Oleh: Lili Amaliah
Indonesia memiliki beragam kebudayaan yang wajib dilestarikan secara turun-temurun, salah satunya adalah wayang. Wayang berasal dari bahasa Jawa yang memiliki makna “bayangan” atau “bayang-bayang”. Berasal dan berkembang pesat di Jawa dan Bali, wayang merupakan sebuah seni pertunjukan tradisional yang memanfaatkan boneka atau figur untuk menceritakan kisah-kisah apik seperti Mahabharata dan Ramayana. Selain itu, wayang juga memiliki variasi seperti wayang kulit, wayang golek, wayang beber, wayang wong, dan lain sebagainya.
Sosok Di Balik Pertunjukan Wayang
Pertunjukan tradisional wayang biasanya dimainkan oleh seseorang yang disebut dalang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dalang didefinisikan sebagai orang yang memainkan wayang atau orang yang mengatur (yakni merencanakan dan/atau memimpin) suatu gerakan dengan sembunyi-sembunyi. Di balik peran dalang dalam menampilkan pertunjukan wayang, dalang juga memiliki sapaan akrab yang disebut dengan ndalang. “Dalang itu ada suatu singkatan mudal diwulang, mudal itu berarti membuka atau mengajarkan, diwulang itu ya ajaran,” jelas Ki Candra Widyasmoro, seorang dalang asal Gumelar, Banyumas, dalam wawancaranya dengan awak Skëtsa pada Minggu (6/10).
Ki Candra menjelaskan bahwa dalang dapat diartikan sebagai sosok yang mengajarkan piwulang atau pembelajaran, baik pembelajaran bermasyarakat ataupun pembelajaran agama. Ia menambahkan bahwa di zaman dahulu, dalang memegang peranan yang sangat sentral. Peranan tersebut erat kaitannya dalam upaya untuk memberikan pemahaman, baik pemahaman yang erat kaitannya dengan hubungan sosial, keagamaan religius, maupun pemerintahan. “Zaman dulu itu, sangat sentral peranannya sebagai apa ya, Talam Pitutur, sebagai lidah penyambung begitu, baik dari pemerintah ataupun dari keagamaan ataupun yang lainnya,” imbuhnya.
Dalam memainkan perannya, banyak hal yang perlu dikuasai oleh seorang dalang. Selain sebagai penggerak boneka atau figur, dalang juga berperan untuk menceritakan kisah sesuai dengan pakem atau aturan yang berlaku; mengatur suara mereka untuk setiap figur yang ditampilkan, juga berinteraksi dengan para penonton. Berbicara mengenai peran seorang dalang tersebut, Darkam Anom Sugito memberikan tanggapan terhadap keberadaan dalang masa kini. “Ya sekarang kan cenderung itu ya, cenderung inovatif. Cenderung apa namanya, inovasi yang baru lah. Tapi jangan sampai tidak tahu yang pokok gitu,” jelas Darkam, seorang pemerhati wayang yang rumahnya terletak tidak jauh di belakang Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Banyumas atau sekarang disebut SMK N 3 Banyumas.
Menilik Peran Gender dalam Memainkan Wayang
Seperti yang kita tahu, kebanyakan dalang diperankan dan masih didominasi oleh kaum laki-laki. Namun, ternyata sudah ada segelintir atau bahkan banyak perempuan yang menjadi dalang, baik sebagai hobi ataupun kecintaan mereka akan budaya wayang. “Jadi terbiasa saya sering mendengar, terbiasa ikut bapak pentas, di rumah juga sering ada latihan akhirnya saya suka, saya senang dengan dunia kesenian Jawa. Akhirnya menjadi hobi saya senang karawitan, wayang, senang menyanyi bahkan nari juga saya suka,” ungkap Dwi Puspitaningrum, seorang dalang perempuan asal Purworejo, dalam wawancaranya dengan awak Skëtsa pada Minggu (6/10).
Kemunculan dalang-dalang perempuan ini ditanggapi dengan baik oleh Ki Candra. “Kalau adanya dalang perempuan, buat saya, itu malah menambah warna, ya. Dalam dunia pengaliran atau dalam dunia pewayangan, mengingat bahwasanya kultur masyarakat dari zaman dulu itu, kan wong wadon kue ya wes nang padon bae lah (perempuan itu ya sudah di dapur saja-red). Mungkin itu wujud emansipasi sih menurut saya,” ungkapnya pada awak Skëtsa.
