Oleh: Redaksi Skëtsa

Pemberdayaan? Menilik kata ini rasanya hal yang sangat mulia.

Bukankah mulia menjadikan yang tidak berdaya menjadi berdaya, punya kekuatan untuk berdiri mandiri? Lalu bagaimana apabila ada oknum-oknum yang kemudian merubahnya menjadi pemberdayaan?

Masyarakat, kumpulan manusia yang mempunyai beragam karakteristik memang sangat marketable. Kepentingan apapun, ketika diembel-embeli kata masyarakat atau rakyat niscaya banyak pihak yang bersimpatik kepadanya, besar kemungkinan pula kepentingan itu akan gol.

Pasca 1998 yang dikenal dengan era reformasi-meskipun kini kembali dipertanyakan nilai reformasi tersebut- banyak berdiri organisasi-organisasi yang bergerak dalam bidang pemberdayaan rakyat. Dengan mencantumkan tujuan-tujuan untuk kesejahteraan rakyat mereka mengharapkan adanya aliran dana yang bisa menghidupi jalannya organisasi dan tentunya menjamin kelangsungan hidup mereka sendiri.

Fenomena seperti di atas akan dengan mudah kita temukan pada negara-negara berkembang dimana kesejahteraan masih menjadi impian mayoritas rakyatnya. Sebagai dewa penolong pasti dapat dengan mudah pula kita tebak yaitu negara-negara maju yang notabene perekonomiannya sangat kuat. Banyak organisasi pemberi dana/donor (funding) yang memberikan bantuan untuk penggiatan organisasi ini. Tapi kita harus ingat ada ungkapan no lunch free, semua itu ada imbalannya Bung!

Demikian pula yang terjadi pada gerakan mahasiswa. Sebagai pembawa ikon perubahan, mahasiswa oleh beberapa orang dijadikan alat untuk mencapai tujuan mereka. Tak kentara memang gerakan mereka. Namun hal ini berakibat pada menipisnya kepercayaan rakyat terhadap gerakan mahasiswa.

Organisasi apapun yang membawa nama rakyat, baik itu elemen pemberdayaan ataupun gerakan mahasiswa, mengemban amanat yang tidak ringan. Sekali tergiur dengan kekuasaan maka bisa jadi rakyat yang dijual. Bagaimana memposisikan diri sekarang ini bergantung pada diri kita sendiri. Sesuai dengan tuntutan rakyat atau malah mengkhianati mereka untuk keuntungan pribadi.