Oleh: Redaksi Skëtsa

Sejarah perjuangan merupakan salah satu bagian terpenting dalam kehidupan sebuah bangsa. Bagaimana tidak? Melalui sejarah ini semua bangsa akan dapat melihat dan mengambil hikmah yang terpendam di dalam catatan sejarah sebuah bangsa. Sehingga, apa yang namanya penjajahan, peperangan, dan berbagai bentuk pelanggaran kemanusiaan tidak akan pernah dapat dibenarkan di muka bumi ini. Dengan demikian, bagaimanakah sebenarnya peran kaum muda Indonesia membentuk sejarahnya sendiri dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsanya?

Konsepsi generasi dipakai oleh bangsa Indonesia dalam setiap periode sejarahnya. Di sini, terjadi peralihan generasi yaitu generasi muda menggantikan generasi tua. Masing-masing generasi mempunyai visi dan cirinya sendiri. Tetapi, antar generasi tersebut selalu terkait satu sama lain. Bisa dikatakan bahwa suatu generasi yang terlebih dahulu ada, nantinya akan melahirkan suatu generasi baru, sehingga jika kita ingin membicarakan suatu generasi, maka generasi sebelumnya pun harus kita bicarakan dan kita ketahui terlebih dahulu.

Generasi muda seringkali dihubungkan dengan usia muda. Mereka adalah pelopor dari setiap perubahan atau revolusi yang terjadi dalam negaranya. Taruhlah pada angkatan 1908 sampai sekitar tahun 1928, ketika pribumi masih berada dalam kekuasaan kolonial. Meskipun, pribumi menentang penjajah dan berusaha melakukan perlawanan tapi mereka masih bersifat kedaerahan sehingga usahanya menjadi kurang optimal. Disinilah para pemuda muncul dan menunjukan peranannya. Dengan dimotori oleh beberapa tokoh seperti dr. Soetomo, para pemuda itu mempelopori suatu paham persatuan bangsa. Mereka menggalang dan menyatukan pemuda setanah air demi mewujudkan cita-cita bersama atau menyelaraskan arah perjuangan yaitu membebaskan diri dari kolonialisme.

Para pemuda tersebut melakukan berbagai gerakan, diantaranya dengan mendirikan organisasi yang bersifat nasionalis dan moderat di tahun 1908. Organisasi ini diberi nama Budi Utomo sesuai dengan nama pendirinya yaitu dr. Soetomo. Meskipun akhirnya Budi Utomo membubarkan diri (pada waktu itu. dilarang oleh Jepang) namun organisasi ini tetap menjadi titik awal perjuangan para pemuda Indonesia. Kemudian, di tahun 1928 para pemuda kembali menunjukan kiprahnya dengan menggelar Sumpah Pemuda sebagai wujud persatuan dan kesatuan dengan menggalang pemuda-pemuda seluruh Indonesia.

Setelah itu, muncullah angkatan 1945 yaitu angkatan kemerdekaan sebagai penerus dari angkatan 1908 dan 1928. Hanya saja, angkatan 45 ini lebih menampakkan suatu kemajuan karena mereka telah berhasil memproklamirkan negara Indonesia sebagai negara dan bangsa yang merdeka tepatnya pada tanggal 17 agustus 1945. Meskipun dunia internasional baru mengakui kemerdekaan Indonesia ini sekitar tahun 1949, tapi angkatan ini telah berhasil dalam usahanya mewujudkan cita-cita bangsa yaitu kemerdekaan Indonesia. Adapun tokoh-tokoh yang terlibat dalam angkatan 45 ini adalah Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Chairul saleh, Moh Yamin dll.

Akan tetapi, kemerdekaan Indonesia bukanlah akhir dari perjuangan. Beban yang harus ditanggung oleh bangsa Indonesia semakin berat. Mulai dari penataan sosial masyarakat yang kacau, membuat sistem pemerintahan baru, mencari dukungan dari dunia internasional, pemulihan perekonomian negara dan lainnya. Dan tentu saja dibutuhkan juga seorang presiden dan wakil presiden untuk memimpin bangsa ini, sehingga dipilihlah Soekarno-Hatta untuk menduduki posisi tersebut. Namun pemilihan Soekarno-Hatta sebagai presiden dan wapres menimbulkan pro dan kontra.

Mereka dari angkatan 45, masing-masing ingin masuk ke dalam lingkaran kekuasaan politik di pemerintahan. Sebagian dari mereka yang tidak berhasil masuk ke dalam lingkaran kekuasaan, mengambil sikap oposisi terhadap pemerintahan Soekarno. Mereka mencela orientasi serta keabsahan rezim Soekarno. Penolakan mereka terhadap rejim ini semakin kuat ketika Soekarno mengeluarkan dekrit presiden 1959, pemberlakuan demokrasi terpimpin dan juga memproklamirkan dirinya sebagai presiden seumur hidup. Disinilah terlihat semakin memudarnya kesetiakawanan angkatan 45. 

