Oleh: Imam Cahyono

Ihwal hidup yang tak mudah, semua orang menyatakan permakluman. Adakalanya, manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sangat sulit, bahkan tak terelakkan. Pada saat yang sama, ia diwajibkan untuk memilih. Barangkali, hidup juga ditakdirkan untuk memilih. Kalaupun ada yang setengah-setengah memilih, ya bisa dikatakan setengah miring, setengah waras, alias edan.
Ihwal hidup yang harus memilih itulah yang dikeluhkan seorang sahabat saya. Anwar, bukan nama samaran-saya biasa memanggilnya Bapak karena la juga guru saya-sudah puluhan tahun malang melintang di sebuah dunia paguyuban bernama Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). mantan aktivis di masa mudanya-seangkatan 66-, pekerjaan itu sangat dinikmatinya. Klop. Idealisme yang membuncah dalam dadanya tersalurkan, menafasi setiap derap langkah.
Mereka yang aktif di LSM, umumnya memiliki kepedulian terhadap keadaan masyarakat, terutama kelompok yang kurang beruntung. Keterenyuhan para aktivis terhadap keadaan kelompok masyarakat semacam itu dimunculkan dalam bentuk usaha atau kegiatan menolong masyarakat yang terlupakan.
Dimulailah gerakan atau aktivitas organisasi “nirlaba” yang menyebut dirinya LSM untuk melakukan pemberdayaan sekaligus Advokasi terhadap masyarakat Karena memakai embel-embel masyarakat, maka eksistensi LSM tak lain dituntut berkiprah untuk kepentingan rakyat, yakni untuk memberdayakan rakyat, menggalang kekuatan rakyat, membela kepentingan rakyat dan memperjuangkan kedaulatan rakyat dengan berpegang pada nilai-nilai moral kerakyatan. Pokoknya yang serba rakyat dan merakyatlah.
LSM, demikian cerita Pak Anwar, adalah organisasi yang mempunyai pengurus tetapi tidak memiliki anggota (non partisipan). yang ada adalah mitra kerja. Beberapa sifat yang terdapat dalam LSM, lanjutnya, antara lain, bersifat nirlaba, yakni didirikan bukan untuk mencari keuntungan. Bukan perpanjangan tangan pemerintah, organisasi politik, bisnis tetapi Independen. Meningkatkan keswadayaan masyarakat dan memperhatikan pelestarian lingkungan alarm. Ciri yang lain, tidak birokratis dan komunikatif.
“Pada awal tahun 70-an kondisi LSM biasa saja, bahkan menyedihkan. Kalau mau jujur, sebenarnya bisa dikatakan sebagian besar miskin. Ongkos keringat yang didapat pun hanya cukup untuk sekedar makan sebulan. Yang jelas, memprihatinkan,” cerita Pak Anwar.
“Pegiatnya pun tak banyak. Tapi mereka semua kerja dengan semangat ’45. Sering lembur sampai pagi, melakukan advokasi tanpa henti.”
“LSM sekarang maju pesat,” lanjut Pak Anwar. “Banyak yang hidup betul-betul dari swadaya masyarakat dan anggotanya tetapi (lebih) banyak juga yang lahir dan hidup dengan bantuan “bidan” dan “susu” negara asing. Kerja-kerja yang dilakukan juga menakjubkan. Kalau dulu, paling LSM hanya mampu mendirikan usaha kecil-kecilan, sekarang LSM memiliki banyak industri besar, tak beda dengan perusahaan. Tawaran proyek dari pemerintah terus mengalir. Lembaga donor pun melimpahkan banyak hibah. Akibatnya, antar LSM terjadi persaingan, berlomba-lomba menunjukkan prestasi. Karena kekurangan tenaga, akhirnya merekrut banyak karyawan.”
“Sekarang aktivis LSM hidup makmur, tata tentrem kerta raharja. Kantor mewah. Banyak yang sudah pake mobil, HP, laptop, juga deposito. Dapat beli rumah, dapat beasiswa sekolah ke luar negeri dan masih banyak yang lain. Lebih enak lagi, kerjanya pun berkurang.”
“Logika kerja berubah. Karena sudah banyak karyawan, pucuk-pucuk pimpinan LSM beralih fungsi menjadi manajer, direktur, tinggal duduk manis di kantor menunggu laporan bawahan. Pola kerja pun tak lagi luwes tapi cenderung kaku, birokratis. Logika yang berlaku adalah karyawan dan bos.”
