Oleh: Widodo Prasetyo

Kapal motor Rinjani baru saja merapat di dermaga PT Pelni Tanjung Perak, Surabaya.

Hari masih pagi. Masih tersimpan kuat dalam memoriku, beberapa temanku dalam rombongan sebanyak 8500 orang ini, tewas, manakala kapal kami di hantam ombak setinggi 9 meter, meluluhlantakkan kapal motor yang sarat penumpang, setelah bertolak dari Sabah, Malaysia Timur.

Meski sempoyongan, koyak disana-sini, beruntung kapal ini mampu mengatasi badai. Dalam penglihatanku, kapal ini nampak makin kecil saja dibanding jumlah penumpang yang ada, tiap sudut selalu saja ada kerumunan manusia yang berdesakan, entah ancaman apakah yang membuat mereka mau begitu berdesakan. Setahuku, hanya ancaman maut, yang membuat setiap makhluk bumi ini bermigrasi agar tetap survive. Berkerumun, berkelompok adalah cara naluri tiap makhluk yang tidak mampu bertahan sendirian. Lain lagi bagi makhluk yang punya nurani yang-konon-beradab menyebutnya dengan bermasyarakat guna menghadapi musuh yang mengancam nyawa.

Beruntung aku selamat, mungkin kekuatan bayi dalam perutku ini membuat aku begitu kuat, begitu perkasa. Atas izin-Nya dan hanya dengan kekuatan dua nyawalah aku sanggup menahan beban di badan. Kepasrahan membuat aku mampu bertahan, terlebih pasrah kepada Sang Khalik adalah wujud pasrah diatas segalanya, pasrah bukan dalam pemahaman defaitism, namun rasa pasrah dengan berusaha untuk sekedar hidup ditengah ancaman di depan mata.

Air laut menampar wajahku, entah berapa kali, tak kuingat lagi berapa yang terminum atau sengaja aku minum, dan yang terbesit dalam pikiranku, aku harus kuat sampai rumah. Saat seperti ini, hanya disanalah harapan masih tersisa nurani.

***

Pagi mulai merangkak, embun di atas dedaunan sisa semalam mulai mengering, irama kehidupan mulai nampak. Perlahan seorang wanita muda keluar dari bilik bambu. “Ah kesiangan lagi !,” tukasnya, seraya cepat-cepat menggelung rambut sesempatnya, lalu beranjak mengambil air ke belakang rumah. Menjerang air, itulah aktifitas pertama di awal kehidupannya hari ini selagi suaminya masih meringkuk dalam sarungnya yang bolong di sana sini.

“Sial gulanya habis, segelas kopi pahit cukuplah untuk mengawali kehidupan pagi,” batinnya, seraya membangunkan suaminya. Setelah itu, rutinitas roda pagi mulai mulai bergerak perlahan, namun pasti.

“Mas, jadi berangkat hari ini?,” tanyanya seraya duduk di kursi panjang, satu-satunya perabotan yang berharga di rumah itu.

Setelah menyeruput kopi pahit suaminya menukas, “semalam aku telah berunding dengan Lik Karjo, Malaysia satu-satunya harapan kita, nanti satu tahun aku di sana kamu aku bawa ke sana, hidup di sini begitu susah, tiap tahun ada ribuan angkatan kerja, kerja yang haram pun sulit diperoleh, apalagi yang halal meski berijazah sarjana sekalipun,” keluhnya.

Meski zaman berubah, reformasi, namun kejahatan makin menggila, kalau dulu ada penjahat kerah putih, yang modus operandinya dibawah meja. Sekarang, di era reformasi justru uang panas-yang bau neraka sekalipun- terang-terangan di taruh di atas meja. Tak ada beda mana halal haram, benar-salah. Dalam zaman dimana argumen ilmiah dilawan dengan sengatan emosi; dalil dibenturkan dengan dugaan; teori dicaplok dengan praktek, debat doktor digasak dengan debat kusir; pasal dekrit konsiliasi dikelahikan dengan ayat Tuhan; nada dongkol dihantam dagelan konyol, sulit mendengar kata-kata jujur, karena jujur ada tingkatannya, ada orang jujur dikatakan terlalu jujur yang linear dengan lugu artinya-tak lain- bodoh, melewatkan kesempatan.

***

Hari terus berputar, cakra manggilingan harus terjadi. Setahun kemudian aku boyongan ke Malaysia, diawali dengan selametan kenduren pindah rumah nasi tumpeng. ayam ingkung, cok bakal di sebar di jalan depan rumah setelah acara selesai, mulailah hidup baru, di tanah perantauan.

Siapa kira, aku ternyata krasan hidup di sini, di tengah perkebunan sawit, jauh dari bisingnya manusia, tak terasa dalam perut ini mulai ada yang menggeliat, aku mengandung. Inilah pengabdian seorang istri pada suami, rela ditindih, rela dititipi benih.