Mereka yang mengambil sikap oposisi terhadap rezim Soekarno (yang dianggap dekat dengan komunis), diantaranya adalah HMI (Himpunan Mahasiswa Indonesia) yang pada waktu itu berafiliasi dengan Masyumi, Gerakan Mahasiswa Sosialis (Gemsos) yang dekat dengan Partai Sosialis Indonesia (PSI). Masyumi dan PSI melakukan perlawanan bawah tanah terhadap Soekarno di tahun 1960-1965.

Mereka mengkritik keterbelakangan dan ketidakrasionalan sikap politik Soekarno yang amat bertolak belakang dengan gagasan -gagasan modern para oposisi yang dibuat menurut model dunia Barat. Saat itu PSI yang berdiri tahun 1940-1950 an mendapat simpati dan dukungan dari sejumlah perwira AD yang anti Soekarno.

Gerakan anti Soekarno ini berlanjut hingga melahirkan suatu angkatan baru, yaitu angkatan 1966. Angkatan ini mempunyai ruang gerak terbesarnya di Jakarta dan Bandung. Misi angkatan 66 ini adalah pembebasan dari orde lama yang dipimpin Soekarno yang dianggap sudah tidak relevan lagi. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh angkatan 66 dimotori oleh KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). KAMI adalah organisasi kemahasiswaan yang didukung oleh kekuatan militer (yang masuk ke universitas-universitas pada waktu itu).

Sekitar tahun 1965, jumlah mahasiswa Indonesia meledak. Hal Ini membuat partai-partai politik tertarik dan mulai melirik pada mahasiswa. Mereka ingin menjadikan kuat. Untuk itu, sebagai langkah mahasiswa sebagai basis massa yang pertama menarik kekuatan mahasiswa, mereka melibatkan mahasiswa dalam dialog-dialog tentang politik. Kemudian, terbentuklah kelompok-kelompok studi yang nantinya akan berkembang menjadi organisasi-organisasi kemahasiswaan. 

Dari diskusi-diskusi tadi akan terlihat adanya perbedaan ideologi diantara mahasiswa-mahasiswa tersebut. Mahasiswa yang mempunyai kesamaan ideologi dengan partai-partai politik tertentu, akan digalang atau direkrut menjadi simpatisan mereka untuk kemudian bergabung dan membentuk organisasi kemahasiswaan. Salah satu yang terkenal dan dianggap paling berpengaruh adalah Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). 

KAMI membagi wilayah geraknya menjadi dua bagian, yaitu organisasi yang bersifat keagamaan yang terdiri dari Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI), Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Sedangkan Sekretariat Bersama Organisasi-organisasi Mahasiswa Lokal (SOMAL), Pelopor Mahasiswa Sosialis Indonesia (PERMASI), Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia (IPMI) masuk kedalam (GEMSOS) dan Ikatan Pers Mahasiswa kelompok organisasi non keagamaan. KAMI mempunyai pengaruh terbesar di Jakarta dan Bandung. Hanya saja di Jakarta, pembentukan KAMI lebih cepat dibanding dengan Bandung.

Angkatan 66 Bandung melakukan aksi pertama mereka dengan perlawanan terhadap G30S/PKI. Mereka melakukan demonstrasi menuntut pembubaran PKI dan menggantung Aidit yang dianggap sebagai gembong PKI. Aktivis-aktivis Bandung pada saat itu diantaranya adalah Alex Rumondor, Rahman Tolleng, Soegeng Sarjadi dll. Menurut Rahman Tolleng gerakan mahasiswa anti komunis di Bandung sudah kuat hanya saja mereka belum mempunyai wadah yang resmi atau suatu bingkai organisasi. Maka pada akhir Oktober 1966, bingkai organisasi itu terbentuk dengan berdirinya KAMI Bandung, (Francois Raillon: 1989, Politik dan ideologi Mahasiswa Indonesia). KAMI Bandung beranggotakan organisasi-organisasi mahasiswa lokal, seperti PMB, CSB. IMABA, yang tergabung dalam SOMAL dan DAMAS serta cabang-cabang organisasi nasional, seperti PMKRI. HMI, GMKI dan dewan-dewan mahasiswa dari sejumlah universitas di Bandung seperti ITB, UNPAD, dan UNPAR, KAMI Bandung mempunyai biro politik (satu hal yang tidak dimiliki oleh KAMI Jakarta), tujuannya adalah memungkinkan bergabungnya para individu yang dinilai potensial dalam menetapkan strategi dan taktik perjuangan.

