo tau ini, kan?!” tanya Nagar penuh penekanan disertai alisnya yang menukik.
“Hah? Apa, sih, Gar? Dateng-dateng marah, tau apa?”
“Lucu sih kalau lo nggak tau tentang ini, lo selama ini deket banget sama Gama, kan?”
Nagar terus marah-marah tidak jelas dan saya balik mengomelinya karena saya tidak mengerti ia marah karena apa. Kemudian Nagar dengan tidak sabaran memperlihatkan layar ponselnya, menampilkan sebuah foto buku catatan, saya langsung merebut benda itu dan membaca setiap kata yang masuk dalam foto tersebut. Dan ketika sampai di kata terakhir, saya mulai menangis, tangan saya gemetar, ponsel Nagar hampir jatuh kalau saja ia tak menahan tangan saya. Hari itu saya memahami Gama Mandika dari buku catatannya yang entah difoto oleh siapa, dan saya hancur, kecewa, marah, bukan karena sakit hati Gama jatuh cinta dengan perempuan lain, tapi karena Gama diam-diam menyimpan perasaan yang salah kepada sahabatnya sendiri, Nagarjuna. Dan berbagai lagu yang ia buat dan nyanyikan di depan saya adalah untuk Nagar.
“Tolong jangan jauh dari aku, ya? Aku beruntung bisa berteman sama kamu. Aku harap, apapun yang terjadi nanti, aku nggak akan kehilangan.” Sekarang saya tau apa yang kamu maksud hari itu, Gama. Kamu bukan takut kehilangan saya, tapi kamu takut ditinggalkan karena kamu memilih jalan yang banyak ditentang.
Dia terus menyelam di Mariana. Kata Tuhan, dia sedang jatuh cinta dan bunuh diri di waktu yang sama. Tapi takutnya telah binasa, karena laut berpihak padanya. Itu adalah salah satu penggalan lirik yang saya lihat ada di buku catatan Gama. Saya mengerti, Mariana adalah Nagarjuna, dia menyelaminya tanpa rasa takut, karena dia tau, saya menyukainya, dan saya akan berada di pihaknya.
Dan sialnya Gama benar, walaupun saya marah dan kecewa, saya bahkan tak bisa membencinya. Pemuda itu tiba-tiba hilang seiring gosip-gosip tentangnya menyebar ke setiap sudut kampus. Mereka mungkin tak akan terang-terangan, tetapi saya tahu, tatapan jijik itu tak akan bisa ditahan, apalagi gosip yang terus menyebar itu ditambahi bumbu-bumbu tak sedap. Katanya, Gama terobsesi, orang-orang percaya, dan Nagarjuna juga percaya. Saya tidak tau harus menempatkan diri di mana, saya tak mendukung orang-orang seperti Gama, tapi selama ini saya juga tidak peduli dengan seksualitas seseorang, itu urusan mereka dengan lingkungan dan Tuhannya. Namun, ketika orang itu adalah Gama, saya merasa sangat bodoh untuk bersikap, saya tidak tau harus mencari Gama yang hilang atau membiarkannya karena Nagarjuna pun yang satu rumah kos sudah tidak peduli dan tidak mau tau, saya dengar ia bahkan berencana pindah. Tapi saya ingin tau kabar Gama, apa ia baik-baik saja?
Saya terus meneleponnya puluhan kali hingga saya hampir putus asa, tapi malam itu Gama akhirnya menerima. Selama sepuluh detik, saya tak bicara apa-apa, di seberang sana pun Gama diam. Saya menarik nafas, menenangkan diri, sebelum berucap, “Apa kabar, Gama?”
Gama tak langsung membalas, ada jeda beberapa detik sebelum ia bersuara. “Apa kamu juga akan menjauh?”
“Kenapa kamu tanya? Bukannya kamu tau aku itu bodoh, ya? Otakku itu otak babi.”
“Otakku juga otak babi.”
“Iya bener, otakmu otak babi.”
“Apa sakit rasanya?”
“Nggak usah tanya, aku tau kamu nggak peduli.”
“Apa sakit rasanya?”
“Menurutmu gimana, Gam? Lucu banget, aku suka sama laki-laki yang nggak suka perempuan. Kurang ajar, aku nggak pernah merasa sekonyol ini sebelumnya, bahkan rasanya aku lebih apes daripada diselingkuhin mantanku dulu.”
“Hatimu lemah dan murahan, kamu harusnya nyumpahin aku mati sekarang.”
“Aamiin. Semoga kamu hidup lebih lama, ya.”
“Tapi talinya udah dipasang.”
Malam itu, saya memaki semua barang yang saya tabrak, motor saya yang kehabisan bensin, dan Nagarjuna yang sulit dihubungi. Pukul sepuluh malam, teman kos saya mengantar saya ke sebuah rumah yang terdapat tulisan KOS PUTRA di gerbangnya. Saya mengabaikan seluruh sopan santun yang bapak ajari dan langsung menerobos masuk lewat pintu depan. Seorang laki-laki yang berbaring di sofa saya tarik meski saya diteriaki nama-nama binatang.
“KAMAR GAMA YANG MANA?!” Kondisi wajah saya sudah tak karuan, rambut saya acak-acakan, dan binatang yang sebenarnya akhirnya muncul, Nagarjuna keluar dari kamarnya dengan ekspresi terkejut melihat saya.
“BRENGSEK! KAMU BAKAL NEGAK CIU DI PEMAKAMAN GAMA, HAH?!”
Saya yakin ini akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidup saya dan Nagarjuna karena kami tak mencoba menemui Gama lebih awal dan memilih diam. Saya jatuh terduduk di depan kamar kos Gama, Nagarjuna yang ada di depan saya limbung. Malam itu saya menangis keras sekali, dan Nagar terlihat seperti orang gila sebab dia terus berteriak. Mata kami terus melihat ke atas, sebuah tali tambang yang menggantung dan tegang karena mengikat beban.
Gama, dia benar-benar orang yang lemah, dan saya semakin membencinya karena dia orang yang tidak sabaran.
Nagarjuna pun saya benci. Hari itu, di depan makam Gama, saya hampir membunuhnya dengan pulpen di saku saya ketika dia berkata, “Gue berusaha bikin Gama percaya sama gue di saat dia berusaha survive dari traumanya karena kasus kekerasan seksual di masa kecilnya, dan bodohnya gue nggak berpikir itu bisa jadi alasan paling logis kenapa dia bisa berani punya perasaan itu ke gue.”
Percuma, Nagar. Penyelam itu sudah tenggelam.
Editor: Helmalia Putri