“Saya tidak tahu, apakah Saya ini masih pantas disebut aktivis? Tapi di kantor, banyak yang memanggil Pak Direktur, Bos?” ungkap Pak Anwar dengan nada sendu.
Tapi Pak Anwar seperti tak pernah bosan melontarkan pertanyaan kepada Saya-yang biasanya tidak Saya jawab karena Saya tidak mampu memberikan jawaban.Pertanyaan Pak Anwar terus mengalir: “Untuk apa dan siapa sebuah LSM bekerja dan mengabdi? Apakah seorang aktivis LSM sepenuhnya berkarya untuk menjaga keutuhan bangsa dan negaranya? Ataukah hanya mementingkan agama, suku bangsa, dan asal daerah tempat kelahirannya saja? Adakah sebuah LSM hanya perpanjangan tangan organisasi pemerintah, ormas, dan partai politik? Seberapa kuat independensi dan kebebasan sebuah LSM dalam berpikir, bertindak, dan mengawasi sebuah kesewenangan, ketidakadilan, dan menjamurnya praktik-praktik KKN? Mampukah sebuah LSM menjadi independen, menjadi bebas, dan mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia jika 90 persen harta, kekayaan dan biaya operasinya berasal dari bantuan negara asing?”
“Benarkah tokoh masyarakat, veteran LSM, tokoh pemerintah yang menjadi agen dana bantuan asing sepenuhnya berpihak pada kepentingan bangsa dan negaranya sendiri? Seberapa bebas dari independen mereka dalam berpikir, berkarya, dan bertindak untuk keutuhan negara kesatuan kita? Benarkah proses demokrasi berjalan dan dipraktekkan secara utuh pada sebuah LSM? Benarkah secara jujur LSM kemiskinan bekerja dan mengabdi untuk rakyat miskin yang tertindas atau hanya untuk menumpang hidup mewah atas nama kemiskinan dan rakyat miskin?”
Dari sekian banyak lontaran, hanya pertanyaan terakhir yang paling berkesan dalam diri saya. Itu pun karena saya dipaksa menjawab dan saya jawab ala kadarnya pula. “Ah, kalau itu sih bukan rahasia umum lagi, Pak. Seringkali keinginan otak tak mampu bersanding dan sejalan dengan tuntutan perut!” jawab saya spontan.
Ternyata jawaban saya tidak menjadikan Pak Anwar puas, malahan dengan mata memerah mencerca saya dengan pertanyaan yang lain. “Jadi kamu sepakat dengan jargon otak sosialis tapi perut kapitalis?!” tandasnya.
“Jujur Pak, saya baru sedikit membaca buku tentang sosialis dan kapitalis. Tapi, banyak teman Bapak yang otaknya sih memang sosialis, tapi perutnya kapitalis, anarkis dan tak kenal kompromis. Tapi, toh, sebagai manusia, itu kan wajar”, tiba-tiba saja, kata-kata itu meluncur dari mulut saya.
“Jadi saya termasuk otak sosialis, perut kapitalis?!” tegas Anwar
“Lho, itu kan urusan Bapak. Bapak sendiri yang lebih tahu. Jangan nanya Saya, dong. Tanya saja pada Tuhan, yang lebih tahu. Atau, tanya saja pada rumput yang bergoyang. Titik!!!,” saya balas menjawab.
Terus terang, saya emosi juga, kuping terasa panas diserang bermacam pertanyaan. Tapi saya juga menyesal. Karena saya tahu, dengan membentak-bentak itulah Pak Anwar mengajari murid-muridnya, termasuk saya. Berhari-hari, berminggu-minggu, saya coba mencerna ungkapan Pak Anwar.
Barangkali, Pak Anwar ingin mengingatkan saya agar terus belajar hidup, menyelaraskan hasrat otak dan hasrat perut. Saya yakin Pak Anwar tidak ingin otak saya sosialis habis (padahal saya baru baca satu, dua buku), sementara perut saya minta diisi yang banyak dan yang enak-enak. Saya yakin, Pak Anwar tidak ingin saya menjadi orang yang munafik, naif atau jadi bandit!.






