Oleh: Adhi Iman

Pada awalnya film independen atau biasa disebut film indie, adalah perlawan movie maker terhadap industri film Hollywood yang telah ‘menjajah’ industri film di Amerika bahkan di dunia seperti Paramount, Pictures, columbia pictures, warner bros, yang merupakan penguasa industri film di Amerika. Kemudian muncul Miramax, yang memproduksi film dan mendistribusikan sendiri ke bioskop-bioskop di Amerika dan Eropa. Miramax sekarang sudah menjadi mainstream baru di industri film amerika dan eropa.

Kalau di Indonesia tentu lain karena belum ada industri besar bahkan sejak diserbu film-film Hollywood, represi pemerintahan orde baru, monopoli distribusi, dan seabrek halangan lain pada awal 90-an, merupakan awal ‘kematian’ industri film Indonesia. Jadi apa sih film berlabel independen itu? Yang abstrak, susah dimengerti, aneh-aneh idenya. Atau yang meres kocek sutradara sendiri, ngga‘ mikir laris, anti birokrasi, atau bahkan ngesek? Liz Manne, executive vice president dari sundance Channel, menyatakan bahwa lebih mudah mendefinisikan pornografi daripada film indie dan satu lagi meres utek, berkerut kening bagi yang menontonnya, tentu banyak sekali penafsiran bahkan bagi para movie maker sendiri.

Para sineas muda Indonesia yang berkarya dengan keterbatasan dana, tapi diselimuti ketegaran semangat tinggi, ternyata mampu membuat film yang menarik penonton dan berkualitas. Secara perlahan bermunculan sineas muda seperti Garin Nugroho, Mira Lesmana, Riri Riza, Nan T Achnas, Rizal Mantovani dan segelintir lainnya yang mampu menghadirkan tontonan alternatif di tengah gemerlap dominasi film impor.

Film independen sekarang telah menjadi genre tersendiri, bahkan terkesan latah semua mengaku dan rame-rame bikin film independen dan ini menyebabkan pengaburan makna independen itu sendiri. Dan para movie maker pun dengan idealismenya memproklamirkan film independen.

Persoalanya kita adalah sebenarnya apa sih yang disebut film independen dalam pemahaman masyarakat sekarang itu sendiri? Sementara dunia nyata, orang awam bertanya, haruskah film independen itu susah dimengerti orang? haruskah film yang disebut film independen itu susah dimengerti orang? Membuat orang yang menontonnya kebingungan? Sehingga, thesis bahwa makin sulit dimengerti suatu karya, makin bernilai pula sebagai pembenarannya. Yang berfikir normatif bilang: bukankah film sebuah media komunikasi, yang harus menimbulkan kesamaan makna. Kalau film tidak dapat dimengerti audiencenya apakah film itu bisa dibilang gagal?

Orang dari dunia nyata lainnya bergumam, jangan sampai film independen dijadikan alasan untuk membuat karya seadanya. Film jelek, secara tematis maupun teknis, memberi dirinya label independen agar bisa dimaafkan. Bahkan, parahnya independen hanyalah pembenaran atas sebuah karya. Idealisme hanyalah topeng bagi sebuah karya. Sebab, idealisme yang mana tidak menjadi jelas.

Lalu orang awam pun bertanya siapakah yang berhak memberi label idealis dan komersial? kalau ukurannya sangat kabur. Sambil bertanya-tanya dalam hati film Indonesia sekarang yang dia tidak tahu idealis apa tidak-yang tidak memberi pendidikan yang bermanfaat bagi penonton. Apalagi mencerahkan!