Oleh: Ujiani
Laki-laki sering diidentikkan dengan kepemimpinan, bekerja di luar rumah, tidak bertugas mengurus rumah tangga, kuat, dan tegas. Namun, apakah benar sifat-sifat tersebut hanya melekat pada laki-laki? Apakah perempuan akan dipandang sebelah mata apabila memiliki sifat dan sikap tersebut?
Masyarakat kerap bereaksi negatif ketika melihat perempuan dengan otot terbentuk atau bermain sepak bola, komentar seperti, “perempuan kok berotot? Perempuan kok main sepak bola? Harusnya belajar masak aja di rumah, dandan, pakai rok, minimal mempercantik diri,” sering muncul. Hal-hal seperti itu seolah menjadi standar bagaimana perempuan seharusnya berperilaku.
Masyarakat lupa bahwa perempuan adalah manusia yang berhak memilih caranya menjalani hidup, menekuni hobi, dan bebas dalam menentukan pilihan yang terbaik. Setiap perempuan berhak mengembangkan potensinya tanpa dibatasi oleh alasan jenis kelamin dan stigma masyarakat mengenai seorang perempuan.
Budaya patriarki yang masih mengakar dalam masyarakat seringkali menghalangi perempuan untuk berkembang, bahkan di lingkup terkecil sekalipun yakni keluarga. Patriarki ini seolah-olah melarang perempuan untuk lebih bersinar dan lebih tangguh daripada laki-laki, mereka dituntut untuk tampil lemah dan butuh perlindungan dari seorang laki-laki. Makhluk yang harus menunggu keputusan dari laki-laki, harus mampu melayani laki-laki, dan menyenangkan laki-laki. Perempuan dipaksa oleh stigma masyarakat untuk menjadi penurut. Masyarakat perlu memahami bahwa perempuan bukan objek untuk memenuhi stigma yang melemahkan mereka.
Namun, sejarah telah membuktikan bahwa perempuan mampu sama hebatnya dengan laki-laki. Pahlawan nasional seperti, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, R.A. Kartini, Martha Christina Tiahahu, Cut Meutia, Nyi Ageng Serang, dan masih banyak lagi. Mereka mendapat gelar pahlawan nasional karena telah berani berkorban nyawa, berani mengambil keputusan cerdas, serta mendirikan sekolah dan melawan budaya yang mengekang perempuan.
Selain tokoh-tokoh nasional dari masa lalu, perempuan masa kini juga terus menunjukkan bahwa mereka mampu bersinar. Contohnya adalah Najwa Shihab, Susi Pudjiastuti, Sri Mulyani, dan tokoh perempuan berpengaruh yang hidup di zaman ini yang masing-masing telah menunjukkan kemampuannya di bidang pers dan politik. Najwa Shihab sebagai seorang jurnalis berpengaruh dengan program televisi paling terkenal yakni “Mata Najwa” yang telah berhasil mewawancarai seluruh tokoh politik di Indonesia. Susi Pudjiastuti mantan menteri perikanan yang tegas dengan program kerjanya dalam menjaga zona teritorial dan sumber daya alam di dalamnya, ketegasannya ini dibuktikan dengan keputusannya dalam menenggelamkan setiap kapal asing yang memasuki zona teritorial dan mencuri ikan di Indonesia. Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan sekaligus orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia. Mereka adalah bukti nyata bahwa perempuan dapat mencapai puncak karir dan berkontribusi besar untuk bangsa. Sehingga segala bentuk perspektif masyarakat yang mengharuskan perempuan adalah makhluk lemah yang perlu dilindungi dapat pudar dan hilang dari pemikiran masyarakat kita.
Bahkan, selain tokoh berpengaruh yang telah disebutkan di atas, kini semakin banyak perempuan yang berkarya menunjukkan kemampuan mereka dalam memimpin, bekerja, berolahraga, dan banyak hal hebat lainnya. Banyak dari mereka yang berhasil menjalankan dua peran sekaligus: sebagai istri/ibu yang tetap berkarya dan berkarier. Maka, bukan suatu hal sia-sia perjuangan perempuan terdahulu untuk menyuarakan kebebasan dari kekangan nenek moyang yang mengharuskan mereka tunduk dan patuh tanpa boleh mengangkat kepala dan menyuarakan isi pikirannya.
Kita tengok isi rumah sakit, baik dokter maupun perawat banyak juga perempuan, Menteri Keuangan Indonesia perempuan yakni Sri Mulyani, Direktur Utama (Dirut) Pertamina juga seorang perempuan yakni Nicke Widyawati, banyak guru di sekolah-sekolah yang merupakan perempuan, Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) adalah seorang perempuan. Adapun sosok yang paling berpengaruh dalam diri setiap manusia juga seorang perempuan yaitu ibu kita. Bukankah semakin jelas, menjadi perempuan bukan sebuah halangan dalam menggapai mimpi.
Dengan semua pencapaian ini, jelas bahwa menjadi perempuan tidaklah menjadi hambatan untuk meraih mimpi. Masyarakat harus membuka mata bahwa perempuan memiliki hak yang sama dalam mengembangkan potensi dan mewujudkan impiannya, tanpa harus mematuhi stigma dan stereotip yang sudah usang.
Masyarakat sudah melihat hasil dari perempuan tangguh yang mampu memberikan bukti nyata bahwa perempuan berhak dan mampu sama bersinarnya dengan laki-laki dalam menunjukkan potensi diri untuk mewujudkan impiannya, keluarganya, bahkan untuk negara. Tentu saja, bukankah sudah bisa dimulai dari detik ini masyarakat harus menghapus segala stigma atau sistem patriarki yang ada dalam mengekang segala bentuk potensi yang ada dalam diri perempuan. Masyarakat perlu segera menghapus stigma patriarki agar perempuan dapat sepenuhnya mewujudkan potensi mereka dan berkontribusi lebih besar pada kemajuan bangsa Indonesia.