Ki Candra menjelaskan bahwa wujud emansipasi merupakan wujud peningkatan hak-hak kaum perempuan. “Dalam hal ini, dalam seni karawitan dan pedalangan pun, pada akhirnya juga menjadi ruang untuk perempuan mengambil peran juga. Ini bagus. Nanti ada warna yang lebih luas lagi sekaligus juga sebagai legitimasi bahwa laki-laki atau perempuan kita punya hak yang sama dalam semua bidang, dalam semua hal,” imbuhnya.
Dunia yang Dihadapi Seorang Dalang Perempuan
Menjadi dalang tentu tidak mudah dan banyak tantangan yang harus dihadapi, terutama menjadi seorang dalang perempuan. Dwi pun menceritakan pengalamannya selama menjadi dalang perempuan. Ia mengaku bahwa dirinya harus belajar lebih ekstra dibandingkan dengan dalang laki-laki, mulai dari keterampilan bermain wayang hingga cara tertentu dalam belajar olah suara supaya bisa menyuarakan karakter tokoh wayang laki-laki. Di sisi lain, Dwi juga mengaku perlu menguatkan mental dalam perjalanannya menjadi dalang perempuan. “Kemudian saya harus menguatkan mental tentunya karena satu kelas dulu juga hanya dua (perempuan-red), kemudian sekarang juga menjadi dalang perempuan, kebetulan di Purworejo baru satu-satunya,” jelas Dwi.
Tantangan menjadi dalang perempuan pun turut dirasakan Rizki Rahma Nurwahyuni, seorang dalang perempuan muda yang akrab disapa Rahma. Ia menjelaskan kendala teknis menjadi tantangannya saat ndalang sejauh ini, baik dari segi kesiapan fisik maupun juga keterampilan ndalang. “Cuman bedanya kualitas suaranya, dari suara kan juga beda ya mbak. Kalau laki-laki tuh kan lebih cenderung berat. Terus tokoh-tokoh laki-laki tuh juga lebih masuk gitu suaranya. Nah, kalau dalangnya perempuan, ketika memerankan tokoh laki-laki gitu kan. Jadi masih nyempreng kayak suara khas perempuan gitu sih. Walaupun diberat-beratin tetap masih kedengaran kayak ‘Oh, ini suara perempuan’ gitu,” jelas Rahma saat diwawancara oleh awak Skëtsa pada Minggu (13/10).
Selain berhadapan dengan tantangan internal, seorang dalang perempuan juga berhadapan dengan tantangan eksternal yang berasal dari masyarakat atau lingkungan sekitar. “Ada yang negatif, ada yang positif. Tapi memang untuk sekarang lebih banyak apresiasi, artinya banyak yang menyukai kesenian,” ungkap Dwi. Ia menjelaskan bahwa banyak yang mengapresiasi dirinya setiap kali pentas. Selain itu, mereka juga mengikuti dirinya di sosial media.
Namun, tidak hanya komentar positif yang Dwi dapatkan. Ia juga menuturkan, “Kalau dulu memang tanggapan teman-teman, tanggapan masyarakat mungkin ya masih meragukan atau meremehkan. Pokoknya kurang yakin kalau perempuan kok ndalang apa bisa sih.” Dwi merasa bahwa komentar-komentar tersebut justru menjadi cambuk dan penyemangat untuk dirinya agar dapat belajar lebih giat lagi serta menunjukkan kemampuannya.
Berbanding terbalik dengan Dwi, Rahma justru mengungkapkan bahwa selama menjadi dalang, ia sering mendapatkan komentar positif dari lingkungannya. “Kalau keluarga kan udah pasti ya mendukung. Kalau teman-teman sekitar saya tuh kayak mereka malah apa ya, tidak menyangka kalau ada teman, kalau punya teman dalang perempuan gitu. Karena mereka mikirnya juga dalang tuh biasanya cowok kan. Terus yang malah men-support, itu tadi sih support,” imbuhnya.
Ki Candra turut menyampaikan tanggapannya, meskipun keberadaan dalang perempuan dianggap anomali; hal yang kurang wajar bagi seorang perempuan menjadi seorang dalang karena biasanya ditempati oleh seorang laki-laki. Ia yang merupakan seorang dalang laki-laki juga menyampaikan bahwa komentar dari masyarakat sekitar, khususnya sesama seniman, terhadap keberadaan dalang perempuan ini mendapat dukungan dan komentar positif. “Komentarnya tetap bagus, malah justru itu menjadi momen untuk itu tadi, menjadi contoh menjadi pionir mungkin ke depannya untuk munculnya generasi-generasi berikutnya dalang-dalang perempuan berikutnya. Nah, Mereka bisa menjadi role model dalang perempuan kayak gitu. Itu kayaknya, kalo dilihat dari espektasi.” tuturnya.