Begitulah arah perjuangan angkatan 66 yang pada intinya adalah pembebasan diri dari orde lama dan pemberontakan terhadap komunis Kemudian angkatan 66 ini menghantarkan kita pada suatu era baru yang dikomandoi oleh Soeharto. Era ini diberi nama Orde Baru yang bertumpu pada paham Pancasila. Soeharto yang berbasis militer itu dianggap telah berhasil menenangkan suasana atas kekacauan yang terjadi dalam kasus Tritura (Tiga Tuntutan Rakyati dangan Supersemar yang dibawanya. Maka dari itu, Soeharto memperoleh legitimasi atas kekuasaannya pada era orde baru yang berlangsung cukup tama.

Di era orde baru, gerakan mahasiswa bersifat massif. Hal ini dapat dimaklumi karena di era itu hampir semua saluran ekspresi rakyat-partai politik, organisasi massa, organisasi kemahasiswaan, front nasional, pers dil-sangat dihambat ruang geraknya bahkan hampir tidak memperoleh ruang geraknya sama sekali.

Seperti hendak mengulang proses penurunan Soeharto dari singgasana kepresidenan, aksi demonstrasi menentang presiden Gus Dur mulai marak. Ratusan mahasiswa kerap menyambangi gedung wakil rakyat di Senayan sejak tuduhan penyimpangan penggunaan dana Yanatera Bulog sebesar Rp 35 milyar dan US$ 2 juta sumbanganSultan Brunei. Bedanya, aksi-aksi demonstrasi mereka tak mampu membawa ribuan massa untuk menduduki gedung DPR/MPR, seperti menjelang kejatuhan Soeharto, Mei 1998 lampau. Belakangan, mereka malah dituduh telah membawa kepentingan kelompok tertentu, terutama lawan-lawan politik Gus Dur.

Beberapa aktivis mahasiswa lantas mencoba mendudukkan soal perbedaan garis perjuangan sebagai dinamika gerakan. Kendati demikian, sebagian lainnya menyesalkan pilihan garis perjuangan aktivis kampus yang melibatkan diri pada pertentangan politik. Pokoknya, Lawan Soeharto! Sesuai hukum alam, pasang surut gerakan mahasiswa sangat ditentukan oleh kualitas represi penguasa atau alat-alat kekuasaan seperti militer. 

Berbeda dengan peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974 (Malari) yang penuh intrik demi pertarungan kepentingan, gerakan massa terbesar justru muncul 22 tahun kemudian, saat kantor DPP PDI diserbu pasukan gelap, 27 Juli 1996. Peristiwa berdarah pada dini hari itu akhirnya menjadi “faktor pemersatu” sejumlah organisasi aktivis yang bergerak di bawah tanah demi menghindari represi dan resiko politik lainnya. Presiden Soeharto, yang memanipulasi institusi militer menjadi pengawal kekuasaannya, adalah tokoh sentral alias sasaran inti gerakan prodemokrasi. Rezim yang menempatkan stabilitas keamanan sebagai “agama” negara terus digerogoti legitimasinya oleh banyak aktivis dengan beragam latar belakang. Sempat muncul Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) yang merupakan kelompok yang paling rapi dengan jaringan luas dalam melakukan aksı penentangan terhadap rezim Soeharto.

Sebagai elemen gerakan moral untuk mendorong proses demokratisasi, organisasi ini kerap beraliansi dengan organisasi organisasi sejenis atau lembaga lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di sektor advokasi hukum, maupun perburuhan.

Sebelumnya, elemen penting gerakan mahasiswa adalah kelompok pers mahasiswa. Kelompok ini kerap menuangkan gagasan-gagasan kritis atas arah kebijakan pemerintahan atau melakukan investigasi investigasi kasus kasus publik, seperti kasus pembangunan Waduk Kedungombo, sejak akhir 1980-an. Pers mahasiswa saat itu, bisa dibilang menjadi alat propaganda efektif melawan ketidakadilan penguasa

Simak saja nasib majalah Balairung (UGM Yogyakarta), Arena (IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), atau Hayam Wuruk (Fakultas Sastra Undip, Semarang) yang kerap terancam berhenti terbit akibat tekanan birokrasi kampus yang menilai mahasiswa terlalu nekad menyajikan informasi-informasi sensitif, yang hampir mustahil bisa lolos begitu saja dari suntingan redaksi media massa (umum) yang dikontrol ketat oleh kekuasaan.

Di Jakarta, aktivis pers mahasiswa pula yang kemudian diklaim sebagai penyebar “virus” gerakan prodemokrasi. Kelompok int memiliki agenda utama menumbangkan Soeharto dan menumpas habis sisa-sisa kekuatan Orde Baru di pemerintahan dan lembaga-lembaga publik lainnya, termauk parlemen.

