Oleh: Imam Cahyono

Judul Buku: A Nan Takana (Apa yang Teringat)
Penulis: H. Marthias Dusky Pandoe
Pengantar: Jakob Oetama
Cetakan: Pertama, Agustus 2001
Penerbit: Kompas
Tebal: xvi + 326 hlm
Harga: Rp. 45.000,-
Di kalangan masyarakat Sumatera Barat, Kompas dan Pandoe bukanlah nama yang asing di telinga. Akan tetapi di dunia jurnalis, sosok Marthias Dusky Pandoe memang belum begitu dikenal oleh khalayak.
Publik lebih akrab dengan sederetan nama-nama besar wartawan senior seperti Rosihan Anwar, Mochtar Lubis, Goenawan Mohamad dengan catatan pinggirnya, atau tragedi Udin yang kontroversial. Tapi bukan berarti Pandoe (panggilan akrabnya) bisa dipandang sebelah mata. Hadirnya buku ini setidaknya membuka mata kita semua bahwa masih banyak tokoh-tokoh yang tidak kita ketahui padahal kiprah dan sumbangsih yang diberikan tidak bisa diabaikan.
Minangkabau, tempat Pandoe dilahirkan juga menyimpan sederetan nama-nama pejuang besar seperti Bung Hatta, Sutan Sjahrir, Buya Hamka, Tan Malaka dan masih banyak tokoh besar lainnya. Ranah Minang memang memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki daerah lain seperti tradisi keagamaan yang kuat, budaya merantau dan ulet sekaligus tahan banting dalam berbagai situasi.
Demikian pula dengan Pandoe. Sebagaimana tradisi yang sudah turun temurun, la nekat merantau, minggat dari rumah pada usia belia. Karena bekal pendidikan dan pengalaman yang tidak memadai, la juga pernah menjadi gelandangan, terlunta-lunta. Namun itu tidak meruntuhkan semangatnya untuk tetap merantau, mencari pengalaman hidup terutama ke Jawa yang menjadi “impian” pada saat itu.
Pergulatan Pandoe dengan dunia pers juga berawal dari ketidaksengajaan. Ia tidak mendapatkan pendidikan jurnalistik secara formal. Waktu itu ia kebetulan bekerja di kantor pusat Masyumi yang dipimpin oleh Moh. Natsir sebagai agendaris, yang mencatat surat masuk dan keluar. Disitulah ia mulai mengenal tokoh-tokoh besar kala itu seperti Bung Karno, Bung Hatta, Dr. Soekiman Wirjosandjojo, Mr. Kasman Singodimedjo, Mr. Moh Roem, K.Η Wahab Hasbullah, K.H Bagoes Hadikoesoemo serta masih banyak lagi tokoh besar lainnya.
Sehubungan dengan aktivitas partai, Masyumi menerbitkan “Bulletin Masjumi” seminggu sekali yang terdiri dari beberapa halaman, dicetak dengan stensil untuk disebar ke seluruh wilayah dan cabang partai di Indonesia, anggota istimewa dan badan otonom partai. Surat-surat yang masuk dan aktivitas partai diolah menjadi berita. Disinilah Pandoe untuk pertama kalinya belajar sebagai reporter. Dengan bimbingan yang cermat dari M. Natsir, Thias panggilan akrab Pandoe mulai menekuni bidang tulis-menulis. Jadi, la belajar jurnalistik secara otodidak atau menurut istilah Pandoe “jurnalistik on the way.”
Karier wartawan juga ditekuninya mulai dari pembantu surat kabar “Keng Po“, wartawan Harian Abadi kemudian surat kabar Pemandangan sampai akhirnya ia mampu menerbitkan koran sendiri bersama teman-temannya, Aman Makmur. Karena waktu itu, masa pemerintahan Soekarno dikuasai PKI akhirnya koran Aman Makmur dibredel.
Setelah Aman Makmur diberangus otomatis la tidak punya pekerjaan. Oleh Tengku Sjahril, mantan bosnya di surat kabar Semesta, ia disarankan untuk menjadi koresponden Kompas, daripada menganggur. Berkat ketekunan dan kegigihannya, ia kemudian menjadi koresponden tetap sampai akhirnya menjadi koordinator wilayah Sumatera. Pandoe juga termasuk pemegang saham di Sriwijaya Post dan Serambi Indonesia serta pengelola surat kabar Nusa, Bali.
Tidak hanya itu saja, kiprah Pandoe dalam menegakkan kembali harkat dan martabat “urang awak” juga tidak bisa diremehkan. Pasca PRRI, warga Minang dirundung nestapa, disamping porak-porandanya keadaan fisik. Agresi pemerintah pusat (baca: Jakarta) ke Sumatera Barat meninggalkan luka sekaligus trauma mendalam di kalangan masyarakat setempat. Kemudian, Ia bersama Harun Zain getol menghimbau putra daerah yang merantau supaya pulang kampung mambangkik batang tarandam (menegakkan kehormatan) (hal 158).
Kemudian terciptalah beberapa kelompok barondoh pondoh pulang basamo untuk bersama-sama membangun kampung halaman. Berbagai upaya dilakukan mulai pembangunan fisik sampai mental. Dengan perjuangan yang tak kenal lelah, akhirnya Sumatera Barat mampu meraih predikat sebagai provinsi terbaik di luar Jawa.
Buku ini sangat menarik dan enak untuk dibaca. Dengan gaya khas, telling story, pembaca diajak untuk menelusuri liku-liku kehidupan pria yang lahir di Lawang, Kec. Matur Kab. Agam. Pembaca dijamin tidak akan bosan karena pembaca tidak akan digurui atau dikotbahi.
Dengan dialek Minang yang kental, pembaca akan disuguhi cerita, detail, serba rinci bukan saja kejadian peristiwanya, tetapi juga suasana kejiwaan dengan penuturan yang memikat. “There is a will, there is a way, dimana ada kemauan, di situ pasti ada jalan,” demikian pesan yang hendak disampaikan oleh penulis buku ini. Untuk menggapai impian harus ada kemauan dan usaha yang ekstra keras sekaligus pantang menyerah. Sukses tidak hanya diraih oleh mereka yang memiliki pendidikan formal yang tinggi. Tetapi dengan ketekunan, keseriusan serta keuletan, siapapun bisa meraih sukses.