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat perbedaan antara dalang laki-laki dan perempuan. “Laki-laki bisa mengambarkan tokoh dengan suara itu dalam banyak warna dan rupa, kalau perempuan sedikit kesulitan mungkin di situ, dalam hal teknis. Tapi ya juga bisa dipelajari dan dimaksimalkan.” Ki Candra beranggapan bahwa seorang dalang perempuan memerlukan latihan yang lebih ekstra, dibandingkan dengan laki-laki, karena terdapat ruang-ruang teknis yang dianggap sulit untuk bisa dilakukan, khususnya dalam hal olah suara. “Membuat suara laki-laki perempuan, namanya perempuan, suara perempuan ya cuma segitu saja. Suara beratnya perempuan ya tetap nuansanya perempuan, kan. Mungkin seperti itu,” pungkasnya.
Masa Depan Wayang dan Dalang Perempuan
Berhadapan dengan budaya modern, pertunjukan wayang menjadi salah satu dari sekian banyak kebudayaan yang jarang diminati oleh kaum muda saat ini. Ki Candra turut mengungkapkan bahwa dewasa ini tidak banyak pemuda yang mau memainkan wayang. Ia juga menyampaikan kendala yang dihadapi oleh tim pertunjukan wayang. Ia mengungkapkan bahwa dalam mengadakan pertunjukan atau pementasan wayang, membutuhkan materi yang tidak sedikit, baik berupa uang maupun hal lainnya.
Karena hal tersebut, ia berharap agar pemerintah memiliki program-program yang dapat membuka kembali keinginan masyarakat, khususnya pemuda-pemudi yang ingin belajar, untuk kembali mengenal dan mengingat seni budaya lokal yang harus dikembangkan. “Programnya seperti apa ya, untuk pelatihan atau mungkin pentas secara continue setiap tahun mungkin. Bahkan mungkin setiap bulan boleh lah. Ada pentas begitu. Untuk menjadi ruang dalang-dalang yang memang sedang belajar untuk pentas begitu, “ tuturnya.
Tidak jauh berbeda dengan Ki Candra, Dwi dan Rahma juga berharap agar kesenian wayang dapat terus dilestarikan. “Harapan saya kesenian wayang kulit itu bisa dilestarikan, terus dipelajari menjadi kekayaan budaya bangsa,” ungkap Dwi. Begitu pula dengan Rahma, ia menyampaikan, “Semoga kesenian tradisi kita, khususnya wayang kulit, bisa terus lestari. Nanti bisa turun ke anak-cucu kita dan masih tetap terjaga sampai akhir. Sampai gak tahu kapan, yang penting tetap lestari aja gitu.”
Seni pertunjukan wayang tanpa adanya dalang tentu tidak akan berjalan. Namun, kehadiran dalang perempuan ini seharusnya dapat diteruskan sebagai ajang bagi perempuan untuk memerankan peran yang berbeda. “Kemudian jangan takut menjadi seorang dalang (perempuan) dan semoga nanti muncul juga, muncul bibit-bibit baru. Usia saya kan sudah semakin tua, (semoga) tetap ada regenerasi yang mau melestarikan kesenian Jawa terutama wayang kulit,” ungkap Dwi mengenai harapannya terhadap keberadaan dalang perempuan.
Sebagai dalang perempuan seperti Dwi, Rahma juga turut mengungkapkan ajakannya kepada sesama dalang perempuan. “Jadi harapannya kalau untuk para dalang perempuan, sesama dalang perempuan ya. Ayo kita bareng-bareng untuk memberikan kesan yang bagus untuk dalang perempuan karena biasanya kan memang lebih terkenal dalang laki-laki. Nah ya tetap berkarya dan menampilkan yang terbaik,” tuturnya.
Meski seorang dalang laki-laki, Ki Candra juga berharap keberadaan dalang-dalang perempuan akan terus ada. “Terus muncul dalang-dalang perempuan yang baru, bukan hanya yang sekarang sudah ada. Supaya, seni pedalangan itu berkembang. Itu harapan saya. Dan yang sedang belajar saat ini, ya mereka benar-benar punya kualitas yang berguna. Supaya mereka bisa menularkan juga kepada generasi-generasi berikutnya. Itu harapan saya.”
*Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Angkatan 2022






