Anis Baswedan : Lihat dari Kemajuan Bukan Dari Masalah

foto: news.metrotvnews.com
foto: news.metrotvnews.com

Mensyukuri kemajuan yang sudah didapat sejak kemerdekaan merupakan hal yang penting. Hal ini agar kita tidak terus melihat ke belakang dan menganggap segalanya dalam sudut pandang negatif,” ujar Anies Baswedan. Anies yang kini menjabat Rektor Universitas Paramadina, menilai kebanyakan masyarakat melihat pendidikan dari masalah yang ada. Tidak melihat dari kemajuannya.

Dia menyampaikan hal ini dalam diskusi publik bertajuk “Pendidikan dan Kebangsaan” yang digelar Jumat (9/ 11) di Aula Fisip Unsoed. “Di awal kemerdekaan, tantangan berita yang dihadapi adalah pendidikan. Betapa beratnya pemimpin saat itu untuk mendorong masyarakat yang nilai buta hurufnya hampir total. Pemimpin dahulu membangun kepercayaan diri masyarakat,” ujarnya.

Dalam acara yang dihadiri oleh guru-guru di Kabupaten Banyumas serta mahasiswa ini, dia mengatakan angka buta huruf pada saat awal kemerdekaan adalah 95 persen. Dan kini menjadi 8 persen. “Ini prestasi gerakan rakyat bukan saja prestasi beberapa pemerintahan,” terangnya.

Saat kemerdekaan, dia menyebutkan Indonesia memiliki 92 sekolah menengah atas (SMA). Jadi memang tepat kebutuhan awal daketika kemerdekaan adalah pendidikan. “Hal ini disadari oleh beberapa tokoh seperti Kihadjar Dewantara dan Mohammad Hatta. Bahwa pendidikan mempunyai peran penting bagi masa depan seseorang,” ujarnya.

Dia menceritakan periode tahun sejak kemerdekaan selama empat dekade terjadi perubahan dalam pendidikan di Indonesia. Di mana sebelumnya yang bisa kuliah bisa dikatakan anak dari seseorang yang telah mempunyai nama, berubah hingga kini banyak dari masayrakat yang dapat dikatakan biasa mampu menikmati bangku kuliah.

“Ini tidak terlepas dari pada saat itu mahasiswa dikerahkan untuk mengajar di berbagai daerah di Indonesia. Yang kemudian diadopsi menjadi program KKN. Hal ini membuat banyak masyarakat terentaskan yang kemudian bangku pendidikan tinggi tidak hanya diisi oleh mahasiswa dari anak siapa tapi juga dari yang bukan anak siapa-siapa. Pendidikan tinggi mengangkat nilai masyarakat menjadi lebih tinggi,” katanya.

Meski di tengah-tengah diskusisempat terjadi kejadian rubuhnya background spanduk diskusi namun hal ini tidak menyurutkan semangatnya. Tidak ada yang terluka karena rubuhnya ke belakang, panitia segera mengkondusifkan suasana. Kembali melanjutkan, menurut Anies memperlihatkan bahwa proses ini pendidikan pada umumnya adalah eskalator sosial ekonomi. “Siapa dididik apa kemarin, menentukan siapa duduk di mana esoknya,” ujarnya.

Tantangannya sekarang apakah eskalator ini masih berfungsi. Dia menjelaskan gap atau kesenjangan ada pada kaya dan miskin, bekerja dan tidak bekerja serta berpengetahuan dan tidak berpengetahuan. Ketiganya, menurut Anies dapat  dibereskan melalui pendidikan. “Republik ini telah berjanji untuk  melindungi, mencerdaskan dan mensejahterakan masyarakatnya. Republik ini tidak dirancang untuk melayani orang yang makmur tapi seluruh penduduk  Indonesia. Dengan pendidikan dapat digunakan sebagai instrumen rekayasa  sosial,” ujarnya. (Galih)

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsketsa.com, dimuat ulang di BU (beritaunsoed.com) agar tetap bisa diakses pembaca. Portal berita lpmsketsa.com resmi beralih ke beritaunsoed.com.

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Lestarikan Budaya Banyumas, Festival Lengger Bicara 2026 Gaet Ribuan Penari Muda

Penulis: Reny Diah Merriola Yayasan Lengger Bicara kembali sukses menggelar festival kebudayaan tahunan “Lengger Bicara 2026”…

Aliansi Banyumas Raya Gelar Aksi Mimbar Bebas, Desak Mundur Prabowo-Gibran

Penulis: Kania Nurma Gupita Massa yang tergabung dalam Aliansi Banyumas Raya menggelar aksi mimbar bebas di…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Melintasi Alam Baka, Menerima Diri di Tengah Kalutnya Dunia

Melintasi Alam Baka, Menerima Diri di Tengah Kalutnya Dunia

Barangkali Besok Akan Lebih Ramah

Barangkali Besok Akan Lebih Ramah

Sebuah Elegi di Sore Hari

Sebuah Elegi di Sore Hari

Tamasya Tempat Kakek

Tamasya Tempat Kakek

Di Antara Luka dan Kesempatan Baru

Di Antara Luka dan Kesempatan Baru

Duta Kampus Unsoed Ikut Kunker Wakil Presiden, Mengapa Mahasiswa Mempermasalahkannya?

Duta Kampus Unsoed Ikut Kunker Wakil Presiden, Mengapa Mahasiswa Mempermasalahkannya?