Seorang istri bagi suami adalah garwa, sigaraning nyawa, maka sudah selayaknya tugas istri adalah melayani suami, meski ada pameo yang mencemooh; awan dadi teklek bengi dadi lemek, namun aku rela. Tak ada kebahagiaan lain bagi seorang istri, selain melihat suaminya merasa nyaman di sampingnya dan percaya apa yang paling berharga darinya untuk dititipkan kepada istrinya.

Suatu pagi, suamiku pulang dari kota Serawak, “kamu harus pulang duluan nanti aku menyusul, polisi Malaysia melakukan razia di mana-mana.” Aku patuh saja, kepatuhan adalah implementasi rasa bekti terhadap suami. Aku pikir inilah yang terbaik bagiku.

“Apa salah kita, kenapa kita diusir, kita kerja halal disini, kenapa bukan penjahat yang menggelapkan uang triliunan yang dihukum,” tanyaku dalam hati, sambil berkemas-kemas dibantu suamiku, yang nampak makin ganteng saja aku libat, aku melihat sosok yang makin dewasa, makin matang, apakah setiap akan ada perpisahan kita selalu berlagak sentimentil?. Sambil menenteng dua tas besar dengan perut membuncit, aku diantar suamiku ke Tawau sebuah kota di Sabah, kota perbatasan dengan Indonesia, Nunukan, Kalimantan.

Tahulah aku sekarang, hari-hari tak mengenakkan ini karena aku dikatakan TKI ilegal, istilah apa itu aku tak tahu, yang aku ingat ketika berangkat ke Malaysia, setelah keluar masuk kantor kelurahan beberapa kali, bertemu Pak Carik yang genit, merabai pinggulku beberapa kali, aku dibuatkan sebuah buku berwarna hijau dengan logo Garuda Pancasila, logo yang pertama aku kenal ketika aku sekolah di TK dulu, selalu menghiasi tiap rumah penduduk desaku. Nah, buku itu katanya sudah habis masa berlakunya, maka menurut petugas imigratien Malaysia dikatakan ilegal. TKI ilegal, menurut UU imigrasi Malaysia yang baru, diancam hukuman cambuk rotan maksimal enam kali, serta denda maksimal 10 juta ringgit dan atau penjara lima tahun, ini aku tahu setelah aku baca di papan sebuah kantor saat mengantri tiket kapal di Tawau.

***

Di saat seperti inilah memoriku memutar kembali, seperti kaset. Masih kuingat, waktu itu suamiku masih menjadi calon suami, layaknya lelaki lain berusaha mencium putik kembang segar yang baru mekar. Saat itu usiaku baru remaja berumur belasan tahun, masih sekolah di SMKI kelas dua, pada suatu malam seusai aku di tanggap jadi sinden di rumah Pak Lurah yang hajatan sunatan anak lelakinya, adik ipar Pak Lurah mengantarku pulang, orangnya meski tidak begitu ganteng namun bertampang sopan.

Seperti biasanya, seorang lelaki harus berani mendekati perempuan idamannya. Sebagai perempuan, aku harus berperan pasif-karena itu yang diajarkan alam-setiap didekati harus pura-pura menjauh, namun manakala jauh harus berusaha memancing lawan jenis untuk mendekat. Peran yang sebenarnya ingusan itu harus dibuat sesempurna mungkin, karena hanya dengan begitu kita baru bisa menakar kesungguhan seorang lelaki terhadap lawan jenisnya: apakah ia hanya sekedar tuntutan libido yakni hanya dengan melihat dan membandingkan lekük tubuh ataukah lelaki yang berusaha menunjukkan jiwa prianya?

Pria adalah kumpulan jiwa yang rapuh, namun penuh tanggung jawab dan di saat pria jatuh cinta, bukanlah rasa yang datang dari mata lalu pergi juga dari mata, namun ia akan jatuh cinta pada jiwa bukan pada tubuh yang dipersepsikan mata dengan kata cantik.

Cantik dimata pria hanyalah sekedar sebuah konstruksi sosial yang berubah mengikuti waktu dan tempat, wajah yang mulus, tanpa kerut dan tetap kencang menjadi ‘standar’ kecantikan yang membuat orang tidak percaya diri ketika hukum alam menunjukkan kekuasaannya.

Hingga pada suatu ketika ia menulis surat dengan bait-bait yang menurutku begitu indah:

Untuk mendapat bibir yang menawan,

Ucapkan kata-kata kebaikan 

Untuk mendapat mata yang indah,

Carilah kebaikan pada diri setiap orang

Untuk mendapatkan badan yang langsing,

Berbagilah makanan dengan mereka yang kelaparan

Untuk mendapat tubuh yang indah

Berjalanlah dengan ilmu pengetahuan

Kecantikan wanita

Bukan terletak pada pakaian yang dikenakan

Bukan pada kehalusan wajahnya

Tetapi, pada matanya

Cara memandang dunia

Karena di matanya terletak gerbang menuju ke setiap hati manusia

Dimana cinta dapat berkembang!!!

