Oleh: Ratna

Semaraknya wacana perfilman saat ini tidak hanya dimiliki oleh Jakarta, domisili production house maupun artis-artis kalangan atas saja. Setidaknya, ambisi untuk bersaing sudah mulai ditunjukkan oleh sineas-sineas muda di berbagai wilayah Indonesia seperti Yogyakarta. Purwokerto pun telah diperhitungkan sebagai sebuah sentrum sinema, meskipun masih berada pada tingkatan wacana. Buktinya, sampai saat ini sudah ada beberapa karya film yang telah diciptakan sineas-sineas muda Purwokerto.

Sulit nggak ya berkarya dalam sinema atau yang biasa dikenal dengan dunia film itu?. Dimas Jayasrana (22), peminat film yang sudah menyutradarai dua karya aslinya, Kepada Yang Terhormat Titik Dua di tahun 2001 lalu dan Surat Pukul 00.00 di tahun 2002 kemarin, menegaskan tidak ada proses yang baku dalam wacana perfilman itu. Hanya saja kendalanya lebih pada permasalahan manajerial. Ungkapan ini pun diakui Edy Kustoro dari komunitas Film Independen Lés Moturé.

Secara global, proses penciptaan karya film itu dapat dibagi ke dalam tiga tahap. Yakni, pra produksi, proses produksi dan editing. Pra produksi maksudnya sebelum membuat film itu harus ada ide, naskah, time schedule, pemain, kru sekaligus job description dan yang paling utama adalah faktor dana. Namun, terkadang tetap saja ada kendalanya karena memang segalanya serba terbatas. Misalnya, keterbatasan SDM baik dari sisi jumlah maupun kualitasnya. Akibatnya, tidak jarang ditemukan sutradara yang harus merangkap menjadi seksi keamanan dan harus menertibkan penonton liar sewaktu shooting.

“Penggarapan film Surat Pukul 00.00 saja sudah menghabiskan separuh dananya hanya untuk social cost guna melakukan pendekatan pada warga lokasi shooting. Baik di Kampung Dayak sendiri, kampung “pinggiran” di Pasar Sri Rahayu, maupun di belakang terminal bus Purwokerto,” terang Dimas kepada Sketsa.

Kedua, proses produksi. Proses ini dapat dimulai dari teknik pengambilan gambar baik menggunakan kamera ataupun handycam jika memang masih terbentur pada faktor pendanaan. Bila menggunakan kamera, maka yang harus dipahami terlebih dahulu adalah seluk-beluk pita. Karena harus diakui, pita itu memang jodohnya kamera yang tersedia dalam berbagai bentuk dan varian. Biasanya, pita itu terbagi dalam dua jenis yakni, pita analog dan digital. Pita analog itu kelebihannya dari sisi pendanaan yang relatif lebih murah jika dibandingkan dengan pita digital. Tetapi, pita digital pun tidak kalah saing dengan fasilitas komplit yang dimilikinya. Kelebihannya, dengan menggunakan pita digital seorang produser akan lebih mudah dalam mengedit karya filmnya. Bahkan, ada pita digital yang bisa langsung diedit di kamera. Sementara itu, dari segi fisik, pita itu juga bermacam-macam ukurannya. Ada yang lebarnya 8 millimeter, ada yang 16 milimeter dan ada pula yang lebarnya 35 millimeter.

Selain itu semua, dalam proses produksi ini, seorang produser juga harus mempertimbangkan efek suara dan pencahayaan (lighting) guna menambah kesempurnaan film hasil karyanya. Untuk pengambilan suara sendiri, dapat dibagi ke dalam dua cara, yakni langsung (direct) dan tak langsung (undirect) dengan menggunakan bantuan microphone. Pengambilan suara secara langsung dapat menggunakan boomer. Dengan gantarnya yang panjang, boomer dapat mengambil suara tanpa terlihat di layar. Sedangkan, pengambilan suara secara tidak langsung dapat dilakukan di studio atau yang biasa disebut dengan dubbing.

Untuk pencahayaan sendiri, dapat disesuaikan dengan kondisi dan nuansa tertentu yang diinginkan dalam karya film yang akan dihasilkan. Semisal, sosok pocong dalam sinetron Jadi Pocong tampak seram karena sudah diberi cahaya merah. Padahal, aslinya sosok pocong tersebut tidak lebih dari seorang aktris cantik yang dibedaki hingga seputih kemeja anak SD.

Sebaik apapun proses shooting, ia harus dapat di-preview dengan monitor. Jika tidak ada monitor khusus sekaliber movie making, maka dapat menggunakan televisi. Tetapi ingat, televisi itu mempunyai kelemahan pada resolusi dan refresh rate yang rata-rata masih rendah.

Terakhir, adalah proses editing yang dilakukan oleh seorang editor yang memang sudah berpengalaman. Editor ini bisa dikatakan sebagai second director (sutradara kedua). Proses editing tersebut dapat dibagi lagi menjadi dua jenis, yakni on-line editing dan off-line editing. Bukan hanya gambar, suara juga diedit. Hal ini mungkin karena pita ibarat kue lapis, ada jalur video, ada juga jalur au-dio. Bisa pula ditambahkan text seperti title (judul), subtitle (tulisan terjemahan), credit (daftar kru di bagian akhir).

On-line editing biasanya menggunakan bantuan komputer. Melalui pita kamera, gambar di-capture oleh komputer dengan interface video capture card. Gambar hasil capture berupa video frame dalam format DAT. Video frame diubah menjadi digital frame dalam format AVI yang kemudian diedit dengan software semacam Adobe Premiere dan Avid. Yang harus diketahui, dalam proses editing ini, prosesor harus bekerja ekstra keras dan menghabiskan banyak ruang hardisk serta memori. Selanjutnya, kinerja akan terlihat bagus bila menggunakan hardware pendukung seperti video card. Namun, membutuhkan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, edit-ing hendaknya menggunakan komputer berkelas, hi-end istilahnya.
Sedangkan, off-lineediting salah satu caranya adalah dengan menggunakan kamera, tape, VHS, dan televisi yang dihubung-hubungkan. Kamera sebagai sumber gambar, tape sebagai sumber suara, VHS sebagai media edit dan rekam, dan televisi sebagai monitor.