Gonjang-ganjing KAA di Poerwakerta

Aksi FMN di jalan HR Bunyamin, Purwokerto. Foto: Rachma Amalia
Aksi FMN di jalan HR Bunyamin, Purwokerto. Foto: Rachma Amalia

PURWOKERTO-Senin(20/4) Tribunnews memuat berita yangberisi imbauan untuk tidak mengadakan unjuk rasa dalam rangka menyukseskan KAA2015. Akan tetapi, Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) tidak mengindahkanhimbauan tersebut dengan tetap menggelar aksi di depan Kedutaan Besar AmerikaSerikat Senin siang.

Disfungsi Aturan

AGRA menggelar aksi dengan membawa 18 penggawa sebagai wujud penolakan agenda KAA tahun ini –yang sangat jauh berbeda dengan semangat KAA pada saat pertama kalidihelat. Alhasil seluruh peserta aksi langsung diciduk oleh Polda Metro Jayasesaat setelah orator mulai berorasi.

Senin (20/4) malam, FMN Purwokerto menggelar aksi di depan Patung Kuda Unsoed. Aksiyang dipimpin oleh Fachrurozi Hanafi ini sebagai wujud penolakan terhadappenangkapan 18 aktivis AGRA. “Kita ingin menuntut pemerintah untuk melepaskanteman-teman (AGRA-red) dan menolakintervensi Amerika dalam KAA,” terang pria bertubuh gempal tersebut.

Menanggapi penangkapan tersebut, Amy Bondan Maharaja, salah seorang peserta aksi, turutmemberi keterangan. “Pelarangan aksi itu untuk massa yang jumlahnya melebihilima ratus orang, itu jumlahnya hanya delapan belas orang,” tutur Bondan.Bondan juga menambahkan bahwa penangkapan tersebut menyalahi UUD yang mengaturkebebasan berpendapat.

Berganti Kiblat

Aksi tersebut juga disisipi aksi teatrikal yang dibawakan oleh Teater Timbang FakultasHukum. Tofik salah seorang pemeran menjelaskan bahwa KAA tidak memberikandampak kepada petani dan KAA hanya menjadi boneka Amerika. “Negara kita negaraagrari, cuma disitu (KAA-red) kurang diperhatiin, ini protes kami,” tambahtofik.

Serupa tapi tak sama, Fachrurozi Hanafi juga menjelaskan bahwa semangat KAA yangsekarang sudah jauh berbeda dengan KAA saat era Soekarno. “Agenda terbesar dulumebebaskan dari neokolonialisme, sekarang membahas masalah ekonomi yangdiintervensi AS seperti investasi, penanaman modal, dan kerja sama tingkatdunia,” jelas pria yang juga akrab dipanggil Oji. (Supriono)

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsketsa.com, dimuat ulang di BU (beritaunsoed.com) agar tetap bisa diakses oleh pembaca. Portal berita lpmsketsa.com resmi beralih ke beritaunsoed.com

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Usut Kasus Penganiayaan dan Kekerasan Seksual, Aliansi Mahasiswa Unsoed Geruduk Polresta Banyumas

Penulis: Andika Brilyan Aliansi Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menggelar aksi mimbar bebas di depan Markas…

Semangat Tak Padam, Banyumas Ngibing 24 Jam Hidupkan Budaya Lokal

Penulis: Annisa Dwi Rahman Ratusan seniman dari berbagai daerah berkumpul di Banyumas Ngibing 24 Jam Menari…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Sepenggal Kisah Janggal

Sepenggal Kisah Janggal

Usut Kasus Penganiayaan dan Kekerasan Seksual, Aliansi Mahasiswa Unsoed Geruduk Polresta Banyumas

Usut Kasus Penganiayaan dan Kekerasan Seksual, Aliansi Mahasiswa Unsoed Geruduk Polresta Banyumas

Bukan Sekadar Candaan: Ketika Kekerasan Dinormalisasi pada Lingkaran Pertemanan

Bukan Sekadar Candaan: Ketika Kekerasan Dinormalisasi pada Lingkaran Pertemanan

Kisah di Gang Krembangan pada Tahun 60-an dari Kacamata Bocah 6 Tahun

Kisah di Gang Krembangan pada Tahun 60-an dari Kacamata Bocah 6 Tahun

Lonceng Kematian Rasa Aman: Ketika Ekosistem Pendidikan Menjadi Sarang Kasus Kekerasan

Lonceng Kematian Rasa Aman: Ketika Ekosistem Pendidikan Menjadi Sarang Kasus Kekerasan

Hewan-Hewan di Ujung Jalan

Hewan-Hewan di Ujung Jalan