Dalam dan Luar Kampus

Pada akhir 1993, embrio gerakan mahasiswa di Jakarta lahir dengan berbasis pada aktivis senat mahasiswa sejumlah perguruan tinggi, terutama perguruan swasta. Di kemudian hari, lahirlah kesatuan aksi bernama Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta (FKSMJ) yang tak bisa dilepaskan dari keberadaan Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Jakarta (FKPMJ).

Namun, FKSMJ tidak begitu saja lahir tanpa sejarah dan keterkaitan dengan semangat serupa yang dialami aktivis-aktivis mahasiswa di luar ibukota. Pada tahun itu pula, sempat terbentuk Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Indonesia (FKSMI) dalam pertemuan aktivis mahasiswa dari berbagai daerah di Yogyakarta.

FKSMI yang berbasis utama pada perguruan tinggi swasta itu seolah melengkapi perjuangan mahasiswa dan pemuda yang ada sebelumnya dalam melawan Soeharto bersama Golkar dan militer. SMID dan kemudian Partai Rakyat Demokratik (PRD) adalah dua organisasi mahasiswa ekstra kampus yang memiliki basis massa militan, di mana sejumlah aktivisnya sering keluar masuk kantor polisi atau Kodim lantaran tegas-tegas menentang Soeharto, Golkar, dan militer.

Beberapa prestasi besar kaum pergerakan di Jakarta adalah aksi besar-besaran berupa penolakan atas pengesahan RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya (PKB) yang dicurigai membawa misi TNI untuk kembali berpolitik dan menumpas kaum prodemokrasi. Pada aksi penolakan Itu (kemudian dikenal peristiwa. Semanggi II), sejumlah mahasiswa tewas akibat amuk militer yang menembak secara membabi buta.

Di luar itu, mereka pernah memaksa empat tokoh politik bertemu di kediaman Abdurrahman Wahid di Jl. Warung Silah, Ciganjur, Jakarta. Amien Rais, Megawati, Abdurrahman Wahid, dan Sultan Hamengkubuwono X berhasil dipertemukan hingga kemudian acara itu dikenal sebagai Kelompok Ciganjur.

Menurut seorang penuturan seorang aktivis FKSMJ, keberadaan keempat tokoh itu hanya diperlukan sebagai “alat” untuk melawan Habibie yang saat itu naik menjadi presiden menggantikan Soeharto. Bagi mahasiswa, selain proses pergantian presiden tidak legitimated, Habibie setali tiga uang dengan Soeharto, sang guru.

Cair Tapi Militan

Kalau kerja sama lembaga intra kampus menghasilkan FKSMJ, maka di luar lembaga formal, di Jakarta lahirlah kelompok-kelompok aksi lintas kampus, yakni Forum Kota (Forkot). Inilah kelompok yang nyaris melegenda, karena konsistensinya dalam menghadapi Soeharto dan kroni-kroninya.

Forkot adalah kelompok cair antar kampus di Jakarta. Meski mereka cair, namun militansi mereka sungguh luar biasa. Inilah kelompok yang secara serius mempelajari bagaimana teknik dan strategi berdemonstrasi, dalam situasi damai maupun keras. Bahkan mereka memiliki kegiatan kursus demonstrasi. Kelompok ini pula yang mengadopsi strategi dan teknik demonstrasi mahasiswa Korea dalam menentang rezim.

Oleh karena itu, perlawanan mereka terhadap aparat keamanan yang menjaganya tak hanya dilakukan dengan dorong-dorongan, tetapi juga adu pentungan dan lemparan bom molotov. Begitu Soeharto jatuh, mereka terus menggoyang Habibie yang dinilai sebagai muridnya Soeharto. Bahkan pada zaman Gus Dur, meski intensitas mengadili Soeharto dan keluarga Cendana turun drastis, namun isu itu tetap menjadi pekerjaan utama. Pokoknya, selama Soeharto dan kroni-kroninya belum diadili, mereka akan terus bergerak. Bila pengadilan resmi tak mampu menyelesaikannya, tak ada pilihan lain kecuali mendirikan mahkamah

rakyat. Belakangan, karena sifatnya yang cair, maka Forkot kemudian mengalami perkembangan atau perpecahan, sehingga memunculkan Forbes, Famred dan Jarkot. Meskipun di antara mereka sering terjadi perbedaan-perbedaan, namun dalam satu hal mereka sepakat: “Adili Soeharto dan kroni-kroninya. Bila perlu lewat pengadilan rakyat.”

Sepenggal kisah perjalanan kaum muda ini barangkali bisa diambil hikmahnya. Bagaimana dengan kaum muda sekarang?

Adhi Iman (Sayekti)