Suatu malam, lelaki itu di depan mataku berucap, “Kegemilangan matahari terbit, keindahan bulan purnama, kedahsyatan topan badai ternyata tak mampu menandingi indahnya caramu bergerak, putaran kepalamu. Ku harap bisa menatapmu selamanya,”. Ternyata ia telah melamarku, ia telah mengungkapkan kesungguhan cintanya padaku.

“Kita baru bisa merasakan bahwa kasur itu empuk saat merasakan kerasnya tidur beralaskan mendong“, terlebih nggak ada romantika yang layak dikenang kalau hidup berjalan linear,” bantahku, saat lelaki di depan mata telah menjadi pria sempurna pada malam pertama, mengungkapkan kegundahan di hatinya.

Ku tinggal dunia sinden menuruti permintaan suamiku, saat itu sudah sarjana, namun kerja di zaman-kata suamiku- transisi memang tidak mudah, kerja serabutan asal halal dijalaninya hingga suatu malam ia memutuskan untuk pergi ke Malaysia.

***

Berani jatuh cinta berarti berani mengambil resiko untuk terluka dan menderita, maka dengan segenap rasa yang kumiliki akupun berusaha menempuh perjalanan ini sebagai perwujudan kecintaan ku pada suami, sebagai pengejawantahan konsekuensi dari apa yang namanya jatuh cinta.

Setelah kapal merapat, aku segera turun, berdesakan dengan penumpang lainnya dengan perut yang makin sakit saja rasanya, ada yang mengiris-iris, mengaduk-aduk dan menendang-nendang.

Tak kupedulikan lagi teriakan kuli kapal yang mulai menyeret tas di pundak, calo yang mulai memainkan perannya: merayu penumpang untuk membuat paspor baru atau yang merayu mengantar sampai desa tujuan. Aku tak kuat menahan beban ini, aku jatuh sesampainya di daratan, aku tak sadar diri atas apa yang terjadi, yang kuingat hanyalah kata-kata suamiku melepas kepergianku di Sabah;

Saat kau jatuh cinta, itu hanya kegilaan sesaat.

Muncul seperti gempa dan setelah itu, harus buat keputusan

Karena itulah Cinta

Cinta bukan kewenangan dan nafsu

Cinta adalah api yang tersisa, saat api cinta telah padam!

Aku tak tahu lagi, apakah bayi di perut ini selamat, apakah ada api yang tersisa pada tubuhku?.

Aku berharap kelak apabila bayi ini lahir- ingin ku ucapkan pada suamiku: Inilah sisa api itu!

Epilog:

Di saat yang sama, di keramaian ‘pasar Senayan, ada perhelatan oleh ratusan orang yang menghabiskan dana negara milyaran rupiah, yang membuat ribuan wartawan dari sekitar 300 media sibuk, berdengung terus-menerus, mereka-konon-adalah wakil-wakil rakyat dengan embel-embel ‘dewan perwakilan’ atau ‘majelis permusyawaratan’ bertemu, saling sapa dengan satu sama lain, ngobrol, berdebat sampai mulut membuih ‘entah bicara apa”.

Apakah mereka merasa derita TKI?. 

Apakah mereka merasa bara api yang mulai padam?

Glosarium

  1. Cakra Manggilingan : Sebuah falsafah jawa: saat kita dibawah pasti di saat lain diatas, karena orang jawa percaya akan adanya ketentuan dari Tuhannya dengan menyebut wolak waliking jaman.
  2. Boyongan : Pindahan, biasanya pindah rumah dengan segala isinya.
  3. Selametan : Selamatan, suatu upacara doa agar direstui Tuhan dan selamat
  4. Ayam ingkung, cok bakal : Merupakan sesaji yang pokok dalam upacara kenduren yang menyimbolkan keinginan-keinginan tertentu.
  5. Krasan : betah
  6. Garwa, sigaraning nyawa : Seorang istri adalah belahan jiwa.
  7. Awan dadi teklek bengi dadi lemek : Arti harfiahnya: siang jadi alas kaki, malam jadi alas tidur.
  8. Bekti : Patuh, taat.
  9. Pak Carik : Juru tulis atau Sekretaris desa.
  10. Di tanggap : Diminta tampil dalam suatu pertunjukan dan dibayar.
  11. Sinden : Penyanyi tembang jawa atau di tempat tertentu sebagai penari/lengger.
  12. Mendong : Alas tikar dari daun.
  13. Kuli : Tukang angkut barang